Semalaman Kana tidak bisa tidur. Gadis itu meringis tiap kali ia mengingat apa yang sudah ia lakukan tadi sore. Bagaimana bisa ia terbakar api amarah sampai berani menendang kaki pria itu tanpa takut ia akan benar - benar dipecat.
Tapi, bukankah Kana memang ingin berhenti bekerja?
Gadis itu bangkit dari posisi berbaringnya. Menghela napas seraya mengacak rambut panjangnya yang dibiarkan terurai.
Tapi, ia masih membutuhkan uang. Hari ini saja, ia bahkan lupa meminta bayarannya atas kerja kerasnya hingga menahan emosi yang pada akhirnya ia meledak juga.
Apa yang harus ia lakukan sekarang? Haruskah ia menelpon Axen dan meminta gajinya?
Atau ... Haruskah ia datang esok hari dan meminta gajinya lalu menandatangani surat resign?
Kana benar - benar galau. Sepekan lagi, ia akan disibukkan dengan tes masuk perguruan tinggi negeri. Ia juga sudah mengumpulkan hampir semua buku yang dibutuhkannya.
Kana mengangguk - anggukkan kepala. "Ya, untuk kali ini uang yang aku punya sudah cukup. Aku bisa bekerja paruh waktu di temoat lain. Tidak harus di sebuah perusahaan jasa seperti itu, aku bisa bekerja sebagai kasir di toserba atau di sebuah restoran, meskipun sebagai pencuci piring."
Kana menepuk - nepuk kedua pundaknya dengan tangan yang menyilang.
"Kamu sudah melakukan yang terbaik sejauh ini. Lupakan soal kerja di apartemen pria gila itu!" ucapnya pada dirinya sendiri. Lalu kembali merebahkan tubuh dan menarik selimut.
Perlahan - lahan ia memejamkan mata dan mulai bisa terlelap dalam tidurnya.
Sementara di sebuah kamar sederhana di kediaman rumahnya. Sian sedang sibuk membaca buku catatan pemasukan barang dan penghasilan kafe yang dipercayakan padanya.
Padahal, mereka sudah punya bendahara, tapi bosnya malah menitipkan banyak hal padanya hingga catatan keungan kafe pun diserahkan padanya. Sian menghela napas sesekali saat matanya mulai buram ketika menatap buku catatan yang penuh dengan tulisan di sana.
Sian tidak melakukannya secara suka rela. Tentu saja ia menerima gaji yang jauh lebih tinggi dari biasanya. Untuk itulah, ia rela bekerja seharian bahkan kadang pulang larut malam karena harus memastikan catatan keungan dan pemasukan serta pengeluraran barang dan bahan makanan sudah tetcatat dengan baik.
"Kamu belum mau tidur? Ini sudah hampir pukul 1 dini hari."
Arsen duduk di pinggiran kasur seraya menatap pria yang masih sibuk berkutat dengan buku dan pena dan menghadap meja belajarnya.
Sian benar - benar pria yang luar biasa. Tidak salah kenapa Arsen dipertemukan dengannya. Selain ambisius, pria seperti Sian juga amat visioner dan realistis.
"Bagaimana hubunganmu dengan adik kecilku? Tidak ada masalah bukan?" Arsen bertanya seraya mengingat bahkan pria di hadapannya itu adalah pacar adik kecilnya, Triana.
Kali ini Sian menoleh. Ia bahkan lupa mengabari gadis itu karena terlalu sibuk sampai tidak ingat untuk menyentuh ponselnya sejak tadi siang.
Dengan cepat Sian mengedarkan pandangan ke sekelilingnya. Mencari benda berbentuk pipih itu di setiap sudut kamarnya.
"Cari ini?" Arsen bertanya seraya menunjukkan ponsel yang ada di tangannya.
Sian bangkit dan melangkah mendekati Arsen lalu menyambar benda itu dengan cepat, seperti elang yang menyambar mangsanya.
"Kau hampir lupa membalas pesan - pesannya atau memberinya kabar. Ingat, dia masih remaja labil, ku harap kau mau mengimbangi sikap kekanakkannya."
Sian hanya menoleh sekilas lalu mendial nomor Tri dengan cepat. Tapi berpikir kalau gadis itu sedang terlelap dengan pulas karena ini sudah hampir pukul setengah dua dini hari.
"Halo, ini siapa?" Suara serak khas orang bangun tidur terdengar sesaat setelah panggilan Sian terhubung.
Tri nampak mengucek matanya sebelum akhirnya menatap layar ponsel yang menampilkan nama Sian di sana.
"Maaf, aku ganggu tidur kamu. Kalau gitu pagi nanti aku akan telpon lagi," ucap Sian seraya ingin menyudahi panggilan itu, namun Tri buru - buru mencegahnya.
Enak saja. Ia menunggu dari sore hingga tengah malam berharap Sian mengabarinya. Lalu ia tertidur hingga terbangun karena pria itu menelponnya dini hari.
Tapi sekarang, Sian ingin mengakhiri panggilan ini? Tri mendumel kesal seraya bangkit dari kasur dan menghidupkan lampu tidurnya.
"Kamu tau ga, aku nungguin kabar dari kamu sejak sore sampe ketiduran? Lalu sekarang kamu mau nutup telepon gitu aja? Iya?!" tanya Tri seraya duduk dan mengatur pernapasannya karena ia berujar dengan cepat dengan satu tarikan napas.
Sian yang duduk di hadapan buku dan pena itu, kini nampak menghela napas seraya menutup buku yang masih terbuka karena barusan ia menyelesaikan semuanya dengan baik.
"Maaf," ucapnya pelan seraya beranjak dari kursi dan merangkak menaiki kasur lalu merebahkan tubuhnya di sana.
Rasanya tulang punggungnya berteriak girang karena bertemu dengan kasur empuk setelah seharian diforsir bekerja keras di kafe seperti robot.
Sementara mendengar Sian menghela napas lelah, Tri diam seraya mendengarkan helaan napas pria di seberang sana. Sejurus kemudian gadis itu merasa bersalah.
Tidak seharusnya ia mengomeli Sian seperti itu. Pria itu bekerja seharian, ia pasti kelelahan dan juga mengantuk. Sementara Tri, ia marah - marah hanya karena Sian lupa mengabarinya.
Dirinya benar - benar kekanakkan. Pikirnya seraya menundukkan wajah dan mendesah.
"Maaf aku lupa ngabarin atau ngirim pesan. Aku seharian ga punya banyak waktu pegang ponsel. Maaf ya," ucap Sian seraya membenarkan posisi berbaringnya.
Sementara Arsen hanya menghela napas seraya tersenyum lega. Syukurlah adik kecilnya itu jatuh cinta pada pria seperti Sian.
Sementara di sebuah kamar yang ditempati tiga orang perempuan, Kana, Kena dan Kuna, terlihat Kana yang tengah bergerak gelisah dalam tidurnya.
Keringatnya bercucuran membasahi dahi, namun gadis itu tidak kunjung bangun. Hanya meringis seraya terpejam.
"Ga, kamu ga boleh mati. Jangan," racaunya seraya menggelengkan kepala.
Lalu, sejurus kemudian, Kana terbangun dari mimpi panjang lagi mengerikan itu. Dadanya naik turun dengan napas yang memburu. Sejenak gadis itu terdiam dan sedetik kemudian ia menangis.
***
Sejak Kana hampir mengalami kecelakaan karena menolong seorang pria, gadis itu seringkali diwanti - wanti untuk tidak gegabah dalam bertindak, meskipun ingin menolong orang lain.
Dulu, ia masih kecil. Di pikirannya hanya ada kebaikan yang diajarkan ibu dan abangnya, sebab sosok ayah tidak pernah ia temui. Hanya cerita - cerita dari sang ibu yang membuatnya merasa mengenal ayahnya meski sosoknya sudah tidak ada bersama mereka.
Kana selalu diantar jemput hingga menginjak usia lima belas tahun. Tapi, gadis itu menolak diantar jemput lagi setelah ia naik ke kelas sebelas.
"Berjanjilah untuk tidak sembarangan mengorbankan diri untuk membantu orang lain."
Ibunya memintanya berjanji dengan nada putus asa. Perempuan hebat yang Kana kenal jarang menitikkan air mata di hadapannya itu, menangis meminta padanya.
"Ibu tidak mau kehilangan lagi. Setidaknya tidak, selama ibu masih hidup."
Kana tumbuh menjadi gadis yang mandiri. Dalam benaknya, ia tidak ingin membuat sang ibu khawatir. Untuk itulah, masalah apapun yang menimpanya, sebisa mungkin akan ia selesaikan sendiri tanpa melibatkan siapapun, terutama keluarganya.
Kebiasaan itu terbangun hingga menjadi sebuah kebutuhan. Kana selalu merasa kalau ia tidak perlu terlalu banyak bercerita pada orang lain tentang apapun itu.
Baginya, menyendiri adalah hal yang menyenangkan. Tidak akan terlibat dengan siapapun, dan tidak akan melibatkan siapapun. Tapi, kehadiran Tri membuatnya sadar kalau ia tidak boleh terlalu menutup diri dan menganggap berurusan dengan manusia itu adalah sebuah pekerjaan yang berat.
Masa - masa putih abu - abunya ia lalui dengan kesendirian. Tidak begitu akrab dengan siapapun. Tapi, karakter Tri membuat Kana melakukan banyak hal di luar kebiasaanya. Banyak hal yang anomali dalam hidupnya yang musti ia hadapi dan tidak selamanya ia bisa bersembunyi di dalam cangkang bernama kesendirian itu.
"Mau ke mana dek, kok abang perhatiin kamu jadi sering keluar rumah? Mau maen ke rumah Tri lagi?" Sian bertanya sesaat setelah melangkah memasuki dapur untuk mengisi botol tumblernya dan mendapati Kana sudah bersiap dengan setelah rapi lengkap dengan tas bahu berwarna coksu yang sering Kana bawa saat akan main atau mengerjakan tugas.
Kana menggigit bibirnya pelan seraya menenangkan kegugupannya. Gadis itu tersenyum seraya berujar kalau ia akan ke perpustakaan untuk belajar.
Sian mengangguk - anggukkan kepala. Lalu menawarkan diri untuk mengantar adik perempuannya itu.
"Apa abang ga kerja hari ini? Kalau abang mau nganterin aku terus muter balik ke kafe mending ga usah bang. Aku bisa bisa naik busway."
"Enggak kok. Abang izin ga kerja hari ini. Jadi, it's oke. Yuk! Abang ganti baju bentar."
Kana mengangguk seraya menuju meja makan dan menuangkan air ke gelas lalu menegaknya setengah.
Gadis itu menghela napas seraya mensugesti dirinya bahwa ia akan turun di depan perpustakaan lalu naik taksi menuju gedung apartemen Axen. Toh jaraknya tidak begitu jauh. Pikirnya mencoba menenangkan diri agar tidak bersikap gugup di depan abangnya nanti.
***
Axen menghela napas sesaat setelah jari tangannya tidak sengaja ia iris saat akan memasak makan siang. Sebenarnya ia bisa saja memesan makanan, alih - alih repot memasak dan melukai jarinya seperti ini.
Akan tetapi, karena firasatnya akan Kana begitu kuat, ia mengurungkan niatnya untuk memesan makanan dan membuat makan siangnya sendiri.
Selagi menunggu kedatangan gadis kecil itu, ia akan memasak di dapur seraya bersenandung. Seolah luka di jarinya tidak pernah ada. Darahnyapun ia biarkan menetes di lantai.
Sementara di tempat lain. Kana menatap gugup gedung apartemen yang menjulang hampir mencakar langit yang ada di hadapannya itu.
"Kayaknya datang ke sini itu bukan ide bagus. Gimana kalau ia salah sangka? Gimana kalau Axen benar - benar psikopat yang akan membunuhnya. Hanya saja kemarin ia lebih dulu melarikan diri. Tapi kali ini, gimana kalau pria itu tidak akan melepaskannya kali ini?"
Paranoid. Gadis itu mulai berasumsi berlebihan. Lalu maju - mundur antara masuk ke dalam gedung atau kembali ke perpustakaan.
"Baiklah. Karena udah di sini. Aku hanya perlu minta bayaran atas pekerjaanku kemarin lalu meminta maaf atas apa yang aku lakukan padanya." Kana berujar membatin meyakinkan dirinya sendiri. Lalu berjalan masuk seraya menghela napas berkali - kali.
Sesampainya di depan unit apartemen apartemen Axen. Kana mengehela napasnya sejanak sebelum menekan bel. Namun beberapa kali ia menarik jarinya karena ragu.
Sampai pada ketika ia akan menekan bel apartemen itu, saat bersmaan pintu dibuka oleh seseorang.
Axen.
Pria itu tersenyum seraya menatap sosok yang ada di hadapannya saat ini. Cantik.
"A-aku.." Kana gugup bukan main. Berhadapan dengan pria ini secara tiba - tiba membuat Kana kehilangan kata - kata yang susah payah ia rangkai sejak di rumah.
***
"Jadi, kamu ke sini cuma mau meminta bayaranmu kemarin dan meminta maaf atas apa yang kamu lakukan ke saya?" Axen bertanya setelah Kana menyatakan maksud kedatangannya.
Kana hanya diam. Dalam hati ia misu-misu. Kenapa pria ini selalu bertele - tele seperti ini. Bukankah Kana sudah mengatakannya dengan jelas? Lalu kenapa harus bertanya?
"Sayang sekali. Aku hanya bisa mengabulkan satu permintaanmu. Membayar gajimu yang kemarin atau memaafkanmu? Kau bisa memilih yang mana." Axen berujar seraya tersenyum miring.
Kana hanya bergeming seraya mengedarkan pandangannya ke sekeliling. Lalu menelisik sosok yang ada di hadapannya. Apa Axdn sudah menyiapkan pisau ata semacamnya untuk menyakiti Kana?
Tapi, ia tidak menemukan apapun yang ada di genggangan tangan pria itu. Hanya bercak merah di beberapa jari hingga telapak tangannya.
Darah.
"Jadi, mau dimaafkan tapi tidak dibayar atau..."
Kana tidak mendengarkan ucapan Axen, gadis itu bangkit dari duduknya dan mendekati Axen.
Menatap lekat pada tangan yang berlumur darah itu lalu tanpa sadar meraihnya.
"Kamu berdarah," ucap Kana cemas. Lalu pandangannya dihamburkan ke sekeliling.
"Mana kotak P3Knya?" tanya gadis itu seraya menatap cemas tangan Axen yang masih mengeluarkan darah.
Lalu, manik mata gadis itu menangkap benda berwarna dengan garis merah yang kini ada di atas bufet di dekat meja televisi.
Diambilnya lalu membuka kotak itu dengan cepat. Membersihkan darah yang hampir mengering dari tangan Axen dengan perlahan, mengusapnya dengan kapas alkohol dan membungkus lukas sayatan lumayan dalam itu dengan hati - hati.
Lagi - lagi Axen dibuatnya jatuh cinta dan rasa ingin memiliki Kana semakin besar.
Kana, gadis itu kembali melakukan hal - hal yang telah lama ia kubur. Membantu orang lain tanpa diminta, secara implusif ia akan mengambil tindakan tanpa sadar, menolong orang lain tanpa memikirkan dampak pada dirinya sendiri.
"Aku mau bayaran atas kerja keras aku kemarin." Kana berujar seraya merentangkan telapak tangan di hadapan Axen.
Pria itu tersenyum. Ia tidak tahu apa yang ada di dalam pikiran gadis kecilnya ini. Akan tetapi, Axen tahu, kalau Kana tidak benar - benar berniat berhenti bekerja.
"Baiklah. Kalau begitu, kamu tunggu di sini sebentar." Axen tersenyum seraya berdiri dan melangkah meninggalkan ruang tamu.
Selama beberapa detik Kana menunggu dengan harap - harap cemas. Prasangka buruk mulai kembali meemenuhi kepalanya. Apakah Axen sedang menyiapkan sesuatu untuk membunuh Kana?
Atau pria itu sedang menyiapkan sebuah pisau yang akan diselipkannya di pinggang lalu sewaktu - waktu akan diambik untuk melukai Kana yang rapuh.
Tapi... Untuk apa Axen membunuhnya? Bukankah Kana hanya menendang tulang kering pria itu?
Kana menghela napas lemah. Ia teringat akan pembicaraannya dengan Tri. Kalau seoranh psikopat kadang tdiak butuh alasan untuk membunuh. Mereka hanya ingin menyalurkan hasratnya saja. Tidak peduli siapa yang mereka bunuh. Asal hasrat pembunuh itu sudah tersalurkan, maka mereka merasa bahagia.
Kana masih punya kesempatan. Gadis itu bangkit dan meyakinkan diri untuk segera beranjak dari apartemen Axen. Sebelum pria itu datang seperti kemarin.
Kana bangkit dan ingin mengambil langkah seribu. Tapi di saat bersamaan lengan kecilnya ditahan oleh tangan besar seorang pria.
"Mau ke mana? Ini, bayaran atas kerja kerasmu kemarin," ujar Axen seraya menyerahkan sebuah amplop berisi beberapa lembar uang di tangan Kana.
Pria itu memiringkan wajahnya lalu tersenyum.
"Terimakasih," balas Kana cepat seraya menarik tangannya kembali, namun genggaman tangan Axen soalah tidak berniat melepaskan tangan Kana.
Sepertinya sejak awal kedatangan Kana ke sini memang sebuah kesahalan yang disenga.
Ia sedang menyuguhkan nyawanya di sarang monster dalam wujud yang ruapawan dan juga kaya raya.