Semakin memburuk situasi yang harus dihadapi, akhirnya Aiden menepi. Dia menelpon seseorang untuk bisa mengantarkan Anya pulang, tidak bisa begini. Apalagi Aiden adalah pria waras, masa depannya tidak ingin hancur karena ONS dengan pacar sendiri.
Setengah jam menunggu, Ziao bertanya ada apa dan akhirnya paham situasi. “Oke, kamu angkat dia. Serahkan sama aku, tapi gak gratis ya? Minimal nanti kalau udah comeback harus promoin lagu baruku.”
Hal gampang, Aiden memang punya daya pikat sendiri soal membuat siapa saja melihat story sosial medianya. Bahkan sampai sekarang dia tidak pernah mengaktifkan sss lantaran takut disalahgunakan oleh seseorang. Bukankah orang yang sukses selalu menjadi target kejahatan komplotan orang-orang yang usil.
Betapa leganya, seakan beban berat kabur dari punggungnya. Aiden mengklakson mobil lalu melaju menuju rumah mamanya. Ingatannya kembali terputar pada sosok Rinai Asmara. Bagaimana bisa perempuan itu punya skill yang 11:12 mirip dengannya. Waw, hebat sekali.
Pasti sebentar lagi Rinai akan booming, mungkin dia bisa mengajak perempuan itu colabs. Siapa tahu kan menggemparkan dunia permusikan lantaran sudah lama wajahnya tidak tampil di layar kaca.
Sampai di rumah, Aiden kaget karena Arlita malah memasang wajah horor dan langsung menunjukkan sebuah foto di mana Aiden kedapatan merangkul Anya di depan publik. Bikin malu saja!
“Aku bisa jelasin, Ma. Tadi dia itu mabuk dan hilang kendali, pasti akan aneh kan kalau Ziao yang membantunya bukannya aku yang merupakan pacar Anya.”
“Selalu saja membelanya. Dan apa tadi? Mabuk? Hah, sangat memalukan, Aiden. Bagaimana bisa kamu memacari wanita yang suka mabuk-mabukan?”
Malas berdebat, Aiden hanya melewati Arlita lalu melangkah masuk dan langsung ke kamarnya. Bisa saja ceramah akan makin panjang karena tabiat Arlita adalah selalu mengingat satu kesalahan saja dan menjadikan alasan itu untuk membenci sesuatu atau seseorang.
“Aiden! Mama belum selesai ngomong.”
Sudahlah. Aiden tidak mau lagi meneruskan pertengkaran, sudah cukup tenaganya terkuras habis soal Anya, sekarang ditambah soal mamanya.
“Anak itu selalu saja kabur dari masalah!”
Mendengar suara mamanya yang semakin jauh, Aiden tahu kalau mamanya pasti lebih memilih ke kamar dan menghilangkan kekesalannya dengan menonton sinetron TV.
Semoga saja hari esok lebih baik.
(Bagian Kedua)
Ternyata berkat penampilan perdananya yang disewa oleh Ziao, Rinai mendapat sambutan hangat. Bahkan dia diajak Ziao untuk keluar kota untuk menghidukpan suatu acara musikal. Seperti lagu hindi yang sedang booming sekarang.
“Hebat banget loh kamu! Ih, video ini bahkan ditonton hampir satu juta orang cuma dalam waktu semalam. Ih, Star untung banyak nih kalau kayak gini. Bayangin aja kamu berkolaborasi dengan Aiden, macam mana pula yang nonton. Kalau aku sih..”
Rinai cepat-cepat menutup mulut Gena yang cerewet melebihi radio. “Udah deh, jangan kebanyakan mimpi. Lagian dia itu berlian, sedangkan aku cuma pasir hitam yang pantainya gak diminati banyak orang. Mimpi, Gen, Mimpi!”
Wintang hanya dia saja. Daripada kena amukan Rinai, kalau saat kesal, perempuan itu malah lebih seram darinya tiga kali lipat.
Mereka padahal naik bus, Rinai sebisa mungkin menyuruh Gena untuk diam. Jangan sampai penumpang lain merasa terganggu oleh mereka bertiga. Sesuai janji Rinai, setelah penampilannya selesai, dia akan mengunjungi mamanya, sangat rindu tentu saja.
Melihat plang kedai mama Rindu, Rinai cepat-cepat meminta supir untuk turun pada halte berikutnya.
“Ah, akhirnya sampai juga. Udah laper banget ini, usus di perut gue meronta-ronta.” Wintang menggambarkan perutnya yang memang ingin segera diisi asupan banyak.
Mereka bertiga berlari seakan kompetisi, dari arah dalam Astri memberitahu kalau Kak Rinai datang. Mereka memang tidak terlalu dekat, tapi sejauh ini, Astri menganggap Rinai adalah seseorang yang bisa dipanggil Kakak. Karena di panti asuhan dulu, dia merasa paling dewasa sendiri.
“Halo, Astri!”
“Kak Rinai! Halo Kak Wintang, Kak Gena.”
Gena merangkul Astri, kagum pada gadis yatim piatu itu, benar-benar mandiri sejak kecil.
Seperti kebiasaan mereka saat sudah tiba, bukan benar-benar meminta makan tetapi langsung membantu pesanan karena sampai sekarang, mamanya belum berani untuk menerima pegawai lagi karena takut tidak bisa menggaji.
Kedai ini jauh lebih aesthetic daripada kedai sebelumnya. Bahkan Rinai tidak malu menunjukkan kepada orang-orang di agensinya untuk mampir ketika mereka lewat ke daerah ini.
“Oh iya, kata Astri video kamu viral ya?”
“Mama juga lihat?”
Sambil membuat kimchi dan sashimi, Rindu mengangguk. Sekarang dia sangat lega karena Rinai bisa menjadi apa yang dia inginkan. Dulu, anaknya selalu gagal setiap ikut audisi, entah karena memang bukan rezekinya atau bisa saja Rinai terlalu gugup.
“Mana mungkin mama gak lihat? Mama tahu karena ada pengunjung yang melihat fotomu. Dia langsung menunjukkan video di mana kamu memainkan sebuah lagu dengan permainannya sangat cantik dan indah didengar.”
Sebagai semangat Rindu bekerja, setiap lelah, pasti wanita itu akan melihat foto di mana Rinai berpose dengan mengepalkan tangan persis di depan agensi star. Mau dibilang norak terserah, yang penting dia senang dan bisa membanggakan orang tua.
“Hehehe, Terima kasih, Ma. Kebetulan Coach ku mempercayakan hari besar padaku.”
Ziao memang sudah mengincarnya, bahkan tidak akan mau menerima orang lain lagi. Dia hanya ingin Rinai lah yang ikut bersama di acara pernikahan anak kerabat Star.
Meskipun bukan bayaran yang tinggi, tapi Rinai bangga dengan usahanya sendiri.
“Eh, tapi Kak Aiden kan juga ada udah kembali kan? Wah, akhirnya idolaku comeback juga. Aku akan bertekad bisa bertemu dengannya, Kak!”
Gena dan Wintang malah sudah bosan, mereka hampir setiap hari melihat pria itu meskipun makan di kafetaria khusus perempuan. Mungkin hanya ingin menemani pacarnya sarapan dan makan malam bersama.
“Astri Sayang, Aiden itu bukan level kita-kita. Doakan saja kita bisa menyusul kesuksesannya.”
Iya juga sih. Pasti butuh perjuangan yang hebat, apalagi Aiden menjadi penyanyi memang membutuhkan waktu yang tidak sebentar. Bakatnya secara alami diasah, sedangkan Rinai bakat itu diciptakan sendiri, untungnya semesta berbaik hati memberinya kelebihan bisa menirukan gaya permainan seseorang. Apalagi Rinai terkenal di Star sebagai duplikat Aiden.
Aiden, nama pria itu seakan makin mudah diucapkan di mulut dan hati Rinai. Dia membayangkan semisal sepanggung dengan sang bintang. Momen langka yang bisa saja lebih viral dari videonya sekarang.
“Heh, malah bengong. Yuk makan, laper gue!” ajak Wintang.
Baiklah, tujuan mereka ke sini kan makan-makan besar. Rinai sepertinya ketularan teman-temannya, ususnya ikut meronta-ronta.