Sebulan berlalu, dan keadaan Orion mulai membaik. Lelaki itu mulai menunjukkan perhatiannya pada Rinai. Anya dan Aiden masih tetap bersama. Hanya saja, Anya semakin merasakan kehampaan pada hubungannya dan Aiden. Lelaki itu banyak berubah setelah bangun dari koma.
"Sudah siap dengan acara ini?"
Anya menghampiri Aiden sejenak. Memberi tahu persiapan konser Aiden yang digelar setelah kesembuhannya.
Banyak Fans yang menunggu Aiden kembali secara resmi. Lelaki itu tetap bintang dan tetap bersinar.
"Tentu saja siap. Oh iya, aku lupa. Mamaku akan hadir," ucap Aiden mengingatkan.
Anya tersenyum. Entah kenapa, saat tahu Arlita akan hadir, dia merasa tak suka. Sejak awal, Arlita memang tak pernah suka padanya. Tak ada kecocokan antara dia dan Arlita. Beda dengan saat dia dan Aiden bersama.
"Mamamu kemari? Dia kan..."
Anya tak melanjutkan kata-katanya. Diam saja dan tak menjawab.
"Dia terbang hari ini. Katanya, ini acara penting untukku. Makanya, dia usahakan hadir untukku," jawab Aiden.
Anya seketika terdiam. Entah kenapa, rasanya tak ingin wanita itu hadir. Merusak suasana dengan ucapan-ucapannya yang sering membuatnya sakit hati.
"Aku harap kau dan Mama akan menjalin hubungan yang lebih baik lagi," ucap Aiden mengingatkan.
"Baiklah, akan aku coba." Hanya itu yang mampu Anya sampaikan.
Aiden hendak menjemput Mamanya. Sayang, Mamanya menolak karena dia tahu Aiden juga harus latihan sekaligus Gladi bersih. Dari bandara, dia bisa datang ke tempat konser.
"Aiden!"
Teriakan seseorang berhasil membuat Aiden menoleh. Seseorang memberi tahu Aiden kalau Rinai dengan cara menyanyinya yang mirip dengannya akan tampil juga pada sesi akhir. Katanya, Rinai akan memeriahkan acara konser sebagai pendatang baru.
"Anya!"
Felix tersenyum sembari menatap Anya dengan tatapan terdalamnya. Anya dimatanya masih sama. Cantik, berbakat dan sempurna.
"Iya, ada apa?"
Rupanya, Felix datang untuk menanyakan persiapannya menjadi Pianis Aiden hari ini. Hal ini juga akan meramaikan acara. Sepasang kekasih tampil bersama dan tentu saja semua media akan meliputnya.
Felix teramat perhatian padanya. Beda dengan Aiden yang berubah acuh padanya. Terkadang, Anya membandingkan kekasihnya itu dengan Felix.
Rinai sendiri gugup sejak tadi pagi. Konser malam ini membuatnya grogi. Dia biasa menyanyi di depan umum. Akan tetapi, ini konser Aiden, lelaki yang dia suka. Dia berharap tidak ada demam panggung untuk malam ini.
"Lu belum berangkat? Ini udah sore. Beneran nungguin gue?" celetuk Rose.
Bukannya tak ingin berangkat sendirian. Rinai ingin bersama Rose agar lebih tenang. Dia hanya takut menghancurkan konser Aiden. Star dan Aiden, semua berkaitan. Dan jika Rinai menghancurkan acara ini, otomatis semuanya akan malu.
"Percaya diri aja, Nai. Gue yakin lu bisa kok. Lu kan berbakat," ucap Rose menenangkannya.
Rinai tersenyum. Memilih satu gaun cantik yang akan dia pakai untuk malam ini, kemudian dia bawa ke gedung konser.
"Ayo berangkat bareng," ajak Rinai.
Rose langsung cengar-cengir tak jelas. Apalagi, setalah itu Rose tertawa. Semakin membuat Rinai terheran-heran.
"Bentar lagi Ziao jemput gue!"
Astaga, Rinai semakin percaya kalau mereka bukan hanya berteman. Pasti ada sesuatu dengan hal itu.
Tak lama setelah itu, benar saja Ziao datang menjemput Rose. Lelaki itu, disela kesibukannya masih sempat menjemput Rose yang juga akhirnya Rinai ikutan nebeng.
"Baru berangkat, Nai?"
Rinai memilih duduk di bangku belakang. Membiarkan Ziao dan Rose duduk bersama di depan.
"Iya. Rinai mau bareng sama aku, katanya." Rose menjawab pertanyaan Ziao sebagai wakil dari Rinai.
Merekapun akhirnya sampai juga di depan gedung. Ziao menyuruh keduanya masuk lebih dulu, sementara dirinya akan mencari tempat untuk parkir mobilnya. Apalagi, ini mobil milik Orion. Jika parkir sembarangan, lelaki itu pasti akan mengomelinya. Takut jika mobil kesayangannya rusak atau lecet sedikit saja.
"Duh, Nai. Hp gue ketinggalan. Sama tasnya juga. Gue nyusul Ziao dulu ya? Takut dia enggak sadar dan gak bawa tas gue. Mumpung masih belum jauh," ucap Rose.
Selalu saja begini. Rose tipikal perempuan yang ceroboh. Ya, sama sepertinya. Hanya saja, Rose lebih sering lupa.
"Buruan cepat! Gue tunggu diruang ganti," ucap Rinai.
Rinai melangkah masuk, tapi melihat seorang wanita dewasa yang cukup cantik. Wajahnya seperti cukup familiar baginya. Rinai lihat, dia seperti kebingungan.
"Ada yang bisa saya bantu, Tante?"
Arlita sontak menoleh. Dia menatap sosok Rinai yang cantik dan manis. Terlebih lagi sangat sopan.
"Kebetulan sekali. Tante lagi bingung. Teleponku mati dan gak bisa hubungi anak Tante. Gedung ini sangat luas. Mau cari ruangan anak Tante disini," ucap Arlita panjang lebar.
Rinai tersenyum. Melihat wanita di depannya ini mengingatkannya pada Mamanya sendiri. Mamanya bilang akan hadir nanti bersama Astri juga. Walau bukan konser solo Rinai, mereka turut senang atas penampilannya.
"Mari, saya antar Tante. Nama anak Tante siapa?"
Arlita tersenyum. Gadis ini memang sangat baik dan sopan. Beda sekali dengan Anya yang kurang menghormatinya.
"Nama anakku adalah Aiden." Rinai cukup terkejut dengan ucapan itu.
"Ah, maaf Tante. Saya enggak tahu kalau Tante ini Mamanya kak Aiden. Kalau begitu, mari saya antar." Rinai pun membawanya masuk ke dalam.
"Nama kamu siapa?" tanya Arlita.
"Rinai, Tante. Sebelumnya, salam kenal. Saya junior di Star. Bisa dibilang penggemarnya kak Aiden."
Arlita tersenyum. Sungguh manis sekali. Jika sudah berada di Star, otomatis dia salah satu talent. Gadis ini merendah di depannya. Beda dengan Anya yang sombong menurutnya.
"Tante, itu kak Aiden. Tapi maaf, saya hanya bisa antar sampai sini. Saya harus segera bersiap juga." Rinai menunduk memberikan hormat padanya. Arlita benar-benar takjub pada gadis ini, sampai membuatnya berandai-andai.
(Bagian Kedua)
Aiden merasa gelisah. Mamanya sudah berkata lima menit lagi sampai di depan gedung. Namun, Aiden tak lagi bisa mengirim pesan padanya.
"Anya, bisa bantu aku? Tolong jemput Mama di depan gedung. Aku takut dia bingung. Sejak tadi, nomernya tidak aktif. Aku pikir, dia kehabisan baterai. Kamu bisa kan?"
Permintaan Aiden sebenarnya membuat Anya tak suka. Hanya saja, dia tetap harus melakukannya karena Aiden adalah kekasihnya.
"Baiklah, akan aku jemput," jawabnya.
Anya berjalan ke depan gedung. Sebelum sampai di sana, langkah Anya terhenti karena Felix.
"Anya, ada yang perlu aku katakan. Ini penting."
Felix pun mengajak Anya masuk ke dalam sebuah ruangan.
"Apa? Aku tidak jadi tampil. Malah akan ada duet antara Rinai dan Aiden? Mana bisa begitu?" Anya terlihat tak suka.
Awalnya, Anya suka pada Rinai. Akan tetapi, semakin lama Rinai bisa saja menggeser posisinya.
"Ini permintaan Agensi. Mereka bilang, dua penyanyi dengan teknik yang sama dalam duet akan membuat konser sukses besar."
Anya tak terima. Lalu apa gunanya dia di konser ini, kalau hanya sebagai penonton saja? Anya merasa ini tak adil baginya. Anya merasa kesal dan tersingkirkan. Bahkan karena hal ini, Anya lupa pada tujuannya.
Anya ingin bicara dengan Aiden mengenai masalah ini. Namun, saat dia tiba sudah ada Arlita disisi Aiden.
"Anya, kamu kemana saja? Mama sudah disini dan kamu baru sampai," ucap Aiden.
"Aku mencari Tante diluar." Anya terpaksa berbohong.
Arlita tak menyahut. Yang terpenting, karena Anya tak menjemputnya, dia bisa bertemu dengan sosok Rinai yang sangat manis.
"Apa kabar, Tante?" tanya Anya basa-basi.
Arlita yang mendengarnya hanya tersenyum tipis. Ini bukan seperti Anya yang dia kenal. Tumben sekali beramah-tamah dengan dirinya.
"Baik!" jawabnya singkat.
Lagi-lagi hanya sikap dingin yang Arlita berikan. Anya bersumpah, jika dia menikah dengan Aiden nanti, wanita itu akan tamat.
Anya semakin merasa kesal dengannya. Arlita sangat terang-terangan mengungkapkan ketidaksukaannya padanya.
"Aiden! Kamu sudah bicara dengan Rinai? Mengenai duet yang akan kalian lakukan," ucap Felix mengingatkan.
"Iya, dimana dia? Aku ingin bicara dengannya." Aiden pamit pada Mamanya. Lalu pergi ke ruangan Rinai untuk membicarakan lagu duet yang akan mereka nyanyikan.
"Kamu mau kemana?" tanya Arlita pada Anya.
"Menyusul Aiden," jawab Anya singkat.
"Kenapa harus terus menempel padanya? Kamu dengar kan? Aiden harus berunding dengan rekan duetnya. Sekali-kali lepaskan dia!" perintah Arlita sekaligus sindiran baginya.
Anya kesal dan marah. Rinai benar-benar merusak moodnya hari ini. Gadis itu sok polos, tapi bagaikan duri dalam daging.
Astri dan Rindu memandangi gedung konser dengan tatapan takjubnya. Rinai akan tampil dipanggung besar ini. Dan ini merupakan satu hal yang membanggakan bagi mereka.
"Lihatlah, kakakmu membuktikannya. Dia membuktikan kalau dia bisa dan berbakat," ucap Rindu dengan senyuman bahagia.
"Tentu saja, Ma. Siapa yang menyangka kalau kakak yang dulunya cengeng itu akan menjadi bintang besar," lanjut Astri.
Sebuah sentilan Astri dapatkan dari Mamanya.
"Jangan terus mengejeknya. Dia sudah berusaha keras sampai sejauh ini."
Rindu dan Astri kemudian masuk ke dalam. Mereka semakin takjub dengan ramainya penonton yang datang. Walau keduanya tahu, semua rata-rata fans dari Aiden.
"Hai!" Rose melambaikan tangan pada Astri. Berharap gadis itu menemukan tempatnya.
Astri menggamit lengan Mamanya menuju ke tempat Rose. Memilih kursi penonton paling depan. Tempat dimana penonton VIP berada.
"Aiden! Aiden! We need you!" Suara para penggemar mulai menggema. Konser dimulai dengan munculnya Aiden.
Semua penonton bersorak riuh. Bahkan mereka tak berhenti bertepuk tangan. Merasakan kharisma yang Aiden miliki.
"Aiden memang Star yang sesungguhnya. Penggemarnya banyak," ucap Astri.
Rose hanya mengangguk, mengiyakan ucapan Astri. Mereka terpesona dengan sosok Aiden yang mampu menghipnotis penonton, terutama para gadis.
"Andai dia jadi pacarnya kak Rinai." Astri membatin sendiri. Membayangkan kakaknya dan Aiden berpacaran. Dia pastikan semua media akan tertuju pada mereka berdua.
"Selamat malam semua. Aku enggak nyangka kalian akan seantusias ini menyambut ku. Karena ini, akan aku nyanyikan lagu ini khusus untuk kalian semua. I love you."
Semua bersorak kembali saat Aiden memberikan kalimat cinta beserta ciuman jauh dari atas panggung. Dari balik panggung, Rinai tersenyum.
Walau Aiden tak ingat dirinya, setidaknya dia kembali menjadi bintang yang bersinar. Itu sudah cukup untuk Rinai. Melihat Aiden bahagia, diapun bahagia.
Aiden menyanyikan lagu yang berjudul ' Always you' dan membuat semua merasa bahagia. Suaranya masih sama, semerdu saat itu.
Aiden menyanyikan beberapa lagu sampai akhirnya tiba waktu Rinai bernyanyi.
"Kalian pasti tidak asing dengan dia. Gadis cantik yang memiliki teknik menyanyi mirip denganku. Rinai, silahkan ke panggung."
Rinai yang masih terpaku cukup terkejut. Ia pun maju. Mengambil mikrofon yang Aiden berikan padanya. Beberapa media mulai memotret mereka. Membuat Anya merasakan rasa iri itu. Harusnya dia yang berada di atas sana.
Semua mulai riuh saat Rinai bernyanyi. Gadis itu berusaha dengan sekuat tenaga agar tidak demam panggung. Menghayati lagu yang ia nyanyikan itu. Sendu namun sangat merdu.
Acara terus berjalan selama dua jam, sampai tiba saatnya, duet antara Rinai dan Aiden.
"Bagaimana kalau Aiden dan Rinai duet? Apa kalian setuju?"
MC berucap dengan setengah berteriak. Penonton langsung setuju.
"Setuju!" Semua bersorak. Menyambut Rinai yang hendak naik ke atas panggung.
Rinai terpukau saat Aiden mengulurkan tangannya. Dia kembali mengingat saat itu. Saat dulu, Aiden dengan segala permintaan gilanya. Saat lelaki itu dengan rela memberikan sweater rajut buatan neneknya. Kenangan itu melintas dibenak Rinai. Lampu sorot membuyarkan lamunan Rinai untuk sesaat. Diapun mengulurkan tangannya. Membuat semua media memotret hal tersebut.
Lampu sorot kembali menyoroti keduanya. Membuat mata Rinai terpejam sesaat, tapi segera melihat ke atas. Ada yang salah dengan hal itu. Rinai benar-benar tak salah lihat. Lampu itu bergoyang. Tepat ada di atas Aiden. Pikiran Rinai jadi buruk seketika. Dalam hitungan detik, lampu itu akan jatuh mengenai kepala Aiden. Rinai tak bisa membiarkan hal itu terjadi. Cukup sekali Aiden terluka. Dia tak bisa melihatnya kembali terluka. Rinai sontak menarik Aiden sembari berteriak.
"Awas!"
Tubuh Rinai jatuh tepat di atas tubuh Aiden. Mereka saling menatap cukup lama. Degup jantung Aiden berdetak lebih cepat dari sebelumnya. Lelaki itu merasa sangat kenal dengan Rinai bahkan merasakan kehangatan dari tubuhnya.
Suara semua penonton berteriak, sementara para kru dan yang lainnya segera berlari menuju panggung. Anya sendiri terpaku di kursinya. Arlita berteriak histeris, termasuk Astri, Rose dan juga Rindu. Mereka berlari menghampiri keduanya.
"Kamu baik-baik saja, kan?" tanya Rinai.
Rinai masih menatap Aiden sampai matanya terpejam. Kakinya terluka. Rinai jatuh pingsan saat ini. Kepalanya bersandar di d**a Aiden. Yang terpenting bagi Rina adalah keselamatan Aiden sendiri.
"Rinai!"
Aiden mulai panik saat merasakan tubuh Rinai terkulai lemas di atas tubuhnya. Beberapa media memotret kejadian tersebut.
Orion berlari lalu menggendong Rinai dan membawanya ke rumah sakit dengan segera. Aiden sendiri masih syok, tapi terus mengikuti langkah Orion. Demi menyelamatkan dirinya, Rinai membuat dirinya terluka. Aiden seketika merasa bersalah.
"Aiden, jangan!" Anya mencegah lelaki itu agar tak mengikuti Rinai ke rumah sakit.
Aiden menoleh sesaat. Akan tetapi, dia tak peduli dengan larangan Anya. Dia tetap mengantar Rinai ke rumah sakit. Bagaimanapun juga, Rinai yang menyelamatkan nyawanya.
Anya terdiam. Dia kesal karena Aiden memilih untuk mengantar Rinai dan mengabaikannya.
"Sayang, Mama ikut dengan kamu!" ucap Arlita.
Astri, Rindu dan Rose juga ikut. Mereka sangat khawatir dengan keadaan Rinai saat ini. Tinggallah Anya sendiri. Felix yang lewat juga hanya menatapnya. Dia juga ikut menyusul ke rumah sakit.
"Bagus sekali, Rinai. Semua orang memperhatikan kamu sekarang. Perhatian itu dalam sekejap berpindah padamu," gumam Anya.
Anya tersenyum kecut. Baru sekarang dia tahu rasanya diabaikan. Tak ada yang peduli padanya, bahkan juga media. Mereka berbondong-bondong mengikuti Aiden dan Rinai.
Di dalam mobil, Orion dan Aiden nampak sangat cemas. Rinai terbujur lemas. Darah mengalir dari kakinya. Apalagi Aiden, dia merasa cukup bersalah akan hal itu. Kenapa bisa ada kejadian seperti ini? Dia yakin, ini bukan kecelakaan biasa. Ada yang sengaja menjatuhkan lampu sorot itu. Ada yang ingin kembali mencelakainya.
Rinai dibawa masuk ke dalam. Sementara itu, Aiden dan Orion menunggu diluar.
"Sayang, kamu tidak kenapa-kenapa, kan? Kamu baik-baik saja?"
Arlita baru saja tiba. Dia cukup mengkhawatirkan Aiden. Dia juga terkejut saat tahu Rinai tidak baik-baik saja.
"Mama jangan khawatir. Aku baik-baik saja. Yang perlu dikhawatirkan adalah Rinai."
Rose dan yang lainnya datang. Ada Ziao juga disana. Mereka semua khawatir pada Rinai. Terutama adik dan Mamanya. Astri memandang Aiden dengan seksama. Dia sadar, kakaknya menyukai Aiden. Jika tidak, Rinai takkan Refleks menyelamatkan Aiden dari bahaya tersebut.
"Ada yang sedang jatuh cinta di sini," batin Astri.