Kana hanya diam dan tetap berdiri di samping meja makan. Sementara Axen menikmati makan siangnya dalam diam. Ah iya, hari sudah terlalu sore untuk disebut makan siang. Jadi, apakah ini makan sore namanya?
Pria itu tidak benar - benar marah pada gadis yang berdiri tak jauh darinya itu. Hanya saja, ia ingin bermain - main dengan Kana. Membuat gadis itu kesal sepertinya adalah hal yang menyenangkan. Hitung hitung sebagai permulaan.
"Kamu mau berdiri aja di situ?" Axen mengangkat wajahnya dan menatap Kana dengan senyuman asimetris. Kana menoleh dan menatap pria itu dengan heran.
Lalu? Apa Kana harus pulang saat ini juga? Atau ia ikut makan bersama pria itu? Yang benar saja.
"Duduk di sini dan ikut makan." Axen berujar dingin dengan tatapan memerintah. Membuat gadis yang menatapnya dengan sorot mata sendu, tapi sebenarnya Kana geram.
Kana pun menurut dan ikut duduk menghadap meja makan. Ia tidak tahu apa yang harus ia lakukan selanjutnya. Ikut makan? Tapi ia sudah kenyang karena menelan rasa kesalnya sejak tadi.
Tapi, melihat Axen menjatuhkan sendoknya di atas meja seraya menatap Kana dengan jengah, itu membuat gadis itu buru - buru mengambil piring di hadapannya dan membubuhkan sedikit nasi dan lauk ke dalam sana.
"Makan," titah Axen seraya menatap lekat gadis yang ada di hadapannya itu.
Kana hanya mengangguk pelan lalu mulai mengaduk makanan yang ada di piringnya. Dalam hati ia sudah mengumpat berkali - kali, tapi untungnya tidak keluar dari mulutnya. Karena kalau iya, Kana bisa kehilangan pekerjaannya.
Sebelum Axen tambah menyebalkan dengan menyuruh - nguruhnya seenakanya. Kana pun segera menyendokkan nasi dari piring yang ada di hadapannya dan memasukannya ke dalam mulut.
Ini makan siang pertama kali bersama dengan orang asing. Kana tidak pernah membayangkan kalau ia akan mengalami momen langka dalam hidupnya seperti ini.
"Kamu kenapa pura - pura tidak mengenali saya?" Axen bertanya dengan santai seraya menuangkan air ke dalam gelas yang ada di hadapan Kana.
Kana mendongak dan ia hampir tersedak. Tentu saja ia tidak menduga kalau pertanyaan itu dilontarkan padanya.
"Ini, minum dulu." Pria itu mendekatkan gelas yang sudah diisinya pada Kana. Gadis itu buru - buru mengambil dan menegaknya hingga tandas.
Kana menghentikan aktivitas makannya karena sibuk menetralkan pernapasannya yang terganggu akibat tersedak tadi.
Apa? Kana berpura - pura tidak mengenal pria di hadapannya ini?
Apa maksudnya? Hei! Kana bahkan tidak pernah bertemu dengannya sebelumnya. Apalagi kenal? Bagaimana pria ini bisa bertanya seperti itu?
"Di mall sekitar sebulan yang lalu. Kamu ga ingat?" Seolah dapat mendengar isi pikirannya. Pria itu berujar seraya kembali melanjutkan aktivitas makannya yang terjeda.
Kana menghela napas. Baiklah, ia akan mengingatnya sebentar. Siapa tahu...
Tunggu...
Ingatan Kana mulai berkelana ke bulan sebelumnya. Di mana ia dan Tri menghabiskan waktu bersama di mall. Lalu membeli sepatu couple dan...
Ah iya! Mereka tidak sengaja menabrak seorang pria jangkung dengan wajah misterius dan...
Pria yang sedang mengunyah makanannya di hadapan Kana inilah orangnya. Si pri jangkung yang misterius, tapi lebih tepatnya menyeramkan. Penampilannya serba hitam dengan tinggi badan yang hampir menyentuh angka dua meter.
Pantas saja, auranya sama - sama mistis. Kana akhirnya tahu, kenapa ia bisa berada di sini. Mungkin Allah memepertemukan mereka karena Kana belum mengembalikan sapu tangan pria ini.
"Alhamdulillah, aku nyari om ke mana - mana buat balikin sapu tangan ini." Kana bersyukur ria seraya mengeluarkan sapu tangan yang selalu ia bawa di dalam saku bajunya.
Diletakannya di atas meja seraya mengukir senyuman tulus.
"Makasih, sapu tangannya udah aku cuci bersih," ucap Kana seraya menyerahkan sapu tangan itu di hadapan Axen yang baru saja menghabiskan makanan di piringnya.
Axen ingin menjawab, tapi ia kembali teringat akan panggilan dari gadis yang ada di hadapannya ini terhadap dirinya.
Apa? Om?
Apa Axen setua itu di matan Kana?
Ah iya, perbedaan usia mereka memang cukup fantastis sih. Meski Axen tidak terlihat seperti om - om. Tapi, wajar kalau Kana menyebutnya demikian.
Setelah menyerahkan benda itu, Kana dengan cepat menghabiskan makanannya. Lalu membereskan meja makan dan mencuci piring kotor, tanpa Axen minta.
"Apa kamu sedang buru - buru ingin pulang?" tanya Axen seraya mendekati gadis kecilnya yang tengah berkutat dengan piring dan beberapa alat makan yang kotor, mencucinya hingga bersih dan meletakkannya kembali ke tempat semula.
Kana menoleh, lebih tepatnya ia mendongak karena perbedaan tinggi badan mereka yang terlampau jauh. Tinggi Kana bahkan tidak sampai d**a Axen.
"Maaf, saya harus pulang karena hari sudah sore." Kana berujar dengan wajah menunduk. Ia tidak mau menatap wajah Axen. Selain karena lehernya bisa pegal karena mendongak, ia juga tidak ingin menatap ke dalam manik mata gelap pria ini. Takut ia tenggelam di dalam kegelapannya.
Setelah mengatakan itu, Kana dengan cepat mengambil langkah dan menyambar tasnya lalu berpamitan.
"Kalau begitu saya permisi," ucapnya seraya menundukkan kepala sebentar lalu berbalik dan melangkah mendekati pintu.
Tapi, Axen seolah mempunyai langkah seribu. Karena tiba - tiba saja pria itu sudah berdiri di hadapannya. Berdiri di depan pintu dengan tangan diletakan di dinding.
Kana, gadis itu mengencangkan pegangannya pada tali tas. Firasatnya sudah tidak baik. Tapi, semoga saja Kana hanya berasumsi karena sepertinya Axen tidak mungkin tertarik pada gadis kecil sepertinya. Pria ini pasti hanya iseng ingin membuatnya gugup.
Berprasangka baik di saat - saat yang tidak baik, memang kadang diperlukan. Selain untuk menenangkan diri, itu juga berlaku sebagai doa agar apa yang terjadi selanjutnya memang hal - hal baik.
Tapi, Axen bukan orang baik. Sebab sejak pertama kali ia teringat akan sosok Kana, yang ingin ia lakukan hanya satu, menjadikan gadis kecil itu miliknya.
"Apa kamu lupa, jam kerjamu berakhir sampai jam berapa?"
Kana menggigit bibir bagian bawahnya menahan gugup. Bagaiamana ia bisa ingat akan kontrak kerja sialan itu, di saat ia sedang menahan gugup dan cemas berlebihan seperti ini.
Jangan - jangan... Tri benar, kalau pria ini seorang psikopat?
Kana makin cemas karena asumsinya sendiri. Gadis itu makin menundukkan kepalanya dalam dalam sebelum akhirnya ia mencoba kabur dari hadangan Axen.
Tapi, bagaimana bisa tubuh sekecil dan serapuh Kana bisa melewati tubuh tinggi besar dan seatletis Axen?
"Kamu bersikap seperti ini, itu malah membuatku ingin mengurungmu dan mengikatmu di sini," bisik Axen pelan tepat di samping telinga gadis itu.
Meski mengenakan hijab, Kana masih bisa merasakan betapa dingin dan menusuknya helaan napas pria ini saat berucap pelan di samping telinganya.
Tangan Kana pun sudah berada dalam genggaman Axen sepenuhnya. Dua tangan kecil itu bisa ia cekal dengan satu tangan besarnya.
Apa aku akan mati dan dimutilasi layaknya film - film psikopat? Pikir Kana putus asa.
Atau, ia akan berakhir dalam koper lalu membusuk di apartemen ini? Pikirnya makin putus asa.
"I want eat you baby."
Fix! Kana akan dibunuh, dimutilasi dan dimakan.
Gadis itu memejamkan matanya erat - erat seraya merapalkan doa - doa. Berharap hari ini bukan hari terakhirnya melihat matahari sore yang indah.
Axen terkekeh geli melihat ekspresi wajah gadis kecilnya ini. Ia seolah akan dimakan hidup - hidup. Padahal, Axen bukan kanibal. Hanya saja ia ingin bermain - main dengan gadis itu.
Tapi, ada satu hal yang mengganjal di pikirannya. Jika ia membiarkan gadis kecilnya ini pulang tanpa ada jaminan Kana akan kembali, maka itu sama saja membiarkan kelinci buruannya lolos begitu saja.
"Berjanjilah kamu akan kembali bekerja besok. Karena kalau tidak, aku tidak akan membiarkanmu pergi dan akan memakanmu,-"
"Aku janji! A-aku janji bakalan kerja besok!" jawab Kana dengan cepat seraya menangkupkan kedua telapak tangan di hadapan Axen.
"Tolong, jangan makan aku. Daging aku ga banyak."
Hampir saja Axen tegelak karena kalimat memohon yang diucapakan Kana barusan.
Kana memang tidak gendut. Tubuhnya nampak ideal dengan pipi yang tidam begitu tirus namun juga tidak begitu tembam.
"Ga masalah. Aku bisa bikin sup dengan tulang - tulangmu."
Kana makin ciut, rasanya jantungnya sudah berpindah posisi. Aliran darahnya berdesih hebat hingga keringat dingin mulai membasahi dahi hingga telapak tangannya.
Axen tergelak seraya memegangi perutnya. Ekspresi ketakukan gadis kecilnya ini begitu menggemaskan. Padahal, Axen hanya bercanda, tapi Kana seolah merasa akan dimakan sungguhan.
"Kamu benar - benar menggemaskan," ucap Axen di sela - sela tawanya yang renyah.
Sementara itu, Kana yang semula memejamkan mata ketakutan, kini perlahan membuka matanya dan menatap pria jangkung di hadapannya itu dengan cengo.
Pria ini tertawa renyah di hadapannya seolah Kana sedang melucu. Tidakkah ia gila? Pikir Kana tidak habis pikir karena Axen nampak geli sesat setelah menatap wajah Kana.
Di saat Kana ketakutan setengah mati karena mengira akan dibunuh dan dimutilasi bahkan dimakan, Axen malah tertawa? Pria itu menertawakannya?
Bugh!
"Awwww!!" Axen mengaduh sesaat setelah Kana melayangkan tendangannya tepat pada tulang kering Axen.
Bugh!
Satu tendangan berikutkan mendarat ke kaki Axen yang lain. Kana yang semula ketakutan kini dibakar rasa kesal dan geram yang menyala - nyala.
"Ga lucu! Aku.berenti.kerja!"
Setelah mengatakan itu, Kana mendorong tubuh besar Axen menjauh dan membuka pintu dengan cepat lalu ke luar dengan langkah besar.
Gadis itu marah besar. Tidak tahu apa yang ada di dalam kepala pria itu, tapi tidak seharusnya ia menganggap nyawa dan tubuh manusia itu sebagai lelucon bukan?
***
Kana pulang dengan taksi. Beruntung ia turun di depan jalan yang tak jauh dari rumahnya. Selain tidak ada yang melihatnya, baik ibu ataupun bang Sian. Kana juga bisa pulang lebih cepat dibanding ia harus ke rumah Tri lebih dulu atau menaiki angkutan umum.
Langit sudah nampak jingga sepenuhnya. Senja nampak indah menawan di mata setiap insan yang memandangnya. Sore itu, untuk pertama kalinya Kana terlambat salat ashar. Ia bergegas sesaat sampai di rumah. Mengabaikan pertanyaan kedua adiknya yang bertanya kenapa sang kakak pulang sesore ini dan dengan wajah merah padam.
Kana menunaikan salat ashar lalu setelahnya ia bergegas ke dapur. Melihat apakah ada piring kotor atau tidak atau apa nasi sudah dimasak atau belum.
Ternyata semuanya sudah dilakukan. Si kembar mencuci dan menyusun kembali piring - piring ke tempat semula dan ibu juga suda menanak nasi di rice cooker.
Lalu, Kana mengedarkan pandangan ke sekeliling dan tidak mendapati sesuatu yang harus ka kerjakan.
Syukurlah. Ucapnya dalam hati seraya menghela napas lega. Namun sejurus kemudian, seseorang muncul dan mengagetkan Kana.
"Kakak kenapa sih? Kayak abis ngeliat setan gitu. Mana pulang - pulang mukanya ditekuk lagi. Kenawhy?" tanya Kuna saat mendapati kakaknya yang kaget saat ia masuk ke dapur karena ingin mengambil botol air mineral dari lemari pendingin.
"Kakak gapapa kok. Cuma lagi banyak pikiran aja," jawab Kana asal lalu berlalu kembali ke kamar.
Sementara di tempat lain. Tri nampak menatap layar ponselnya dengan cemas. Kana hanya mengirimkan pesan bahwa ia akan pulang dengan taksi. Tapi, kenapa sahabatnya itu tidak mengangkat panggilannya? Tri berjalan ke sana ke mari mengitari kamarnya seraya menggigit ujung jari dan mengetuk - ngetukkan kaki ke lantai.
Hingga beberapa detik kemudian, ponselnya berdering dan langsung ia sambar dengan cepat.
"Halo, Kana? Kamu udah sampai rumah?" tanya Tri dengan cepat sesaat setelah panggilan terhubung
Seseorang di seberang sana mengangguk seraya meng-iyakan. Kana merasa bersalah karena membuat sahabatnya itu cemas. Tapi, mau bagaimana, Kana terlanjur marah dan sakit hati karena diperlakukan seperti itu oleh pria gila bernama... ah lupakan! Kana bahkan tidak ingin mengingat siapa nama pria itu.
"Aku gapapa kok, Tri. Jangan cemas ya. Tadi aku buru - buru jadi ga sempat buat nelpon kamu. Maaf ya," ucap Kana dengan sungguh - sungguh.
Sementara Kana sedang bercerita mengenai pekerjaannya hari ini. Di temlat lain, seorang pria tengah duduk bersandar di punggung sofa seraya menatap layar televisi yang menampilkan wajah Kana.
"Aku udah lama banget ga ketawa kayak tadi. Entah sejak kapan. Tapi setelah ada kamu, aku jadi bis ketawa selepas itu. Tapi, sayangnya kamu marah dan pergi ninggalin aku lagi."
Axen berceloteh setelah menegak beberapa botol minuman keras yang kini berjejar di atas meja kaca yang ada di hadapannya.
"Baiklah. Kali ini aku ga akan ngelepasin kamu. Terserah kamu mau marah atau apa. Tapi, kamu harus di sini, di samping aku selamanya dan jangan ke mana - mana," racaunya seraya tertawa menatap layar kaca yang menampilkan wajah Kana.
Entah apa yang membuat Axen begitu terobsesi dengan Kana. Padahal, ia tidak pernah seperti inu sebelumnya. Bahkan, ia semoat membenci manusia berjenis kelamin perempuan. Karena ia dibuang oleh ibunya saat masih bayi. Ia dibesarkan di panyi asuhan. Ia hidup dalam kehinaan. Masa - masa sekolahnya sangat menyeramkan. Ia bahkan dikucilkan dan dibully hingga dipukuli hanya karena ia anak buangan. Benar - benar gila. Mereka bukan manusia. Untuk itulah Axen tidak merasa bersalah setelah berhasil membunuh semua anak - anak pecundang yang pernah menyakitinya di masa sekolah itu.
Mereka pantas mati. Pikirnya seraya terkekah pelan.
Lalu, di saat - saat putus asanya setelah apa yang ia alami. Ia ingin mengakhiri hidupnya. Ia ingin menabrakan diri di jalan. Agar kematiannya dikenang untuk beberapa saat. Setidaknya akan terpampang di koran - koran atau artikel - artikel berita.
Tapi, Kana, gadis kecil itu mendorongnya hingga tubuh kecilnya hampir saja tersambar mobil.
Saat Axen bertanya, kenapa Kana menyelamatkannya. Apa yang membuat gadis itu ingin menyelamatkan sesorang seperti Axen?
Tidak ada yang menginginkannya di dunia ini. Lalu, untuk apa ia hidup?
Tapi Kana mengatakan padanya, kalau Tuhan tidak serta merta menghidupkan Axen begitu saja tanpa tujuan yang pasti. Kata - kata yang meluncur dari gadis kecil itu sangat sederhana. Tapi maknanya begitu dalam dan terngiang di ingatan Axen. Hingga detik ini, pria itu ingin memiliki gadis kecil itu, Kana. Ia ingin punya pegangan dalam menjalani hidup seperti manusia normal pada umunya.
Apa salah?