Setelah berkali-kali memastikan kalau tubuh Rinai tidak menghangat lagi, barulah Aiden bisa menutup matanya dan tidak terbangun lama. Sampai-sampai ia mengabaikan bunyi alarm, biasanya Aiden bangun jam 7 tepat dan berjalan kaki sejenak, membeli sarapan misalnya.
Tapi kali ini tidak, ia memilih stay berbaring dengan nyaman di sofa. Padahal Rina sudah terbangun dari beberapa menit yang lalu, ia sudah agak mendingan. Aiden sangat handal merawat seseorang.
“Ah, mama pasti gak tahu kalau anaknya udah pulang dari Bandung. Duh, ini di studionya dia. Tapi kok dingin ya? Apa kelembapan dindingnya beda?”
Rinai merapatkan jaketnya dan keluar sebentar untuk mengecek. Setelah melihat keadaan, barulah ia tersenyum sesaat lalu mengambil selimut dan memakaikannya untuk Aiden.
Bunyi bel terdengar.