Setelah menenangkan Diana yang tiba - tiba menamgis saat menikmati es krim red velvetnya, Arsen berencana mengajak perempuan itu untuk pergi ke salah satu toko buku yang menyediakan meja dan kursi untuk duduk.
"Kenapa ke sini?" tanya Diana dengan sisa air mata di pipinya. Harusnya ia malu, menangis di tempat umum di saat usianya sudah mau menyentuh kepala tiga.
Akan tetapi, siapa yang peduli. Melihat Arsen berada di sisinya saat ini rasanya seperti mimpi atau ini hanya ilusinya semata. Di mulai sejak ia mengenal Sian, pria yang disukai adiknya itu. Lalu semua kejadian tidak masuk akan dan di luar nalarnya terus menerus menghampirinya.
"Biar kamu malu, kalo nangis di sini," ujar Arsen seraya tersenyum tipis. Diana cemberut, bibirnya mengerucut saat menyadari kalau toko buku ini cukup ramai dan beberapa remaja sedang menatap ke arah mereka.
Diana duduk beringsut seraya memalingkan wajahnya ke arah lain. Entah kenapa ia dan Arsen seolah sangat menarik untuk ditatap lamat - lamat.
"cantik banget ya. Kayak tokoh cewe utama di novel yang pernah aku baca," ujar remaja dengan kaca mata bulat membingkai kedua matanya yang besar.
"Iya, yang cowo juga ganteng," timpal remaja perempuan dengan rambut dicepol satu itu seraya mencuri - curi pandang. Dua orang yang kini berada di salah satu kursi baca dengan sang pria yang berdiri menatap ke arah kekasihnya itu, nampak begitu mesra. Meski tidak mengumbar kemesraaan. Bahkan interaksi keduanya sangat manis padahal mereka hanya berbicara satu sama lain.
"Tapi, di cerita yang aku baca, endingnya sedih. Padahal awalnya manis banget, pertengahannya juga bikin greget. Eh, malah endingnya membagongkan. Jadi trauma gue baca novel dengan tokoh yang kelewat cakep gitu." Remaja perempuan berkaca mata itu bercerita dengan tersunggut - sunggut seraya membolak balik buku yang ada di tangannya.
"Serius lo? Pinjem dong bukunya," ujar temannya yang kini nampak berbinar. Sudah lama ia mencari bacaan seperti itu. Ia merasa bosan dengan cerita yang klise dan happy ending. Saat mendengar cerita yang menguras emosi seperti yang diceritakan sahabatnya itu, jelas saja jiwa masokisnya meronta - ronta. Ia ingin segera membaca buku itu.
"Ada di rumah bukunya. Cuma gue baca sekali dan masih bagus juga. Lo kalo mau ambil aja deh. Sakit ati gue kalo kiatnya." Kaum pecinta happy ending dengan dua tokoh utama bersatu sepertinya tentu akan trauma membaca cerita yang berakhir tragis seperti cerita yang berjudul Kisah Cinta Yang Belum Usai yang pernah ia beli di salah satu toko buku di dekat rumahnya.
Sementara sepasang kekasih yang menjadi atensi beberapa remaja yang lewat saat mencari buku atau sengaja lewat hanya inginmelihat keduanya itu, nampak terdiam sejenak.
Membiarkan Diana merasa sedikit lega saat ia sudah menyelesaikan tangisannya yang sempat terjeda. Arsen berdiri menutupi wajah perempuan itu.
Diana baru saja mengusap kedua pipinya dengan telapak tangan. Sebelum akhirnya Arsen yang baru sadar kalau ada sapu tangan di saku kameja yang ia kenakan.
"Ini." Diana mendongak dan tangan Arsen sudah ada di hadapannya dengan selembar sapu tangan yang dilipat dengan rapi.
Perempuan itu tersenyum tipis seraya meraih sapu tangan dan mengusapkannya pelan ke wajah. Menghapus bekas - bekas air mata yang menempel di wajah bersih itu.
"Tunggu di sini bentar ya. Aku mau ngambil satu buku," pinta Arsen yang dianggukkan Diana setuju. Perempuan itu nampak tak rela ditinggalkan barang sedetik saja meski Arsen hanya berjarak beberapa meter darinya saat ini.
Seolah ada perasaan yang membuatnya takut kehilangan lagi. Seakan Arsen bisa lenyap begitu saja tanpa memberitahunya. Akan tetapi, semuanya terbantahkan saat Arsen datang padanya tak lama setelah pria itu pamit.
"Kenapa mukanya cemas begitu?" tanya Arsen sesaat setelah ia menghampiri Diana yang kini bangkit dari duduknya. Wajah perempuan itu nampak cemas, namun setelah kedatangan Arsen ia nampak lega.
"Gapapa kok," jawab Diana seraya tersenyum tipis.
Arsen menghela napas lega. Namun tahu betul, kalau Diana sempat gelisah saat ia meninggalkannya sebentar. Perempuan itu seolah akan menangis. Padahal, Arsen hanya mengambil satu buku yang akan ia beli dan berikan pada Dinya.
***
Sementara Diana berkencan dengan kekasihnya, Tri mengurung diri di kamar seharian. Ia hanya ke luar untuk mengambil makanan dan camilan untuk dibawa ke kamarnya.
Gadis itu terlihat memprihatinkan. Matanya sembab gara - gara menangis sejak tadi pagi. Bahkan Kana, sahabatnya itu menelponpun tidak ia angkat sama sekali. Hari ini ia hanya akan makan dan makan. Sebab dengan makan, ia akan merasa sedikit lebih baik.
Membayangkan betapa tragis kisah cintanya. Pacaranya adalah kekasih kakaknya. Apakah itu masuk akal?
Tidak! Tidak akan ada yang percaya kalau Sian yang sedang berkencan dengan kakaknya itu adalah Arsen, calon kakak iparnya. Siapa yang akan percaya dengan hal - hal tidak masuk akal seperti itu?
Kecuali, Tri dan Diana. Ya, keduanya percaya demi bisa tetap bersama - sama dengan pria yang mereka cintai. Meski apa yang dijelaskan Sian waktu itu sangat tidak masuk akal. Tapi, saat melihat sendiri bagaimana sosok Sian berubah drastis dengan sikap dan gestur bahkan cara bicaranya mirip sekali dengan Arsen yang mereka kenal. Tentu mereka sangat terkejut.
Tri pikir, Sian sengaja membodohinya dan kakaknya. Tapi, setelah ia pikir, buat apa Sian melakukannya?
Toh, Sian bahkan tidak tertarik dengan Diana. Karena Tri lebih membuatnya merasa tergugah.
"Mereka lagi ngapain ya?" Tri bertanya - tanya seraya memikirkan bagaimana mesranya kak Dinya dengan Sian-ralat-Arsen.
Benar - benar konyol. Bagaimana bisa Sian begitu mudah dirasuki oleh arwah Arsen? Tri berpikir seraya tetap mengunyah keripik kentang yang diambilnya dari toples besar yang ada dalam dekapannya saat ini.
Apa Sian pernah mengenal Arsen di masa lalu? Tapi, seingat Tri, Arsen cukup dekat dengannya dan kak Di. Jadi, siapapun yang dekat dengan Arsen, biasanya Tri akan tahu. Sebab pria itu senang bercerita banyak hal, kecuali alasannya meninggal begitu saja tanpa jejak, tanpa surat dan tanpa penjelasan.
Kenapa kak Dinya tidak menanyakan apapun soal kepergian Arsen? Apa yang menyebabkan pria itu meninggal tanpa bisa ditemukan jasadnya?
Semenatara Tri sibuk bergelut dengan isi pikirannya seraya menggalaukan kisah cinta kusutnya dengan Sian. Di tempat lain, dua orang yang sedang melakukan foto shoot di sebuah photo box nampak tertawa seraya menatap hasil foto mereka dengan gaya absurd yang random dan terlihat lucu.
"Kamu ga berubah Di," ujar Arsen seraya menatap sosok yang ada di foto berukuran sedang itu dengan wajah sendu.
Diana nampak terdiam sejenak. Menatap Arsen lekat dengan tatapan yang sama.
Mereka begitu dekat, tapi kenapa rasanya begitu jauh. Seolah Arsen tidak bisa ia gapai. Padahal, Diana bisa memeluk pria itu sekarang juga kalau ia mau.
Tapi, bukan karena ia tidak mau. Itu karena Diana sadar, bahwa tubuh yang tengah duduk di sampingnya itu bukanlah Arnya. Arsenik tidak mempunyai sorot mata seperti Sian. Arsenik yang Diana kenal, tidak punya tahi lalat di wajah.
Tapi, Diana tidak bisa terus menerus menekan perasaan ingin mendekap Arsen terus menerus. Ada kalanya ia lemah dan ingin berada dalam pelukan hangat pria itu.
Ada kalanya itu ingin mengirup aroma tubuh Arsen yang sudah lama tidak ia lakukan. Dan saat itu adalah saat di mana Diana akan menangis untuk menjadikan alasan agar Arsen mau mendekapnya, tidak peduli tubuh siapa yang pria itu pinjam saat ini.
"Kamu gapapa?" Arsen bertanya dengan terbata saat tangannya tiba - tiba saja meraih tubuh ringkih Diana dan membawanya dalam dekapan. Seolah bukan ia yang melakukannya.
Diana, perempuan itu tidak menjawab. Ia hanya menangis dan terisak dengan wajah yang ditenggelamkan di d**a Arsen.
"Lo ga perlu berterimakasih. Gue cuma kasian aja. Gue tau lo pengen banget meluk Diana, kan? Kali ini gue berbaik hati. Tapi enggak untuk lain kali."
Sian, ia juga merasa sedih saat mrlihat dengan matanya, bagaimana pilunya kisah cinta dua insan yang ada di hadapannya itu. Meski tidak bisa mengendalikan tubuhnya karena keberadaan Arsen, nyatanya Sian tetap bisa menggerakkan tangannya tanpa ia duga.
Kisah cinta yang belum usai, kini dimulai. Tapi, siapa yang tahu akan ujungnya nanti seperti apa?
Akankah mereka saling melepaskan dengan suka cinta karena simpul takdir tidak masing - masing harus tertaut pada jalannya sendiri. Atau, akankah keduanya berada di satu garis takdir cinta yang sama, lalu berakhir bersama? Tapi, bagaimana bisa? Akankah Arsen menemukan cara agar bisa kembali ke dunia Dinya atau malah sebaliknya. Ia menemukan cara agar bisa meninggalkan dunia yang memang bukan lagi tempatnya.
Jalannya takdir selalu luar biasa dan tak terduga. Istimewa dan penuh kejutan.
Satu hari penuh, waktu Diana ia habiskan bersama Arsen yang nyatanya adalah Sian. Ia ingin menolak percaya bahwa Arsennya terjebak dalam tubuh orang lain, tidak bisa memeluknya dengan tubuh pria itu sendiri.
"Apa yang terjadi selama ini? Ke mana kamu pergi? Kenapa ga bilang apa - apa ke aku lebih dulu biar aku siap tanpa kamu? Kenapa?" Semua pertanyaan yang ingin Diana simpan karena tidak ingin waktunya dengan Arsen tepakai untuk meributkan hal yang tidak perlu, nyatanya ia utarakan juga di ujung hari yang mereka lalui.
Bagaimana bisa Diana menahan semua pertanyaan itu selama ini. Ia sangat ingin tahu apa yang terjadi pada Arsen. Bagaimana bisa ia bersikap seolah - olah ia baik - baik saja saat kekasihnya harus meminjam tubuh orang lain agar bisa berkencan dengannya, menghabiskan waktu bersama barang sehari saja.
Arsen hanya diam. Tidak ada kalimat atau sepatah kata yang mampu ia ucapkan. Lidahnya kelu. Hatinya pilu melihat tangisan perempuan dicintainya itu kembali terisak.
"Meskipun kamu bilang, a-aku..aku ga akan pernah siap. Meskipun kamu bilang, aku ga akan siap buat kehilangan kamu," ujar Diana tersendat - sendat.
Memangnya, siapa yang siap akan sebuah kehilangan? Tidak. Tidak ada kata siap untuk sebuah kehilangan. Diana hanya meracau. Omong kosong dia akan siap tanpa Arsen.