Sudah merasa baikan dan berniat pulang, Aiden bertanggungjawab untuk mengantarnya. Rinai hanya bisa mengikuti kemauan pria itu saja, ia lebih memilih diam. Sejak mimpi tak terduga tadi, Aiden semakin yakin kalau Rinai pasti pernah membantunya sesekali saat ia tengah koma meskipun belum sadar bantuan apa yang sudah dilakukan oleh orang itu.
“Gak dibolehin mampir? Aku juga mau makan sushi buatan tante Rindu.”
“Ehmm, nanti aku kirimin deh ke studio Kak Aiden. Aku malu.”
“Kenapa? Emangnya kita berbuat sesuatu yang memalukan? Kan enggak, atau jangan-jangan?”
Rinai menggeleng. Ia menutup mulut Aiden dengan tangannya, pria itu tersenyum lantaran jarak mereka begitu dekat. Saat seperti inilah rasanya ada kedamaian yang menyelimuti debaran hati Aiden.
Beda sekali saat dilakukan Anya dulu,