Sepulang dari Bandung dan menikmati beberapa agenda liburan dadakan di sana, Rinai merasa demamnya makin tinggi. Ia hanya banyak terdiam di mobil dan melihat ke arah jalan tol, Aiden bisa merasakannya dan berniat mengajak gadis itu ke rumah sakit.
Tapi, lagi-lagi Aiden tahu tipe gadis seperti apa Rinai ini. Ia paling anti merepotkan orang lain bahkan mamanya sendiri. Sesudah ada plang Jakarta, Aiden bisa bernapas lega karena ia tahu tugas terakhirnya adalah mengantar Rinai.
Dua jam berlalu, Ziao menitipkan Rinai dan mampir ke tempat Rose. Biarkan pasangan itu saling bermesraan, Rinai hanya memeluk Rose dan berkata semua baik-baik saja.
“Kamu gak baik-baik saja, Nai. Kita ke rumah sakit ya?”
“Aku takut jarum.”
“Gak sesakit yang kamu pikirkan kok. Ya?”
Rinai tetap menggeleng dan