Diana tidak pulang atau pun bertemu dengan temannya. Karena sejak awal ia memang sedang tidak ada janji dengan siapapun dan ia bosan di rumah.
Perempuan itu memutuskan untuk pergi ke mall sendirian. Baginya ia sendirian, nyatanya, Arsen membersamainya sejak tadi. Pria itu duduk di samping Diana yang sedang menyetir.
Dulu, Arsen tidak akan membiarkan kekasihnya menyetir. Ke mana - mana pasti pria itu selalu meminta Diana untuk mengabarinya. Agar Arsen bisa datang menjemput kekasihnya itu.
Bahkan, sejak mereka masih duduk di bangku kuliah, Arsen sering kali melakukan banyak hal sederhana untuk Diana. Mengikat tali sepatu perempuan itu saat si empunya sedang berkutat dengan buku - buku yang ada di tangannya ketika menuju prodi sastra.
Atau, Arsen akan menyuapi Diana makan saat perempuan itu sedang sibuk mengedit draft revisi skripsinya yang akan segera dikumpulkan.
Hal - hal sederhana yang membuat Diana makin sulit melupakan Arsen setiap kali ia melakukan banyak hal. Saat makan, ia akan teringat pada Arsen. Saat mengerjakan pekerjaannya di laotop, ia akan ingat dengan Arsen. Atau, saat Diana terjatuh karena tali sepatunya tidak terikat dengan baik, ia teringat akan Arsen. Bahkan, saat berajalan di pinggir jalan raya atau menyebrang jalan pun ia akan teringat dengan Arsen.
Lalu yang bisa ia lakukan hanya terduduk lemah dengan bahu yang bergetar serta terisak.
"Maaf Di," ucap Arsen lirih seraya menatap wajah Diana--yang sedang menyetir--dengan lekat.
Mata perempuan itu sudah memerah dan berkaca - kaca. Sejurus kemudian, ia menangis. Air mata yang ia tahan sejak tadi jatuh juga.
"Andai kamu ada di sini Ar. Aku pasti merasa lebih baik. Tidak peduli apa yang akan terjadi hari esok. Tapi, nyatanya kamu ga ada di samping aku. Aku selalu mikir, kalau hari esok akan tiba, apa aku bakalan ngerasain sakit yang sama kayak kemarin?"
Sedetik kemudian Diana terkekeh. Ia seperti orang gila yang sedang berkendara. Sendirian.
"Maafin aku Di, maaf." Arsen berujar lirih seraya ingin menyentuh kedua pipi perempuan itu untuk menyeka air matanya yang jatuh. Akan tetapi, tangan Arsen hanya melewati kulit Diana. Tidak dapat merasakan kulit pipi perempuan itu.
Pria itu ikut menangis. Arsen meraung seraya mengibaskan tangannya untuk menyentuk Diana namun nihil. Tidak ada yang bisa ia sentuh.
"Kenapa? Kenapa kamu ga bisa ngeliat aku Di kenapa?! Padahal kamu adalah orang yang paling sering nyentuh semua barang - barang peninggalanku. Lalu kenapa? Kenapa kamu ga bisa liat bahkan ga bisa denger suara aku?! kenapa Tuhaaaan?! Apa yang salah?!"
Arsen berteriak frustrasi seraya menjambak rambut kepalanya dengan kuat.
"Aku ga minta buat dilihat sama siapapun, kecuali dia. Kenapa ga bisa? Kenapa?! Aku cuma mau Di melihatku, mendengarku. Cuma dia Tuhan, cuma dia.."
Diana terkejut sesaat setelah ia mendengar raungan seseorang yang suaranya sangat dekat dengannya. Lalu menepikan mobil di pinggir jalan di bawah rindangnya pepohonan yang ada di sepanjang jalan kota Argon.
Arsen terdiam, air matanya nampak jatuh saat ia menoleh ke samping. Wajahnya mereka berhadapan dengan jarak yang sangat dekat. Diana nampak diam seraya mengerlingkan bola matanya. Tidak ada siapa - siapa. Pikirnya.
"Di, kamu bisa denger aku?" tanya Arsen seraya menggerakan tangannya untuk kembali menyentuh kulit wajah kekasihnya.
Diana terperanjat kaget memundurkan tubuhnya menjauhi Arsen.
Kenapa? Apa Dinya bisa mendengar suaranya? Pikir Arsen seraya menelisik wajah perempuan di hadapannya itu.
"Ka-kamu siapa?!" tanya Diana seraya menatap waspada ruang kosong yang ada di hadapannya.
Arsen terkejut. Apa sekarang Diana benar - benar bisa mendengar suaranya?
"Ar? ... Apa itu kamu?"
Bodoh! Bagaimana bisa Arsen bersamamu! Cerca batin Diana.
"Ar.. Bisa kamu kasih aku tanda kalau itu kamu?"
Gila! Kayaknya kamu harus ke psikiater Di! Kamu terlalu sering berilusi! Batinnya mengingatkan.
Arsen terdiam lalu mencoba memanggil nama perempuan yang ada di hadapannya itu dengan keras.
"Kamu beneran di sini Ar?" tanya perempuan itu lirih. Suaranya hampir tercetak di tenggorokan.
Diana menangis tergugu. Digapainya udara kosong di hadapannya itu dengan wajah sendu dan air mata yang bercucuran. Seolah ia sedang menggapai Arsen.
Sementara pria itu, ikut melakukan hal yang sama. Mengangkat tangannya untuk menggapai tubuh kekasihnya. Meski yang terjadi hanyalah ia yang menembus tubuh Diana.
Tidak apa - apa. Yang penting Dinya bisa mendengar suaranya. Itu sebuah keajaiban baginya.
"Ar aku kangen kamu... Kangen sampai rasanya aku mau mati aja. Ga ada yang bisa ngertiin aku sebaik kamu ngertiin aku Ar."
Arsen menggelengkan kepala, "Ga Di, kamu ga boleh bicara begitu. Kamu harus tetap hidup."
"Tapi berat Ar... Tiap kali aku bangun tidur aku berharap bisa ketemu kamu dan menganggap semuanya hanya mimpi. Kamu akan datang dan meluk aku. Tapi.... Hiksss...Ta-pi... Udah dua tahun aku nunggu dan kamu ga datang juga."
Rasanya hati Arsen tersayat - sayat mendengar ungkapan kekasihnya itu. Wajah Diana benar - benar kacau. Matanya sembap, wajahnya merah dan basah akan air mata.
"Maaf ya. Maafin aku yang ninggalin kamu kayak gini. Aku bakalan selesaiin semuanya dan kembali sama kamu. Jadi... Aku minta, kamu jangan nangisin aku terus kayak kemarin - kemarin ya," pinta Arsen seraya mengusap kedua pipi Dinya meski perempuan itu tidak dapat merasakannya.
Di menangis sejadi - jadinya seraya memeluk tubuhnya sendiri. Terisak dan meraung tertahan. Hingga suara pengeras suara yang berasal dari mobil terdengar memekakkan telinganya.
"Nona! Nona!!" Seorang pria memanggil pengemudi yang ada di depannya itu seraya menggedor kaca mobil dengan kuat.
Namun, hanya pergerakan kecil yang terlihat dari perempuan yang di dalam sana.
Sampai dengan terpaksa, Mujia, pria yang beralis tebal itu memecahkan kaca mobil Diana dari luar.
Membuat perempuan itu terperanjat kaget dan memekik.
"Nona gapapa?!" tanya pria itu dengan cepat seraya membuka pintu mobil itu dan membawa Dianak keluar.
Perempuan itu nampak linglung. Ia tidak tahu apa yang terjadi. Kenapa pria ini memecahkan kaca mobilnya.
"Hei!!! Kalian gila, hah?! Ini bukan jalan nenek moyang kalian, kenapa parkir sembarangan?!" seorang bapak - bapak berwajah sangar datang dan mengumpat dengan wajah merah padam.
"Maaf pak. Teman saya tidak sengaja ketiduran," balas Muji seraya menundukkan kepala sopan.
"Cepat singkirkan mobil ini!" titah pria berusia empat puluhan itu seraya menendang pelan badan mobil Diana.
Diana, perempuan itu tidak menegerti. Kenapa ia bisa tertidur? Bukankah ia sedang berbincang dengan Arsen?"
Diana diajak masuk ke mobilnya dan duduk di kursi di penumpang. Sementara Muji, pria itu duduk di kursi kemudi dan menyalakan mesin. Lalu berlalu meninggalkan tempat itu.
"Maaf, saya memacahkan kaca mobil nona. Saya akan segera memperbaikinya. Dan maaf juga karena saya lancang mengendari mobil ini."
Diana masih bergeming dan menatap lurus ke depan. Sorot matanya kosong. Pikiriannya melayang pada saat ia memeluk Arsen dan mengungkapkan semua isi hatinya.
Lalu, kenapa dia bisa tertidur di dalam mobil? Apa mungkin... Apa mungkin semua yang ia dengar saat itu adalah mimpi semata?
Apa suara Arsen yang menyusup ke indera pendengarannya hanya bagian dari mimpi belaka?
Muji, pria itu hanya diam seraya tetap fokus pada jalanan yang ada di depan. Mobil yang dikendarinya pun menuju bengkel untuk mengganti kaca mobil Diana yang pecah.
Perempuan nampak memijat pelipisnya. Kepalanya mulai berkunang - kunang. Sejak pagi ia hanya menyesap cokelat hangat dan tidak memasukkan makanan apapun ke dalam perutnya.
***
"Bang Rama gak sibuk kah?" tanya Kana sesaat setelah ia menyelesaikan beberapa soal matematika yang ada di buku tebal di hadapannya. Menutup buku itu dan memberekan alat tulis.
Rama hanya menggeleng seraya menatap Kana dengan tersenyum. Rama baru sadar kalau sahabatnya itu punya adik secantik ini. Pikirnya.
Kana tersenyum canggung karena sejak tadi yang dilakukan Rama hanya memeperhatikan dirinya. Seolah ia ke sini memang hanya untuk memastikan kalau Kana tidak ke mana - mana.
"Gimana kalau kita makan siang?" tawar Rama pada gadis di hadapannya itu.
Kana nampak menatap Rama dengan wajah cengo. Gadis itu nampak kaget karena Rama bertanya tiba - tiba.
"Atau kamu udah ada janji sama temen?" tanya Rama lagi karena Kana tak kunjung menjawab.
Gadis itu nampak menganggukkan kepala seraya meng-iya kan.
"I-iya, mau," jawab Kana terbata.
Mereka pun beranjak meninggalkan perpustakaan pusat. Diiringi oleh seoranh pria lain di belakang. Tanpa mereka sadari kalau pria itu menatap dengan sorot mata kelam dan tajam.
Ternyata, gadis kecil itu terlalu mudah didekati oleh pria asing. Dasar. Axen mengumpat dalam hati.
Lihat saja, ia akan memberikan perlajaran pada gadis kecilnya. Agar tidak bersiap murahan dengan pergi bersama pria semabarangan begitu saja.
Sementara Kana dan Rama memasuki semua mobil, Axen pun segera memasuki mobilnya dan melajukan kendaraan itu tepat di belakang mobil yang dikendarai Rama.
Kadang, cemburu buta membuat seseorang hilang kendali. Untuk itulah, kenapa kepercayaan dalam suatu hubungan itu sangat penting. Ia ibaratkan pondasi dari sebuah bangunan yang bernama hubungan.
Sayangnya, Axen dan Kana tidak punya hubungan apa - apa, kecuali sebatas tuan dan ART. Meskipun itu hanya menurut Kan. Karena gadis itu tidak pernah menganggap Sian lebih dari seorang yang pernah ia tolong di masa lalu dan takdir kembali mempertemukan mereka.
Jalanan ibu kota Argon nampak sesak oleh kendaraan, meski tidak menyebabkan kemacetan, namun lalu lintas nampak begitu sibuk akan lalu lalang kendaraan roda dua dan roda empat.
Diana, perempuan itu nampak memandangi langit lewat kaca mobil yang sudah diganti. Pria di sampingnya itu nampak tidak mengatakan apapun, namun sedari tadi matanya melirik Diana lewat ekor matanya.
Perempuan itu terlihat begitu sedih. Entah apa yang dipikirkannya, namun Muji merasa kalau sorot matanya begitu hampa dan penuh luka. Hingga tanpa sebab, pria itu merasa iba dan ingin bertanya apa yang mengganggu pikirannya. Tapi, Muji tidak bisa bertanya semudah itu. Karena ia tipikal pria yang sulit memulai percakapan jika berada di situasi seperti ini.
"Bisa kamu antar aku pulang?" pinta Diana tanpa mengalihkan tatapannya dari pemandangan di luar kaca mobil.
Muji menganggukkan kepala.
Diana tersenyum lalu mengatakan letak rumahnya. Pria di sampingnya itu nampak begitu baik dan sopan. Dan entah kenapa, Diana merasa sedikit tenang.