Ternyata patah hati terberat bukan saling, tapi hampir. Ya, Rinai hampir bisa memiliki Aiden. Terdengar mustahil memang, tapi dia merasa yakin akan hal itu.
“Nai, selama ini lu kayaknya sibuk banget. Sampai-sampai Rose mengutuk semua orang karena hidupnya terlalu sepi tanpa lu. Pasti jadi pianis sangat menyita waktu ya?”
Praduga Flo memang benar. Dia kurang komunikasi dengan Rosaline, entah siapa pacar Rose sekarang. Apalagi Rose bilang sudah membatasi kehidupannya dengan beberapa pria yang hanya mengincar tubuhnya saja. Syukurlah, setidaknya temannya sadar.
“Gue nanti akan ke apartnya. Miss banget sama dia, sering ke sini juga gak?”
Jo menggeleng. Rose lebih peduli mencari nafkah, kadang juga berceloteh kalau ada beberapa iklan yang mengambil perannya untuk syuting.
Memang sih, kesepian bisa mengubah seseorang. Kadang menjadi lebih pemilih, kadang malah membuat hidupnya makin berantakan. Tapi gak usah khawatir, Rose sejauh ini masih baik-baik saja.”
Betapa leganya, ada rasa bersalah karena Rinai dulu menyanggupi ajakan Aiden. Nyatanya pria itu lupa akan kebaikannya. Tapi sudahlah, toh dia sudah mendapatkan kemudahan untuk masuk star, juga jam yang sangat mahal.
Jo dan Flo melarang Rinai terlalu mabuk, Rinai paham. Dia tidak ingin terlihat menyedihkan hanya karena memikirkan seseorang yang tidak benar-benar nyata.
“Pamit dulu ya, see u, Flo Jo.”
“Take care, Nai!”
Di tempat inilah mereka bertemu. Pertemuan aneh yang mana tidak pernah diketahui oleh kaum manusia. Ah, sialan! Kenapa hidup Rinai malah makin mati rasa?
Sambil menunggu taksi, Rinai berjalan teramat pelan. Dia tersenyum, lalu meracau lagi, Rinai yakin, sebulan lagi dia masih seperti ini, Rose pasti akan memasukkannya ke RSJ.
(Bagian Kedua)
Beberapa minggu selama masa penyembuhan, Arlita masih membatasi orang-orang yang ingin bertemu dengan putranya. Anya saja diperbolehkan lantaran Aiden mengizinkan wanita itu menjenguknya seminggu dua kali.
Rumah Arlita jauh lebih hidup, tidak sunyi. Dia memang menginginkan Aiden tinggal bersamanya, apalagi di dunia yang serba kecil ini banyak orang datang lantaran meminta bantuan untuk hutang piutang.
“Ma, Aiden bosan hanya berbaring dan menatap langit. Besok tim star sudah menyiapkan jadwal meetku. Maam boleh ikut kok kalau masih tidak rela aku sibuk.”
“Serius?”
Aiden mengangguk. Daripada tidak sama sekali, mendingan memberi izin pada mamanya yang masih khawatir. Ziao juga sudah mengkonfirmasi tidak akan ada wartawan sembarangan. Hanya beberapa wartawan yang biasanya mengikuti semua kegiatan di agensi star.
Apalagi Ziao sudah repot-repot membelikan setelan termahal. Dari dulu Aiden tidak pernah menuntut star harus menganakemaskan dirinya.
Sekali lagi Aiden menatap cermin. Sada betul ada bulu halus yang menyitari dagunya. “Ma, besok sebelum ke Star, kita ke salon yuk! See? Wajahku seperti pemeran Tarzan.”
“Oke. Sekalian mama ingin tampil agak fresh dan muda, shopping juga kan?”
Karena tidak enak hati menolak, Aiden hanya mengangguk saja. Toh sudah lama mereka berdua tidak menghabiskan waktu bersama, hanya saling menatap keadaan saat berbaring di rumah sakit.
Ada rasa was-was setiap Aiden tidur. Takut pria itu akan koma lagi, tapi sampai saat ini anaknya mengaku baik-baik saja. Semoga saja selalu seperti itu.
Sudah lama tidak melemaskan jemarinya, Aiden melangkahkan kaki ke ruang baca. Ada piano yang penuh debu, mungkin sama dengan permainannya, usang.
Melihat Aiden mulai membuka piano, melihat beberapa nada rendah yang dari dulu tidak pernah ditata rapi, Arlita tahu putranya sesekali akan ke sini. “Coba saja, mama rindu permainanmu. Bahkan saat kamu koma, mama me-reapley beberapa video lama.”
“Sungguh?”
Arlita mengangguk. Mulai fokus dengan tangan Aiden yang mengetuk tuts piano, meskipun hanya nada asal, Arlita lega. Anaknya tidak benar-benar lupa ingatan. Kadang Aiden memang lupa daerah yang dulu pernah mereka datangi.
Lagu Always You menjadi lagu favoritnya, entahlah. Aiden begitu mengagumi lagu tersebut, mungkin lagu itulah yang sebenarnya menggambarkan perasaan tulusnya selama ini, entah ditujukan pada siapa.
Sambil menikmati permainan putranya sendiri, Arlita berharap suaminya tahu kalau putra yang dulu dianggap beban kini sudah tumbuh besar dan membanggakan. Arlita menyeka air matanya, selama ini memang hanya dirinya saja yang tahu penderitaan yang sesungguhnya.
“Tidak pernah berubah. Kurasa mama tahu alasan kenapa penggemarmu tidak semakin berkurang malah bertambah. Karena seseorang akan makin menyukai kalau mereka tulus terhadap sesuatu.”
“Sangat mathematics sekali, Ma. Semua berkat mama. So, kalau nanti Aiden akan kembali ke panggung dan bertemu penggemar, mama harus setuju. Oke?”
“Dengan syarat kamu harus jauh lebih hati-hati sekarang. Jangan sampai terluka lagi, pastikan apa pun yang mendekatimu bukanlah orang-orang yang berbahaya.”
Aiden memeluk mamanya, baginya tempat pulang ternyaman adalah mama. Yes, only him.
(Bagian Ketiga)
Ramai sekali keadaan star. Biasanya jam segini Rinai bisa menghirup oksigen terbaik. Tapi lihatlah, ada beberapa plang dan poster yang sudah dipajang, mungkin karena inilah hari yang ditunggu-tunggu semua orang.
“Ini adalah bukti bahwa Aiden memang orang paling berpengaruh di Star. Seperti agensi ini, super star. Dia layak mendapatkan julukan itu.” celetuk seseorang.
Yang lainnya hanya mengiyakan. Kembali melanjutkan lari pagi, tidak seperti biasanya. Hari ini lumayan sepi, biasanya weekend bisa lebih dari 70 orang. Apakah semua orang serta merta ikut mempersiapkan diri untuk bertemu dengan pria itu?
Detak jantung Rinai seakan memacu cepat. Padahal belum ketemu saja sudah merinding, lututnya melemas. Rinai tidak bisa membayangkan akan bertemu pria itu nanti.
“Pucat banget. Capek? Atau laper?”
Napas Wintang teregeh-egeh, demi menyusul Rinai dan men-scan kartu Gena, dia merelakan kakinya yang sangat malas wajib lari pagi.
Rinai mulai berlari lagi, jelas Wintang mengikuti dari belakang. Temannya sedikit berubah semenjak terlibat kasus dengan Aiden. Kenapa sih? Sebenarnya apa yang terjalin di antara mereka? Bukankah Rinai mengaku hanya sebagai penggemar saja? Aneh!
Sudah lebih dari 10 menit, Rinai kembali dan mengantri untuk minuman bersoda. Keringatnya sudah membanjiri sebagian punggungnya, apalagi Wintang. Perempuan itu memang paling anti lari pagi, kalau bukan karena kartu Gena yang tertinggal dan sedang masa nyeri pms, Wintang pasti masih bersibaku dengan selimutnya.
“Mau mandi sekalian makan?”
“Aku sedang malas makan. Nanti pesan kudapan dari online saja, pasti menu hari ini sashimi kan?”
Wintang bukan tipe orang yang bisa menghafalkan menu setiap minggunya, Rinai sangat hebat bisa tahu sampai detail-detailnya.
“Oh iya, lu bilang chef tampan itu kakaknya Orion kan? Kalau dipikir-pikir sih wajahnya memang ada kesamaan sih. Cuma si chef cenderung dingin, agak manly-manly gitu. Kalau Orion, dia lumer kayak ice cream yang sudah meleleh. Lu gak ada gitu niat buat pdkt?”
Hanya karena Rinai saja yang jomlo di antara mereka bertiga, bukan berarti Rinai akan mengikuti gaya hidup teman-teman satu unitnya. Hidupnya sudah mulai membaik. Apalagi memang sekarang mamanya sudah tidak pusing soal biaya sewa kedai dan juga beberapa utang tanah.
“Kalau kamu pacaran, bukan berarti aku harus melakukan hal yang sama bukan?”
“Ayolah, Nai, gue hanya bercanda.”
Terlambat. Rinai benar-benar sedang dalam mood buruk.