Sian tidak tahu kalau gadisnya itu membuat rencana untuk double date. Lalu sekarang, Sian bingung, apa yang harus ia lakukan. Sementara Arsen nampak tersenyum menatapnya.
"Mau ya? Kamu kan udah janji bakalan minjemin tubuh kamu ke aku. Dan ini saatnya. Plissss," bujuk Arsen seraya menangkupkan kedua telapak tangannya di d**a.
Sian menghela napas seraya membuang muka. Apa ini masuk akal? Gumamnya tak habis pikir. Bagaimana ceritanya ia bisa ngedate dengan Tri, lalu dengan kakak gadisnya ini, Diana?
Konyol sekali.
"Mau ya ya?" bujuk gadis kecilnya yang kini menggoyangnya tangan Sian seraya memasang wajah memelas. Ekspresi wajah yang tidak bisa Sian abaikan karena terlihat menggemaskan di matanya.
Pipi gadis itu terlihat dua kali lebih chubby ketika sedang memelas seperti ini. Bibinya pun ikut dimanyunkan serta pupy eyesnya yang membuat Sian menyerah.
"Baiklah. Asal semua pihak setuju," jawab Sian pada akhirnya yang disambut dengan pelukan oleh Arsen saking girangnya.
Dan tentu saja Arsen akan berakhir di dalam tubuh Sian. Tidak lama, karena Sian buru - buru mengusirnya.
"Kak, gimana?" tanya Tri pada kakaknya yang sejak tadi hanya diam.
Diana nampak tidak mendengarkan apa yang dibicarakan oleh adiknya dan Sian.
Di tidak tahu kalau adiknya ini akan mengajaknya ke wahana bermain seperti ini dan dengan ide double datenya yang terasa mustahil. Diana pikir, ia hanya akan menghabiskan waktunya bersama dengan adiknya. Tapi, kalau sudah membahas soal Arsen, hatinya menjadi lemah kembali.
Diana tidak mau dirinya makin berharap dan berujung egois. Ia tidak mau kalau nantinya, ia akan memaksa Arsen untuk kembali padanya entah dengan cara apapun.
"Kakak lupa, ada janji sama temen kantor. Gimana kalau double datenya kapan - kapan aja?" ucapnya seraya menatap layar ponselnya berkali - kali. Seolah sedang menunggu balasan chat dari teman yang ia maksud.
Tri nampak menghela napa lemah, wajahnya nampak kecewa. Tapi, sepertinya kakaknya itu memang sedang menunggu chat dari teman kantornya.
Atau, apa mungkin kak Di hanya beralasan agar mereka tidak jadi double date yang memang terlihat aneh. Sian akan mengizinkan Arsen meminjam tubuhnya agar bisa berkomunikasi dengan Diana. Lalu, sebaliknya, Sian akan menyuruh Arsen untuk ke luar dari tubuhnya agar Sian bisa ngedate dengan Tri.
Benar - benar tidak masuk akal.
"Kalau gitu, kakak duluan ya. Kamu bisa pulang bareng Sian kan. Ian, tolong anterin adekku ya," pinta Diana pada pria yang kini hanya menganggukkan kepala seraya tersenyum.
"Iya kak. Aku pastiin Tri pulang dengan aman."
Diana berlalu setelah berpamitan seraya melambaikan tangan. Semenyara Tri, gadis itu hanya membalas lambaian tangan sang kakak dengan wajah lesu dan sendu.
"Bang Arsen pasti kecewa," gumam gadis itu pelan seraya menundukkan wajah. Sian mengerutkan kening, kenapa gadis ini jadi murung.
"Kenapa?" tanya Sian seraya mengangkat wajah gadis kecil di depannya itu.
Tri menggelengkan kepala dengan lesu, "gapapa kok," jawabnya seraya memaksakan senyum.
Setelah kepergian Diana, Tri dan Sian pun menuju tempat makan yang ada di sana. Meski sepertinya gadis itu tidak lapar. Tapi ia tetap makan dengan lahap.
Sian tersenyum saat melihat gadis di hadapannya itu makan dalan diam seraya memasang wajah murung. Menggemaskan. Gumam Sian seraya melanjutkan aktivitas makannya.
"Apa?" tanya Tri sesaat setelah ia mendengar Sian bergumam pelan sekali.
"Gapapa," balas pria itu singkat seraya menggelengkan kepala.
Padahal ia jelas mendengar Sian bergumam mengtakan kalau Tri menggemaskan. Tapi pria itu malah menyangkalnya.
Sesaat setelah Sian menyesap jus lemon teanya, ia melirik gadis di depannya itu merengut seraya menyendok kuah mie ayamnya dengan cepat.
Dasar, cowok tsundere menyebalkan! Pikir Tri seraya meraih gelas juz jeruknya lalu menyesapnya hingga setengah.
Sian, pria itu hanya menatap Tri dengan wajah tanpa dosanya. Lalu melanjutkan aktivitas mengunyah bakso yang ia sendok dari mangkuk yang ada di hadapannya.
Perempuan ngambekan seperti Tri bertemu dengan pria tidak peka serta tsundere macam Sian memang akan membentuk suatu hubungan yang cukup rumit. Seringkali Tri salah sangka dan Sian pun tidak bersedia menjelaskannya.
Tapi, lamban laut mereka sama - sama akan saling mengerti dan memahami satu sama lain.
***
Sementara di tempat lain, seorang gadis tengah berkutat dengan buku - buku dengan judul persiapan ujian masuk PTN dan semacamnya.
Kana berada di perpustakaan pusat sejak tadi pagi. Sykurlah, ibunya mengizinkan, setelah apa yang terjadi kemarin, ia masih diberi kepercayaan dan Kana pun berjanji tidak akan mengecewakan ibu dan abangnya serta kedua adik kembarnya.
Gadis itu nampak fokus pada lembaran buku tebal yang ada di hadapannya. Membolak balik lembaran buku itu seraya menandai atau menuliskan sesuatu di sana dengan pensil di tangan kananya.
Ponsel Tri sudah ia silent sejak tiba di perpustakaan. Namun, karena benda itu berada tepat di samping buku yang ada di hadapannya, ia pun dapat melihat dengan jelas. Sebuah panggilan masuk dari seorang pria yang ia hindari. Lebih tepatnya, pria yang sangat ingin ia minta pada Tuhan dan semesta agar tidak pernah lagi dipertemukan dan berurusan dengannya.
Kana melihat panggilan masuk itu dengan mendesah pelan. Lalu meletakkan pensil di tangan kananya ke meja dan meraih benda berbentuk pipih itu lalu berpikir sejenak.
"Apa aku blokir aja nomornya, biar ga dihubungin terus?" pikir Kana seraya membiarkan panggilan itu berakhir tanpa ia angkat.
Tapi, siapa sangka kalau pria yang menelponnya itu sudah ada belakangnya. Berdiri seraya menatap punggung kecil di hadapannya itu dengan tatapan mata dingin.
Axen. Pria itu nampaknya marah. Rahangnya terlihat mengetat dengan tangan yang dikepal dengan kuat.
"Beraninya kamu mengabaikanku," gumamnya pelan seraya tersenyum tipis.
Senyum yang akan meluluhkan hati beberapa perempuan yang melihatnya di perpustakaan pusat itu dengan tatapan kagum dan bisik - bisik ria.
Axen berbalik meninggalkan perpustakaan. Entah apa yang ia rencanakan dalam kepalanya. Yang pasti, pria itu nampak tidan senang ketika Kana mengabaikan telepon dan pesan - pesan yang dikirimkannya sejak beberapa hari yang lalu.
Kana nampak mengusap tengkuknya yang dibalut dengan hijab berwarna grey itu seraya mengedarkan pandangan ke sekelilingnya. Nampak ramai, namun entah kenapa ia merasa merinding beberapa saat yang lalu.
"Maaf, boleh saya duduk di sini," tanya seorang pria yang nampaknya seorang mahasiswa seraya menunjuk kursi yang berhadapan dengan kursi yang sedang Kana duduki.
Kana mendongakkan wajah lalu menatap ke samping kanan dan kirinya. Tidak ada siapa - siapa. Dua kursi di dekatnya itu nampak kosong.
Lalu gadis itu menoleh lagi, menatap pria di hadapannya itu dan menganggukkan kepala ragu.
"terimakasih," ucap pria itu sopan. Kana kembali menganggukkan kepala tanpa membalas ucapan pria di hadapannya itu.
Maklum, ia sering kali merasa kesulitan berbicara ketika bertemu dengan orang baru.
Pria itu nampak tersenyum tipis saat melihat gadis di hadapannya itu kembali tenggelam dengan buku yang ada di hadapanya seraya menggerakkan pensil dintangannya dengan asal.
Biasanya, Rama akan mendapatkan atensi dari lawan bicaranya terutama perempuan. Tapi, gadis kecil di hadapannya ini berbeda. Rama seolah melihat sosok Sian versi cewe.
Ya, sahabatnya itu meminta Rama untuk pergi ke sini agar mamastikan adik perempuannya ini aman.
Rama yang tidak punya kesibukan setelah urusan kuliahnya selesaipun, menyetujuinya. Toh, Kana tipikal gadis yang tidak membosankan.
Tapi, Rama heran, kenapa gadis itu seperti tidak mengenalinya? Padahal, ia pernah ke rumah gadis itu, bahkan ikut makan bersama.
"Maaf, masnya punya penghapus ga?" Kana memberanikan diri untuk bertanya, setelah mengaduk kotak pensilnya dan tidak menemukan benda kecil yang biasanya ada di sana.
Rama mengangguk dengan cepat. Lalu membuka mengambilnya dari tas yang ia bawa kemudian menyerahkannya pada Kana.
Kana menganggukkan kepala seraya berterimakasih, lalu menggunakan benda itu untuk menghapus beberapa catatan yang ia buat namun salah tempat.
Setelah selesai, Kana mengembalikan benda itu seraya berterimakasih lagi.
Namun, kali ini nampaknya gadis itu menyadari sesuatu. Pria di depannya itu nampak tidak asing. Tapi, ia tidak ingat siapa namanya dan di mana mereka bertemu.
Hingga sejurus kemudian, Kana berseru seraya berujar, "Bang Rama?!"
Rama tersenyum saat Kana baru menyadari siapa dirinya.
"Iya. Kok kamu baru sadar ya?" pria itu terkekeh karena Kana nampak meringis seraya meminta maaf.
"Kayaknya karena aku terlalu fokus sama buku ini deh heheh," ujar gadis itu
Setelah itu, keduanya nampak mengobrol santai. Kana tampaknya cukup nyaman ketika Rama membuka obrolan mengenai buku yang sedang Kana pelajari saat ini. Pri itu bahkan membantu Kana menyelesaikan beberapa soal yang gadis itu belum pahami.
Interaksi keduanya tidak luput dari tatapan seorang pria yang kini duduk di ujung meja di dekat rak buku di sudut ruangan. Sorot mata pria itu nampak dingin dan menusuk.
Sepertinya cara baik - baik tidaklah tepat untuk membuat Kana berada di sisinya. Pikir Axen seraya meremas buku yang ada di hadapannya itu hingga kusut.
Saat obsesi terbesarnya malah mengabaikannya, saat itulah, jiwa psikopatnya meronta - ronta ingin dibebaskan.
Cinta bagi Axen adalah selalu bersama dan saling terbuka dan menemani satu sama lain. Jika Kana tidak mau melakukannya, maka ia akan mengajarkan gadis itu bagaimana cinta yang ia maksud. Ya, cinta yang ada di kepala pria itu hanya obsesi yang membuatnya egois dan menolak untuk logis.
***
Tri tidak pernah tahu kalau Sian takut akan ketinggian. Sampai pria itu mual dan muntah - muntah setelah mereka menaiki wahan hysteria beberapa saat yang lalu.
"Duh gimana ini? Kamu kenapa ga bilang sih, kalo takut ketinggian?" tanya Tri panik seraya menepuk dan mengusap punggung Sian dengan pelan.
Lalu beralih ke tas yang ada di lengannya. Mengaduk isi tas dan menemukan benda yang ia cari, minya angin.
"Sini, aku usapin minyak angin," ujarnya seraya menarik tubuh Sian agar mendekat. Lalu dengan cepat, gadis itu menuangkan minya angin dari botolnya dan membuka kancing kameja Sian lalu mengusapkannya ke perut pria itu dengan cepat.
"Tunggu!" Sian memekik tertahan saat kulit tangan kecil yang halus dan lembut itu menyentuh kulitnya.
Tapi, Tri tidak mendengarkan. Hanya mengusapkan minya angin itu merata lalu menutup kembali kameja Sian dengan wajah tanpa dosa.
Apa gadis itu tahu, kalau jantung Sian berdegub tak karuan. Dadanya terasa digedor dengan kuat dari dalam sana. Sementara Tri, gadis itu hanya tersenyum lega saat menatap wajah Sian yang sudah tidak lagi pucat pasi, malah menjadi memerah.
"Gimana? Udah baikan ga?" tanya Tri dengan wajah sendunya. Gadis itu merasa bersalah karena memaksa Sian agar mau menaiki wahana ekstrem yang ada di tepat ini.
Lagian, kenapa juga Sian tidak mengatakan kalau ia phobia ketinggian. Malah mengejek Tri, dengan mengatakan kalau ia tidak mau gadis itu berteriak ketakutan dan trauma kalau mereka menaiki wahana yang Tri tunjuk saat itu, wahana hysteria.
Dasar pria gengsian! Gemas Tri seraya mencubit pipi pria yang ada di depannya itu dengan tiba - tiba tanpa permisi.
"Sakit," keluh Sian seraya menjauhkan tangan kecil itu dari pipinya lalu mengusap pipinya dengan kedua telapak tangan.
"Siapa suruh gengsi selangit?! Gimana kalau kamu kenapa - kenapa coba?! Aku ngerasa bersalah bangettau ga!" kesal Tri seraya meringis. Gadis itu cemas bukan main.
Sian hanya mendesah pelan seraya menggeser tubuhnya agar lebih dekat dengan gadis itu. Lalu menangkup pipi tembam gadis itu dengan kedua tangannya seraya berujar,
"Liat... aku gapapa kan? Jadi, jangan cemas dan jangan nyalahin diri sendiri ya."