Seperti rencana semula. Kana mengajak-atau lebih tepatnya membiarkan Tri, sahabatnya itu ikut dengannya. Sesampainya di kantor. Mereka disambut oleh wanita paruh baya yang pertama kali Kana temui saat melamar kerja di tempat ini.
Sementara Kana yang tersenyum seraya menyapa wanita paruh baya yang bodohnya belum ia ketahui namanya. Tri malah sibuk menelisik bangunan yang ia masuki beberapa saat yang lalu.
"Silahkan duduk," ucap wanita paruh baya dengan penampilan elegan itu ramah seraya melangkah ke ujung ruangan.
Kana dan Tri hanya tersenyum seraya mengucapkan terimakasih. Sesaat setelah mereka duduk, wanita paruh baya itu datang dengan map berwarna cokelat di tangan kanannya.
"Jadi, kemarin kami kedatangan klien yang apartemennya kamu bersihkan. Ia meminta kami untuk menugaskan kamu setiap pekannya untuk bersih - bersih di apartemennya." Wanita itu bercerita mengenai kedatangan Axen kemarin. Ia bahkan kaget karena itu pertama kalinya dalam sejarah, ada klien seperti Axen.
"Dan ini, kontrak yang ditawarkan oleh perusahaan. Kamu bisa membacanya terlebih dahulu," lanjut wanita itu seraya menyerahkan lembar surat kontrak yang ia maksud dan meletakkannya di atas meja kaca yang ada di hadapannya.
Kana nampak tersenyum seraya mengangguk sopan. Lalu meraih kertas itu dan mulai membacanya.
Di sana tertera kalau Kana tidak hanya bersih - bersih tetapi juga harus membuatkan makan siang. Awalnya ia tidak suka dan ingin menolak, tapi melihat bayaran yang akan ia terima berjumlah fantastis, Kana menjadi ragu untuk menolaknya.
Toh, dia sudah sering membantu ibunya memasak di rumah. Tidak begitu sulit jika hanya menyiapkan makan siang, bukan?
"Bagaimana?" tanya wanita paruh baya dengan rambut yang beberapa helainya sudah memutih, namun wajahnya tetap terlihat anggun.
"Saya setuju, bu," balas Kana seraya meletakkan kertas itu ke meja dan mengambil pena yang ada di atas meja lalu menuliskan tandatangannya di sana.
Sementara Tri, gadis itu nampak menatap Kana dengan heran. kenapa Kana mau melakukan pekerjaan ini? Bukankah cukup berisiko untuknya. Mereka masih anak - anak dan Kana musti bekerja di sebuah apartemen yang entah siapa penghuninya.
"Baiklah, terimakasih sudah menyetujuinya dan kamu bisa mulai bekerja pekan depannya."
Kana mengangguk seraya mengucapkan terimakasih dengan tulus dan menyalami tangan wanita paruh baya yang pada akhirnya Kana menanyakan siapa namanya.
"Panggil saja, bu Grace." Kana mengangguk seraya tersenyum tulus.
Sementara Tri, gadis itu hanya mengikuti Kana dan tersenyum kikuk sebelum akhirnya mereka berpamitan meninggalkan gedung itu bersama.
"Kamu kenapa ga cerita ke aku kalo mau kerja?" Tri bertanya sesaat setelah mereka memasuki mobil yang dikendarai supir keluarganya.
"Maaf ya. Aku kemaren juga sekalian abis ngurus berkas kelulusan dan ga sengaja lewat sini karena memang mau nyari kerjaan sementara sampai aku yakin bisa kuliah dan ga nyusahin ibu sama abang. Maaf ya, baru cerita sekarang," jelas Kana seraya menatap Tri dengan tatapan bersalah.
Tri menghela napas. Ia tahu kalau kehidupan Kana dan keluarganya sangat sederhana dan ia juga paham kalau Kana bukan tipikal anak yang akan membiarkan ibu dan abangnya bekerja keras untuk membiayai kuliahnya nanti. Tapi, Kana tidak seharusnya mengambil pekerjaan yang menurut Tri itu berisiko.
"Tapi, Na. Kamu yakin mau kerja di apartemen itu? Kamu kan ga tau, siapa penghuninya? Jangan - jangan psikopat lagi. Ngeri banget kan, mending kamu batalin ya. Nanti aku bantuin biar kamu bisa dapat kerjaan yang lebih aman, gimana?"
Kana sudah menduga kalau Tri akan memintanya untuk meninggalkan pekerjaan itu. Ia tahu, kalau sahabatnya ini begitu peduli. Tapi, Kana tidak bisa membatalkan kontrak kerja itu begitu saja. Ia butuh pekerjaan itu dan ia butuh uangnya untuk biaya kuliahnya nanti, syukur - syukur kalau ia bisa membantu ibu dan abangnya dalam membiayai sekolah kedua adik kembarnya.
"Aku tahu kok, siapa penghuni apartemen itu. Kamu jangan khawatir, ya. Orangnya baik kok. Kemaren aja, aku langsung dibayar setelah bersih - bersih. Uangnya bisa aku gunain buat beli buku persiapan ujian masuk PTN nanti."
Tri menghela napas lemah. Ia tahu kalau Kana akan menolak idenya. Andai saja sahabatnya ini mau menerima bantuan uang darinya. Tapi, itu tidak mungkin. Menerima sepatu pemberian Tri saja, Kana merasa sungkan. Apalagi kalau Tri menawarkan uang. Sahabatnya itu pasti akan tetap bekerja untuk mengembalikannya.
Andai ia bisa berbagi uang orang tuanya yang banyak dengan Kana. Tri pasti tidak segan - segan memberikannya pada Kana secara cuma - cuma. Toh, uang orang tuanya banyak dan berlimpah. Tri bisa menggunakannya untuk apa saja.
Tapi, ia tidak mendapatkan cinta sebanyak yang Kana dapatkan dari ibu, abang dan adik - adiknya. Kana mendapatkan semua cinta yang tulus dan penuh pengorbanan itu dari keluarganya. Sementara Tri?
"Bang Sian nelpon," Kana berujar cemas saat ponselnya berdering dan nama abangnya terpampang di layar panggilan masuk.
"Kita bentar lagi sampai kok. Jawab aja," saran Tri pada sahabatnya itu agar menerima panggilan masuk dari Sian.
"Iya, wa'alaikumussalam bang. Ini, Ana masih di rumah Tri. Abang udah pulang kah?"
Kana menatap Tri sekilas dengan wajah khawatir. Tapi saat Sian mengatakan kalau ia masih berada di kafe, gadis itu perlahan merasa lega.
"Iya bang. Kana tunggu sampai abang jemput. Iya...wa'alaikumussalam."
Bahu Kana merosot sesaat setelah panggilan dari abangnya berakhir. Tubuhnya ia sandarkan ke punggung kursi mobil. Sementara Tri, gadis itu ikut lega.
"Lain kali kalau butuh bantuan aku, jangan sungkan buat ngabarin. Kalau perlu langsung ke rumah gapapa. Aku jarang keluar rumah, kecauali diajak sama kakak aku atau kamu." Tri menjelaskan kalau ia akan siap sedia jika Kana membutuhkan bantuannya sewaktu - waktu.
Kana tersenyum lalu memeluk sahabatnya itu dengan tiba - tiba. Meski kagaet, Tri tetap membalas pelukan sahabatnya itu seraya menepuk bahu Kana dengan pelan. Dua orang yang saling menguatkan meski tak banyak yang bisa mereka lakukan untuk satu sama lain.
Persahabatan itu, bukan tentang seberapa banyak yang bisa ia berikan untukmu. Tapi tentang seberapa tulus ia mau memberikan apa yang bisa ia berikan untukmu. Bukan seberapa sering kalian menghabiskan waktu, tapi tentang seberapa sering kalian saling meluangkan waktu untuk satu sama lain di tengah kesibukan masing - masing.
Tidak ada sahabat yang sempurna. Masing - masing dari kita pasti salah dan kurangnya. Tapi, bukankah di memang tidak ada yang sempurna di dunia ini, kecuali Pemiliknya.
"Makasih ya, udah mau jadi sahabat aku," ucap Kana tulus dengan kedua sudut mata yang mengeluarkan cairan bening. Allah MahaBaik telah menghadirkan Tri di hidupnya. Di saat yang sama, Tri justri merasa jauh lebih beruntung karena Allah menghadirkan Kana dan keluarga sahabatnya itu di kehidupan Tri.
***
Sian masih sibuk berkutat dengan ponselnya sementara seorang remaja mendatanginya dengan senyum malu - malu.
"Maaf, bisa minta no hp masnya ga?" Sian menoleh dan mendapati seorang remaja sekolah menengah atas yang masih mengenakan seragam sekolahnya itu menatapnya dengan senyuman malu - malu seraya mengulurkan benda berbentuk pipih dengan case berwarna rainbow.
Sian baru saja ingin membuka mulutnya, namun suara seseorang sudah lebih dulu mengintrupsinya dan membuat remaja di sampingnya itu ikuit mengalihkan tatapan.
"Jangan berani - berani kamu kasih no hp ke cewe lain!" Tri datang seraya berkacak pinggang. Gadis itu seolah mengeluarkan tanduknya dan siap menghancurkan siapa saja yang ingin merebut Sian darinya.
Sian menghela napas seraya mengusap wajahnya dengan telapak tangan. Ia berusaha menyuruh remaja SMA di hadapannya itu untuk segera menjauh.
"Kamu pergi sekarang ya," ujar Sian seraya mendorong pelan gadis SMA yang malah tidak bergerak seincipun. Seolah menolak pergi hanya karena seorang gadis seumuran dengannya datang.
"Lo!" tunjuk Tri sesaat setelah langkahnya tiba di hadapan Sian.
"Pergi atau gue yang seret lo buat ke luar dari sini?!" ujarnya bengis seraya mengacungkan telunjuknya dengan tajam.
Remaja SMA di hadapan Tri nampak tidak bergeming. Ia bahkan hanya tersenyum seraya melipat tangan di d**a. Seolah ancaman Tri barusan hanya kicauan burung yang lewat semata.
"Memangnya lo siapa?" tanyanya pada Tri dengan wajah yang ingin sekalk Tri cakar dengan kukunya. Wajah menyebalkan ala - ala pelakor.
"Gue?" Tri menunjuk dirinya sendiri seraya tertawa mengejek.
Sebelum keributa yang lebih buruk terjadi. Sian buru - buru memasukkan ponselnya ke dalam saku. Dan melerai adu mulut yang terjadi di antara kedua remaja di hadapannya itu.
"Udah ya. Saya tidak ingin ada keributan di sini. Sebaiknya, kamu," Sian menatap gadis asing di hadapannya itu, "pulang. Saya tidak akan memberika no hp saya pada orang asing. Mengerti."
Tri tersenyum penuh kemenangan seolah ucapan Sian barusan adalah jawaban atas marahnya Tri padanya. Bahwa Sian miliknya dan sebaliknya.
***
"Kenapa ga bilang kalau aku pacar kamu?" tanya Tri dengan wajah sebal sesaat setelah remaja SMA itu berlalu meninggalkan mereka.
Sian menghela napas lelah. Apa ia harus memberitahu orang - orang kalau mereka berdua pacaran? Sian, pria yang sebentar lagi akan berusia dua puluh tiga tahun pacaran dengan seorang remaja kelas dua belas SMA?
"Sian, besok kafe kamu buka sendiri ya. Saya mau pergi ke luar kota selama beberapa hari. Ini kunci gudang dan kunci kafenya. Saya percayakan sama kamu," ujar pemilik kafe yang kini berdiri di antara Sian dan Tri. Pria bertubuh semakin tambun itu nampak bingung saat mendapati gadis seusia putrinya yang sering menemui Sian itu, kini menatapnya dengan wajah masam.
"Baik pak. InsyaaAllah saya akan amanah. Kalau boleh tau, bapak pulangnya tanggal berapa?"
"Awal - awal bulan depan mungkin. kamu bisa mengabari saya jika ada hal - hala yang ingin ditanyakan."
Sian mengangguk mengerti seraya menerima kumpukan kunci yang ada di tangan bosnya itu.
Pria itu berpamitan setelah memastikan kalau kafe sudah dibersihkan dengan baik oleh pegawai - pegawainya.
"Oh iya, tadi katanya putri saya mau datang. Apa kamu liat ada remaja SMA yang mengenakan seragam sekolah datang ke sini?" tanya pria itu pada Sian.
Tri buru - buru menyahut, "Ga ada pak. Kayaknya dia ga jadi datang deh hehe."
Pria itu hanya menganggukkan kepala dan berlalu meninggalkan Sian dan Tri yang saling berhadap - hadapan.
"Kenapa kamu bohong gitu?" tanya Sian seraya menatap gadis mungil di hadapannya.
Tri membuang muka dan mendengkus kesal. Salahkan saja Sian yang tidak tegas mengatakan kalau Tri adalah pacarnya. Bila perlu Sian pasang papan nama.
"Pacarnya Triana!"
"Aku mau pulang!" Tri berlalu begitu saja tanpa menjawab pertanyaan Sian. Padahal ia datang jauh - jauh untuk menemui pria itu. Mereka bahkan sudah jarang menghabiskan waktu bersama. Giliran ada waktu, kenapa malah berantem seperti ini.
"Maafin aku ya," ucap Sian seraya meraih lengan kecil gadisnya itu dan menahan langkahnya.
Tri menunduk dalam. Air matanya sudah meluncur dengan mulus melewati pipi dan jatuh ke kaus yang ia kenakan.
Gadisnya masih diam. Sian makin merasa bersalah. Mau tidak mau ia menggunakan cara terakhir agar Tri mau memaafkannya.
Membawa gadis itu ke dalam pelukannya. Mengusap puncak kepala sosok mungil yang ada dalam dekapannya itu dengan lembut seraya mengatakan maaf berulang kali.
"Aku ga maksud buat ga ngakuin kamu. Aku cuma ga mau nanti kamu kenapa - kenapa kalau banyak yang tahu kalau kamu pacar aku," ucap Sian lembut seraya mengelus puncak kepala Tri.
Gadis itu nampak diam tidak bergeming. Air matanya sudah berhenti mengalir namun rasa kesalnya masih terasa menyesakkan d**a. Ingin sekali ia menjambak rambut gadis yang dengan lancangnya meminta nomor ponsel Sian.
Marahnya perempuan itu terasa merepotkan bagi Sian. Mereka kadang diam seribu bahasa, tidak mengatakan apapun dan membuat Sian serba salah. Entah di rumah saat ibu atau adik - adik perempuannya merajuk, atau saat Tri, gadisnya merajuk. Sian pasti merasa serba salah.
Didiamkan mereka tambah marah, ditanya apa yang harus Sian lakukan, mereka akan bilang, "pikir aja sendiri!"
"Jadi, aku harus gimana?" tanya Sian pada akhirnya karena sejak mereka pulang dari kafe, Tri menjaga jarak darinya. Bahkan gadis itu duduk paling ujung agar tidak bersentuhan dengan Sian.
Sian menepikan sepeda motornya di pinggiran jalan. Lalu turun dan berdiri menghadap Tri yang masih membuang muka.
"Traktir aku makan mie ayam, batagor, cilok, es krim sama cokelat."
Sian yang sebelumnya nampak memelas kini menahan kekehannya. Sementara gadis yang barusan berujar, kini menatap Sian dengan tatapan jengah.
"Kamu mau semuanya?" tanya Sian seraya menahan kekehan geli. Sejak kapan gadis sekecil Tri makan sebanyak itu. Atau Sian saja yang baru tahu, kalau cewe mungil itu tidak melulu tidak suka makan. Banyak dari mereka yang malah gemar makan, hanya saja tidak gendut - gendut dan tidak tinggi - tinggi. Entah ke mana larinya semua gizi makanan yang dikonsumsi.
Tri cemberut maksimal. Ia baru saja akan memaafkan Sian. Tapi kenapa pria ini malah berulah lagi.
"Iyaiya... Aku traktir semuanya. Jadi, jangan ngambek lagi ya," ujar Sian seraya mengusap puncak kepala gadisnya hingga rambut gadis itu sedikit berantakan.
Tri nampak diam, namun entah kenapa degub jantungnya mulai lebay. Rambutnya yang diacak tapi kenapa hatinya yang berantakan.
Mereka melanjutkan perjalanan. Meski hari sudah sore dan langit jingga perlahan menampakkan dirinya. Hilir mudik kendaraan seolah tak ada henti - hentinya. Malah semakin ramai.
Sebelum mentraktir gadisnya. Mereka sempat menepikan kendaraan di halaman Masjid saat adzan magrib berkumandang. Selepas itu, keduanya kembali melanjutkan perjalanan.
Berdua bersama seseorang yang kau cintai membuat dunia terasa dua kali lebih indah dari bisanya. Senja di sore hari yang biasanya terlihat biasa saja, kini nampak lebih menawan di mata seorang Triana.
Di bawah langit jingga mereka berkendara bersama. Membicarakan hal konyol yang sesekali membuat mereka tertawa. Benar kata orang, kalau sedang dimabuk cinta, dunia terasa milik berdua.