Sebenarnya, keputusan Kana untuk bekerja diam - diam tanpa sepengetahuan ibu dan abangnya bukanlah keputusan yang impulsif. Gadis itu sudah memikirkannya sejak lama. Sejak ia duduk di bangku kelas sepuluh.
Tapi, cepat atau lambat ia harus memberitahu ibu dan abangnya. Bukan apa, keduanya sudah sangat mempercayai Kana. Kana tidak pernah mengecewakan ibu dan abangnya. Meski tidak selalu menempati posisi pertama di sekolah, peringkat kelas Kana selalu berada di posisi tiga besar. Baik ibu maupun abangnya pun tidak pernah menuntut lebih dari itu.
Kana tidak pernah dipaksa agar selalu juara satu. Sebab bagi ibu dan abangnya, Kana sudah membanggakan mereka meski tidak berada di peringkat pertama sekalipun.
"Pekan ini katanya sekolah kamu mau ngadain acara kelulusan ya, ka?" tanya ibu seraya membolak lembar koran yang dibacanya pagi ini.
Kana yang baru saja pulang dari joging pagi, duduk di samping ibu seraya menetralkan pernapasannya. Gadis itu menganggukkan kepala.
"iya bu. Tapi acaranya boleh dihadiri boleh tidak. Toh itu cuma acara formalitas aja."
Pekan ini Kana sudah mulai bekerja paruh waktu. Ia tidak tahu kapan harinya. Sebab di kontrak menyatakan kalau Kana harus siap sedia saat diminta untuk bersih - bersih entah itu hari weekend atau bukan.
Salahnya yang dengan mudahnya menandatangani kontrak itu tanpa pikir lebih panjang dan lebih matang. Karena kalau sudah begini, Kana musti pintar pintar mengatur waktu. Sebisa mungkin kegiatan lain tidak dilaksanakan berbarengan dengan hati kerjanya nanti.
"Iyakah? Tapi, meskipun gitu, kakak tetap harus hadir dong. Itu kan sekali seumur hidup. Biar ada kenang - kenangan foto - foto sama temen dan gurunya." ibu nampak antusias, meski ia tahu putrinya ini tidak begitu menyukai keramaian. Kana seringkali menarik diri dari acara - acara atau perayaan seperti acara kelulusan seperti ini.
Kana tersenyum seraya mengangguk mengerti. Ia paham kalau ibunya ingin dirinya datang ke acara itu. Untuk itu, meski sungkan, Kana akan memutuskan untuk datang.
"Kakak masuk dulu ya bu. Oh iya, si kembar udah bangun?" tanya Kana saat ingin berlalu namun menjeda langkahnya.
"Kayaknya udah. Tapi tadi ibu minta tolong buat cuci piring setrlah sarapan. Kakak juga sarapan gih," balas ibu seraya menyuruh putrinya untuk menyantap sarapan yang ia siapkan pagi ini.
"Siap bu bos," balas putrinya seraya tersenyum dan berlalu ke dalam rumah.
Kana pun sarapan sendirian. Karena kedua adiknya sudah sarapan dan juga mencuci piring kotor bekas sarapan mereka. Semantara Sian, abangnya itu nampaknya belum bangun karena kelelahan bekerja. Kana semakin tidak tega melihat abangnya yang sering kali lembur dan pulang larut malam.
Roti isi telur dadar dan sosis serta saus dan mayones terasa menyatu di lidahnya saat menggigit potongan roti isi bikinan ibu pagi ini.
Kana selalu suka dan menikmati makanannya dengan perlahan seraya menhayati. Agak konyol memang, namun ia selalu berpikir kalau makanan enak yang ia makan rasanya tidak tega untuk dihabiskan saat itu juga.
Tapi, sesaat setelah menggigit gigitan pertama, Kana meletakkan sarapannya sebentar ke dalam piring yang ada di hadapannya. Pasalnya, ponselnya berdering dan menampilkan nomor baru di layarnya.
Biasanya Kana akan menimbang - nimbang sebelum mengangkat panggilan masuk dari nomor yang tidak dikenal. Akan tetapi, karena ia ingat, kalau bu Grace mengatakan bahwa klien perusahaan akan menelpon, makanya Kana pun menerima panggilan itu setelah berpikir sejenak.
"Halo, assalamu'alaikum," sapanya pada si penelpon. Tapi tidak mendapat jawaban.
"Ini costumer perusahaan penyedia jasa ART?" tanya Kana seraya bangkit dari duduknya dan berlalu ke kamar mandi yang ada di dapur. Ia tidak ingin ada yang mendengar percakapannya nanti.
"Ya, saya Axen. Saya minta hari ini kamu ke apartemen saya. Pukul dua siang dan jangan terlambat."
Belum sempat Kana membuka mulut untuk bertanya lebih lanjut, tiba - tiba saja panggilan itu diakhiri secara sepihak.
"Dasar tidak sopan!" gerutu Kana seraya menatap layar ponselnya sebal.
Mentang - mentang kaya dan bisa membanyarnya dengan harga yang fantastis, bukan berarti pria itu punya hak untuk bersikap tidak sopan begini. Kana menjunjung tinggi etika kesopanan.
Gadis itu menghela napas sebentar sebelum berlalu dari kamar mandi. Kembali duduk di meja makan dan menuangkan air ke dalam gelas, lalu menegaknya hingga setengah. Kemudian Kana melanjutkan aktivitas sarapan paginya dan segera mencuci piring kotor bekas sarapannya barusan.
***
Sementara di sebuah apartemen, Axen, pria jangkung itu terlihat sedang menatap kerusakan yang baru saja ia cipatakan. Ya, ia sengaja membuat seluruh apartemennya berantakan sampai terlihat seperti kapal pecah sungguhan.
Tapi, siapa sangka kalau sesaat setelahnya, suara pintu apartemennya berhasil mengalihkan atensi pria itu. Dengan langkah besar ia beranjak meninggalkan kamar dan menuju pintu.
"Seharusnya gadis itu datang siang ini, bukan sekarang." pikirnya bingung seraya mendekati pintu yang terus ditekan belnya.
Sesaat setelah Axen mencapai pintu, ia mengdengkus. Ternyata Gia, perempuan sinting itu nampam kesal karena Axen belum kunjung membuka pintu dan sandi apartemennya pun sudah diganti.
Dengan wajah tanpa dosa, Axen melenggang kembali ke kamar. Membiarkan Gia menunggu seperti orang bodoh. Axen tidak peduli. Pria itu hanya ingin merebahkan tubuhnya ke kasur. Karena seharian ia telah susah payah mengacaukan apartemennya sendiri agar Kana, gadisnya itu bisa berlama - lama bersamanya.
Dasar liciki!
Sementara di tempat lain. Kana sibuk berkutat dengan beberapa lembar pakaian yang haru ia lipat seraya dibantu oleh kedua adik perempuannya.
Kana sibuk menatap arloji yang melingkari pergelangan tangannya. Memastikan kalau ia punya waktu untuk beralasan dan pergi bekerja.
Selepas zuhur tadi, ia sudah mengabari sahabatnya, Tri. Ia merasa sungkan karena merepotkan sahabatnya itu. Tapi, ia tidak punya banyak pilihan. Kalau tidak ingin ibu atau abangnya tahu, ia musti beralasan main ke rumah Tri karena masa - masa sekolah mereka benar - benar berakhir sebentar lagi. Kana ingin menghabiskan cukup banyak waktu bersama sahabatnya itu.
"Beneran mau kerja hari ini Na?" tanya Tri yang kini menuruni anak tangga karena Kana menelponnya dan baru saja tiba.
"Yaudah, aku bentar lagi ke luar. Kamu tunggu di ruang tamu aja ya."
Sementara menunggu sahabatnya tiba, Kana tersenyum saat mama Tri menyuguhkan kue kering yang baru saja dibikin.
"Dicicip Na. Tante baru belajar bikin kue kering buat persiapan buka toko kue." Mama Tri nampak antusias menawari sahabat putrinya itu kue yang ia bikin dengan efort dan cinta.
Sementara Kana duduk dengan gelisah karena waktu berjalan begitu cepat. Kana tetap tersenyum seraya berterimakasih pada mama sahabatnya itu. Lalu mengambil satu buah kue berbentuk seperti kelopak bunga itu dan mengunyahnya dalam diam.
Enak.
"Maaf lama ya, Na. Tadi aku lupa ngambil hoodie. Kita berangkat sekarang aja."
Tri datang seraya membenarkan penutup kepalanya. Ya, hoodie dengan penutup kepala yang ia kenakan nampak besar di tubuh kecilnya.
"Loh, kok udah mau pergi aja?" tanya mama Tri heran. Padahal ia baru saja ingin ke dapur dan membuatkan minuman dingin untuk putrinya dan Kana.
"Kana buru - buru ma," jawab Tri singkat. Lalu berpamitan dengan menyalami punggung tangan mamanya, diikuti oleh Kana. Kemudian keduanya berlalu meninggalkan rumah.
***
"Mama kamu kayaknya kecewa kita langsung pergi gitu aja." Kana berujar saat mobil yang dikendarai supir keluarga Tri berbelok ke arah kawasan apartemen elit di mana ia akan bekerja.
"Gapapa kok. Mama udah biasa aku gituin." Tri menjawab singkat seraya meneatap ke sekeliling jalanan yang mereka lalui saat ini.
Dalam hatinya, ia masih belum bisa membiarkan sahabatnya bekerja sendirian di tempat ini.
Tempat yang asing dan nampak tidak ramai akan lalu lalang orang - orang. Hanya kendaraan roda empat yang sibuk hilir mudik, datang dan pergi meninggalkan gedung setinggi ini.
"Kapan - kapan aku beneran mau maen ke rumah kamu boleh? Sekalian bantuin mama kamu bikin kue. Kayaknya dia seneng pas aku nyicipin kue buatannya." Kana berujar seraya membayangkan betapa senangnya mama sahabatnya itu, bahkan sebelum Kana mengutarakan rasa kue buatannya.
Tri hanya tersenyum. Ia juga senang mencicipi kue bikinan mamanya secara diam - diam. Karena jika terang - terangan, Tri akan merasa canggung. Entah kenapa, susah sekali bersikap biasa saja. Mungkin karena terlalu banyak waktu yang mereka lewatkan.
"Sepanjang perjalanan kamu kayaknha gugup ya. Kalo kamu ga mau sendirian, aku mau kok, temenin kamu, gimana?" Tri menawarkan diri untuk menemani Kana bekerja hari ini.
Toh, di rumah hanya ada dirinya dan mama. Papanya masih bekerja dan kedua kakak perempuannya pasti sibuk dengan kegiatan masing - masing.
"Gapapa kok. Kamu keyaknya belum sehat betul. Masih bersin - bersin kan tadi? Istirahat yang cukup. Biar aku bisa main ke rumah terus heheh."
Tri tersenyum, Kana benar. Ia masih merasa sedikit pilek dan beberapa kali bersin - bersin.
"Awas aja kalo ga maen ke rumah ya," ancam Tri seraya memasang wajah cemberutnya. Kana terkekeh pelan. Di mana lagi ia bisa temui orang sebaik Tri.
Bahkan, saat mobil yang mengantar Kana tiba di depan pintu masuk sebuah hunian elit, Tri ikut turun.
"Aku gapapa kok, Trii. Kamu masuk gih." Kana berujar saat Tri ingin mengantarnya masuk ke dalam gedung.
"Kamu yang masuk duluan gih."
Kana mengalah dan berjalan mendekati pintu masuk yang sejak tadi nampak dilewati oleh beberapa orang berpakaian casual dan formal.
Kana melambaikan tangan pada sahabatnya. Tri pun berlalu bersama mobil yang dikendarai supir itu, meninggalkan gedung apartemen setelah memastikan Kana sudah masuk.
Seseorang yang sejak tadi memantau kedatangan Kana, kini nampak tersenyum penuh makna. Ia sudah bersiap di depan pintu apartemennya berdiri menyandarkan punggung dengan kedua tangan dimasukkan ke dalam saku celana yang ia kenakan.
Sementara di dalam lift kotak, Kana sibuk menatap arlogi yang melingkari lengan kecilnya dengan gelisah. Ia sudah terlambat lima menit dari waktu yang ditentukan.
Saat pintu lift terbuka, gadis itu buru - buru keluar dan tidak sengaja menabrak seseorang.
"Maafmaaf mba saya ga sengaja," ucapnya cepat serapa menundukkan kepala beberapa kali lalu berlari menuju unit dengan nomor yang telah tertera di surat kontrak dan Kana catat di note ponselnya lalu dijadikan walpaper, agar ia tidak lupa dan tidak salah masuk unit.
Sesampainya di depan unit apartemen Axen, gadis itu menetralkan napasnya sebelum menekan bel yang ada di hadapannya itu.
Kana masih sibuk mengatur pernapasannya agar membaik. Napasnya masih terasa memburu seolah habis dikerjar anjing. Sekarang ia sudah terlambat delapan menit, entah apa ia masih bisa bekerja atau tidak. Kana berusaha menekan bel untuk ketiga kalinya, hingga bunyi suara dentingan pintu terdengar.
Sesaat Kana masuk, gadis itu buru - buru menundukkan kepala seraya mengucapkan maaf berkali - kali karena ia datang terlambat.
"Kali ini saya maafkan. Tapi tidak untuk lain kali." Axen berujar seraya menatap gadis mungil di hadapannya dengan tatapan penuh telisik. Sementara Kana, gadis itu tidak berani mengangkat wajahnya untuk menatap sosok yang ada di hadapannya.
Gadis itu hanya menganggukkan kepala seraya mengucapkan terimakasih karena Axen sudah mau memaafkan keterlambatannya kali ini.
***
Semenjak hari di mana mereka bertengkar karena seorang remaja yang meminta no hp Sian. Tri merasa kalau kejadian itu membawa hikmahnya tersendiri. Karena selain Sian bersikap lebih manis dari biasanya, pria itu juga menjadi lebih terbuka akan perasaannya pada Tri.
Pasalnya, pria dengan gengsi selangit seperti Sian akan sangat sulit mengatakan kalau ia mencintai Tri. Bahkan, mengatakan kalau mereka berpacaran saja, pria itu nampaknya sungkan.
Tapi, karena hari ini ia harus melindungi Kana, sahabatnya, agar tidak ketahuan oleh Sian. Tri harus memantau kalau - kalau Sian datang ke rumahnya tiba - tiba.
Dan sejurus kemudian. Apa yang ia duga benar - benar terjadi. Ponselnya berdering dan menampilkan panggilan masuk dari Sian.
"Halo, wa'alaikumussalam." Tri menjawab salam yang Sian ucapkan sesaat setelah panggilan terhubung.
Pria itu bertanya apa yang sedang Tri lakukan. Sungguh hal yang sangat jarang terjadi.
"Aku lagi baca buku di kamar. Kenapa?" Tri berujar seraya mengambil buku acak yang ada di rak buku di hadapnnya.
"Apa?! Mau ke sini?!" Tri bangkit dari duduknya dan bertanya dengan kaget. Namun dengan cepat ia kembali menetralkan nada suaranya agar terdengar biasa saja.
"Gapapa. Cuma aku sama Kana lagi sibuk belajar soal - soal buat tes masuk PTN nanti," bohong gadis itu seraya membolak balin lembar buku yang ada di hadapannnya dengan asal.
Semoga saja Sian tidak curiga. Doanya dalam hati seraya menggingit bibir bagian dalam karena gugup.
Sian yang memang masih sibuk di kafe itu, menganggukkan kepala. Sepertinya gadisnya itu sedang dalam mood yang tidak begitu baik. Buktinya, kalau Sian menelpon, biasanya ia akan berucap dengan lembut, tidak seperti sekarang. Terkesan tidak nyaman karena Sian menelpon. Padahal, Sian hanya berinisitif baik untuk menyempatkan diri menelpon gadisnya itu.
"Yaudah, kalau gitu aku tutup telponnya ya," pamit Sian yang hanya di-iyakan oleh gadis di seberang sana.
Sesaat setelah panggilan diakhiri. Sian kembali melanjutkan pekerjaanya. Remaja SMU yang menempati meja paling depan, sudah menunggu pesanan mereka yang secara khusu meminta Sian untuk mengantarnya.
Sementara Tri, gadis itu menghela napas lega sesaat setelah Sian mengakhiri panggilannya. Ia tidak tahu harus berbuat apa untuk Kana. Tri tidak mungkin membiarkan sahabatnya itu terus - menerus terjebak dalam situasi seperti ini. Tapi, ia juga tidak mungkin memberitahu Sian, kan?
Di saat Tri sibuk memikirkan cara agar dapat membantu sahabatnya, Kana. Di tempat lain, sahabatnya itu tengah melakukan pekerjaannya dengan baik. Membereskan semua kekacauan yang Axen lakukan, membersihkan semua piring kotor yang ada di wastafel. Lalu memasak makan siang yang menurutnya sudah telat. Bahkan setelah memasak makan siang, waktu sudah menunjukkan pukul setengah empat sore.
"Lain kali jangan terlambat. Lihat, saya makan siangnya jadi terlambat begini," keluh pria dengan alis setebal ulat bulu dan hidung runcing seperti paruh gagak itu seraya menyedokkan makan siangnya, lalu memasukkannya ke dalam mulut.
Bukankah Kana sudah berinisiatif untuk memasak makan siang terlebih dahulu sebelum melakukan beres - beres dan bersih - bersih? Tapi pria ini menolak. Lalu, sekarang ia protes karena Kana datang terlambat membuat gadis itu sedikit jengkel.
Kana menghela napas saat kembali menatap arlogi di tangan kananya. Sudah tiba waktu ashar dan ia belum bisa pulang.
Ternyata tidak mudah membagi waktu untuk beberapa pekerjaan yang harus ia lakukan dalam sehari.