Kata orang, waktu akan menjawab banyak hal, menyembuhkan luka dan membuat kita lupa akan kenangan pahit. Mungkin bagi sebagian orang akan setuju. Tapi, sebagian lain akan menyangkalnya. Sebab faktanya, selama apapun waktu berlalu tetap saja pertanyaan yang tidak menemukan jawabannya akan tetap seperti itu. Luka yang menganga tetap saja akan bersarang di sana dan kenangan pahit akan tetap abadi dalam memori ingatan, sekuat apapun untuk melupakan.
"Maaf ya, kakak bikin kamu khawatir." Diana menatap adiknya yang tengah mengemasi barang itu dengan tatapan sendu.
"Kakak kemarin lupa kalau belum makan apa - apa dan cuma minum kopi," imbuhnya menjelaskan kenapa ia sampai dilarikan ke rumah sakit. Ya, asam lambungnya naik dan untungnya ada Muji yang berbaik hati mau menolongnya.
Tri, gadis itu belum menanggapi ucapan sang kakak. Ia sibuk merapikan barang - barang kakaknya dan mengambil sarapan yang diantarkan perawat, lalu bersiap menyuapi Diana.
"Kamu masih marah sama kakak?" tanya Diana saat adiknya itu menyodorkan sendok di hadapannya. Tri, gadis itu menghela napas. Ia tidak marah, lebih tepatnya ia merasa bersalah. Kalaupun ada yang haru ia marahi di sini, yaitu dirinya sendirilah yang pantas dimarahi. Karena membiarkan kakaknya itu pulang begitu saja dan berakhir terbaring di sini.
Tri menggelengkan kepala pelan. Lalu tetap menyuapi kakaknya itu dengan penuh kasih sayang. Dulu, Dianalah yang sering melakukan hal ini. Menyuapinya makan karena sang mama tidak punya waktu untuk melakukannya.
Banyak cinta yang Tri dapatkan dari Diana. Kakaknya itu sudah seperti ibu baginya. Diana yang akan mengurusnya ketika ia demam, di saat mama dan papanya sibuk dengen pekerjaan masing - masing dan Mon juga begitu.
"Hari ini kakak udah bisa pulang. Tapi, harus janji, ga boleh telat makan lagi ya," ujar gadis itu seraya menatap wajah kakaknya dengan sendu.
Diana menganggukkan kepala mengerti seraya tersenyum. Adiknya ini ternyata sudah dewasa. Pikirnya seraya meraih tangan adiknya itu dan mengusapnya dengan lembut.
"Maafin kakak karena bikin kamu khawatir, ya," ucapnya dengan lembut. Tri menganggukkan kepala pelan.
Sementara di sudut ruangan, sesosok pria yang tidak terlihat oleh keduanya itu, kini tengah menatap Tri dan Diana dengan wajah sedih.
Arsen, pria itu merasa bersalah karena meninggalkan kekasihnya begitu saja dan membuat Diana tersiksa selama ini.
Jika saja Sian sudah menemukan cara untuk mencari tahu alasan dibalik kematiannya. Mungkin Arsen bisa dengan cepat pergi meninggalkan dunia ini.
Tapi, sepertinya Arsen yang harus bertindak mencari tahu apa yang terjadi pada jasadnya. Apa yang Gia lakukan padanya setelah menghantam kepalanya dengan kuat dan Arsen tidak sadarkan diri. Lalu? Sayangnya ia tidak mengingat apapun yang terjadi setelahnya.
Apa jasadnya dibuang di sungai?
Atau, dimutilasi dan dibekukan di lemari pendingin?
Dan kemungkinan terakhir, tubuhnya masih utuh dan disembunyikan di suatu tempat. Diberi pengawet mayat agar tidak membusuk?
Ah, sepertinya Arsen makin pendai menebak pola pikir psikopat lewat informasi yang ia cari di laptop Sian selama beberapa waktu terakhir.
Saat ia sedang duduk di sofa seraya berpikir keras, saat bersamaan seseorang masuk dan menatap ke arah Arsen tanpa sengaja. Sian, pria itu mendapati Arsen duduk di sana dengan wajah sendu dan tatapan yang sulit diartikan.
"Kak Di gimana keadaannya?" tanya Sian setelah mengucapkan salam dan menutup pintu pelan.
Diana tersenyum seraya berujar, "Alhamdulillah udah baikan."
"Hari ini pulangnya setelah makan siang kan?" tanya Sian pada kedua perempuan di depannya.
Tri dan Diana mengangguk kompak. "Iya, abis makan siang nanti akan ada dokter yang visit," ujar Tri menjelaskan kalau dokter harus memastikan kalau kakaknya ini sudah baik - baik saja dan benar - benar bisa pulang hari ini.
Sementara Tri dan Diana berbincang, Sian memutuskan untuk melirik Arsen dan memberi isyarat untuk keluar ruangan sejenak.
"Aku permisi bentar ya, kak, Na," pamit Sian pada Tri dan Diana. Kedua perempuan itu mengangguk kompak.
Sian berlalu ke luar ruangan. Sementara Arsen mengikutinya. Lalu, kedua perempuan yang ada di rungan itu kembali berbincang satu sama lain.
Diana menanyakan apa saja yang dilakukan oleh adiknya dan Sian kemarin. Apa keduanya bersenang - senang. Namun Tri, malah memasang wajah sedih.
"Kalo tahu kakak bakalan kayak gini, mending kemarin aku ikut pulang sama kakak."
Diana tersenyum dan menggelengkan kepala dengan pelan. "Kenapa bilang gitu? Nanti Sian sedih dengernya."
Tri hanya menundukkan wajahnya dalam - dalam. Kemarin bukanlah hari yang baik untuknya. Selain karena kakaknya pulang sendirian, ia juga merasa bersalah karena Sian sempat muntah - muntah karena memaksakan naik wahan yang ekstrem bersamanya. Lalu, kesedihannya bertambah setelah mendengar kabar kalau kak Dinya dilarikan ke rumah sakit.
"Kemarin dia muntah - muntah gara - gara aku ajak naik hysteria." Tri berujar seraya mengankat wajah sedihnya untuk menatap Diana.
"Jadi gimana? Dia gapapa?" tanya Diana tenang seraya menelisik wajah adiknya itu. Sepertinya Sian sudah baikan. Melihat wajah adiknya yang tidak terlalu cemas.
Tri pun menceritakan kronologi Sian yang muntah - muntah dan merasa pusing setelah mereka menuruni wahana hysteria yang ada di pusat wahana bermain yang ada di pusat kota Argon.
Untungnya, Sian baikan setelah minum air putih dan dibawa ke klinik yang tersedia di sana.
Dalam sehari, Tri merasa benar - benar diuji. Ia harus menyaksikan dua orang yang ia sayangi sakit dan itu semua berawal dari keputusannya.
Setelah selesai makan siang dokter pun datang untuk memeriksa keadaan Diana. Melihat perempuan itu baik - baik saja, dokter pun menyetujui permintaan untuk pulang dari pasien.
"Jangan lupa obatnya diminum ya bu," ucap dokter itu ramah sebelum berlalu meninggalkan ruangan tempat Diana dirawat.
Diana mengangguk mengerti seraya tersenyum. Kemudian kedua pria yang entah kenapa bisa terlihat cukup akrab padahal baru mengenal kemarin, menanyakan apakah barang - barang Diana tidak ada yang tertinggal.
"Semuanya udah dipacking. Kayaknya ga ada yang lupa deh," ucap Tri seraya mengedarkan pandangannya ke setiap sudut ruangan. Tidak ada barang kakaknya ataupun milik Tri yang tertinggal.
Mereka memutuskan untuk pulang. Diana diantar oleh Muji, meski perempuan itu sudah menolak karena tidak enak hati sudah merepotkan pria yang baru saja dikenalnya kemarin.
Sementara Sian, ia pulang bersama gadisnya dengan mengendarai sepeda motor Sian. Padahal, pria itu lebih suka kalau Tri ikut Diana bersama Muji. Bukan apa, Sian tidak ingin gadisnya ini merasakan kulitnya tersengat matahari siang yang terik, terkena debu jalanan yang bisa merusak wajah gadis itu. Memang kedengarannya agak lebay. Tapi, sebenarnya Sian memang sepeduli itu, tanpa gadisnya itu sadari.
***
Mobil yang dikendarai Muji nampak melaju perlahan membelah jalanan kota Argon. Di bawah matahari siang yang terik, siang itu nampak cukup panas.
Sejak berangkat dari rumah sakit hingga saat ini, tidak ada obrolan yang tercipta di antara keduanya. Diana nampak sibuk menatap pemandangan yang ada di luar kaca mobil. Langit biru bertabur awan putih yanh bergerak perlahan digiring oleh laju angin.
Sementara Muji, pria itu nampak mencuri pandang ke sosok yang ada di sampingnya. Nampaknya perempuan yang ada di sampingnya itu sudah merasa jauh lebih baik daripada hari kemarin.
Meski sorot mata Diana nampak masih sendu dan hampa. Setidaknya ia mau mengukir senyuman tipis di bibirnya saat menatap sepasang kekasih yang nampak bergandengan tangan dan saling melempar candaan yang ada di pinggir jalan, berlatak pepohonan rindang.
Mobil yang dikendarai oleh Muji berhenti sejenak ketika lampu lalu lintas di depan mereka berubah menjadi merah.
Sepasang kekasih yang menjadi atensi Diana, itu, kini berjalan menyebrangi jalan raya bersama. Melewati mobil yang ditumpangi Diana lalu menghilang di balik keramaian.
Diana nampak mengehela napas pelan. Pandangannya berubah menjadi sendu dan hampa. Sorot matanya nampak memancarkan kesedihan.
"Ada sesuatu yang mengganggu pikiran nona?" tanya Muji memberanikan diri. Sebab sejak lima menit di perjalanan tadi ia menahan diri untuk tidak mengatakan apapun.
Diana tersadar dari lamunannya. Lalu menoleh ke samping dengan kedua sudut bibir tertarik ke atas membentuk senyuman tipis.
"Tidak ada. Ah iya, kamu bisa panggil aku Diana atau Ana saja. Jangan nona," ujar Diana sedikit canggung karena Muji begitu sopan padanya seolah - olah Diana adalah nona muda dan Muji bodyguard pribadinya karena cara bicara pria itu yang terlalu formal.
Muji menganggukkan kepala ragu, namun sejurus kemudian iapun meng-iyakan permintaan Diana.
"Kalau aku boleh tahu, apa kamu tidak sibuk bekerja atau karena merasa bersalah mengenai kaca mobil kemarin, makanya kamu tetap datang hari ini?" Diana bertanya setelah beberapa kali berpikir ulang dan pada akhirnya rasa penasaran mendorongnya untuk mengajukan pertanyaan barusan.
Muji berdehem singkat. Pria itu nampaknya gugup bagaimana harus menjelaskan pada Diana, kenapa ia begitu ingin terlibat dalam kehidupan perempuan di sampingnya ini.
Pertama kali ia melihat Diana kemarin, saat lampu merah di jalan Merdeka dekat pusat rekreasi dan permbelanjaan kota Argon. Diana nampak begitu menyedihkan, tatapan matanya kosong, jejak air mata terlihat di kedua pipinya, karena jarak mobil Muji dan mobil Diana yang begitu dekat saat itu.
Lalu, Diana melajukan mobilnya dengan tatapan yang masih kosong. Seolah jiwanya entah ke mana. Melihat itu, Muji merasa kalau ia harus mengikuti mobil yang ada di sampingnya itu.
Sampai pada akhirnya, mobil yang dikendarai Diana menepi di sisi jalan dan perempuan itu tidak kunjung ke luar dari mobil dalan waktu yang cukup lama. Hingga seorang pengemudi menghampiri dan mengedor kaca mobil pun, tidak ada respon dari perempuan yang ada di dalam sana. Muji yang marasa khawatir pun turun dari mobil yang sebelumnya ia parkir di halaman kantor cabang perusahaan keluarganya.
Dan ternyata dugaannya benar. Sesampainya di sana. Ia terpaksa memecahkan kaca mobil Diana karena tidak ada respon setelah hampir setengah jam berlalu.
"Aku kerja di perusahaan keluarga. Jadi, punya cukup banyak waktu luang karena aku berada di divisi paling bawah.
Diana nampak menganggukkan kepala mengerti. Lalu keheningan kembali menggantung di tengah - tengah mereka.
Sampai Diana membuka suara dan mengajukan pertanyaan yang tidak Muji sangka - sangka.
"Kenapa kamu mau nolongin aku?"
"Aku tahu, tidak harus punya alasan spesifik buat bantu orang lain. Cukup menjadi menusia untuk saling menolong dan memanusiakan manusia lainnya. Tapi, di zaman seperti sekarang, sedikit sekali orang - orang yang peduli dengan orang lain, bukan begitu?"
Muji masih diam mendengarkan. Nampaknya Diana merasa kalau ia punya motif khusus dalam menolong perempuan itu. Tapi, nyatanya, Muji pun tidak tahu kenapa? Ia hanya merasa impulsif ketika melihat keadaan Diana yang menurutnya memprihatinkan.
"Lupakan. Aku hanya merasa kamu terlalu baik. Maaf kalau kesannya aku mencurigaimu," ujar Diana seraya mengibaskan tangan pelan. Sepertinya ia terlalu sentimentil menyangkut soal kepedulian. Karena selama ini, ia tipikal yang tidak mudah menerima bantuan dari orang lain terlebih orang asing.
Muji tersenyum tipis dan tetap fokus melajukan mobil yang dikendarainya menuju kediaman Diana.
Sebenarnya, Muji bertanya - tanya kenapa kedua orang tua Diana tidak menjenguknya sama sekali. Tapi, ia sadar, untuk menanyakan hal seperti itu, ia butuh waktu yang lama untuk bisa mencapai level pertanyaan yang sifatnya privasi semacam itu.
***
"Jadi, anak mama kemarin nginep di rumah sakit? Terus mama ga dikasih tahu?"
Diana hanya diam tidak menanggapi, lalu mempersilahkan Muji untuk duduk sebentar dan ia pun beranjak ke dapur untuk membawakan minuman.
Mama Diana nampak kecewa, wanita itu nampak ingin marah, namun ia hanya menahannya dan beranjak mendekati pria tampan yang mengantarkan Diana pulang. Beruntung mereka bertemu di halaman depan. Jadi, mama Diana mengajak pria itu untuk mampir sejenak.
"Maaf, kalau tante boleh tau, ini siapanya Diana?" tanya wanita itu setelah memutuskan untuk duduk di salah satu sofa yang menghadao Muji.
Pria itu membenarkan posisi duduknya dan menjawab dengan sopan, "Saya temannya Diana tante."
"Namanya siapa?"
"Mujia Wijaya tante."
Kemudian hening. Diana datang dengan dua kaleng minuman cola lalu meletakkannnya di atas meja.
"Mama ga ke toko?" tanya Diana seraya mendaratkan tubuhnya di sofa yang tak jauh dari Muji duduk. Pria itu mengamati interaksi ibu dan anak yang ada di hadapannya ini.
Diana nampak tidak begitu akrab dengan wanita yang dipanggilnya mama itu. Namun, sepertinya ia mencoba untuk tidak terlihat canggung di depan Muji.
Wanita berusia empat puluhan itu menggelengkan kepala.
"Mama baru tahu kalo kamu kemarin sakit dari pak Cal. Padahal mama udah belain buat resign biar ngurus anak - anak mama dengan baik."
Diana menghela napas sejenak sebelum akhrinya mengakihkan pembicaraan.
"Kamu bilang ada kerjaan kan?" tanya Diana pada pria yang duduknya tidak begitu jauh darinya. Muji nampak mengerutkan kening sebelum akhirnya kana memberikan isyarat agar pria itu meng-iyakan saja.
"Ah, iya. Aku masih ada kerjaan di kantor. Kalau begitu, aku pamit ya, tante," jawab Muji seraya bangkit dari duduknya.
Diana pun bangkit dan bersiap untuk mengantar Muji sampai di depan pintu.
Sementara mama Diana, perempuan itu nampak berdiri dengab dengan buru - buru dan menahan Muji sebentar karena ia memberikan bingkisan.
"Tante punya kue di lemari pendingin. Kemarin tante bikin buat ditaruh di etalase toko tapi ga jadi, karena ga sempat ke toko keburu demam. Kamu bawa ya, tunggu di sini sebentar."
"jangan repot - repot tante,-" Muji berujar tidak enak hati karena mama Diana nampak melangkah buru - buru ke dapur.
"Maaf ya, kalau bikin kamu ga nyaman. Mama memang kadang gitu," ucap Diana seraya meringis.
"Gapapa, justru aku seneng karena disambut dengan baik, bahkan mau dikasih kue," balas Muji seraya tersenyum senang.