Rasanya sangat mengharukan karena ada yang menjaga. Aiden bukan ingin membuat gadis itu ke-geer-an, hanya saja ia cemas bukan main karena takut Rinai kenapa-kenapa saat di perjalanan.
“Apakah di Amsterdam akan dingin?”
“Tidak juga. Tapi kalau di daerah tertentu, pasti dingin. Kamu jangan lupa bawa mantel ya?”
Rinai seperti dikutuk oleh kebaikan Aiden. Ia juga berat untuk berpisah. Tapi, bagaimana pun juga, Rinai harus profesional bukan? Apalagi ia sangat dibutuhkan di dalam tim. Urusan percintaannya bisa dipikirkan lain kali.
Aiden juga harus bersikap dewasa. Ia hanya khawatir gadis itu mabuk darat lagi. Sudah jelas kalau Rinai tak terlalu punya banyak pengalaman naik pesawat. Entahlah kalau naik kapal, sudah seperti apa?
“Anyway, terima kasih ya, kak, udah bela-belain beli obat-