Tanpa pikir panjang, Anya langsung membeli tiket menuju London. Terserah nanti Arlita akan melarangnya untuk bertemu dengan sang kekasih. Star begitu ramai membicarakan kabar sang bintang sadar dari koma. Mereka seolah menanti seseorang yang sudah lama bepergian jauh sekali.
Mengajak Ziao, pria itu juga sudah mendengar kabar tentang Aiden. Akhirnya ada titik terang soal hubungan mereka berdua, meskipun Ziao tahu dari dulu ibunya Aiden tidak menyukai Anya.
“Kau juga ikut ke London?”
Ziao menggeleng. Banyak sekali yang ingin dia urus, apalagi akan ada konser akbar yang dihadiri wali kota Jakarta.
“Kalau ajak aku, siapa yang mengkoordinasi acara di sini, Nya? Kamu kan ngajak Felly, sekalian aja bareng sama Mr. Felix, beliau pasti sangat penasaran dengan kabar murid kesayangannya bukan?”
Baiklah, Anya tidak akan memaksa. Star bahkan kehilangan pamornya, jauh tertinggal dari agensi yang bahkan dua tahun terbangun di bawahnya.
Anya sudah berkemas satu jam yang lalu, menunggu jemputan supir Mr. Felix, apalagi dia memang tidak punya kenalan yang dianggap dekat selain Zein, Ziao dan Max. Bahkan Anya kenal Felly saja karena sering menemani Aiden ke rumah sang guru.
Desas-desus kabar sadarnya Aiden dari koma membuat banyak orang kepo. Apalagi Rinai, dia menolak diajak bicara banyak hal tentang pria itu. Bahkan, Rinai datang ke villa biasanya semoga bisa mengatakan sesuatu pada Aiden sebelum pria itu terbangun.
“Kenapa aku bisa sesedih ini? Bukankah ini tujuanku untuk masuk ke star? Dan sekarang, aku sudah bisa mewujudkannya.”
Rinai bicara pada dirinya sendiri.
(Bagian Kedua)
Memaksakan diri untuk segera pulang, Arlita tidak memperkenankan anaknya untuk ke Indonesia dulu, takut Aiden disibukkan langsung akan jadwal yang sudah di non aktifkan selama dia koma.
“Aku bosan di sini, Ma. Aku rindu indonesia, entahlah. Aku merasa ingin segera ke sana.”
“Karena apa? Karena wanita itukah? Aiden, mama yang menunggu kamu di sini selama 5 bulan terakhir. Hidup kamu tidak selamanya bertahan, tapi mama bersyukur kamu punya keinginan untuk kembali. Jadi, tolong istirahatlah.”
Bukan. Bukan soal Anya Gwen, bahkan dia seakan kehilangan momen bersama wanita yang ternyata adalah kekasihnya. Kenapa rasanya begitu hambar ketika menyebut nama Anya?
Apakah perasaannya mendadak redup bersamaan dengan lamanya dia koma? “Bukan soal dia, Ma. Aku hanya bosan saja, aku rindu dengan pianoku.”
Arlita hanya diam saja. Selama Aiden menjadi seorang musisi dan bintang, anaknya jarang pulang ke rumah. Percuma membangunkan bangunan yang megah kalau Aiden tidak bersamanya.
Umur Aiden sudah cukup untuk membangun keluarga, tapi bagi Arlita, bukan Anya wanita yang tepat untuk dijadikan calon istri idamannya.
Sejak tadi, Anya sudah mendengar dari belakang pintu. Hatinya sangat retak, sudah berapa lama hubungannya dan berapa lama pula mamanya Aiden tidak pernah mengenalkan hubungan merekan agar bisa lebih serius lagi.
Karena sudah jauh-jauh ke sini, mau tidak mau, Felix masuk dan menyapa Arlita. Mereka sudah saling kenal karena dulu Aiden sering mengajak Felix mampir ke rumahnya.
“Hai, Aiden. Kabar baik?”
“Ya ampun, Mr. Felix. Kenapa tidak bilang kalau sudah tiba? Tadi manager Aiden juga bilang anda akan ke sini.”
Arlita bahkan memeluk Felix juga Felly, tapi tidak dengan Anya, hanya berjabat tangan biasa. Felly pura-pura menatap Anya prihatin, padahal dia sangat bangga lebih dianggap oleh mamanya Aiden.
Kalau tidak ada Arlita, Anya pasti sudah memeluk pria itu lama. Wajah Aiden makin kurus, tapi tidak sepucat saat Anya datang ke sini sebelumnya.
Membiarkan mereka menyapa anaknya, Arlita keluar. Matanya tetap fokus pada Anya yang sepertinya menunggu kepergiannya.
“Apa yang kamu rasakan?”
“Hanya sedikit pusing. Tapi tidak apa-apa, Dokter Chiao Wan memperbolehkan aku pulang dua hari lagi. Star apa kabar, Mr?”
“Kau bertanya pada orang yang salah. Aku sudah sangat jarang ke sana. Anya, duduklah di sini, aku akan duduk di situ. Punggungku terasa pegal selama perjalanan, biasa, usia memang tidak pernah bohong.”
Felly ikut duduk bersama ayahnya. Meskipun cemburu lantaran melihat kedekatan Anya dan Aiden. Semoga mereka tidak akur setelah kejadian ini.
Tatapan mereka begitu kikuk. Bahkan Aiden tidak bisa berkata apa-apa, ingatannya hanya sampai ketika mobilnya rusak parah karena kecelakaan lalu tubuhnya terasa terbentur sesuatu dan akhirnya hari ini dia bisa sadar.
Begitu pun dengan Anya, semua kata kangen entah lenyap ke mana. Padahal hampir setiap malam dia berharap ada keajaiban yang menimpa kekasihnya.
“Kamu apa kabar?”
“Justru aku yang harusnya bertanya seperti itu, Anya. Maaf ya?”
Anya menggeleng. Tangannya mengelus punggung tangan Aiden dan menempelkannya pada pipinya, air matanya menetes. Ternyata rasa rindu itu semakin menumpuk setelah melihat Aiden mengkhawatirkannya.
Semoga setelah ini, tidak akan ada lagi yang memisahkan mereka. Anya berharap namanya tidak meredup begitu saja.
(Bagian Ketiga)
Ini sudah ke lima kalinya Rinai mendapat teguran dari Wintang. Sahabatnya sudah mengkonfirmasi kalau Zein dan Max sudah diperiksa polisi.
Tapi, lagi-lagi Rinai pura-pura bodo amat. Dia seolah tidak peduli dengan urusan apa pun yang menyangkut Aiden. Ya, dia yakin pria itu lupa karena sampai sekarang tidak ada pernyataan kalau Aiden menanyakan keberadaannya. Apakah pria itu akan bertanya atau sekedar menyapa? Lalu, untuk apa Rinai masih bertahan di sini?
“Kamu kayaknya yang pindah haluan jadi fans terfanatiknya Aiden deh?”
“Mirror, Nai. Lu yang hampir setiap hari dengerin lagunya, semua lagu lu download, dan sekarang lu mulai mengada-ngada kalau lu gak tahu sama sekali siapa itu Aiden sang bintang? Are you kidding me?”
Gena yang tidak tahu apa-apa hanya celingukan dan menatap teman-teman satu kamarnya secara bergantian. “Kalian kenapa heboh banget sih? Apa gara-gara Kak Aiden bakalan kembali ke asramanya dan mungkin bakalan ke sini juga?”
Wajah polos Gena semakin membuat Wintang kesal. Memang sih, Wintang tidak tahu apa-apa soal hubungan apa antara Aiden dan Wintang. Tapi, dia yakin sahabatnya ada apa-apa yang dengan pria itu menilik bagaimana kasus Zein yang telah menjadi dalang apa yang terjadi di Hongkong beberapa bulan yang lalu.
Apalagi wajah Rinai yang tiba-tiba merona setiap mendengar suara Aiden terputar di setiap sisi lorong agensi yang mereka tempati. Wajah Rinai menandakan kalau perempuan itu sedang jatuh cinta.
“Dia sudah punya kekasih, Wintang. Aku sadar itu.”
“Siapa peduli? Kurasa Anya bukan orang yang tulus. Dulu saja, saat Ajun sangat berusaha mendekati lu, gue tetap maju karena ketulusan pada akhirnya akan dihargai. Yaudah, mau mandi. Bye-bye, princess galau!”
Sialan! Siapa yang galauin Aiden coba!