Ternyata menjadi penggemar rahasia tidak semudah yang dibayangkan. Rinai masih tetap memuja Aiden, apalagi bisa jadi mereka akan sering bertemu di tempat yang sama. Iya sih, sekarang Aiden masih nyaman haha hihi di rumah mamanya, tapi kita lihat, sebulan ke depan pria itu akan sering mondar-mandir ke Star untuk merangkum semua konsernya dan tampil satu-persatu, seperti tokoh utama yang tidak diperkenankan istirahat sama sekali.
Membayangkan sebentar saja, Rinai mulai sakit hati. Bagaimana pria itu memaksanya untuk melakukan hal bodo. Walaupun, yeah, memang sih, sekarang Rinai bisa menikmati jadi anggota Star agensi. Tidak sembarang orang bisa ke sini bukan? Kalau bukan kekuatan orang dalam.
“Rasanya kita kayak kasat mata ya? Semenjak Kak Aiden comeback, Star jadi lebih sibuk. Banyak orang yang latihan secara cuma-cuma, sok sibuk ikut proses album terbaru. Konser tunggal dan juga menunggu kapan Kak Aiden benar-benar muncul di layar kaca internasional. Hmm, dia pernah demam panggung gak ya?”
Masih menikmati sisa keripiknya, Rinai tidak tahu soal itu. Dulu sekali saat mencoba untuk masuk setiap ada audisi, Rinai bahkan sudah mengidap demam studio. Dia selalu kalah dan merasa menyerah untuk jadi seorang penyanyi. Meskipun sampai sekarang hanya jadi penyanyi modal cover, setidaknya permainan pianonya masih dihargai.
“Entahlah. Aku rasa orang sehebat dia pernah berada di titik terendah. Gak ada yang sempurna di dunia ini, Gena. Berlian aja masih butuh proses untuk jadi berlian.”
Wintang setuju. Mereka hampir bosan setiap hari mendengarkan coach menyuruh berlatih lagu-lagu Aiden sebagai referensi atau masa uji coba. Apalagi sebagai penyanyi baru, sudah dipastikan untuk mengikuti gaya seniornya.
Karena tidak bisa satu tim, Rinai melambaikan tangannya dan masuk ke ruangan lain. Sudah ada Anya di sana, duduk dan menyapa beberapa anak-anak yang lain. Tapi, Rinai bisa menilai kalau wanita itu sedang galau. Apakah gara-gara ditolak saat mengajak Aiden ke kamarnya? Ish, kasihan.
Pasti malu itu. Atau jangan-jangan sebelumnya mereka sudah? Ah, sudahlah. Bukan urusan Rinai juga. Dia tidak sadar kalau sejak tadi menertawakan percakapan absurd pasangan yang membuatnya iri.
“Hei, kenapa sih ketawa sendirian? Padahal kan Kak Anya lagi mode serius.” tegur Indri.
Rinai meminta maaf, “Sorry, lagi bahagia soalnya.” matanya kembali fokus, kali ini hanya berlatih nada rendah, tidak seperti biasanya. Meskipun begitu, kata Coach Ziao, Rinai akan mengisi sebuah acara pernikahan dengan salah satu penyanyi jebolan star. Duh, membayangkan saja sudah merinding.
Satu jam berlalu, Rinai sudah lebih dulu keluar dari ruangan. Muak rasanya mendengar nada bentakan dari Anya. Lagi mens kali ya tuh wanita?
Melangkahkan kaki ke ruangan Ziao, Rinai mengetuk pintu. “Siang, Coach.”
Pria yang sering memakai kacamata itu mengangguk, menyuruhnya masuk. Dari awal Rinai terjun ke audisi secara daring, Ziao tahu kalau perempuan di hadapannya memang punya bakat yang bisa dikatakan 11:12 dengan Aiden.
“Ini loh yang aku ceritain ke kamu, namanya Rinai Asmara. Dia punya bakat unik, seakan duplikatmu, Den.”
Kursi yang dikira tidak ada yang menduduki kini berputar, ada Aiden yang sedang melihat foto-foto dalam dalam sebuah album foto. Aiden menatap ke arah Rinai, membungkuk dan memberi salam.
Duh, kenapa kaki Rinai seakan susah untuk bergerak. Seperti dirantai besi dengan kuat. “Halo, Aku Aiden. Senang bertemu denganmu. Kapan-kapan kita bisa collabs.”
“E.. Itu.. Aku..”
Ziao melihat Rinai dan Aiden secara bergantian. Dia menyentuh bahu Rinai, “Jangan terlalu dipikirkan. Semua orang yang dia temui selalu dibegitukan. Den, jangan buat muridku takut. Duduklah, Nai. Aku ingin mendiskusikan sesuatu denganmu. Ini tentang permintaan salah satu kenalanku juga keluarga dari star.”
“Ayolah, dia lebih cocok jadi muridku kan? Mumpung aku belum menerima siapa pun? Biasanya aku hanya menerima beberapa pendatang dari keluarga star sendiri. Kamu tahu lah, mereka kadang suka semaunya.”
Aiden mengedipkan mata ke arah Rinai. Oh, jadi sifat narsistik pria itu tidak hanya pas jadi hantu saja? Bahkan Rinai berusaha menguatkan mental. Dia kini sudah melatih agar detak jantungnya tidak berirama saat bertemu dengan pria itu.
(Bagian Kedua)
Sudah lama tidak refreshing diri, Rinai merasa tubuhnya sedikit segar karena baru saja berenang. Gena dan beberapa temannya masih di sana, sedangkan Rinai malah mengitari taman. Tentu saja tidak dengan kostum renangnya. Dia sudah berganti pakaian 15 menit yang lalu.
Langit malam memang cukup indah untuk jadi penenang. Rinai duduk di kursi, tempat biasa dulu dia bisa berbincang dengan Aiden. Ah, pria itu sangat menyebalkan. Seperti kacang lupa kulitnya!
“Dasar menyebalkan! Manusia aneh! Tidak tahu terima kasih! Mana bayaranku! Heh! Ya kali, aku sudah bersabar tapi dia tidak mengirimkan sepeserpun keuntungan dari misi kita? Dan apa? Dia malah menikmati semua pujian dari semua orang!”
Berkali-kali menyumpahi Aiden, ternyata Rinai cukup lega. Mungkin selama ini dia hanya bisa memendam. Siapa sih yang mau rugi? Bisa jadi Aiden bakalan menyiapkan uang ratusan juta sebagai transaksi kerja sama mereka? Tap apa? Alah! Cuma omdo!
Begitu tahu ada orang yang marah-marah, Aiden mendekat. Dia mengenali sosok itu, sosok yang tadi siang dikenalkan oleh Ziao di ruangannya?
“Kamu yang menolak untuk aku ajari secara personal kan?”
“Ebuset! Srepet! Aiden!” Rinai terkejut sampai hampir berdiri. Lalu mengatur napasnya. Matanya bahkan hampir keluar, “Ah, Kak Aiden. Maaf, saya kaget.”
Hampir tertawa. Semua orang juga tahu kalau respon Rinai barusan memang menandakan orang-orang yang kaget. Duh, lucu sekali. Sudah lama Aiden tidak merasa senang.
Merasa ditertawakan, Rinai memajukan bibirnya. Memilih untuk berbalik badan dan meninggalkan Aiden sendirian. Lebih tepatnya takut sih kalau sampai ketahuan sedang menyumpah-serapahinya.
“Hei, mau ke mana?”
Rinai tersentak kaget karena Aiden menarik penutup hoodienya. Bahkan kini tubuh Rinai berada tepat di depan Aiden, terbawa suasana, Rinai berbalik badan dan menghadap pria itu, begitu dekat. Mata mereka beradu, ya Tuhan! Jadi begini rasanya menatap mata seseorang yang selalu dirindukan setiap malam?
Seperti direstui oleh semesta, mendadak langit mulai menghitam. Tetes air hujan membuat wajah mereka saling basah, Aiden bahkan tidak bersikap seperti biasanya. Dia memang lebih sering masuk ke agensi lewat pintu belakang dan tersambung dengan kolam renang wanita. Tidak berniat rada kurang ajar, hanya saja Aiden tidak tahu kalau akan bertemu Rinai lagi.
“Ah, maaf. Kamu jadi basah.” Aiden menutup wajah Rinai dengan kedua telapak tangannya. Harapan Rinai sekarang adalah, dia ingin waktu berhenti agar bisa dalam momen manis ini lama-lama.