Tidak ada yang bisa Axen pikirkan dengan baik akhir - akhir ini. Pekerjaannya pun seringkali terbengkalai karena lagi - lagi di kepalanya melintas ingatan akan gadis kecil yang ia temui beberapa tahun yang lalu dan remaja perempuan yang ditemuinya di malk beberapa pekan yang lalu.
Setiap kali melakukan pekerjaan, Axen seringkali kehilangan minat dan tujuannya. Entah kenapa ia merasa bosan secara tiba - tiba. Padahal sebelumnya tidak pernah begini.
Pria itu uring - uringan seharian di apartemen berkutat dengan laptop dan ponsel. Lalu beralih ke televisi, namun semuanya tidak bisa membuatnya lupa akan bayang - bayang wajah gadis itu.
Apa yang harus ia lakukan untuk menghentikan ketidakkonsistenan pekerjaan yang ia lakukan saat ini?
"Lo dari kemaren gue hubungin kok ga bisa bisa sih?!"
Gia datang dan mencecar Axen dengan pertanyaannya seraya tersunggut - sunggut. Entah bagaimana bisa ia masuk padahal sandi apaetemen Axen sudah ia ganti berkali - kali.
"Aku mau ngambil cuti selama beberapa bulan," ujar Axen tak acuh seraya menyesap kopi hitam yang disedunya beberapa menit sebelum kehadiran Gia.
"Apa?!" Kalau saja bukan karena kasian dan merasa hutang budi. Axen sudah pastikan ia akan mengusir Gia tiap kali perempuan itu datang dengan seenaknya.
Axen tidak ingin berdebat. Ia biarkan Gia menatapnya dengan wajah tidak percaya lalu mendumel ria. Toh, ia bisa pergi ke kamar meninggalkan perempuan itu sendirian.
"Kalau kamu mau tetap di sini silahkan. Aku mau tidur. Semalaman aku ga bisa tidur. Jadi, tolong jangan diganggu." Axen berujar seraya meraih ponselnya yang ada di meja kaca menghadap televisi. Beranjak menuju kamar dengan langkai gontai. Membiarkan Gia mengumpat sesukannya.
"Siapa suruh dia ga tidur semalaman?! Hah? Dia bilang apa tadi? Cu-ti?! Enak banget dia mau cuti sembarangan." Gia tidak pernah menyangka kalau Axen juga bisa hilang hasrat akan tujuan hidupnya. Padahal, sejak bergabung dan bekerjasama dengannya, Axen selalu siap sedia. Tidak pernah melibatkan perasaan bahkan cenderung bersikap layaknya robot.
Tapi kenapa akhir - akhir ini, pria itu malah uring - uringan tidak jelas. Seolah sedang menggalaukan sesuatu. Sependek pengetahuan Gia mengenai Axen, pria itu tidak pernah uring - uringan kecuali untuk masalah pekerjaan. Lalu sekarang, apa?
Gia mengetuk - ngetukkan jari telunjuknya ke meja seraya menerawang apa yang terjadi pada Axen. Gia tidak bisa hanya diam saja. Sampai ia menemukan penulis baru yang siap untuk menjadi ghow writernya Gia, Axen tidak boleh mengambil cuti sembarangan. Ia harus segera menemui Sian, si penulis baru yang akan bekerjasama dengan mereka.
"Axen! Buka!" Gia mengedor ngedor pintu kamar Axen seraya memanggil nama pria itu.
Sementara Axen, pria itu sudah mengaktifkan mode kedap suara agar suara Gia tidak mengusiknya. Perlahan - lahan, Axen terlelap dalam tidurnya. Sementara Gia, perempuan itu menyerah dan melangkah menjauhi kamar Axen dengan rasa kesal dan geram.
Ia bela belain datang ke apartemen Axen tanpa supir. Tapi hanya untuk diabaikan oleh pria itu. Menyebalkan! Gia kesal bukan main.
Sejak kamarin, Gia gelisah memikirkan pria yang ia temui di mall beberapa hari yang lalu. Pria yang mengaku sebagai Sian namun pergi menghabiskan waktu bersama Diana.
Bahkan, tatapan Sian tidak pernah seintens itu menatap Diana sebelumnya. Gia memang tidak banyak tahu mengenai hubungan keduanya. Tapi, entah kenapa, ada rasa tidak suka yang diam - diam menyusup di d**a Gia yang membuatnya ia merebut Sian dari Diana.
Gila!
Bukankah ia sudah punya Axen yang selalu menemaninya di apartemen?
Gia benar - benar akan gila. Ah tidak, bukankah ia sudah gila sejak lama?
"Baiklah, gue akan makan dan mengacaukan apartemen lo sebelum gue balik," gumamnya seraya menatap pintu kamar Axen yang tertutup rapat.
Gia tidak pernah main - main dengan ucapannya. Perempuan itu gila. Jadi, ia tidak akan pulang sebelum menyelesaikan apa uang harus ia lakukan, yaitu mengacaukan apartemen Axen. Sampai pria itu menyesal karena telah mengabaikan kedatangan Gia.
***
Meski sudah memasuki pekan terakhir sebagai siswa kelas dua belas, Kana tetap semangat untuk hadir di sekolah dalam menyelesaikan berkas adminstrasi, mulai dari pengembalian buku perpus yang pernah ia pinjam sampai dengan mengurus berkas beasiswanya selama ini.
"Maaf deh, soalnya aku buru - buru heheh. Kamu di mana memangnya?" Kana berujar seraya mengambil posisi duduk di kantin sekolah yang nampak dipenuhi oleh siswa kelas sepuluh dan sebelas, seraya berbincang dengan seseorang via telepon yang ditempelkannya ke telinga.
Kana membeli sebotol air mineral dan semangkuk mie ayam favoritnya di kantin. Lalu duduk di kursi yang ada di sudut nampak kosong dan cukup jauh dari keramaian.
"Kamu sakit?" Kana yang tengah mengaduk mie ayamnya kini menghentikan aktivitasnya sejenak.
Suara Tri terdengar serak entah karena baru bangun tidur atau memang sahabatnya itu sedang sakit. Untuk itu Kana bertanya guna memastikan.
"Beneran ga sakit?" tanyanya lagi karena suara Tri benar - benar serak.
Seseorang di sebarang sana menganggukkan kepala. Meyakinkan Kana bahwa ia baik - baik saja. Hanya saja, tubuhnya memang terasa panas ketika disentuh, meski ia sendiri merasakan sebaliknya.
"Kalau ga lupa, nanti aku maen ke rumah kamu ya. Mau dibawain apa?" Kana bertanya seraya menyendok kuah mie ayamnya. Selagi menunggu Tri menjawab, ia menyecap kuah itu perlahan - lahan.
Tri tidak menginginkan apapun, ia hanya mau Sian. Ia mau pria itu datang padanya. Tapi, tentu saja ia tidak akan menagatakannya pada Kana. Untuk itu, Tri hanya menjaeab kalau ia mau dibawakan es krim dan cokelat saja.
"Es krim no! Kamu lagi demam kayaknya, ga boleh makan es krin dulu. " Tolak Kanan seraya mendekatkan botol air mineralnya lalu menyesap airnya lewat pipet yang ada di dalamnya.
Setelah menyelesaikan panggilannya dengan Tri, sahabatnya. Kana melanjutkan aktivitas makan siangnya sendirian. Ia memang tidak punya sahabat dekat manapun kecuali Tri.
Kana tipikal orang yang lebih suka melakukan banyak hal sendirian. Baginya itu lebih nyaman dan menyenangkan. Tapi, semua itu tidak berlaku saat ia mengenal Tri. Si gadis nyentrik, pantang menyerah dan keras kepala itu berhasil merobohkan dinding kenyamanan Kana dalam sendirian.
Selain karena Tri baik dan tulus. Kana juga menyukai sifat gigih dan apa adanya gadis itu. Untuk itu, Kana merasa nyaman - nyaman saja saat ia bersama dengan Tri. Terlepas dari hubungan sahabatnya dengan abangnya itu, baginya, Tri tidak semata - mata mendekatinya karena ingin mendapatkan hati Sian semata.
***
Axen bangun dengan wajah lelah dan peluh membasahi sekujur tubuhnya. Ia terus - terusan bermimpi buruk. Mimpi yang sebenarnya refleksi dari apa yang pernah ia lakukan selama ini. Menyakiti bahkan menghilangkan nyawa orang lain atas perintah dari seseorang penguasa negeri Argon.
Pria itu nampak menyentuh kepalanya yang terasa berdenyut - denyut. Seeprtinya ia demam.
Perlahan - lahan, ia turun dari kasur dan memutar kunci pintu kamar lalu membukanya. Langkah kakinya tertatih - tatih menuju dapur apartemen dan mendapati seluruh ruangan itu nampak berantakan. Axen menghela napas lemah.
Seeprtinya, ia akan menyewa jasa bersih - bersih apartemen. Ia juga lapar, perutnya berbunyi karena sejak tadi pagi tidak diisi sama sekali, hanya menyesap kopi hitam sebelum Gia datang dan mengacaukan isi apartemennya.
Axen mencuci tangannya di wastafel lalu beranjak mengambil gelas dan mengisinya dengan air minum dari dispenser lalu menegak gelas air minum itu hingga tandas.
Setelah selesai membasahi tenggorokannua dengan air. Axdn berlalu kembali ke kamar untuk mengambil ponselnya.
Semenatara di tempat lain, seorang gadis remaja dengan balutan kameja berwarna abu - abu kotak dan jens hitam serta sneaker senada dengan warna jeansnya, tengah duduk gelisah di sebuah ruangan.
Kantor Penyedia Jasa Asisten Rumah Tangga.
Kana sudah berkeliling untuk mencari pekerjaan paruh waktu yang sekiranya cocok untuk ia lakukan, tanpa sepengetahuan abang dan ibunya.
Lalu, kantor ini adalah kantor terakhir dari semua deretan kantor penyedia pekerjaan berbagai jasa.
"Adek ini baru lulus SMA ya?" seorang wanita paruh baya bertanya seraya membawa segelas air dan meletakannya di meja yang ada di hadapan Kana.
Kana mengangguk sopan. Ia datang dengan membawa berkas - berkas kelulusan yang ia dapatkan dari sekolah. Entah nilai - nilainya akan dipertimbangkan atau tidak, ia hanya berharap kalau berkasnya itu setidaknya bisa membuatnya dipertimbangkan untuk bekerja.
"Tapi, apa adek yakin, mau bekerja sebagai asisten rumah tangga?" tanya wanita itu seraya menelisik remaja di hadapannya ini. Kana cantik dan terawat, dan juga melihat nilai - nilainya, Kana juga cerdas. Apa hambatan ekonomi membuat gadis sebelia ini memutuskan untuk bekerja alih - alih belajar untuk persiapan masuk ke perguruan tinggi.
"Kalau bisa, jam kerjanya yang fleksible ada ga ya, bu? Soalnya saya butuh uang buat bantu biaya kuliah nanti." Ujar Kana pelan seraya memilin ujung kamejanya.
Wanita paruh baya di hadapannya itu tersenyum. Ternyata, masih ada remaja pekerja keras seperti Kana di era modern di mana banyak remaja yang memutuskan untuk merengek meminta uang pada orang tua, seperti anak - anaknya di rumah.
Sebagian orang bekerja keras untuk bisa sekolah dan melanjutkan pendidikan. Sementara sebagian yang lain malah menghambur - hamburkan uang dan sekolah ogah - ogahan. Tapi, kita tidak pernah tahu, hal - hal apa yang melatarbelakangi orang - orang bertindak demikian. Kita hanya melihat apa yang nampak di mata kita.
Anak yang seringkali berbuat onar dan pemberontak ternyata ia adalah anak yang kesepian, jauh dari perhatian orang - orang terdekat dan tidak mendapatkan cinta dari kedua orang tuanya. Tapi, siapa yang mau memahaminya? Orang - orang lebih mudah menghakimi tapi enggan memahami. Orang - orang lebih mudah mencerca daripada mencoba menyelami rasa.
Tapi, yang manapun kamu. Si kurang perhatian dan kasih sayang namun bergelimang harta, atau si kurang harta namun mendapat cukup perhatian dan kasih sayang. Ku harap kamu tidak lupa bersyukur di satu waktu setiap hari selama kau hidup. Sebab Allah menyayangimu dan ia tidak membebanimu melebihi batas kemampuanmu.
***
Sesampainya di sebuah gedung apartemen dengan nomor kamar yang tertera di pesan masuk yang ada di ponselnya. Kana berdiri selama beberapa detik sebelum akhirnya mengetuk pintu itu.
Ah iya, ia lupa kalau ia bisa menekan bel yang ada di hadapannya. Kana menepuk jidatnya seraya meringis. Lalu menekan bel pintu itu dengan hati - hati.
Tak sampai lima detik, pintu itu terbuka. Kana masuk dengan langkah ragu. Kedatangannya disambut oleh pemandangan ruang tamu yang super berantakan. Bekas makanan di berserakan di mana - mana. Bantal sofa yang sudah tidak berada di trmpatnya. Lalu ada vas bungan yang pecah di dekat bufet yang ada di dekat meja televisi.
Sebelumnya, Kana sudah memastikan kalau apartemen yang akan ia bersihkan adalah apartemen yang aman. Wanjta paruh baya yang bertuga sebagai admin penyedia jasa ART itu sudah memastikan kalau keselamatan Kana akan dilindungi dan perusahaan mereka juga menjamin kalau pemakai jasa mereka adalah orang - orang yang jelas identitas dan tidak ada catatan kriminal.
Meski hanya dikontrak sebagai pekerja paruh waktu, Kana mendapat hak sebagai karyawan yang sama dengan pekerja tetap. Hanya saja gaji yang ia dapatkan lebih minim.
Tapi, siapa yang membukakan pintu? Kana mulai bertanya - tanya namun tetap melakukan pekerjaannya sebaik mungkin. Mengembalikan bantal sofa yang berserakan di lantai, seolah sengaja di lempar ke sembarang arah. Menatanya kembali ke sofa dengan baik.
Lalu mengambil alat pembersih dan memasukkan sampah - sampah makanan yang menumpuk di meja dan di karpet yang menutupi lantai ruang tamu.
Selesai dengan ruang tamu, Kana beralih ke dapur. Saat langkahnya mencapai dapur, ia kembali menghela napas berkali - kali karena melihat kondisi apartemen ini. Sejorok apa penghuni apartemen ini sampai - sampai membiarkan kondisi dapurnya kacau seperti kapak pecah begini. Kana bergumam pelan seraya melakukan pekerjaannya dengan sebaik mungkin. Hari ini adalah keberuntungannya, ia bahkan bisa bekerja meski berkas - berkasnya masih ada yang belum lengkap. Entah karena ibu admin perusahaan itu kasian padanya atau apa.
Waktu terus berjalan dan Kana hampir menyelesaikan pekerjaannya. Namun, sejurus kemudian ia dikagetkan dengan seseorang yang kini berdiri menatapnya.
"A-anda siapa?" tanya Kana seraya mengambil langkah mundur perlahan.
Sementara Axen, pria itu nampak terpaku menatap sosok yang ada di hadapannya saat ini.
"A-anu, m-maksudku, A-aku pemilik apartemen ini. Maaf aku hanya ingin mengambil air," ujar Axen terbata seraya berjalan mendekati meja bar yang di atasnya terdapat gelas dan teko air minum.
Dengan cepat ia mengisinya setengah penuh lalu berlalu kembali ke kamar.
Kana masih mematung seraya menatap punggung pria tinggi dengan bahu lebar itu menjauh meninggalkannya.
Sejurus kemudian barulah Kana menghela napas lega. Lalu kembali melanjutkan pekerjaan dengan cepat. Ia merasa cemas dan was - was karena berada di satu ruangan dengan pria asing.
Setelah menyelesaikan tugasnya, Kana ingin berlalu meninggalkan apartemen itu dengan terburu - buru, ia melewati ruang tamu dengan berlari kecil, namun tiba - tiba saja langkahnya terhenti.
"Kenapa bisa lupa sih!" Kana meringis seraya menepuk jidatnya pelan. Ia lupa membereskan bekas pecahan vas bunga yang ada di dekat bufet.
Kana pun berbalik dan meletakkan tasnya ke sofa lalu menggulung lengan kameja yang ia kenakan.
"Biarkan saya saja yang bereskan!" Kana yang sudah bersiap ingin mengambil posisi jongkok itu, kini menoleh dan mendapati pria yang tadi dilihatnya di dapur.
"Bahaya, biar saya saja yang bereskan. Kamu bisa pulang sekarang," ujar Axen seraya melangkah mendekati Kana. Gadis itu kembali gugup dan mulai membenarkan lengan kamejanya.
"Ka-kalau gitu, saya permisi," pamit Kana seraya buru - buru mengambil tasnya dan ingin berlalu dari apartemen sesegera mungkin.
Akan tetapi, suara Axen lagi - lagi mengintrupsinya. Membuat gadis itu mulai berprasangka yang tidak - tidak.
"Bayaran kamu," ujar Axen seraya menyodorkan amplop berwarna putih.
Kana menatapnya dengan bingung. Namun sejurus kemudian, ia mengigit bibir bagian dalamnya dengan pelan lalu bergegas menyambar amplop itu seraya mengucapkan terimakasih dengan cepat dan melesat ke luar apartemen
Axen nampak berpikir sejenak, rasanya ia tidak asing dengan wajah gadis itu. Tapi pria itu lagi - lagi terlambat menyadarinya. Ia baru sadar kalau Kana adalah gadis yang ia cari.
Pria itu berlari meninggalakan apartemennya mencari Kana yang ternyata sudah memasuki lift untuk turun ke lantai dasar. Axen tidak menyerah, ia pun masuk ke dalam benda kotak mengkilat itu dengan tergesa - gesa. Namun, sesampainya ia di lantai dasar, Kana sudah ke luar pintu dan menaiki taksi.
Axen mendesah dengan napas terengah seraya mengusap wajahnya gusar.
Meski ia mempunyai kesempatan untuk mengobrol tentang banyak hal dengan gadis itu, nyantanya takdir tidak berpihak padanya.