Semalaman Sian tidak bisa tidur nyenyak. Pikirannya dipenuhi dengan masalah yang dihadapi adiknya akhir - akhir ini. Kana, gadis itu diam - diam bekerja paruh waktu. Lalu, kejadian kemarin membuat Sian benar - benar ingin marah.
Tidak, ia tidak ingin marah pada Kana. Akan tetapi, ia marah pada dirinya sendiri. Kenapa ia tidak mengetahui kalau Kana bekerja paruh waktu? Kenapa adiknya itu sampai berpikir untuk bekerja paruh waktu? Apa yang sedang dibutuhkannya yang tidak mampu Sian berikan hingga Kana haru bekerja dengan membersihkan apartemen seorang pria asing yang kapan saja bisa melakukan sesuatu yang buruk pada Kana.
Sian sudah berusaha memasukkan lamaran di berbagai perusahaan dan industri yang di sana dibutuhkan lulusan sains seprrtinya. Tidak hanya itu, ia juga melakukan pekerjaan paruh waktu yang lain yang sekiranya bisa ia lakukan sebelum bekerja paruh waktu di kafe.
"Maafin Kana bang. Kana ga maksud buat sembunyiin ini dari kalian semua. Kana mau kuliah, tapi ga mau terus - terusan nyusahin abang sama ibu. Setidaknya kalau Kana ga bisa bantu kalian, Kana ga mau nyusahin kalian terus."
Adiknya itu menangis seraya menjelaskan alasan kenapa ia bekerja paruh waktu di tempat itu.
Sian makin merasa terpukul. Tapi, ia tidak menangis. Setidaknya tidak di depan Kana. Namun, saat itu tidak ada yang bisa Sian katakan, lidahnya kelu.
Kalau saja ia punya penghasilan tetap yang menjanjikan. Mungkin Kana tidak akan berpikir untuk bekerja paruh waktu dengan risiko seperti itu.
Tapi, berandai - andai tidak akan mengubah apapun bukan?
Untuk itu, Sian berusaha untuk berhenti berandai - andai dan menyesali keadaan yang tidak bisa ia kendalikan. Karena yang harus dilakukannya adalah berusaha, dan melangitkan doa agar Allah membantunya ke luar dalam kubangan masalah.
Sementara itu, Kana di kamarnya masih nampak murung. Kedua adik kembarnya sudah tidur, tapi ia masih duduk menghadap meja belajar. Berkutat dengan buku catatannya yang hanya terbuka tanpa ia tulis dengan satu coretan katapun.
Pikirannya melayang pada kejadian tadi sore. Entah kenapa, ada secuil perasaan bersalah karena meninggalkan Axen begitu saja. Tapi, bukankah Kana senang karena bisa pulang dengan selamat?
Hal lain yang mengganjal di hatinya yaitu, kenapa pria itu membiarkannya pulang begitu saja? Bukankah sebelumnya Axen berusaha menahannya sekuat tenaga? Tapi, kenapa tiba - tiba merelakan Kana begitu saja?
"Apa pentingnya alasan dia biarin aku pulang gitu aja?" gumam Kana seraya mendesah pelan. Lalu membaringkan kepalanya ke meja dengan menjadikan lengannya sebagai bantal.
Apa Axen seorang aktor? Pikirnya random.
Kenapa pria itu begitu pandai berakting? Wajah putus asanya membuat Kana luluh dan membiarkan pria itu menahan dirinya. Bahkan Kana tidak marah setelah diperlakukan dengan buruk.
Lalu, tiba - tiba saja ia membiarkan Kana pergi begitu saja. Tidak menyusulnya, menahan, atau mengejarnya? Kenapa? Apa karena Axen hanya sedang bermain - main dengan perasaannya? Apa pria itu sengaja menguji kesabaran dan perasaan Kana?
Kana beranjak mendekati jendela kamar. Membuka sedikit tirai jendela untuk melihat apakah hujan sudah benar - benar beranjak. Tapi ternyata, rintik masih setia turun dan menemani pekatnya malam yang datang.
"Apa yang aku pikirin? Kenapa aku kecewa karena dia ga ngejar aku? Konyol!" monolognya seraya menatap pada rintik hujan seukuran jarum yang terlihat di bawah lampu tamaram.
Kadang, perempuan tidak memahami perasaannya sendiri dengan baik. Ia tahu apa yang ia inginkan, tapi kerap kali menolak untuk mengungkapkannya. Sulit sekali untuk mengatakan, "Ya, aku menyukainya."
Jika kalian, para pria bertanya - tanya, kenapa kalian kerap serba salah dan sulit memahami makhluk seperti kami(perempuan), jawabannya cuma satu. Karena cara pandang kalian berbeda dengan cara pandang kami.
Kalian kerap kali menilai segala sesuatu berdasarkan logika, semantara kami dengan hati. Saat kalian menganggap kalau segala sesuatu itu bisa dikatakan dengan mudah, entah itu hal yang disukai, tidam disukai, atau mau makan di mana dan mau makan apa. Kadang, bagi kami itu tidak mudah.
Rumit bukan? Memang.
Jangan tanya, kenapa kami seperti ini? Rumit, sulit dipahami dan kadang terkesan menyebalkan atau menyusahakan. Kami pun, ah, lebih tepatnya, aku pun sering bertanya pada diriku sendiri, kenapa aku seperti ini?
Apa yang salah dengan diriku?
Lalu, aku tak kunjung menemukan jawabannya. Sampai aku mau menerima diriku yang seperti ini. Sampai aku tidak lagi bertanya, "kenapa?" atau "mengapa bisa?". Sebab yang harus ku lakukan hanya satu, menerima diriku bahkan bagian terumit dan terburuk sekalipun itu.
***
Waktu berlalu begitu cepat, atau memang manusia yang kerap lambat menyadari perubahan yang ada di sekitarnya?
Diana, perempuan itu terlihat menatap lurus ke luar jendela kamarnya seraya menyesap cokelat hangat di pagi hari. Di hadapannya terdapat benda berbentuk kotak berwarna senada dengan meja kerjanya.
"Apa kemarin yang aku alami hanya mimpi?" tanyanya pada ruang kosong di hadapannya.
Apa kebersamaannya dengan Arsen hanya mimpi panjang yang ia dambakan akan menjadi kenyataan?
Atau, apa semuanya hanya ilusinya semata?
Tapi, kalaupun semuanya hanya mimpi atau ilusi, kenapa bekas pelukan pria itu masih terasa hangat? Kenapa tawa yang mereka ukir bersama hari itu rasanya masih terngiang di telinganya hingga kini?
Ia tidak pergi bekerja. Hari ini sudah hari kedua ia mengambil cuti meski dengan tanpa persetujuan atasannya di kantor sekalipun.
Saat sebuah suara ketukan pintu terdengar, Diana kembali tersadar kalau sejak tadi pipinya sudah basah oleh air mata.
Buru - buru ia seka air mata itu. Seraya merapikan rambutnya di hadapan cermin yang ada di meja kerjanya. Menghela napas sejenak kemudian beranjak dari sana. Melangkah mendekati pintu dan membukanya.
"Kakak ga kerja kah?" tanya seorang gadis berambut sebahu yang kini tersneyum kecil seraya berdiri di ambang pintu.
Diana tersenyum, "Enggak, kakak ga kerja. Kenapa? Kamu mau kita jalan - jalan?" ganya Di seraya meraih tangan adiknya dan menutup pintu kemar.
"Kakak mau?" tanya Tri antusias. Sudah cukup lama ia tidak menghabiskan waktu bersama ka Dinya.
Di menganggukkan kepala. Tri berseru kesenangan. Keduanya mengobrol sebentar seraya memikirkan akan ke mana mereka menghabiskan waktu bersama nanti.
Tri sudah memikirkan rencananya dengan matang. Bahkan, semalam ia sudah membujuk Sian agar mau menyetujui idenya.
Ya, mereka akan melakukan double date.
Meski akan terlihat seperti cinta segitiga di mata orang - orang nantinya.
***
Kali ini, Kana berusaha untuk tidak bersikap impulsif seperti sebemunya. Ia harus mempertimbangkan banyak hal saat akan memutuskan sesuatu. Tidak hanya tentang dirinya, tapi juga tentang ibu, abang, adik - adiknya.
Ya, saat Kana bertindak atau memutuskan sesuatu, itu tidak hanya akan berpengaruh terhadapnya, tapi juga orang - orang yang ia cintai, keluarganya.
Sebagai permintaan maafnya, Kana mencoba bangun pagi - pagi sekali. Bahkan sebelum ibunya bangun, Kana sudah berkutat di dapur untuk memasak sarapan mereka hari ini.
Kemarin, saat Kana pulang bersama Sian dalam keadaan basah kuyup karena hujan tak kunjung reda dan mereka juga tidak membawa jas hujan. Jika menunggu reda, mungkin akan larut malam dan mereka baru tiba di rumah.
Ibu tidak mengatakan apapun. Hanya saja, gurat kekhawatiran itu jelas terukir di wajahnya. Ibu tidak mengatakan apapun, namun sorot matanya sudah mengungkapkan semuanya. Ibu sedih, matanya merah seakan ingin menangis. Tapi, Kana buru - buru disuruh masuk dan membersihkan diri serta berganti pakaian agar tidak masuk angin.
Tapi, di tengah malam, saat Kana tidak bisa tidur, ia memutuskan untuk ke kamar ibu. Namun setibanya ia di depan pintu, ia tidak melakukan apapun, hanya berdiri dengan bahu bergetar dan tangan yang membekap mulutnya dengan kuat.
Wajahnya ditempelkan ke badan pintu, sayup - sayup telinganya mendengar suara isakan dari dalam sana. Ya, ibunya menangis. Wanita yang paling ia sayangi dan menyayanginya itu menangis karenanya.
Setelah seselai berkutat dengan sarapan. Kana tersenyum seraya mencuci semua alat masak yang kotor lalu meletakannya kembali ke tempat semula.
Setelah kelulusannya, Kana hanya sibuk memikirkan bagaimana caranya mengumpulkan uang untuk kuliahnya nanti. Sampai ia lupa kalau ada hati yang ia lukai karena keputusan sepihaknya itu.
***
Setelah melakukan joging pagi, Kana nampak berjalan gontai dalam perjalanan pulangnya. Pepohonan di pinggiran jalan kota Argon membuat pagi ini terasa lebih sejuk. Selain karena kemarin bumi kota Argon dibasahi oleh hujan yang deras, keberadaan pohon - pohon yang berdiri tegak di sepanjang jalannya pulang, juga membuat udara pagi ini terasa menyegarkan. Setiap oksigen yang masuk ke paru - paru terasa membersihkan ruangan di sana.
Kana berjalan seraya mengayunkan tangannya, sesekali gadis itu tersenyum saat disap oleh ibu - ibu tetangganya yang ramah - ramah.
"Nak Kana cantik banget ya, aslinya."
Kana tersenyum seraya menundukkan kepala dengan sopan. Lalu melanjutkan langkahnya, karena pada dasarnya, ia tidak pandai berbasa - basi. Orang - orang akan menganggapnya terkesan tidak ramah bahkan sombong. Tapi, ia tidak bisa melakukan apapun untuk mengubah sudut pandang orang lain terhadap dirinya, bukan.
Ibu - ibu lainnya yang sedang mengelilingi pedagang sayur keliling nampak mengangguk setuju. Mereka tahu kalau gadis itu nampak tidak ramah, namun tetap saja, Kana punya daya tariknya sendiri. Tak jarang, bu Amina, ibunya Kana digoda oleh tetangganya.
"Gimana kalau kita besanan aja bu Mina. Anak laki - laki saya bakalan jadi dokter loh. Katanya di suka sama Kana."
Ibu Amina hanya tersenyum seraya mengenggol lengan tetangganya itu dengan pelan.
Meski terdengar bercanda, pada kenyataannya banyak dari ibu - ibu di lingkungan tempat tinggal Kana yang menginginkannya sebagai menantu mereka.
Tapi, Kana masih terlalu kecil. Bagi bu Amina, putrinya itu masih terlalu kecil dan ia tidak rela jika putrinya diberikan ke keluarga lain. Kana masih terlihat sebagai putri kecilnya yang lucu.
Ya, sebesar dan setua apapun kamu, di mata ibu, kamu tetaplah anaknya yang lucu, menggemaskan dan akan selalu begitu. Andai ketika kau besar, ia masih bisa menggendongmu dan memanjakanmu seperti dulu, ia pasti akan melakukannya.
Di mata seorang ibu, kamu tetaplah putra/i kecilnya yang menggemaskan.