Setelah mengetahui apa yang sudah terjadi, sungguh! Aiden tidak bisa marah, malah lebih dari itu. Padahal, Zein tidak bekerja sendirian. Dia sudah pulang ke Jakarta, meskipun dokter menyarankan Aiden tetap harus dalam pengawasan karena pria itu selalu mengambil job ketika memang tidak ada kesibukan.
Dia dilarang untuk ke Star selama proses penyembuhan. Meskipun Aiden adalah bintang, tapi jarang mengetahui di mana tempat tinggal Arlita. Itu semua agar tidak ada yang mengusik kehidupan pribadinya kecuali tentang hubungannya dengan Anya.
Sekali lagi Aiden memastikan penampilannya tidak memalukan. Meskipun memang dilarang keras untuk keluar, tapi Arlita setuju untuk menemani putranya ke sel tahanan.
“Padahal mom tidak usah ikut.”
“No, Aiden. Aku penasaran kenapa mereka menghianatimu, jahat sekali. Ternyata semua persahabatan yang terjalin begitu lama hanyalah topeng. Mungkin Anya juga.”
“Maa..”
Aiden tetap ingat di mana masa sulitnya dipenuhi dengan nama Anya Gwen. Wanita yang banyak sekali menemani momen berharga di setiap konser besarnya, baik serentak ataupun tunggal.”
Mereka sudah sampai di kantor polisi, melihat lumayan sepi, Aiden langsung menyuruh supirnya menepi. Dia mengenakan kacamata hitam agar tidak mengundang wartawan. Karena kasus Aiden memang diketahui banyak publik sebagai kecelakaan normal, tanpa disengaja.
Begitu masuk, Aiden menyebutkan orang-orang yang ingin dilihat. Meskipun masih dalam tahap pemeriksaan, Aiden sudah yakin bahwa merekalah orangnya.
“Aiden..?”
“Ya, it's me, Aiden. Apa kabar, Zein? Meskipun ini Jakarta, gue rasa ruangan di sini cukup dingin. Setahu gue, lu alergi dingin dan debu kan? Perlu gue bawakan selimut juga obat alergi?”
Terlihat kalau rahang Zein mengeras. Jadi kabar tentang sang bintang comeback ternyata benar. Max terlihat canggung, situasi seakan mencekamnya. Di suatu sisi, dia akan bebas jika mau secara sukarela membeberkan seluruh kejadian. Di sisi lain, Max tidak mungkin menghianati partnernya.
Zein mendekat pada besi yang renggang. Mencengkram dengan kuat. “Pasti ini sudah tujuan lu kan? Lu yang mau gue berada di tempat terkutuk ini.”
“Kalian yang memulainya. Putraku tidak serendah itu.”
Padahal Aiden sudah bilang agar mamanya tidak usah masuk. Menunggu di ruang tunggu saja, tapi karena geram gara-gara orang sialan itu, Aiden harus melewati masa sulit dan hampir tidak ada harapan untuk hidup.
Sampai kapan pun, Arlita tidak akan memaafkan dua orang itu. Bisa jadi ada banyak orang yang terlibat, karena dari dulu resiko jadi bintang memang punya banyak saingan.
“Ma, jangan keluarin tenaga buat orang-orang yang hanya berani nunjukin diri sendiri di belakang. Kita pulang saja. Ingat, Zein, semua ada balasannya, kalau nggak sekarang ya nanti. Meskipun gue benci banget buat panggil nama lu sekarang, tapi jujurly gue harap lu sadar akan perbuatan lu.”
Begitu mengatakan kalimat nylekit, Aiden langsung pamit. Cepat-cepat memakai kacamatanya dan keluar dari tempat yang dibilang Zein terkutuk!
(Bagian Kedua)
Ini sudah ke empat kalinya Rinai mendapat teguran dari Coach kesukaannya, Tere. Meskipun baik saat bertemu sebagai kerabat Wintang, saat melatih beberapa anak didik, Tere lebih ke arah kejam dan tegas.
“Sepertinya ada yang kamu pikirkan, Nai. Ada apa? Mungkin bisa sedikit membantu dengan kamu membaginya denganku. Kamu sendiri yang bilang kan kita adalah keluarga? Seperti perkataanmu sama Wintang.”
Tidak! Sama sekali tidak. Apalagi Rinai bukan tipe orang yang suka mengeluhkesahkan perasaannya pada orang lain. Lebih suka memendamnya sendiri.
Ini semua gara-gara Aiden. Pasti pria itu sedang menikmati masa-masa dirindukan banyak orang setelah sadar, termasuk dirinya juga.
“Maaf, Coach. Saya gak enak badan, bisakah saya kembali ke kamar?”
Tere agak terkejut. Semenjak Anya jarang menengok keadaan star, Tere dan Marina jauh lebih sibuk. Meskipun banyak anak didik yang kemampuannya sudah di atas rata-rata dan memang kadang mereka lebih berlatih sendiri.
Tanpa menunggu izin dari Tere, Rinai langsung keluar dari ruangan dan menuju kamarnya. Beberapa orang hanya peduli sebentar, lalu kembali sibuk dengan urusan mereka.
“Kenapa sih dia? Pms kah?”
Ya, mungkin emosi yang dirasakan Rinai sekarang mirip seperti emosi tak stabil ketika perempuan pms. Maunya dimengerti tanpa ditanya-tanya macam.
Rinai hanya berjalan setengah jalan. Dadanya sesak, wajah Aiden muncul di media saat di bandara. Mungkin beberapa orang memotretnya secara iseng atau bisa saja paparazzi. Star selalu punya cara agar namanya tidak meredup.
Bahkan hampir setiap hari ada wartawan yang mengantri untuk bisa bertemu dengan Aiden.
“Are you okey? Nai, ya ampun. Aku pikir siapa. Hey!”
Tidak sadar ada seseorang yang menepuk bahunya, Rinai terperanjat kaget. “Orion? Kamu ngapain ke sini?”
Orion menggeleng ringan. Pasti Rinai lupa kalau beberapa senior memang datang untuk sekedar mengamati proses latihan. Memang begitulah dunia agensi, hanya berlatih, menerima job, selesai dan kembali berlatih lagi.
Karena sudah terbiasa dengan jadwal memutar itu, Orion lebih menganggap Star sebagai rumahnya ketimbang rumah aslinya di Jakarta Selatan.
“Kamu sudah makan? Wajahmu pucat banget?”
Sepertinya Orion adalah satu-satunya orang yang bertanya mengenai keadaan dirinya. Kebanyakan orang-orang hanya mengerti dari luar saja.
Rinai menggeleng dan memegangi perutnya. Dia memang belum makan seharian. “Kurasa belum. Kantin juga pasti sudah tutup, kurasa.”
“Kata siapa, jangan bilang Orion si tampan ini Orion kalau tidak bisa mendapatkan makanan di dapur kantin. Yuk!” ajaknya mendadak.
Akhirnya Rinai ikut ke mana Orion membawa dan menarik tangannya. Mereka bahkan tidak membawa kartu member kafetaria.
Mereka langsung masuk ke bagian dapur. Rinai belum pernah ke sana, kaget karena ternyata masih ada orang yang sedang memainkan ponsel. Namanya Cakra, bisa dibilang bintang kantin karena punya kemampuan memasak ala bintang lima.
“Laper. Ada sisa gak?”
“Lu kira ini tempat curhat manusia-manusia lapar. Wait, anak siapa tuh sampai lu pegangin kayak gitu? Takut hilang?”
Ah iya! Rinai sampai lupa kalau sejak tadi tangannya masih dipegang Orion. Dia tidak menyangka Cakra bisa ramah juga. Padahal Cakra sering dijuluki si kutub utara.
Mungkin karena jarang bicara, kebanyakan orang menganggapnya seperti itu.
“Halo, chef, saya Rinai.”
“Oh, hai.” Cakra sudah tidak fokus pada salah satu games dan akhirnya kembali melingkis bajunya, membuat sesuatu khusus untuk temannya, Orion.
Rinai agak sungkan, tapi Orion bilang kalau dia sering sekali seperti ini. Mereka dulu ternyata sangat dekat, lantaran punya skill masing-masing, Cakra bisa mendapatkan pekerjaan dengan upah lumayan. Apalagi di sini dia juga dianggap anggota VIP dengan skill yang tak biasa.
“Selama lu sama gue, lu bakalan dapat antrian pertama kalau makan. Tanpa kartu member.”
“Kok bisa, Kak?”
Orion mendekat ke arah Cakra, dan Rinai baru sadar kalau wajah mereka memang rada mirip. Waw, ternyata!