Sesampainya di apartemen. Axen menghela napas berkali - kali seraya bersandar di punggung sofa. Tubuhnya belum pulih tapi ia sudah berlarian sampai kelelahan begini.
Ingatannya akan gadis remaja yang membersihkan apartemennya kembali terngiang. Andai saja ia menyadarinya lebih cepat. Tentu gadis itu akan berada dalam kekuasaannya sekarang. Axen akan mengurungnya dan menatapnya sepuas yang ia mau.
Bahkan, layar kunci ponselnya pun masih menampilkan foto Kana waktu masih duduk di bangku sekolah dasar.
"Lain kali, aku ga akan ngelepasin kamu," gumamnya seraya menatap wajah menggemaskan gadis kecil yang ada di layar ponselnya.
Axen memutuskan untuk mandi dan bersiap memesan makanan. Karena kondisi tubuhnya yang tidak begitu sehat, ia tidak mungkin memasak kali ini.
Pria itu duduk di sofa seraya memutar - mutar benda berbentuk pipih yang ada di tangannya. Hingga sejurus kemudian, makanan yang dipesannya tiba dan ia mengambilnya dengan cepat.
Apartemennya jauh lebih bersih dari rapi dari biasanya. Gadis itu melakukan pekerjaannya dengan baik. Axen menikmati makanannya dalam diam sesekali ia menyesap cola dingin yang dipesannya bersama makanan yang ia makan saat ini.
Lalu, sebuah notifikasi muncul di pop up ponselnya. Membuat Axrn mengalihkan atensinya sejenak dan menyentuh notifikasi itu dan menunggu beberapa detik sampai sebuah aplikasi penyedia jasa bersih - bersih apartemen tertampang di sana.
Axen diminta untuk memberikan review mengenai kinerja karyawan perusahaan tersebut. Saat bersamaan pria itu tersenyum dengan smirk yang sudah jarang ia perlihatkan.
"I got u babe," gumamnya seraya menatap layar ponsel yang kini menampilkan biodata Kana lengkap dengan alamat rumah dan asal sekolah gadis itu.
Selesai menyantap makan siangnya, Axen pun membereskan sisa makanan dan berjalan menuju balkon apartemennya. Menatap langit siang yang nampak terik dan menyilaukan.
Gadis itu harus bekerja keras di siang hari terik begini. Padahal kebanyakan remaja seusianya tengah menikmati minuman di sebuah kafe ber-ac bersama teman - teman seraya bercanda ria. Tapi memang, sejak bertemu dengan gadis itu di masa lalu, Axen tahu kalau Kana bukan berasal dari keluarga yang berada. Gadis kecil itu bahkan diam - diam bekerja sejak di sekolah dasar. Tangan kecilnya membawa beberapa lembar koran dan menawarkannya pada pengendara di lampu merah. Axen ingat betul, hampir setiap kali ia melewati sekolah dasar itu, ia melihat sosok gadis kecil yang menggemaskan tengah berkerja keras menjual koran dengan tangan kecil dan suara imutnya.
Axen itu p*****l. Ia menyukai Kana sejak gadis itu masih duduk di sekolah dasar. Tapi sayangnya, karena pekerjaannya ia harus kehilangan jejak gadis kecil itu.
"Aku ga sabar mau meluk tubuh kamu yang mungil dan mengecup pipimu yang menggemaskan." Axen berujar seraya menatap layar ponsel yang ia bawa ke mana - mana.
Sementara di tempat lain, Kana tengah duduk di sebuah halte bus dengan amplop uang yang masih ada di tangannya. Ia ingin pulang dengan taksi, tapi, Kana takut kalau ibu atau abangnya akan melihatnya pulang dengan taksi dan menanyakan banyak hal yang tidak ingin Kana jawab.
Ongkos taksi di kota Argon terbilang cukup mahal. Untuk Kana yang hanya pelajar dan tidak punya penghasilan, ia tidak mungkin menaiki taksi dengan uang yang diberikan oleh ibu dan abangnya. Kana akan memilih naik bus atau angkutan umum yang jauh lebih ekonomis.
"Kalau gaji beres - beres segini banyaknya, kayaknya aku bakalan menekuninya mulai sekarang," gumamnya seraya menghitung uang yang ada di dalam amplop lalu memasukannya dengan cepat ke dalam tas yang ia sandang di bahu kanannya.
Tapi, Kana kembali melamun sejanak. Ia merasa kalau pria yang dilihatnya di apartemen itu tidak asing dan rasanya mereka pernah bertemu entah di mana.
Sebelum berhasil mengingat pertemuan mereka yang terjadi di mall. Kana disadarkan oleh kedatangan bus yang sudah ia tunggu sejak beberapa menit yang lalu.
Beberapa orang ke luar dari pintu bus dan Kana pun masuj setelahnya. Duduk di kursi paling belakang dan menyandarkan bahunya ke kaca mobil.
Matahari siang ini begitu terik dan menyilaukan. Sejak beres - beres di apartemen tadi hingga saat ini, Kana belum membasahi tenggorokannya dengan air sedikit pun. Ia merasa haus karena kerongkongannya terasa kering kerontang. Ditambah ketakutannya saat di apartemen tadi membuatnya makin merasa kehausan.
Ia bahkan lupa untuk mampir ke minimarket yang ada di dekat halte. Gadis itu mendesah seraya menyentuh kedua pipinya yang terasa panas.
Sesampainya di rumah, Kana pun bergegas ke dapur dan menuangkan air ke dalam gelas hingga penuh. Lalu duduk di kursi dan menegaknya gingga tandas.
"Abis dari mana kak?" Kena bertanya seraya membuka kulkas dan mengambil satu botol air dingin dari sana lalu ikut duduk menghadap meja makan dan menegak botol itu hingga setengahnya.
"Abis dari sekolah ngurus berkas kelulusan. Ibu mana?" balas Kana lalu bertanya pada adiknya.
"Barusan ke luar mau beli minyak katanya." Kena menutup botol minum itu lalu dibawanya ke kamar. Sementara Kana, gadis itu kembali menuangkan air ke gelasnya dan menegaknya hingga dahaganya tuntas.
Dapur terlihat bersih dan rapi. Kana pun melangkah ke ruang tamu dan mendapati si bungsu tengah mengerjakan sesuatu di kertas yang ada di meja.
"Una kenapa belajar di sini?" tanya Kana pada si bungsu, Kuna.
Kuna sebenarnya mau belajar di kamar, tapi karena ia bertemu Arsen di ruang tamu, makanya ia memilih belajar di sini. Selain Arsen bisa diajak diskusi, ia juga bisa menanyakan banyak hal pada teman abangnya itu.
Akan tetapi, Arsen selalu pergi saat ada orang lain yang datang. Seperti saat ini, teman abangnya itu ke luar dengan cepat sesaat mendengar suara langkah kaki kak Kana.
"Gapapa kak, di kamar agak panas soalnya. Kakak kok ketingetan, abis dari mana?" tanya Kuna saat melihat peluh yang membasahi sekitar wajah Kana dan juga nampaknya kakaknya itu kelelahan seperti habis melakukan aktivitas berat.
Karena tidak ingin Kuna bertanya lebih jauh, Kana memutuskan untuk meninggalkan adiknya di ruang tamu setelah mengatakan kalau Kana keringetan karena kelamaan menunggu bus yang menuju arah pulang.
***
Setelah berhasil mendapatkan segala informasi mengenai Kana, Axen pun tidak membuang waktu. Ia sengaja menonaktifkan ponselnya dan membeli ponsel baru.
"Bisa saya meminta khusus untuk pegawai perusahaan anda yang bernama Alkana Adinda untuk melakukan tugasnya setiap pekan di apartemen saya?" Axen mendatangi perusahaan itu langsung dan meminta pada direktur perusahaan yang katanya sulit ditemui, namun ketika mendengar nama Axen malah datang dengan begitu cepat.
"Boleh saya tahu, kenapa pak Axen menginginkan pegawai paruh waktu kami alih - alih pegawai tetap yang profesional?" tanya pria dengan setelan jas rapi itu seraya menelisik Axen.
Sebenarnya, Axen benci diikutcampuri urusan pribadinya seperti yang dilakukan oleh pria yang ada di hadapannya ini. Tapi, ia akan menjelaskannya sekali dan tidak akan mengulanginya.
"Saya hanya menginginkan Kana, bukan pegawai anda yang profesional."
Singkat, jelas dan tidak bertele - tele. Axen menatap pria di hadapannya itu dengan tersenyum dingin. Semoga saja pria ini tidak membuatnya kesal dengan terlalu banyak bertanya. Karena Axdn tidak akan menahan diri untuk menyingkirkan siapa saja yang menghalangi rencananya kali ini.
"Baiklah, saya akan menghubungi pegawai kami bernama Kana. Mohon pak Axen menunggu sampai dia mau menerima tawaran ini." Pria yang nampak lebih tua dari Axen itu tersenyum seraya menyerahkan selembar kertas persetujuan mengenai bayaran yang akan Kana terima dan tanda tangannya di sana.
"Saya ingin anda segera menghubungi saya dan mengabarkan kabar baik," ujar Axen seraya berdiri dan mengulurkan tangan kanannya. Pria di hadapannya menjabat tangannya dengan canggung seraya tersenyum.
Sementara Axen menunggu kabar dari perusahaan penyedia jasa ART itu, di tempat lain, Kana sedang berbaring di kasurnya seraya menggulir layar ponsel yang ada di tangannya saat ini.
Tidur siangnya terganggu karena suara dari benda berbentuk pipih itu terus meraung. Kena dan Kuna yang sedang tertidur merasa terganggu dan membangunkan sang kakak.
"Siapa yang menelpon siang bolong begini?" gumam Kana seraya membuka matanya lebih lebar dan mnyentuh notifikasi panggilan tak terjawab dari nomor perusahaan tempatnya melamar hari ini.
Di saat yang tepat, ponselnya kembali berdering saat Kana tengah membaca pesan masuk. Buru - buru diterimanya panggilan itu.
"Iya, selamat siang pak, ada yang bisa saya bantu?" ucap Kana seraya bangkit dari kasur dan melangkah ke luar kamar. Mencari tempat aman agar tidak ada yang mendengar percakapannya nanti.
Kana pun berjalan ke luar rumah dan duduk di kursi kayu yang ada di halaman rumah.
"Apa?"
Kana terkejut namun dengan cepat ia mentralkan nada bicaranya.
"Jadi, mulai pekan depan saya sudah bisa bekerja dan digaji setelahnya?" Kana bertanya memastikan kalau - kalau ia tidak sedang ngigau di siang bolong.
Tentu saja ia sangat senang. Karena dengan begitu, ia akan fokus belajar selain hari bekerjanya. Ia akan semangat untuk mendaftar ke kampus yang diinginkannya.
"Besok? ... InsyaaAllah bisa pak." Kana berujar dengan semangat seraya berdiri di samping pohon rindang. Besok ia diminta untuk datang ke kantor dan menandatangani sebuah kontrak kerja.
Saking semangatnya, ia tidak bertanya, di mana ia akan ditugaskan. Bukankah ia cukup takut berhadapan dengan Axen? Tapi, bagi Axen, sebaliknya. Pria itu sudah tidak sabar untuk berhadapan dengan gadis kecilnya.
***
Weekend kali ini, Kana bangun pagi - pagi sekali. Ia membersihkan dapur dan menyapu bahkan rumah dengan bersih. Ia pun ikut mengantar ibunya ke pasar dengan berjalan kaki.
Sian menawarkan untuk mengantar tapi, ibunya bilang jarak dari pasar ke rumah mereka sebenarnya tidak begitu jauh. Lagian jalan kaki juga termasuk olahraga tubuh yang menyehatkan.
"Kenapa siap - siap sepagi ini, ka?" tanya bu Amina pada putri tertuanya itu yang tengah mengikat rambut sebahunya dan mulai membantu bu Amina dengan setelan rapi.
"Ah, ini bu, kakak mau ke rumah temen soalnya pada ngajakin belajar bareng buat persiapan tes masuk PTN nanti," jawab Kana seraya membantu memilah sayur bayam dan mencucinya di bawah air mengalir dengan bersih.
"Tapi nanti sarapan dulu, kan?" tanya bu Amina seraya menumis bumbu yang sebelumnya diiris dengan rapi.
Kana menganggukkan kepala. Ia tersenyum seraya menjawab, " miya bu, sarapan dulu."
Sebab, ibunya sangat senang kalau anak - anaknya sudah sarapan sebelum meninggalkan rumah untuk bekerja, sekolah atau untuk keperluan lainnya.
Selesai memasak untuk sarapan. Kana dibantu oleh abangnya menata sarapan di atas meja. Keluarga kecil itu menyantap sarapan bersama. Sesekali Sian menggoda adik kembarnya yang entah sejak kapan terlihat semakin dewasa dan cantik.
Kena dan Kuna hanya merengut saat abangnya itu meledek keduanya yang pernah mengompol saat masih sekolah dasar. Lalu sekarang, keduanya sebentar lagi akan lulus SMP dan masuk SMA. Sungguh waktu begitu cepat berlalu.
***
Selesai sarapan, Kana pun diantar Sian ke rumah sahabatnya, Triana. Kana terpaksa menggunakan nama Tri, agar orang rumahnya tidak curiga.
"Abang mau kerja di kafe biasa. Nanti, pulangnya abang jemput aja." Sian berujar seraya menyerahkan uang pada adiknya.
"Ini buat apa?" tanya Kana bingung. Ia bahkan selalu menabung uang yang diberikan Sian yang memang jarang ia belanjakan, kecuali untuk keperluan yang benar - benar penting.
"Buat jajan," jawab Sian singkat.
Pria itu berlalu setelah Tri datang. Keduanya nampak saling mengindar entah kenapa.
"Kamu beneran kerja Na?" tanya Tri seraya mengajak Kana masuk ke dalam rumahnya. Namun Kana menolak dengan sopan. Karena ia harus segera ke kantor tempatnya melamar kerja kemarin.
"Kayaknya pulang dari tempat kerja aku bakalan ke sini lagi deh, gapapa kan? Soalnya nanti abang curiga kalo aku minta jemput di tempat lain." Jelas Kana pada sahabatnya itu.
Tri cemberut karena ia berharap bisa menghabiskan waktu bersama Kana, tapi sahabatnya malah akan pergi setelah ini.
"Jangan bilang - bilang sama bang Sian ya," pinta Kana pada Tri yang nampak sedang berpikir sejenak.
"Dengan satu syarat," ujar Tri seraya tersenyum jail. Kana menghela napas seraya menatap sahabatnya itu.
"Apa itu?"
"Aku mau ikut. Nanti kita bisa pulang sama - sama. Lagian, aku khawatir kalo kamu sendirian naik kendaraan umum."
Baiklah, Kana mengangguk setuju. Toh, Tri tidak akan membocorkan rahasianya ini jika ia mengajak sahabatnya itu bersamanya.
"Yaudah, kalo gitu kita cari taksi sekarang," ajak Kana seraya melangkah ke luar gerbang rumah sahabatnya.
Tapi, Tri sudah lebih dulu meminta supir keluarganya untuk mengantarkan mereka ke tempat tujuan.
"Kita ga izin dulu sama mama papa kamu?" Kana bertanya khawatir karena ia baru ingat saat mereka sudah dalam perjalanan menuju kantor tempatnya melamar kerja.
Tri menggelengkan kepala. Karena dulu kedua orang tuanya pulang dan pergi sesuka hati tanpa kabar dan tanpa ada waktu barang untuk menyapanya saat pergi atau pulang sekolah atau ke manapun itu. Tri bahkan pernah menginap di rumah Kana dan orang tuanya bahkan tidak tahu dan tidak menyadari kalau putri bungsu mereka tidak pulang. Jadi, Tri menganggap kalau ia bisa melakukan hal yang sama.
Ia bisa pulang dan pergi kapan saja ia mau entah dengan atau tanpa izin kedua orang tuanya sekalipun.
Bukankah anak adalah refleksi dari orang tuanya?