Sudah mendapatkan izin untuk bertemu dengan para fansnya oleh Arlita, Aiden pagi-pagi sekali sudah berkemas. Hanya ada Aiden, Arlita dan dua orang kepercayaan yang dari dulu tidak pernah kepo dengan kehidupan pribadinya. Pengurus rumah dan supir, mungkin Aiden memerlukan seseorang lagi untuk satpam rumah. Meskipun di daerah Arlita terbilang nyaman dan aman, tapi Aiden tahu banyak paparazzi yang mengikutinya.
Satu jam menghabiskan waktu untuk memilih pakaian model apa yang akan dia pakai, juga memangkas rambut, Aiden sudah terlihat lebih dari siap. Hanya tinggal menunggu mamanya saja.
“Sebuah kehormatan untukku, Tuan. Bisa mengubah penampilan seorang penyanyi besar, kebetulan putriku yang baru saja masuk SMA sangat mengidolakan anda.”
“Sungguh? Nanti bilang saja sama managerku, Ello. Dia yang akan mengirimkan sesuatu ke alamat rumah anda.”
Mata Viona berbinar. Sudah lama menekuni dunia fashion dan juga mengemas mode para aktor ternama, baru kali ini mereka ramah sekali, Viona bahkan sering mengeluh ingin berhenti dari pekerjaannya. Tapi memang sih, kelihaian tangannya sering dibutuhkan untuk sebuah penampilan demi acara penting.
Akhirnya Aiden keluar dari butik ternama itu, beberapa kali Ziao, Anya dan juga Tere sering ke sini. Bahkan Aiden tidak akan lupa sering bertiga dengan Zein dan Max. Ah, mereka sangat menyebalkan.
Meskipun lega sudah tahu siapa pelakunya, Aiden masih merasa was-eas. Bisa saja di luar sana lebih banyak orang yang menginginkannya terluka lebih parah lagi sampai mati.
“Ma, kamu sangat terlihat muda. Bahkan aku sampai pangkling tadi,” Aiden membuyarkan lamunannya, menatap Arlita yang barusan bercermin. Sekali lagi memastikan penampilannya memang jauh lebih fresh.
Disanjung oleh putranya sendiri tak membuatnya pede, dia lebih excited dipuji oleh para wartawan. Tapi yang namanya usia tidak akan bohong bukan?
Meskipun begitu, Aiden tahu banyak yang mendekati mamanya untuk membina keluarga yang baru. Menerima Aiden, tapi sayang seribu sayang, pintu hati Arlita sudah tertutup lantaran tidak ingin membahas sesuatu tentang pernikahan.
“Kita harus sampai di agensi, Aiden. Mama ingin tahu seberapa banyak manusia yang katanya sangat merindukanmu.”
“Ayolah, Ma. Aiden hanya membuka untuk 100 slot, tidak suka terlalu banyak orang, terlalu mencolok.”
Aiden mengendarai salah satu mobilnya, dia memang kadang iseng meniru gaya penyanyi lain. Bergonta-ganti mobil, membeli pakaian yang hanya dipakai saat ada konser tunggal saja, untungnya Aiden tidak pernah mendapat rumor sebagai penyanyi yang juga suka gonta-ganti pasangan.
Sampai di sana, Aiden tahu akan ada beberapa pengawal yang menjaganya. Star masih berdiri kokoh. Rasanya sudah lama tidak menginjakkan kaki di gedung megah ini. Bersebelahan dengan asrama putra dan putri, Aiden jadi rindu beberapa ruangan di sana, termasuk ruangan yang sering dia datangi. Mungkin nanti dia bisa mampir.
“Halo, Aiden.” sapa seseorang.
Aiden menurunkan kacamatanya, ternyata Ziao. Pria yang lebih dingin daripada dia sendiri, tapi kelihatannya Ziao tahu kalau Aiden juga sama dinginnya dengannya.
“See? Gue baik-baik saja. Ma, dia Ziao..”
“Iya! Mama tahu. Halo, Ziao, bagaimana kabarmu? Aku sangat sering mendengarmu menyebut Aiden setiap ada siaran live di radio. Terima kasih.”
Harus diakui, Ziao memang sering menyebut nama sahabat dekatnya lantaran berharap Aiden segera sadar dan kembali berkarir. Apalagi banyak lagu yang ingin dia berikan kepada pria itu secara cuma-cuma, sebagai peringatan terbaik.
“Wah, terima kasih, Tan. Aku sangat merasa tersanjung. Masuklah, Mr. Felix dan Athea sudah menunggumu.”
Baiklah. Aiden sengaja datang lebih awal karena tidak ingin selama di star mendapatkan perhatian wartawan. Dijaga oleh pengawal berbada kekar, langkah kaki Aiden membawanya masuk ke tempat di mana dia dibesarkan.
(Bagian Kedua)
Meskipun acara sudah dimulai beberapa menit yang lalu dan sudah banyak sekali manusia yang mungkin sibuk memotret, mengambil gambar dan mengabdikan momen, beda dengan Rinai yang nyatanya sangat tidak tahu apakah dia akan turun ke sana atau tidak. Membayangkan senyum Aiden membuatnya tumbang lagi.
Melihat temannya masih risau, Wintang semakin yakin memang ada apa-apa di antara Aiden dan Rinai dulunya. Entah kapan, mungkin sebelum Anya. Pastilah mereka pernah terjebak dengan situasi yang bisa disebut pertemuan tak sengaja?
“Lu kayak kena anxiety tahu nggak? Kenapa sih, just Aiden, Nai. Bukan hantu ataupun seseorang yang bakalan ngapa-ngapain lu kan? Ayolah turun. Baru pertama kali gue sepenasaran ini sama seseorang.” gertakan Wintang membuatnya tergugah. Iyakah? Apakah dia panik? “Kalau dalam hitungan 10 lu nggak bangun-bangun juga, awas aja nanti malam bakalan..”
Wintang benar-benar menghitung dari angka 10,9,8,7,6...2,.
“Oke! Tapi janji, kamu harus bertanggungjawab kalau-kalau aku pingsan di tempat.”
“Hmm.” sahut Wintang sebal. “Kalau perlu nanti gue panggilkan ambulans.”
Mereka benar-benar berdandan ala kadarnya. Memakai pakaian yang tidak terlalu biasa tapi juga tidak terlalu mencolok juga.
Jantung Rinai seakan dipompa. Sejak keluar dari kamarnya, langkahnya dihitung dan berharap cepat-cepat bisa mengendalikan diri. Ayolah, Nai. Benar kata Wintang. Just Aiden, bukan seseorang yang punya peran penting juga kan di hidup Rinai?
Melewati lorong-lorong sepi dan juga menyatu dengan kantor agensi, Rinai kaget lantaran karena melihat banyak juga manusia yang melihat meet and great Aiden. Matanya mencari celah agar bisa menatap pria itu, meskipun dari kejauhan.
“Gimana? Gak gerah kan? Atau mau pingsan? Coba tarik napas dulu deh.”
Usul Wintang benar-benar dilakukan. Rinai menaik-turunkan dadanya sendiri, terus-menerus secara berulang. Lumayan berhasil mengatasi kepanikannya. Dia melihat Aiden begitu santai menjawab pertanyaan dari pembawa acara.
“Jadi, selama di rumah sakit, Anda sama sekali tidak bisa memberi kabar pada agensi atau memang menolak lantaran ada kaitannya dengan kasus?”
“Tidak sepenuhnya. Urusan kasus sudah ada yang menanganinya bukan? Aku tidak tahu kenapa jadi penutup kepada para fans yang mungkin sudah menantiku di Indonesia. Kemungkinan besar alasannya adalah karena Mama menyarankan untuk fokus sembuh dulu. Kalian pasti juga pernah kan dikhawatirkan secara berlebihan oleh orang tua kalian sendiri?”
Banyak yang membenarkan ucapan Aiden. Mereka berterima kasih pada Arlita, wanita yang luar biasa sabar bisa menunggu anaknya sadar.
“Dan juga, di sana memang suasananya tenang. Tidak ada dokter yang akan tanya apakah aku baik-baik saja. Dokter di sana tidak terlalu bisik, semoga ditiru oleh cara dokter di sini yang kadang membuat pasiennya kebingungan.”
Gelak tawa para fans mulai memenuhi ruangan. Meskipun tahu Aiden sedang bercanda, tapi mereka juga setuju soal itu.
“Tuan Aiden, apakah lamanya di London membuat hubungan Anda juga mungkin, maaf, hilang komunikasi?”
Aiden terdiam. Dia terlihat risau beberapa saat, karena selama koma, Aiden memang tidak mengingat apa-apa. Hanya peristiwa di mana dia terluka dan berusaha bertahan agar diselamatkan oleh semesta. Pipinya mengembang lagi agar tidak menaruh curiga, dia melihat ke sekitar dan menemukan Anya yang terlihat menunggu jawaban dari kekasihnya.
“Saat itu, karena aku tidur seperti patung, mungkin Anya tahu dan mengerti kenapa aku tidak bisa memberitahu tentang keadaanku. Bukan begitu, Sayang?”
Matanya tertuju pada Anya. Sempat membuat beberapa orang iri. Ah, pasangan yang serasi, katanya.