Selama ini, Diana hidup dengan segala hal serba berkecukupan mengelilinginya, kecuali kasih sayang kedua orang tua. Ya, sejak dulu sekali orang tuanya sudah disibukkan dengan pekerjaan masing - masing. Diana tidak menyangka jika itu akan berlangsung begitu seterusnya hingga ia dewasa dan punya adik.
Tapi, siapa sangka, kalau Tri, adiknya itu tidak sama seperti dirinya dan Kakaknya, Mono. Gadis kecil itu memberontak karena merasa diabaikan oleh kedua orang tua mereka.
Namun, Diana pikir, itu tidak akan merubah mama papanya. Karena jauh sebelum adiknya itu melakukan pemberontakan, ia sudah lebih dulu melakukannya di masa - masa remajanya. Lalu, hasilnya? Nihil, tidak ada yang mau mendengarkannya. Mama papanya hanya menganggapnya angin lalu.
Tapi, meski tanpa kasih sayang yang cukup, ia merasa semua itu dilengkapi oleh kehadiran Arsen di hidupnya. Pria dengan manik mata cokelat gelap itu berhasil membuatnya jatuh cinta.
Arsen melengkapinya. Semua kasih sayang yang ia dambakan sejak dulu, ia dapatkan dari pria itu. Arsen memperlakukannya dengan sangat baik, bahkan terlewat baik.
Lalu, saat pria itu menghilang begitu saja? Apa bisa ia tetap baik - baik saja? Apa bisa Diana menjalani hidupnya seperti saat pria itu ada di sisinya.
Selama perjalanan pulang, ia tak henti - hentinya mengingat - ngingat akan apa yang terjadi sebelumnya. Ia merasa begitu yakin kalau Arsen ada di sampingnya.
"Nona baik - baik saja?" tanya pria yang ada di kursi kemudi yang ada di sampingnya itu dengan gugup.
Paslanya, sejak tadi, Muji hanya melihat perempuan di sampingnya itu nampak berpikir keras, entah memikirkan apa.
Diana menoleh, entah kenapa wajah pria di sampingnya ini nampak tidak asing di matanya.
Muji yang ditatap dengan lekat itu merasa canggung dan gugup. Membuat pria jtu berdehem singkat untu menghilangkan kegugupannya.
Sebelumnya, Diana belum pernah berdua di dalam mobil dengan pria asing sepeti ini. Tapi, ia tidak bisa menguasai dirinya saat menyadari kalau semua yang ia alami sebelumnya hanya mimpi atau mingkin juga ilusi.
Mobil yang membawanya berhenti karena lampu merah. Sesaat kedua nya terdiam sejanak.
Diana yang semula merasa sedikit pusing, kini entah kenapa perutnya terasa sakit juga. Ia tidak mungkin meringis di depan pria ini. Tapi, ia juga merasakan nyeri di dalam perutnya semakin menjadi - jadi.
"Kamu kenapa?" Pri di sampingnya itu nampak cemas saat ia melirik ke samping dan mendapati Diana yang tengah memegang perutnya seraya meringis tertahan. Terlebih lagi, wajah perempuan itu pucat pasi. Muji semakin cemas.
"Kita ke rumah sakit ya?" ujarnya seraya melajukan mobil dengan kecepatan tinggi menuju rumah sakit terdekat.
"Aku gapapa," balas Diana seraya menggelengkan kepala lemah.
Muji tidak menjawab, ia hanya fokus pada jalanan yang ada di depannya. Menyalip beberapa mobil yang ada di depan dengan piawai.
Hingga pada akhirnya mereka sampai di sebuah rumah sakit yang ada di jantung kota Argon. Diana hanya menghela napas seraya memegang perutnya yang terasa nyeri.
Muji, pria itu turun dan dengan cepat membuka pintu mobil dan meraih tubuh Diana dan membawanya ke dalam gendongannya lalu meletakkan tubuh perempuan itu ke brangkar untuk dibawa ke dalam gedung.
Diana ingin menolak, namun ia tidak punya cukup tenaga dan hanya bisa membuka-tutup matanya seraya menahan nyeri pada perut dan juga kepala. Hingga perlahan - lahan pandangannya mengabur dan buram lalu gelap.
Pria yamg berada di sampingnya dan ikut mendorong brankar yang membawa Diana. Wajah pria itu nampak cemas. Jantungnya berdegup tak karuan.
"Maaf, anda bisa tunggu di luar," ucap seorang perawat saat berankar yang membawa Diana akan memasuki ruangan IGD.
Muji menganggukkan kepala. Namun ekspresi cemasnya begitu jelas tercetak di wajahnya.
"Silahkan ke meja administrasi untuk mengisi data formulir pasien. Kalau boleh tau, anda siapanya pasien?" tanya perawat itu dengan sopan.
"Saya temannya. Kebetulan pasien mengalami nyeri di dalam perut saat saya akan mengantarnya pulang. Kalau begitu, saya permisi. Mohon ditangani dengam baik," ucap Muji lalu berlalu meninggakkan IGD menuju meja administrasi.
"Muji?" pria yang dipanggil itu menoleh dan mendapati seorang pria berjas dokter dengan wajah yang tidak asing di matanya.
"Putra?"
"Apa kabar kamu?" pria itu menyapa sahabatnya, Muji seraya tersenyum senang.
"Beberapa pekan terakhir kayaknya kamu sibuk banget ya. Ngomong - ngomong siapa yang sakit?" tanya putra seraya berjalan beriringan dengan Muji.
"Teman," jawab pria itu singkat.
"Siapa? Rekan kerjamu?"
"Bukan, teman yang baru aku temui hari ini."
"Cewe?" tanya Putra seraya mendekati meja administrasi dan meminta perawat yang bertugas di sana segera menangani proses administrasi teman Muji, sahabatnya.
"Iya," balas Muji singkat seraya menyerahkan formulir pendaftaran pasien yang baru saja ia isi berkat tas Diana yang ia bawa bersamanya.
"Sejak kapan kamu punya teman kerja cewe?" tanya sahabatnya itu heran.
Muji hanya tersneyum tipis dan tidak berniat menjelaskan. Sebab ia sendiri masih bingung, kenapa ia begitu impulsif pada perempuan yang bahkan belum ia kenal sehari.
"Dok, ada pasien yang membutuhkan operas." Putra menoleh dan menganggukkan kepala.
Muji tersenyum seraya berterimakasih dan menjabat tangab sahabatnya itu. Putra yang belum sempat menerima jawaban, hanya tersenyum seraya menjabat tangan sahabatnya itu kemudian berlalu.
***
"Gimana? Diangkat ga?" Sian bertanya pada gadis yang kini menatap layar ponselnya dengan cemas.
"Engga. Gimana dong?" tanya Tri panik sesaat setelah melakukan panggilan yang kesekian kalinya, namun tak kunjung diangakt oleh kakaknya itu.
Seketika, ia meresa bersalah karena membiarkan kakanya itu pulang sendirian.
"Coba telepon orang rumah kamu," saran Sian pada gadisnya itu. Tri mengangguk mengerti.
"Halo, ka Mon?"
"Kak Di ada ga?"
Hening sejenak. Mono berujar kalau ia akan memeriksa kamar adiknya itu sebentar.
"Ga ada?! Duh, coba kakak liat di bawah ada ga? Atau di taman?" pinta Tri seraya mondar mandir dengan gelisah.
Sejak mereka memutuskan untuk ngedate, Tri sedikit khawatir karena ide konyolnya, kak Di memutuskan untuk pulang.
Semula, ia merasa kalau kak Dinya hanya menghindar dan tidak mau mengganggu waktunya dengan Sian. Namun, karena merasa cemas, gadis itu mencoba mengirimkan beberapa pesan, bertanya apakah kakaknya sudah pulang atau masih bersama temannya. Tapi, tidak ada balasan, bahkan dibacapun tidak.
Hingga Tri memutuskan untuk menelpon kakaknya, saat itu juga rasa khawatirnya semakin menjadi. Nomor kakanya itu aktif namun tidak ada jawaban.
"Gapapa ka Mon. Kalau gitu aku tutup teleponnya."
Panggilan diakhiri setelah Tri mengucapkan salam dan dibalas oleh kakak pertamanya itu.
"Coba telepon lagi, nomo kak Di," pinta Sian seraya meraih tangan gadisnya itu dan membawa Tri untuk duduk di kursi yang tidak jauh dari tempat mereka berdiri.
Tri mengangguk lalu menelpon kembali kak Dinya seraya menggigit bibir bagian dalam dengan pelan karena gugup.
"Halo assalamu'alaikum Ka Di?!" ucap Tri dengan cepat sesaat setelah panggilan itu terhubung.
"Ini siapa?"
Sian berdiri sesaat setelah Tri menatapnya dengan ekspresi terkejut.
"Apa? Rumah sakit?! ... Rumah sakit mana?!" gadis itu bertanya dengan nada tinggi karena syok, setelah seseorang di seberang sana mengatakan lokasi rumah sakit di mana Diana dirawat.
"Baiklah terimakasih kalau begitu." Panggilan itu diputus sesaat setelah Tri mengucapkan salam dengan cepat.
"Rumah sakit mana?" tanya Sian seraya berjalan bersisian dengan Tri menuju parkiran motor.
"Rumah sakit pusat kota Argon."
Sian mengangguk lalu menyalakan mesin motornya. Melajukan kendaraan roda dua itu dengan kecepatan rata - rata membelah jalanan kota Argon dan bergabung dengan kendaraan lainnya.
Selama di perjalanan, Tri tak henti - hentinya melangitkan doa berharap kak Di tidak kenapa kenapa. Dan pria yang bersama dengan kakaknya itu semoga bukan orang jahat.
Karena, selama ini, kak Dinya tidak pernah menceritakan apa - apa mengenai seorang pria yang bernama Muji dan Tri juga yakin kalau sepertinya pria itu baru mengenal kakaknya. Karena, kalau pria itu sudah lama mengenal Diana, tidak mungkin ia tidak tahu diapa Tri. Sebab, Diana akan terbuka mengenai keluarganya dengan orang - orang yang sudah lama dikenalnya dengan baik.
***
"Abis ini mau ke mana?" tanya Rama pada gadis yang berjalan bersisian dengannya, Kana.
Kana menoleh dan merapatkan bibirnya sejenak. Ia tidak mempunyai rencana lain, selain pulang.
"Pulang bang."
Rama menganggukkan kepala seraya tersenyum. Lalu mereka berjalan bersisian menuju keluar gedung perpustakaan.
"Makasih buat makan siangnya bang," ucap Kana seraya tersenyum tulus.
"Sama - sama. Besok kamu mau ke sini lagi?" tanya Rama seraya berdiri di tepi jalan menuju parkiran mobil.
Kana menganggukan kepala, "Iya bang."
Rama manggut manggut mengerti. Itu artinya, besok, Rama akan ke sini lagi.
"Ayo!" ajak Rama, namun Kana hanya diam dan menatap pria tinggi di depannya itu dengan bingung.
"Mau pulang kan?" tanya Rama memastikan.
"I-iya," jawab gadis itu menganggukan kepala dengan ragu.
"Yaudah, barengan aja. Aku anterin."
Kana masih bergeming. Seolah tawaran Rama barusan hanya basa - basi.
"Gapapa bang, ga enak ngerepotin. Arah rumah bang Rama berlawanan sama rumah Kana. Kana bisa naik taksi kok heheh.. Makasih sebelumnya bang," ujar Kana seraya menundukkan kepala sejenak lalu ingin berlalu.
"Siapa bilang ngerepotin. Aku ga repot kok. Malah senang. Jadi, aku anterin aja ya," bujuk Rama sebelum hingga menghentikan langkah kaki gadis itu.
Kana nampak berpikir sejenak. Lalu mengedarkan pandangannya ke sekeliling dan...
Tatapan mata mereka bertemu.
Axen, pria itu sedang menatapnya dengan sorot mata tajam yang kelam. Seolah sedang memperingatinya untuk tidak melanjutkan langkah kakinya yang sempat terhenti.
Rama, pria itu mengikuti arah pandangan Kana dan ia menemukan sosok seorang pria dengan masker hitam dan topi dengan warna yang senada, tengah menatap ke arah mereka dengan lekat.
"Ga usah bang. Aku naik taksi aja. Bang Rama pulang duluan." Kana berujar dengan cepat seraya ingin berlalu meninggalkan Rama.
Namun, pria itu lagi - lagi menahan langkahnya. Bahkan, tanpa sadar, tangan Rama mencekal lengan Kana agar gadis kecil itu tidak beranjak.
Rama tidak tahu apa masalah Kana dengan pria yang ada di depan pintu masuk parkiran itu. Namun, sepertinya meninggalkan Kana di sini bukanlah keputusan yang baik. Pikirnya seraya menarik lengan gadis itu dan mengabaikan protesnya.
Kana tidak ingin melibatkan pria di depannya ini dalam masalahnya dengan Axen. Ia tahu betul, kalau Axen akan merasa cemburu dan berpikir yang tidak - tidak. Lalu, pria itu akan bertindak seenaknya. Tidak! Kana tidak mau membahayakan siapapun karena dirinya.
"Bang, beneran aku bisa naik taksi kok."
Rama mendesah seraya berdecak, ia tidak akan mengubah keputusannya. Pikirnya dengan mantap.
"Ga boleh, hari sudah sore. Bakalan susah nyari taksi." Rama berujar seraya menarik lengan Kana hingga mereka berjalan bersisian menuju mobil yang Rama parkir tak jauh dari temlat mereka berdiri.
Sesampainya di dalam mobil, Kana bergerak dalam duduknya dengan gelisah. Ia tidak enak hati menolak bantuan pria ini, tapi ia makin ga enak hati kalai harus melibatkan Rama dalam situasi yang rumit.
Kana tidak tau apa yang sedang Axen rencanakan, namun entah kenapa ia merasa kalau pria itu tidak suka melihat Kana bersama dengan pria lain. Tanpa tahu kalau Rama adalah sahabat abangnya.
Mobil yang dikendarai Rama melaju meninggalka parkiran. Bergabung dengan kendaraan lain membelah jalanan kota Argon yang nampak besih. Karena beberapa hari yang lalu diguyur hujan, debu - debu dijalanan seolah dibersihkan oleh guyuran hujan.
Di tempat lain. Diana nampak duduk di ranjang pasien dengan tangan yang diinfus. Ia mendesah sesaat adiknya datang dengan wajah cemas dan pipi yang basah.
"Kakak kenapa ga bilang kalo lagi sakit?" tanya Tri seraya memeluk kakaknya itu dengan erat dan terisak. Sementara Sian, pria itu melirik sosok yang berdiri tak jauh darinya. Seorang pria berjas rapi dengan rambut hitam legam dan alis tebal.
"Kenapa pulang sendirian? Kalo tahu kakak sakit, aku ga akan biarin kakak pulang sendirian," cecar gadis dengan wajah sembab itu seraya menatap wajah kakaknya yang nampak pucat.
Sementara melihat interaksi kakak-adik itu, Sian dan Muji nampak canggung dan memutuskan untuk meninggalkan Diana dan Tri berdua.
***
"Kalau boleh tahu, anda siapanya kak Di?" tanya Sian setelah beberapa saat mereka duduk diam di kursi tunggu yang ada di depan ruangan.
Muji menoleh, "Saya Muji, sebenarnya saya baru bertemu dengan nona Diana tadi siang. Ceritanya cukup panjang, tapi singkatnya, saya mendapatinya tengah pingsan di dalam monbilnga yang terparkir di pinggir jalan."
Sian menganggukan kepala mengerti. Syukurlah masih ada orang baik seperti pria di sampingnya itu yang menolong Diana.
"Anda sendiri?" tanya Muji pada Sian.
"Saya pacar adiknya kak Diana. Sian."
Mereka saling menjabat tangan lalu kembali diam dan sibuk dengan isi kepala masing - masing.
Sampai seorang gadis keluar dari ruangan dan memanggil keduanya untuk masuk.
Diana nampak masih pucat, namun tidak sepucat saat ia dibawa ke sini. Perempuan itu nampak bingung harus berkata apa.
"Jadi gini, Mmm.. Sebelumnya saya minta maaf karena sudah merepotkan anda," ucap Dian pada Muji dengan canggung.
"Tidak sama sekali nona. Saya senang bisa membantu nona," balas pria itu dengan tulus.
Selanjutnya, keduanya berbincang saling menanyakan menganai identitas masing - masing. Sementara Tri dan Sian keduanya sesekali ikut dalam obrolan.
Sementara di sudut ruangan, nampak Arsen berdiri dengan wajah sendu menatap ke arah keempat orang yang sedang berbincang dengan asik. Sepertinya akan lebih baik, jika ia tidak berada di sekeliling Diana dan membuat perempuan itu berharap padanya.