Tidak terasa, hujan membuat tubuh mereka basah. Baik Rinai maupun Aiden, mereka sama-sama sadar dari tatapan yang menenggelamkan mata mereka. Omo! Rinai serasa ingin menari di bawah rintikan hujan. Karena dari dulu ingin sekali bisa menyentuh sedikit saja bagian tubuh Aiden ketika pria itu sudah berubah wujud jadi manusia.
“Maaf, dan terima kasih.” tidak mungkin Rinai langsung lari begitu saja, dia pura-pura menjelaskan kalau yang baru saja dia sumpahi adalah teman apartemennya dulu, bahkan Rinai menyebutkan namanya, Rosaline.
Rinai meminta maaf dalam hati pada teman malangnya itu. Toh mereka tidak akan sering bertemu bukan?
“Santai saja. Aku juga tidak peduli, hanya ke sini karena tadi kamu sangat berisik.”
Kening Rinai mengkerut, tidak di dunia nyata ternyata Aiden sama menyebalkannya, super narsistik pula. Tidak ingin berdebat, Rinai langsung mengambil tindakan, membungkuk dan memberi salam lalu pergi masuk ke asrama putri.
Sebenarnya banyak yang ingin dia tanyakan pada pria itu. Tentang semua yang telah terjadi antara mereka. Apakah pria itu benar-benar tak mengingat satu pun momen mereka? Ah, dari dulu Rinai memang mudah dilupakan bukan?
Dia berpapasan dengan Anya yang sepertinya terburu-buru. Rinai menoleh, melihat ke mana arah perginya Anya, sudah pasti mereka akan bertemu dan menghabiskan malam bersama bukan? Enak sekali, Rinai sungguh iri.
“Stop, Rinai! Cukup! Yang terpenting fokus pada tugas pertama dari Coach Ziao.”
Rinai langsung berjalan cepat. Tidak peduli lagi urusan Aiden, tentang apa pun. Apalagi yang menyangkut Anya, dasar pasangan absurd. Apalagi si wanitanya, sangat agresif. Kayak dunia tuh cuma punya mereka saja.
Dubrak!
Suara dobrakan pintu membuat Gena kaget. Hanya dia sendiri yang lebih dulu bilas, meskipun Rinai lebih dulu keluar dari kolam renang. “Untung gak punya penyakit jantung. Kenapa tuh muka, kok kayak habis makan orang.”
“Iya. Kalau rasanya enak pasti mama sudah membuat sup manusia.”
Gena jadi merinding, meskipun tahu kalau Rinai sedang berpura-pura. “By the way, ada yang ngajak kamu kencan buta.”
“Maksudnya?” Rinai tahu apa itu kencan buta, hanya saja sampai detik ini dia belum pernah melakukannya. Jangankan kencan buta, dipanggil sayang oleh seseorang saja tidak pernah. Hanya Rose dan mamanya saja yang sering memanggilnya dengan mesra.
Miris sekali hidup Rinai.
“Sorry, waktu itu kan aku pernah unggah foto kita bertiga di media sosial dan beberapa teman priaku bilang kamu manis. Kalau Wintang kan udah punya Ajun. Minat gak?”
Entahlah. Kadang terbesit rasa penasaran. Sebenarnya, bagaimana rasanya dicintai dan diperhatikan seseorang. Jo saja tidak pernah benar-benar menunjukkan perasaannya meskipun dulu pernah bilang suka padanya.
Terlalu rumit. Apalagi kini dia mulai menyukai Aiden, menganggap pria itu bukan sebagai teman satu misinya.
“Gak dulu deh. Sibuk sama acara besok juga kan? Weekend nanti aku mau pulang aja, Wintang gak bisa ikut, kamu ada acara. Aku mau ke apartemen lamaku, udah lama gak tahu kabar Rose.”
Gena tidak akan memaksa, biarlah Rinai menemukan seseorang yang nanti bisa membuat temannya jadi lebih terbuka dan bisa mengekspresikan diri. Karena desas-desus yang terdengar, Rinai sangat terkenal susah beradaptasi. Sama dengan Wintang, tapi Gena merasa beruntung sudah menjadi bagian dari mereka. Teman yang setia pula.
Menyibak jendela sebentar, Rinai mulai celingukan dan memperhatikan apakah Aiden masih di sana. Ternyata tidak ada, pasti sudah pergi dengan Anya. Ah, lagi-lagi memikirkan yang bukan urusannya. Mendingan tidur saja deh.
(Bagian Kedua)
Setelah acara sumpah janji setia selesai, Rinai mulai naik ke atas altar. Melihat ke arah dua manusia yang disatukan melalui pernikahan. Betapa manisnya mereka.
Tangannya mulai beraksi, dia memang sudah berlatih selama kurang lebih dua minggu untuk setuju menjadi pianis di acara pernikahan kerabat dari petinggi Star.
“Semangat, Nai!”
Ziao mencoba untuk netral pada anak didiknya. Tidak menyangka ada yang tertarik menyewa anggota pemula. Mungkin karena Aiden masih belum berpikir untuk kapan akan kembali bermusik lagi.
Ternyata Anya juga diundang juga, Rinai kembali fokus. Berharap tidak akan ada Aiden karena sangat tidak ingin dianggap menjadi pianis yang meniru permainannya, meskipun dulu dia sangat bangga dengan julukan itu.
“Kamu datang.”
Anya mengangguk, menyilangkan tangan dan menikmati permainan Rinai. “Dia masih sama saja ya? Semacam pernah punya hubungan khusus tentang Aiden. Permainannya, kelembutannya, irama. Entahlah, aku merasakan sesuatu yang berbeda saat melihat perempuan itu.”
Mata Anya sekalipun tidak pernah terlepas untuk tidak menatap Rinai. Mungkin karena iri tidak pernah bisa memainkan lagu yang sama persis dengan kekasihnya.
“Mungkin itu hanya perasaanmu saja. Ayo kita makan, Rinai sudah kusuruh makan tadi. Aiden jadi ke sini?”
Akhir-akhir ini hubungannya terasa hambar. Entahlah, apa mungkin ini ada kaitannya tentang ketidaksetujuan Tante Arlita? Tapi, kalau benar iya, kenapa baru sekarang Aiden menunjukkan rasa tidak sukanya?
“Kamu yang telpon saja. Kita jadi dingin, aku susah membujuknya sekarang.”
Aneh, pikir Ziao. Padahal dulu mereka dijuluki sebagai pasangan paling sweet, tapi sekarang mungkin julukan itu sudah terkubur pada masa lalu. Masa di mana Aiden memperjuangkan antara hidup dan mati.
Tapi, pria itu tidak pernah menunjukkan keanehan seperti punya simpanan yang lain di luar sana, justru malah sebaliknya. Ziao bukan memihak pada Aiden, hanya saja terkadang hidup terlalu tak adil karena setiap Anya merasa kesepian, wanita itu pasti akan mencari pelampiasan yang lain lewat Zein.
“Hei, aku menyuruhmu makan, bukan minum. Kurasa sejak tadi pagi kamu belum makan apa-apa kan? Cakra saja tidak pernah melihatmu ke kafetaria?”
Anya tidak peduli. Dia memang sering mabuk akhir-akhir ini. Biasanya, saat perasaannya kalut, pasti akan ada seseorang yang memeluknya, meredam emosinya, memujinya secara berlebihan. Beda dengan Aiden yang hanya diam di tempat. Tapi sialnya, wanita itu tidak pernah sekalipun ingin berpisah. Hubungan macam apa yang dia jalani sekarang?
“Berisik deh. Tuh, anak didikmu sudah turun dari panggung. Mending kamu urus saja dia, Ziao. Aku bisa urus diriku sendiri.”
Meskipun payah soal mabuk, Anya tetap meneguk beberapa seloki lagi. Dia hanya ingin pulang dari sini dengan tidak mengingat apa pun, apalagi melihat seseorang menikah kadang membuatnya iri.
Melihat Anya semakin tak terkendali, Ziao hendak merangkulnya, tapi kalah cepat sama Aiden. Pria itu tiba-tiba muncul dan membuat banyak orang terpaku akan kedatangannya.
“Biar aku saja yang bawa dia. Aku tidak mau mengundang banyak perhatian. Salam untuk dia,” Aiden menunjuk ke arah pengantin.
Banyak orang yang sudah memotret. Pasti besok akan ramai. Entahlah, apa yang akan dilakukan tim humas oleh kabar tentang Aiden dan Anya. Biasanya wartawan selalu suka skandal dan hal yang bersifat selektif.
“Ai.. Den? Kamu di sini?” Anya mulai memunculkan tawa seramnya. Pasti wanita itu mulai hilang kesadaran.
Dengan hati-hati, Aiden membaringkan Anya di kursi penumpang agar wanita itu bisa beristirahat dengan tenang. “Kamu terlalu banyak minum. Kamu mikirin apa sih?”
“Aku?” bukannya menjawab, Anya malah tertawa terbahak-bahak. Itulah sisi paling menyebalkan Anya, selalu susah diajak bicara ketika perasaannya muak.
Semua orang pasti akan seperti itu bukan? Punya kekasih yang koma dan sadar lalu pura-pura lupa akan segalanya.
“Kamu pasti senang melihatku begini kan? Apalagi mamamu.”
“Ada apa dengan mamaku?”
Sambil menyetir, Aiden juga masih cukup waras untuk mendengarkan ocehan Anya. Dia memang sudah datang, tapi tertahan di belakang pagar. Tidak cukup berani melepas topi dan kacamata hitamnya. Terlebih memang matanya mulai fokus pada permainan seseorang yang dirasakan mirip dengan permainannya.
'Bukankah itu Rinai Asmara?' batinnya penuh tanya. Kenapa terasa begitu mendamaikan? Apakah selama ini permainannya juga bisa membuat perasaan orang lain setenang itu?
“Mamamu dari dulu tidak pernah menghargai aku, Aiden!”
No! Menurut Aiden, sikap Anya lah yang membuat mamanya membabi buta dan tidak mau mengakui wanita itu sebagai calon menantu. Padahal, seharusnya ketika menyukai seseorang kita harus mendekati keluarganya?
Karena pernah terlibat insiden tak menyenangkan, sampai sekarang Arlita menganggap Anya wanita yang kurang sopan santun dan ajaran tata krama.
“Kan aku sudah bilang, kamu hanya tinggal minta maaf karena dulu pernah bicara kasar sama beliau. Apa susahnya sih? Kamu tahu, ego seseorang itu akan memakan pemiliknya. Dan lihat? Kamu malah menyalahkan mamaku, dia hanya membicarakan apa yang dia lihat.”
Meskipun tidak banyak yang terjadi, tapi sampai sekarang Arlita tidak akan pernah lupa. Pernah suatu hari datang ke agensi Star, dengan pakaian biasa dan membuat semua orang bertanya siapakah wanita kumal itu? Termasuk Anya.
'Pengemis dilarang masuk ke sini, Bu.'
Ya, bagaimana bisa Arlita melupakan itu, padahal dia sudah sebaik mungkin memilih pakaian terbaik yang dia punya. Aiden juga belum setenar sekarang, pendapatannya masih di bawah rata-rata meskipun sudah bisa dibilang cukup bagi hidupnya.
“Tapi aku kan tidak bermaksud menghinanya.“
Lama-kelamaan, kesadaran Anya mulai terkumpul. Dia membuka dressnya dan hanya menyisakan pakaian yang tidak seharusnya dia tunjukan pada Aiden.
“Pakai dressmu, Anya!”
“Kenapa? Kamu merasa meningkat hormon prianya? Bukankah itu normal? Kenapa kamu tidak mencoba untuk sebentar saja kita menikmati waktu berdua di mobil ini. Tidak akan ada yang tahu, Aiden.”
Aiden ngebut dan banting setir, dia harus segera sampai ke tempat Anya dan membiarkan wanita itu pulang juga keluar dari mobilnya.
“Berhenti, Aiden. Ternyata kita sama gilanya ya?” gelak tawa Anya makin mengerikan. Bagaimana bisa dia terjebak dengan wanita yang mungkin punya riwayat penyakit mental?