Kata-kata dari mulut Aiden teramat manis, bahkan memabukkan. Dan sialnya adalah Rinai terpenjara akan kemanisan dari mulut pria itu. Haruskah ia menjabani tapi hati kecilnya juga mengiyakan?
Stop! Rinai tidak boleh gegabah. Dunia ini memang begitu sempit, tapi Tuhan meluangkan waktunya untuk menciptakan makhluk bernama pria berjuta-juta nyawa dan mengapa Rinai tidak menggunakan kesempatan itu untuk mencari pengganti Aiden? Nama pria itu makin kentara dan tidak samar lagi.
“Anya, wanita itu tidak akan kenapa-kenapa dengan perlakuan Kak Aiden kepadaku?”
Mata Rinai sudah menjelaskan semuanya, yakni penolakan. Aiden tahu, kelakuannya tidak bisa dibenarkan. Apalagi ia memang harus tahu diri akan posisinya sekarang, hanya sekedar senior dan juniornya di agensi yang sama.
“Kita sudah sama