Arsen pulang setelah berpamitan dengan kedua orang tua Diana yang herannya sudah pulang lebih dulu. Meski wajah tidak suka papa perempuan itu masih jelas menyoroti wajah Arsen, tepatnya Sian.
"Besok - besok kalau kamu mau ajak jalan anak gadis om, harus ijin secara resmi terlebih dahulu, ngerti!" ujar papa Diana seraya menyuruh Diana untuk segera naik ke lantai dua.
Arsen menganggukkan kepala pelan, "baik om."
Sementara mama Diana, wanita itu nampak memindai Arsen dari atas ke bawah berkali - kali. Ia merasa ada yang aneh dengan pemuda yang ada di hadapannya ini.
"Kamu beneran Sian pacarnya Tri, kan?" tanyanya dengan mata penuh telisik. Hampir saja Arsen tersedak karena pertanyaan tiba - tiba yang dilontarkan mamanya Diana barusan.
"Iya tante." Sian ingin sekali memukul kepala Arsen, meminta pria itu agar segera berpamitan bukannya malah terjebak obrolan seperti ini. Tapi, ia ingat, kalau memukul kepala Arsen itu sama saja dengan memukul kepalanya sendiri.
"Kalau begitu, Sian permisi pulang tan, om. Sudah malam soalnya dan maaf kalau saya mengajak Diana bekerja seharian." Arsen berujar seraya mengambil langkah maju dan menyalami tangan kedua orang tua Diana.
"Mana ada orang kerja di hari weekend? Kamu selingkuh kan, sama Diana, ngaku?!"
Mampus!
Sian makin bingung dan mendesak Arsen untuk menjelaskan bagaimanapun caranya agar tidam terjadi kesalahpahaman.
"buruan lo jelasin! Kalo sampe gue ga diizinin buat ketemu Tri, lo gue usir!" ancam Sian yang geram karena Arsen hanya bungkam selama beberapa detik.
"Begini tante, seharian ini saya menemani Diana untuk project kerjaannya. Selain itu, saya juga bertanya banyak hal mengenai Tri biar bisa mengenalnya lebih baik lagi. Tolong jangan salah paham ya, tan, om."
Susah payah Arsen memutar otak mencari alasan agar mamanya Diana tidak salah paham.
"Tante sudah menduga sih. Tapi, tetap saja, jangan sampai kamu salah niat ya. Awas saja kalau anak gadis tante kamu sakitin!" ujar mama Diana dengan penuh ancaman.
Syukurlah, Arsen bisa pulang dengan motor matic Sian setelah diperbolehkan oleh mama Diana. Tapi tanpa diduga, ia juga diberikan bingkisan berupa kue. Katanya sih, mama Diana mulai menekuni hobi baru, yaitu membuat kue. Selain karena sudah resign dari pekerjaan, wanita berusia empat puluhan itu juga sedang berusaha merebut hati putri - putrinya.
Dalam perjalanan pulang, Sian dan Arsen sibuk berdebat. Namun yang dilihat oleh orang - orang adalah, Sian berbicara dengan dirinya sendiri. Bertanya, lalu dijawabnya sendiri, dan menyangkalnya sendiri. Ia percis seperti orang stres dan depresi.
"Kayaknya mamanya Diana tahu deh, kalo lo itu bukan gue. Buktinya, gue udah berapa kali ke sana, tapi ga pernah tuh dikasih bingkisan apa - apa. Lah, elo, baru sekali udah dikasih bingkisan."
Arsen tersenyum tipis. Ia ingat kalau dulu, mamanya Diana juga tidak menyukainya, karena Arsen hanya anak yatim piatu dan sebatang kara. Tapi, setelah Arsen menunjukkan bahwa dirinya pantas untuk Diana, perlahan - lahan, mamanya Diana mulai menerimanya.
"Dulu, gue sering dihina dan dikata-katain sama orang tuanya Diana. Karena gue hanya anak yatim piatu dan sebatang kara. Gue dianggap hanya parasit yang menempeli anak mereka. Tapi, gue ga nyerah gitu aja. Gue buktiin kalau gue pantas dan bisa jagain Diana. Lo sekarang, bahkan diperlakukan jauh lebih baik daripada gue dulu.
Mungkin karena asal usul lo lebih jelas daripada gue kali ya. Tapi gue yakin, lo juga pasti bisa dapatin tempat di hati mereka."
Sian bungkam. Ia hanya menedengarkan Arsen bercerita dengan wajah tersenyum namun senyumannya terasa palsu.
Sepertinya, Sian tidak boleh mengeluhkan apapun pada apa yang Arsen dapatkan.
"Besok, meskipun gue ga bisa minjem tubuh lo, ijinin gue buat ikut lo ya? Gue pengen ketemu banyak orang, berinteraksi dan merasakan kembali bagaimana hidup.
"Soal naskah gue, lupain aja. Gue ga berencana buat nerima tawaran dari penerbit itu. Lagian gue belum ttd kontraknya kan. Gue bisa kerja di tempat lain yang lebih pasti dan jelas."
Sian tidak ingin terjebak dalam kubangan pekerjaan yang berisiko. Ia akan melamar pekerjaan di banyak perusahaan. Bila perlu ia akan melakukan berbagai pekerjaan part time di banyak tempat sekaligus.
"Gimana soal kerjasama kita? Lo udah janji ya! Gue juga udah nyelesaiin naskah lo, jangan macem - macem lo! Mentang - mentang gue udah mati, lo seenaknya batalin perjanjian kerjasama." Arsen protes dengan tersunggut - sunggut. Laju sepeda motor yang dikendarainyapun melambat. Membuat Sian mengehela napas dan lagi - lagi nyatanya Arsen juga menghela napas.
"Gue ga bilang kalo gue batalin perjanjian kerjasama kita ya! Jangan asal nuduh lah! Gue cuma bilang kalo gue udah ga tertarik tawaran dari si Gia dan penerbit itu!"
Sampai di depan rumah pun, Sian masih mengobrol dengan dirinya sendiri.
Sampai seseorang membukakan pintu pun, Sian masih sibuk berdebat dengan Arsen.
"Kok, malem banget pulangnya bang?" Kuna bertanya seraya menatap abangnya itu dengan wajah aneh. Kenapa juga temannya itu dibawa masuk.
"Tadi lama diintrogasi sama mama papanya Diana de. Kamu kenapa belum tidur?" tanya Sian seraya melepaskan sepatunya dan melangkah masuk lalu menutup pintu.
Kuna hanya menatap ke arah Sian dengan tatapan penuh telisik. Seolah ia sedang mencurigai abangnya itu.
"Kenapa liatin abamg begitu?" tanya Sian seraya menatap wajah adik bungsungnya itu dengan aneh. Tidak biasanya Kuna seperti ini.
"Temen abang kenapa dibawa terus? Dia ga punya rumah apa?"
Sian tersedak salivanya sendiri saat mendengar pertanyaan yang dilontarkan Kuna barusan.
Apa? Adiknya bisa melihat Arsen?
"Kuna ngantuk, mau tidur. Abang jangan lupa makan malam di meja makan dimakan ya. Ibu udah cape - cape bikinin sama panasin buat abang."
Kuna berlalu ke kamarnya setelah mengatakan kalimat panjang itu dengan Sian yang menatap punggung kecilnya dengan tatapan cengo.
"Gue kan pernah bilang, kalo ade lo yang itu bisa ngeliat gue juga." ujar Arsen membela diri. Padahal Sian tidak berniat menyalahkannya sama sekali. Hanya saja, ia kaget bukan main. Bahkan saat Arsen berada tubuhnya sekalipun, Kuna bisa melihatnya?
"Kayaknya ade lo juga pernah nyentuh barang - barang yang berhubungan sama gue deh. Makanya dia bisa ngeliat gue, kan?" Arsen berasumsi seraya mengingat - ingat foto dirinya yang dimiliki Sian di kamarnya. Siapa tahu kalau Kuna pernah msnyentuh foto itu dan itu membuatnya bisa melihat Arsen?
***
Malam berlalu begitu lama. Tri masih bergeming dalam balutan selimut yang membungkusnya sejak malam tiba. Gadis itu terbangun beberapa kali dari tidurnya. Tepatnya tidurnya tidak nyenyak sama sekali.
Berkali - kali ia bermimpi bahwa Sian meninggalkannya karena ingin bersama kak Dinya. Tri bahkan terbangun dengan wajah sembab karena menangis.
"Itu cuma mimpi." Tri berujar pada dirinya sendiri seraya mengusap kedua matanya yang ternyata masih basah karena air mata.
Cukup lama gadis itu duduk seraya memeluk lututnya. Matanya sembab karena menangis. Kenapa mimpinya terasa begitu nyata. Membuatnya takut kalau - kalau mimpi itu akan menjelma menjadi kenyataan.
Matanya bergerak menatap benda yang ada di atas nakas. Benda berbentuk persegi dan pipih itu nampak berkedip beberapa kali. Layarnya menyala membuat Tri menggerakkan tubuhnya mendekati nakas dan meraih benda itu dengan tangan kirinya.
10 panggilan tak terjawab
Lima pesan baru yang belum dibaca
Semuanya dari nomor Sian. Tri ingin membukanya dengan cepat, tapi pikirannya kembali melayang pada mimpi mengerikan yang ia alami. Bagaimana kalau isi pesan Sian adalah untuk menyudahi hubungan mereka? Bagaimana kalau Siana benar - benar meninggalakannya demi kak Diana.
Tangannya terkukai lemah membuat ponselnya jatuh ke kasur. Gadis itu begitu overthinking sampai - sampai membuatnya paranoid. Sebelum kembali stres karena memikirkan hal - hal yang tidak - tidak dan yang belum terjadi, suara dering dari ponselnya menyadarkan Tri yang tengah menyungkurkan kepalanya ke kasur.
"Halo?"
Sian menelponnya. Tentu saja Tri punya reflek yang baik apapun yang berhubungan dengan Sian.
"Maaf baru bisa nelpon lagi sekarang. Kamu kenpa belum tidur?" tanya Sian di seberang sana seraya duduk bersandar ke kepala ranjang.
Sementara Tri, gadis itu tak kuasa menahan tangisannyam bukannya menjawab, ia malah menangis hingga layar ponselnya ikut basah karena air mata.
Sian pun jadi khawatir pada gadis itu. Apa yang terjadi? Kenapa tangisannya terdengar pilu sekali. Padahal, dialah penyebab Tri menangis seperti itu.
"Kamu kenapa? Sakit? Udah minum obat? Atau mau aku ke sana? Aku bisa masuk lewat balkon, gimana? Cepet bilang, kenapa nangis?"
Sian sudah bangkit dari duduknya dan menuruni kasur dengan cepat. Mendekati lemati dan bersiap mengenakan hoodie berwarna hitam yang tergantung bebas di dalam sana.
"A-aku gapapa," balas gadis di seberang telepon itu dengan suara terbata. Membuat Sian menghentikan sejenak aktivitasnya. Lalu beranjak mendekati kursi yang menghadap meja belajarnya.
"Aku mimpi buruk, makanya nangis kayak gini. Aku ga sakit kok," ujar Tri seraya mengusap kedua pipi tembabnya dengan tangan kanan yang bebas.
Mendengar Sian yang begitu mengkhawatirkannya, rasanya tidak mungkin pria itu akan meninggalkannya begitu saja. Sian bahkan ingin mendatangi rumahnya selarut ini karena mencemaskan dirinya. Itu membuat Tri merasa sedikit lebih tenang.
"Beneran gapapa?" tanya Sian memastikan.
Tri mengangguk meski Sian tidak bisa melihatnya karena mereka hanya melakukan panggilan suara.
Sian menghela napas lega. Namun sejurus kemudian ia menjauhkan ponselnya dari telinga sejenak. Lalu mengetuk ikon panggilan video. Untuk berjaga - jaga kalau seandainya Tri memang tidak apa - apa pasti terlihat dari wajahnya.
"Coba liat mukanya," pinta Sian sesaat setelah panggilan video itu tersambung. Sementara Tri, gadis itu nampak malu - malu karena Sian tidak pernah menelponnya via video call seperti saat ini.
Pelan - pelan kamera ponselnya ia arahkan ke wajah tembannya yang nampak masih terlihat jejak - jejak air mata.
"Berapa lama nangis tadi? Matanya sembab banget gitu?" Sian bertanya seraya mengamati wajah menggemaskan gadis yang nampak masih menundukkan sedikit wajahnya.
Demi apa? Sian rasanya benar - benar ingin menghampiri gadis itu dan mencium kedua pipi temban itu dengan gemas.
Sementara di atas kasur, Arsen mengamati dengan wajah tidak habis pikir. Kenapa malah Sian yang terlihat bucin dan posessif. Pikirnya seraya menggelengkan kepala heran.
Namanya juga hati manusia. Sering berubah - uba layaknya musim. Kemarin bilangnya benci, eh lama - lama cinta. Kemarin bilangnya cinta biasa, eh lama - lama jadi bucin.