Terbangunkan pagi, bersama matahari yang menyapa. Karena masih pusing, Anya belum siap membuka mata. Hanya mendengar suara dari arah dapur. Ingatan terakhirnya adalah ketika dia mengajak Aiden ke apartemennya, meskipun sangat jarang ke sini tapi Anya memang kadang-kadang ke tempat di mana dia bisa bangun kapan saja dan tidak perlu memasang muka penuh senyuman seperti saat di agensi.
Mendengar suara panci dan spatula saling bersahutan, Anya tahu ada seseorang bersama. “Aiden?” sapanya sambil menyibak selimut.
Bau tubuhnya bikin perutnya makin mual, dia kecewa lantaran bukan pria itu yang ada di sini melainkan Ziao. Meskipun Ziao sering bersamanya, setidaknya pria itu tidak pernah terlibat perasaan dengannya.
“Dia pasti masih nyaman di ranjang rumah mamanya, Anya. Dan kamu? Ckckck, memalukan. Bagaimana bisa kamu muntah sebanyak itu dan membuatku harus mencari apa saja yang bisa aku temukan di almarimu?”
Anya baru sadar kalau Ziao memakai jaket kebesaran. Di mana dia mendapatkannya ketika dulu pergi dengan Zein. Ah, bikin tambah pusing saja memikirkan orang yang sudah membuat hubungannya merenggang.
“Mandilah, lalu kita sarapan. Dan jangan lupa, gremus obat ini agar perutmu baikan.”
“Terimakasih, Ziao. Aku malah khawatir kamu tidak punya pacar karena sibuk memikirkan pacar orang.”
Ziao menolak tuduhan itu. Hanya dia satu-satunya orang yang sekarang bisa dianggap orang suruhan Aiden. Pria itu menyuruhnya banyak hal sekaligus ikut campur urusan Anya, mulai menemani wanita itu ke apartemen meskipun nggak ngapa-ngapain. Otaknya masih cukup waras lantaran Anya memang sahabat lamanya.
Tangannya masih sibuk mengaduk bubur yang mulai melunak, juga sup pengar, lalu teh madu agar perut Anya merasa baikan. Kadang dia sendiri kasihan dengan nasib Anya yang dari dulu selalu berjuang di garda terdepan soal urusannya.
Sambil menunggu, Ziao melihat isi ponselnya. Ada pesan dari Aiden di sana, bertanya apakah kekasihnya sudah agak mendingan? Dasar pria gak peka, bukannya ke sini malah membebaninya!
“Dia sedang mandi.”
“Eh?” di sebrang sana, Aiden kaget mendengar kata mandi. Apalagi Ziao dan Anya kan lawan jenis.
“Santai saja, jangan salah paham. Aku gak berminat menganggu hubungan kalian dan jadi orang ketiga. Masih ada wanita milyaran di sana yang jomlo dan menunggu pernyataan cintanya.
Baiklah, Aiden percaya. Dia juga mengenal Ziao itu seperti apa. Bahkan sahabatnya memang selalu apa adanya, tidak ada apanya. Pura-pura cuek akan perintah Aiden meskipun sebenarnya Ziao tidak pernah mengabaikannya. Hanya pura-pura menolak saja di awal.
“Ingin bicara sama Anya gak? Dia di depanku sekarang, meskipun aku sangat malas mengurusnya dan ngantuk, tapi aku masih berbaik hati membuatkan sup dan bubur untuk menghilangkan pengar. ”
Anya menolak ingin bicara, pasti ngambek lagi. Aiden juga masih belum tahu akan bicara apalagi dengan Anya. Wanita itu makin tidak kondusif, kadang lemah lembut kadang malah tidak terbatas tingkah frontalnya. “Salamkan saja untuknya, semoga segera baikan.”
Sambungan terputus begitu saja. Ziao sengaja loudspeaker agar wanita di hadapannya tidak muka tembok. Ngapain sih cari sensasi dengan mabuk di depan orang banyak, pikirnya.
“Makan. Awas aja kalau nggak habis, susah-susah aku buatnya. See? Aku kurang tidur karena harus begadang di sini.”
Anya mulai menyendok bubur, jarang sekali dia mengisi sesuatu ke mulutnya saat setelah mabuk. Apalagi dia sering sekali dalam keadaan seperti ini dan akan baikan sendiri ketika ada kurir makanan yang datang.
Lumayan enak, padahal setahu Anya, dia mengenal sosok Ziao yang sangat jarang menyentuh bagian dapur. “Kamu bisa masak juga ternyata.”
“Jaman sudah canggih, Nya. Ada sosial media dan internet kalau kamu tidak bisa melakukan sesuatu, meskipun aku tidak terlalu percaya teori dibandingkan praktek. Memangnya kamu, masih terjebak di zaman galau sama perasaannya sendiri.”
Dasar menyebalkan!
(Bagian Kedua)
Kalau dipikir-pikir, Rinai harus mengakui kehidupannya membaik setelah melakukan misi dari Aiden. Pria itu pernah bertanggungjawab atas hidupnya beberapa bulan. Lalu sekarang, hanya tinggal kenangan.
“Hoodie kamu bagus, Nai. Kurasa sekarang anak mama jauh lebih mengerti fashion ya? Apakah masa pubermu mulai meningkat?”
“Mama! Rinai kan sudah dewasa, masa-masa itu udah terlewat dulu saat SMA. Dan juga, puber itu nggak melulu soal urusan cinta, Ma. Perubahan bentuk tubuh misalnya sama emosi dan menstruasi.”
Lagi-lagi pasti menyangkut pria. Mamanya hanya was-was Rinai terlalu tertutup lantaran tidak mau punya kisah yang pahit seperti mamanya. Padahal kan, tidak semua pria itu sama.
Dari arah luar, Wintang ikut menyahut, “Rinai di agensi termasuk populer, Tan. Dia bahkan kenal chef paling dikagumi di cafetaria. Bangga banget gak tuh!”
Hampir saja Rinai melempar gelas plastik ke muka Wintang, tapi perempuan itu berhasil menangkapnya dan menuturkan lidah. Jangan sampai wajahnya punya muka lebam dong, nanti Ajun malah gak mau.
Jangankan Wintang dan Gena, Rindu saja tahu ada pengunjung tetap yang sering ke sini lantaran jatuh cinta dengan Astri. Tapi sampai sekarang gadis itu cuek-cuek saja, mungkin malu karena tujuannya adalah bekerja dan mencari nafkah.
“Mama sih gak masalah kamu nikah di umur berapa, karena usia hanya angka. Pernikahan itu benar-benar berkesan ketika kita sudah menjalaninya. Mama hanya mau kamu menikah dengan pria yang tepat, yang bisa kamu cintai dengan sepenuh hati dan dia pun juga melakukan yang sama. Jangan salah serobot terus bungkus!”
Ke empat orang itu tertawa. Kedai ditutup lebih awal, toh pendapatan hari ini sudah lumayan. Ternyata menyewa tempat di dekat batas kota memang bisa menaikkan trafik laba rugi, untunglah bagi Rindu karena dia bisa menutup modal dan membayar hutang-hutang yang masih dia pendam. Tidak seluruhnya dia ceritakan pada Rinai, anak itu terlalu banyak menyimpan beban dan tanggungjawab. Dari dulu bahkan Rinai tidak pernah meminta apa-apa. Sangat penurut dan tidak pernah menjadi anak yang durhaka.
Tapi memang benar sih nasihat mamanya, Rinai harus menikah dengan pria yang tepat. Pria yang mencintainya dan juga bisa menerima fakta tentang kehidupannya, lingkungannya, cara hidupnya dan lain sebagainya. Bukankah cinta itu sebenarnya memberi dan menerima?
Mungkin sekarang Rinai tengah jatuh cinta sejatuh-jatuhnya dengan Aiden. Tapi, apakah pria itu juga merasakan hal yang sama dengannya?
“Jangan melamun ketika makan. Ayo habiskan dan jangan sampai ada yang tersisa, kalau perlu bawa apa yang ada di dapur. Bagi-bagi sama teman agensi yang lain. Oke?”
“Oke!” balas Wintang dan Gena serempak. Soal makan mereka selalu nomer satu, dasar perut galon!