"Saya permisi," Kana berujar seraya mencoba melepaskan genggaman tangan Axen di lengannya. Namun, pria itu tidak melepaskan bahkan satu jarinya pun.
Kana mulai merasa cemas seraya tersenyum kecut. "Bisa lepasin tangan saya?" tanyanya terbata seraya menatap tangan Axen yang mencengkram erat lengan kecilnya.
Axen memiringkan wajahnya dan tersenyum. Kalau Kana bertanya seperti ini, bukankah itu berarti Axen harus menjawabnya?
"Ga bisa."
Kana tercengang mendengar jawaban pria ini. Tapi, sebisa mungkin, gadis itu menyembunyikan ketakutakannya. Ia hanya perlu berbicara baik - baik dan Axen akan melepaskannya. Pikirnya seraya menahan gugup yang sejak tadi menyergapnya.
"Anda tidak boleh bersikap seperti ini. Tolong lepaskan tangan saya," pinta Kana baik - baik seraya mencoba melepaskan tangannya dari cekalan tangan besar Axen. Tapi, usahanya seolah tidak berguna. Tangan pria itu masih terpatri di sana. Mencengkramnya dengan erat dan kuat. Hingga gadis itu mengaduh karena rasa nyeri menjalar dari pergelangan tangannya.
Tanpa peringatan, Axen menarik lengan kecil Kana hingga gadis itu menabraknya.
Setidaknya, Axen tidak akan melepaskan Kana sebelum ia memeluk tubuh kecil itu setelah sekian lamanya.
Kana terdiam. Jantungnya bergemuruh saat tubuhnya berada dalam dekapan pria yang Kini menyandarkan kepala ke bahunya. Kana tidak mengerti, namun ini tidak benar. Pikir gadis itu seraya meronta agar dilepaskan. Kana memang tidak bisa melawan banyak. Tapi, ia masih punya tenaga untuk menggerakkan anggota tubuh sekuat yang ia bisa.
Mendorong tubuh Axen agar menjauh darinya. Lalu bersiap kabur dari sana, namun sepertinya, ini bukan hari yang baik baginya. Karena sebelum langkahnya mencapai pintu, Axen sudah lebih dulu menariknya dan mengangkat tubuh ringkih gadis itu layaknya mengangkut beras.
Kana berteriak histeris seraya menendang nendangkan kaki dan memukul punggung Axen dengan kedua tangannya sekuat mungkin. Tapi, sekali lagi, ia bukan tandingan pria itu. Tenaganya bahkan tidak ada setengahnya dari tenaga Axen. Jadi, sampai tubuhbya dibawa ke kamar pun, ia tidak berhasil meloloskan diri, hanya semakin membuat Axen tertawa kesenangan karena perlawanan Kana seolah semakin memacunya.
Pria sinting! Umpat Kana seraya berteriak. Hingga berbagai umpatan lain pun menyusul setelah.
Gila! Berengsek! Kurang ajar! Rasanya semua kata itu mewakilkan apa yang Axen lakukan pada Kana.
Pria itu menghempaskan tubuh Kana ke kasur. Lalu mendekati pintu dan menguncinya dengan rapat. Kemudian, membuang kunci itu di jendela lantai apartemennya berada di lantai lima belas.
Kana bwrteriak kesetanana seraya menuruni kasur dan mendekati jendela di mana Axen membuang kunci itu.
"Uppss kuncinya ga sengaja jatuh, gimana dong?"
Kana menoleh dan menyorot Axen dengan tatapan tajam yang seolah ingin membunuh dan mengoyak tubuh pria itu dengan sadis.
Apa dia bilang barusan?
Ga sengaja? Kana benar - benar murka. Hingga kalap dan menerjang Axen membabi buta. Mencakar semua bagian tubuh Axen yang dapat ia jangkau.
"Mati kau!" geram Kana seraya menganyunkan tangannya dengan brutal.
Tapi, Axen hanya tertawa dengan luka cakaran yang tercipta di benerapa titik wajahnya.
"Aku suka melihatmu yang agresif seperti ini. Bisakah saat bercinta nanti kau juga melakukan gaya ini?"
Kana yang kini sudah duduk di atas perut Axen seraya ingin mencakar pria itu kembali, kini menarik tangannya dengan takut, marah, merasa dilecehkan dan ingin menangis.
"Tetaplah berada di atasku, Na," bisik Axen seraya menahan tubuh Kana agar tidak beranjak ke mana - mana.
Kana benci diperlakukan seperti ini. Gadis itu menangis tanpa suara seraya berusaha melepaskan diri dari iblis b***t seperti Axen.
Bagaimana bisa pria itu tertawa dengan luka di wajahnya yang Kana ukir dengan brutal? Seolah darah yang keluar perlahan dari luka cakaran itu bukanlah apa - apa.
"Atau kau lebih suka berada di bawahku?" tanya Axen dengan seringaian yang membuat Kana muak lalu menampar kuat wajah pria itu.
"b******k! Iblis b******n! Apa salah aku sama kamu, hah?!!" Teriak Kana di depan wajah Axen. Air mata gadis itu sudah tumpang ruah membasahi pipinya yang berisi dan jatuh ke kulit Axen.
"Salah kamu?"
Kana menangis tergugu seraya ingin beranjak, namun Axen tetap menahan tubuhnya.
"Salah kamu apa? Kamu ga tahu?" tanya Axen retorik. Lalu sejurus kemudian, wajah pria itu berubang sendu.
"Salah kamu karena kamu membiarkan aku hidup," ucapnya pelan dan lirih.
Siapa suruh Kana memberinya harapan untuk hidup lalu meninggalkannya begitu saja. Siapa suruh gadis itu menolongnya saat seluruh dunia menginginkan kematiannya.
Kenapa? Kenapa Kana tidak mengingatnya? Padahal gadis itulah yang membuat Axen bergantung padanya.
Padahal gadis itu yang meraih tangannya levih dulu. Merawat lukanya dengan lembut dan membuat Axen serakah ingin memiliki Kana seutuhnya.
***
Di luar sedang turun hujan begitu deras. Sian menatap arloji yang melingkar di tangan kanannya. Perasaannya tidak enak sejak nomor Kana tidak bisa dihubungi.
Pria itu menatap ke luar jendela kamarnya dengan gelisah. Ke mana adiknya itu? Kenapa belum pulang juga. Sian sudah mendatangi perpustakaan pusat, namun tidak menemukan Kana di sana.
Lalu, ia menghubungi Tri, sahabat adiknya dan gadisnya bilang kalau Kana sedang tidak bersamanya. Sian makin cemas saat di luar hujan turun begitu deras sementara ia belum kunjung menemukan adik prempuannya itu.
Sementara di tempat lain, Tri sedang mondar mandir ke sana ke mari dengan gelisah. Sesaat setelah hujan turun, ia menghubungi Kana, namun nomor sahabatnya itu sedang tidak aktif.
Pesan yang dikirim Tri beberapa waktu yang lalu pun belum kunjung dibaca aapalagi dibalas.
Sebenarnya apa yang terjadi pada Kana?
Tri mulai merasa bersalah karena tidak berusaha lebih keras untuk membujuk sahabatnya itu, agar meninggalkan pekerjaan paruh waktunya dan yang paling penting, menjauhi pria pemilik apartemen tempat Kana bekerja.
Tapi, siapa sangka kalau Kana sedang duduk di sebuah sofa menghadap jendela kaca yang berembun karena hawa dingin di luar sana. Gadis itu menatap kosong sementara seorang pria sedang terlelap dengan nyaman dengan menjadikan paha Kana sebagai bantal.
"Apa yang harus aku lakukan kalau kamu meninggalkanku kali ini. Aku sudah muak dengan pekerjaan dan hidup yang aku jalani tanpa ada kamu. Dan kalau kamu mau meninggalkanku, maka aku akan meninggalkan dunia ini. Silahkan pergi!"
Hati Kana terlalu lembut dan perasa. Bagaimana gadis itu bisa meninggalkan sosok pria dengan wajah putus asa yang bersimpuh di lantai seraya menggenggam tangan Kana dengan erat. Memohon pada Kana untuk tidak meninggalkannya. Seperti seorang anak kecil yang rapuh, tidak mengerti apa - apa dan tidak punya siapa - siapa.
Kana tidak pernah melihat Sian menangis, setidaknya tidak pernah di hadapannya. Ia juga belum pernah melihat siswa di sekolahnya, atau teman cowo sekelasnya menangis. Karena yang ia tahu, pria seringkali merasa dianggap lemah ketika ia menangis, ago mereka selangit, mereka merasa kalau seorang pria tidak boleh menjatuhkan air matanya untuk alasan apapun.
Lalu, ketika melihat pria di hadapannya itu menangis dan memohon dengan suara lirih, seolah Kana adalah dunianya. Seolah dunia Axen akan runtuh dan hancur bagai debu, kalau Kana beranjak dari hadapannya.
Hari semakin sore. Langit yang semula biru perlahan - langan menyingsing dan digantikan dengan senja berwarna jingga. Langit tidak gelap, tapi hujan masih setia turun membasahi bumi.
"Kamu udah bangun?" tanya Kana pelan saat kepala Axen bergerak dan tangan pria itu meraih tangannya. Tangan yang sudah melakukan begitu banyak perlawanan, namun apda akhirnya, Kana menyerah. Membiarkan Axen menang untuk sejenak.
Axen berkedip, belum pernah ia tidur senyaman dan senyanyak tadi. Selama ini, ia tidur hanya beberapa jam dalam sehari. Itupun tidak begitu nyenyak karena mimpi buruk kerap kali menyapa alam bawah sadarnya.
"Udah mau ashar. Kamu bangun ya," pinta Kana seraya menggeser kepala pria yang nampak nyaman menjadikan pahanya sebagai bantal.
Ashar? Axen bertanya - tanya, apa Kana tahu, kalau selama ini Axen tidak mengenal kata ashar atau jenis - jenis ibadah apapun itu.
Tapi, ini Kana, gadisnya mempunyai keyakinan yang kuat akan Tuhan. Bahkan ia mengenakan hijabnya. Meski sempat Axen robek secara paksa. Pada akhirnya, Kana tetap menutup kepala hingga dadanya dengan mengenakan hoodie dengan penutup kepala Axen yang nampak kebesaran di tubuhnya.
Siapa yang menyangka kalau Axen hanya ingin tidur di pangkuan Kana? Pria itu terus menerus mengoceh soal posisi bercinta yang menbuat telinga Kana panas dan perasaan jijik menyelimuti gadis itu.
Axen mengalah, membiarkan Kana menunaikan salat asharnya dengan tenang. Sementara ia akan terus mengawasi gadis itu. Tidak memalingkan tatapannya dari sosok Kana barang sedetikpun. Seolah gadis itu bisa hilang - tiba kalau ia melepaskan tapapannya.
Kana menghela napas lalu menyentuh tangan Axen dengan pelan.
"Ga sampe sepuluh menit kok," ucapnya pelan berharap Axen luluh dan tidak membuat Kana menghabiskan waktu terlalu banyak di sini.
Axen diam lalu melepaskan genggaman tangannya pada lengan Kana. Hingga gadis itu bisa pergi ke kamar mandi dan berwudu. Lalu kembali ke kamar menunaikan salat ashar dengan mukena yang dibawanya.
Seolah ia tahu kalau datang ke apartemen ini pasti akan sulit untuk bisa keluar begitu saja. Kana tahu, sejak semalam ia memutuskan untuk menyiapkan diri untuk berbagai kemungkinan yang akan terjadi padanya.
***
Selesai salat, Kana mengedarkan pandangan ke setiap sudut kamar karena tidak menemukan Axen di sana. Ia berlalu ke luar meninggalkan ruangan itu menuju ruang tamu dan benar saja, pria itu tengah duduk seraya menempelkan benda berbentuk pipih ke telinganya.
"Saya pastikan dia ga kenapa - kenapa. Kamu bisa mendatangi apartemen saya jika mau."
Axen bebincang dengan serius tanpa sadar kalau Kana sudah berjalan mendekatinya dan merampas benda berbentuk pipih di tangan Axen dengan kasar.
"Kamu kenapa jawab panggilan di ponsel aku sembarangan?!" tanya Kana marah. Pria di hadapannya itu menatap dengan dingin. Kana menghela napas sesaat setelah melihat panggilan masuk yang ternyata dari Sian.
Kacau. Kana pasti akan ditanyai habis - habisan saat pulang nanti. Dan abangnya, terlebih ibu pasti sangat mengkhawatirkannya karena pergi sejak pagi menjelang siang hingga sore begini belum pulang.
Kalau saja Axen tidak menjawab panggilan dari Sian. Pasti Kana bisa mencari alasan lain agar abangnya itu tidak curiga. Setidaknya, Kana bisa mengatakan kalau ia tertidur di perpustakaan sampai sore.
"Aku pulang sekarang." Kana beranjak dari hadapan Axen seraya menyambar tasnya dan melangkah meninggalkan apartemen dengan cepat.
Kana cemas bukan main. Selama ini, ia tidak pernah menyembunyikan apapun dari ibu dan abangnya. Kana juga tidak pernah membuat orang rumahnya khawatir.
Tapi kali ini, ia tidak hanya membuat khawatir, tetapi juga kecewa padanya. Sebab Kana sudah menyembunyikan banyak hal akhir - akhir ini.
Kana menatap ponselnya sesaat setelah pintu lift terbuka. Sian kembali menelponnya. Gadis itu menggigit bibir bagian dalam dengan gugup. Lalu menggeser panel hijau itu ke atas.
"Halo, wa'alaikumussalam bang." jawabnya setelah Sian mengucapkan salam lebih dulu. Lalu, sedetik kemudian, Kana nampak mematung dengan tangan yang terkulai saat menatap sosok yang kini berdiri di hadapannya.
Sian menghela napas berkali - kali seraya menetralkan detak jantungnya karena habis berlari.
"Na, kamu gapapa?"
Kana, gadis itu bergeming dengan bola mata yang merah dan berkaca - kaca. Ia pikir, Sian akan marah dan meneriakinya. Gadis itu terlalu takut dan berasumsi yang tidak - tidak hingga membuatnya dirinya tertekan.
Sian mendesah sesaat setelah Kana terisak dalam tangisnya. Adiknya menangis dengan wajah tertunduk lemah. Sian melangkah mendekati Kana dan membawa adiknya itu ke dalam pelukannya.
"Syukurlah kamu gapapa, Na," ucap Sian seraya memeluk erat adik perempuannya itu dengan mata memerah.
Sementara di sudut lorong apartemen terdapat seorang pria yang tengah menyaksikan adegan itu. Berdiri di sana memperhatikan gerak - gerik keduanya dengan wajah dingin tanpa ekspresi.
"maafin Kana, bang. Kana ga maksdu buat bohongin kalian. Kana-,"
"Ssssssttt... Gapapa gapapa. Kita pulang ya," ucap Sian menenangkan seraya melepaskan pelukannya pada Kana.
Axen mendesah seraya berbalik meninggalkan Kana dan Sian yang berlalu meninggalkan apartemen itu.
Ternyata Kana adiknya Sian. Axen tidak menyangka ia tidak mengetahui fakta itu. Kenapa dia tidak menyelidiki Kana dengan benar?
Ditatapnya ujung jari manisnya yang dibalut dengan plester dengan rapi itu dengan sudut bibir terangkat ke atas.
Apapun caranya, ia akan merebut Kana kembali. Ia akan meminta Kana dari keluarganya dengan cara apapun, dengan atau tanpa seizin Sian sekalipun.
***
Malam sudah tiba. Hujan deras yang mengguyur bumi sudah perlahan beranjak ketika senja mulai memudar dan digantikan dengan pekatnya langit malam.
Tri masih bergerak gelisah dalam balutan selimutnya. Beberapa detik yang lalu ia mencoba menghubungi sahabatnya kembali. Nomor Kana aktif namun panggilan Tri tidak diangkat. Pesannya pun belum dibaca.
"Apa aku telepon Sian aja ya?" pikirnya seraya menatap benda berbentuk pipih yang ada di tangannya itu.
Tangannya mulai bergerak menggulir layar ponsel. Mendial nomor Sian yang diberinya nama, "Sian(emothati)"
Gadis itu menunggu seraya menggigit ujung kukunya tanpa sadar. Lalu berseru saat panggilannya diangkat dan suara berat Sian mulai terdengar.
"Gimana Kana? Kana udah pulang?!" tanyanya dengan cepat seraya menegakkan punggung yang semula bersandar.
Sejurus kemudian, Tri menghela napas lega. Seolah sesuatu yang mengganjal di hatinya sejak tadi siang, kini lenyap begitu saja.
"Iya gapapa. Nanti kabarin kalau udah selesai ya," ucapnya pelan setelah mendengar Sian berujar, bahwa pria itu akan menelponnya nanti setelah salat isya.