Tidak ada yang melanjutkan kata - katanya baik Diana maupun Arsen. Keduanya bungkam bahkan setelah memutuskan untuk pergi ke salah satu toko baju, atas usul Diana.
Meski ia tidak tahu sampai kapan jiwa Arsen masih bisa ia temui dan menemuinya. Setidaknya, ia akan memberikan baju yang nantinya akan ia pinta pada Arsen untuk memakainya, setiap jiwanya menempati tubuh Sian.
Diana tidak tahu, baju dengan warna dan model seperti apa yang Arsen sukai saat ini. Dua tahun berlalu bukanlah waktu yang sebentar, tren pakaian semakin berkembang dan banyak perubahan.
"Pilihin yang mana yang menurut kamu bagus, aku pasti suka." Arsen berujar saat menatap wajah Diana yang nampak bingung dalam memilih baju yang ingin ia belikan untuk Arsen.
Diana merapatkan bibirnya lalu mengambil beberapa lembar baju dengan warna dan model yang berbeda. Lalu beranjak ke kumpulan jens yang tergantung berjejer rapi.
Arsen tidak diperkenankan untuk bicara. Karena ia tahu, bagaiamana perasaan Diana saat perempuan itu membelikan setelan pakaian untuknya. Meski sering Arsen tolak, tapi penolakannnya tidak pernah dianggap. Dulu, Arsen sering ditentang oleh papanya Diana. Hubungan mereka dianggap simbiosis parasitisme. Ya, Arsen dianggap parasit yang hanya memanfaatkan Diana.
Untuk itulah, meski sudah berkali - kali ditolak saat melamar kerja, Arsen dulu tidak pernah menyerah. Sampai ia akhirnya bekerja di perusahaan penerbitan yang cukup terkenal di ibu kota.
Arsen bekerja keras. Menabung dan membahagiakan Diana dengan hasil kerja kerasnya. Ia tidak ingin dianggap memanfaatkan Diana dan memoroti uangnya saja. Di saat ia rela mempertaruhkan nyawanya untuk Dinya. Bagaimana bisa ia dianggap hanya memanfaatkan Diana.
Arsen terdiam sesat setelah potongan ingatan yang melintas di kepalanya.
"Kalo aku ga bisa milikin kamu, maka ga ada yang boleh milikin kamu Ar!"
"Termasuk Diana sekalipun! Aku akan menyingkirkannya!"
Telinga Sian berdengung. Ia tidak tahu apa yang terjadi. Tapi sepertinya Arsen sedang mengingat sesuatu. Entah apa itu, tapi sepertinya Arsen menemukan titik terang.
"Ar kamu gapapa?!" Diana bertanya dengan panik saat mendapati Arsen yang menyentuh kepalanya dan meringis kesakitan.
"Aku gapapa ko, Di. Cuma pusing aja," ucap Arsen seraya tersenyum meyakinkan.
Telinganya berhenti berdengung, kepalanya perlahan - lahan membaik. Tapi, tiba - tiba saja wajah seorang perempuan melintas jelas di ingatannya.
"Gia," gumamnya pelan namun bisa didengar oleh Diana.
Kenapa Arsen menyebut nama Gia? Pikir Di bertanya - tanya apa yang terjadi pada pria yang kini nampak memikirkan sesuatu.
"Sudah? Jangan banyak - banyak ya, Di. Aku belum bisa kerja lagi, nanti ga bisa balikin uang kamu." Diana hanya menghela napas seraya memasang wajah tidak suka. Ia tahu, Arsen tidak suka kalau ia membelikan pria itu sesuatu secara cuma - cuma.
"Iyaiya..." Diana berlalau membawa beberapa lembar baju kaus dan kameja serta jeans yang ia ambil sebelumnya. Menuju kasir dan melakukan pembayaran.
"Diana?"
Diana menoleh dan mendapati seorang perempuan yang dikenalnya. Gia tersenyum senang seraya melangkah lebih dekat dengannya.
"Gia? Sama siapa?" sapa Diana ramah seraya menatap ke sekeliling mereka.
"Sendirian Di. Axen lagi ada kerjaan lain katanya." Gia menajawab seraya mengedarkan pandangan mencari seseorang yang membersamai Diana.
"Kenalin, ini Sian," ucap Diana saat Sian mendatangi mereka. Gia mengangguk. Karena ia sudah mengenal siapa Sian. Perempuan itu tidak menyadari, kalau Sian yang ia temui sekarang ini berbeda.
Sementara Arsen, ia nampak tegang. Wajahnya sempat bekerspresi tak percaya tapi sejurus kemudian ia mulai menetralkan wajahnya.
Gia?
Jadi, perempuan ini, dalang di balik semua yang Arsen alami. Saat berhadapan dengan Gia dalam jarak sedekat ini, Arsen dengan mudah mengingat semuanya. Apa maksudnya? Ya, itu karena semuanya berawal dari Gia.
Mereka bersahabat sejak kuliah. Namun karena satu dan lain hal, Arsen memutuskan untuk menjaga jarak dari Gia. Karena perempuan itu terang - terangan mengatakan kalau ia menyukai Arsen, meski ia tahu bahwa Diana sahabatnya adalah kekasih Arsen saat itu.
Tapi, takdir kembali mempertemukan mereka di dunia kerja. Gia sukse menjadi penulis dan resmi bekerja sama dengan penerbit Ways dan Arsen diterima atas dasar rekomendasi dari Gia, tapi pria itu tidak menyadarinya.
"Kamu bukannya pacaran sama adeknya Diana, ya?" Gia bertanya lancang sesaat setelah mereka keluar dari toko pakaian.
Diana menatap Gia dengan gugup. Entah bagaimana caranya ia menjelaskan pada Gia, tapi, tidak mungkin ia mengatakan kalau ia sedang selingkuh dengan pacar adiknya bukan?
"Iya, saya pacarnya Tri, adiknya ka Di." Arsen berujar seraya memasang wajah setenang mungkin.
Ia ingin tahu, apa yang membuat Gia terlihat baik - baik saja bahkan setelah apa yang diperbuatnya pada Arsen.
Gia nampak menganggukkan kepala seraya tersenyum tipis. Kalau Sian pacarnya adik Diana, lalu kenapa malah mereka yang terlihat pacaran? Pikir Gia bingung.
Sementara Arsen, ia masih sibuk mengamati Gia dan penasaran apa yang sedang disembunyikan oleh perempuan itu.
Ingatan Arsen hanya sebatas di mana ia dan Gia adu mulut lalu terakhir, saat kepalanya dihantam kuat oleh sesuatu dan wajah Gia adalah hal tetakhir yang mampu ia ingat.
***
Ada saatnya Arsen merasa kalau semua ini hanya mimpi belaka. Ia merasa kalau semua ini tidak nyata. Tapi, dua tahun lebih sudah berlalu. Bagaimana bisa mimpi berlangsung selama itu.
Tapi, ada hal - hal yang patut ia syukuri di antara semua hal yang menimpanya selama ini. Ingatan. Ya, ia diberikan kemampuan untuk mengingat lagi semua yang terjadi sebelumnya. Meski semuanya masih nampak samar dan terpotong - potong.
"Besok apa ga bisa kita ketemu lagi kayak gini?" Diana berujar seraya menyandarkan kepala ke bahu pria yang ada di kursi kemudi.
Mereka dalam perjalanan pulang. Meski awalnya menolak untuk menggunakan mobil Diana, tapi, pada akhirnya Arsen setuju. Karena ia tidak tega kalau Dinya harus panas - panasan kalau ia nekat mengendarai motor matic milik Sian.
"Besok aku usahakan ya. Semoga Sian mau bermurah hati dan mengizinkan kita biar bisa kayak gini lagi." Arsen berujar seraya tersenyum. Sementara Sian hanya berpura - pura tidak mendengar apapun.
Kalau besok ia masih harus meminjamkan tubuhnya pada Arsen, bagaimana nasib Tri? Hari ini saja gadis itu sudah melayangkan tatapan bencinya pada Sian. Meski ia tahu apa yang terjadi pada mereka berempat.
Selama perjalanan pulang, Diana tertidur. Langit sudah pekat karena waktu malam sudsh tiba. Untungnya, Arsen sudah izin pada ibu Sian di rumah. Tapi, ia khawatir bagaimana kalau mama papa Diana akan marah melihat anak perempuan mereka pulang malam begini.
Arsen menatap arlogi di lengan kanannya. Waktu menunjukkan pukul setengah delapan malam.
Diana masih nyaman tertidur di kursi di samping Arsen yang mengemudikan mobil.
"Lo udah ingat, siapa si Gia Gia itu?" Sian bertanya di saat mobil yang dikendarai Arsen berbelok ke kanan.
"Ingat, tapi ga semuanya. Kayaknya titik terangnya dari dia deh," gumam Arsen seraya menatap jalanan yang ada di hadapannya. Nampak ramai dan suara klakson kendaraan saling bersahutan. Mereka terjebak macet.
"Gia ga yakin, tapi kayaknya si Gia itu ga normal deh," ujar Sian setelah ia melihat bagaimana Gia yang nampak menutupi banyak hal.
Mulai dari ajakan kerjasamanya dengan Sian. Sampai Axen yang mendatanginya baru - baru ini untuk menanyakan kejelasan naskah yang mereka pinang waktu itu.
Bukankah aneh, saat penulis amatir seperti Sian begitu diinginkan oleh pihak penerbit seterkenal Ways dan belum lagi, penulis andalan mereka, Gia, mengirimkan email padanya secara resmi.
Dilihat dari sudut pandang manapun juga, itu semua tidak masuk akal. Cerita yang Sian tulis saja masih amburadul. Tapi mereka seolah tidak mempedulikan itu. Seolah yang paling penting bagi mereka adalah Sian mau diajak kerjasama.
Mencurigakan bukan?
Tak terasa mobil yang dikendarai Arsen sudah memasuki gerbang rumah Diana. Perempuan itu nampak terbangun sesaat setelah satpam rumah itu meminta Arsen membuka kaca mobil.
"Maaf pak kami kemalaman pulangnya," ucap Arsen sopan yang ditanggapi oleh pak satpam dengan anggukan.
Diana mengusap kedua matanya saat menyadari kalau mereka sudah tiba di halaman rumahnya.
Perempuan itu meringis seraya menatap Arsen dengan sedih. Ia menyesal karena tidak bisa menahan kantuknya di perjalanan pulang tadi. Kalau saja ia tidak tertidur, pastinya mereka bisa membicarakan banyak hal, bukan?
"Kenapa? Tadi mimpi buruk?" tanya Arsen lembut seraya melepaskan sabuk pengaman yang melindungi tubuh Diana. Lalu menatap wajah sendu perempuan itu dengan cemas.
"Aku gak harusnya tidur. Biar kita bisa bicara banyak hal. Banyak yang mau bicarain sama kamu. Tapi aku malah ketiduran," sesal Diana seraya menutupi wajahnya. Ia menangis karena merasa kesal dan sedih.
Arsen tidak tahu apa yang harus ia lakukan. Diana terisak dalam tangisnya membuat Arsen buru - buru membawanya ke dalam pelukan.