Jam menunjukkan pukul dua belas malam. Semua masih menunggu dokter keluar dari ruangan Rinai.
Klek..
Suara pintu dibuka, membuat semua menoleh kesana.
"Bagaimana keadaan putriku, Dokter?" Pertanyaan itu diajukan oleh Rindu, selaku Mamanya.
"Syukurla. Kakinya terluka tapi tidak patah ataupun retak. Ada sedikit pendarahan dan kami sudah menjahit lukanya. Dia pingsan karena syok dan terkejut."
Semua merasa lega saat mendengarnya. Apalagi Aiden yang sangat merasa bersalah. Rinai terluka karenanya.
"Kalian boleh pulang. Biar Tante saja yang jaga Rinai," ucap Rindu.
Semua tak bergeming karena mereka semua hendak menemani Rinai dan berjaga untuknya.
"Sayang!"
Rindu masuk dan memeluk Rinai yang telah sadar.
"Bagaimana keadaan Kak Aiden?"
Astri tersenyum. Tebakannya benar. Kakaknya menyukai Aiden. Benar-benar tak pernah dia sangka sebelumnya.
"Dia baik-baik saja, Sayang!"
Aiden dan Arlita juga ikut masuk. Arlita tersenyum menatap Rinai. Baru kali ini dia sadari, ada yang peduli pada putranya dan rela berkorban untuknya. Ingin sekali Arlita menjodohkan keduanya.
"Kamu baik-baik saja?"
Semua memberi ruang agar Aiden dapat bertemu Rinai dengan cukup dekat. Rinai tersenyum menatapnya. Aiden juga sama. Dia tak tahu seperti apakah Rinai, yang tak pikir panjang untuk menyelamatkannya.
"Maafkan aku, Kak."
Aiden mengusap kepala Rinai. Harusnya dia yang mengatakan itu.
"Aku yang minta maaf. Karena aku, kamu terluka."
Jika tak ads yang tahu siapa mereka, semua akan menyangka kalau Rinai dan Aiden sepasang kekasih. Mereka sangat serasi dan cocok.
"Rinai!"
Kali ini giliran Orion yang masuk. Lelaki itu lebih khawatir daripada Aiden sendiri. Lelaki itu kini menyadari perasaannya pads Rinai. Saat Rinai terluka, dia merasa sakit juga.
"Wah, cinta yang rumit nih!" batin Astri.
Saat semua sedang khawatir dengan Rinai, bisa-bisanya Astri malah memikirkan lingkaran cinta itu.
"Anya suka Aiden, Rinai suka Aiden. Orion suka Rinai. Yang jadi pertanyaannya, apakah Aiden suka Rinai atau Anya?" Astri terus saja membatin dalam hatinya. Bagaimana bisa ada cinta serumit ini. Ada harapan untuk Rinai kalau Aiden juga mencintainya. Sayang, statusnya menjadi kekasih Anya.
Astri duduk diluar, dan Rose menghampirinya.
"Syukurlah, Rinai baik-baik saja," ucap Rose.
"Menurut kak Rose, Aiden suka Rinai atau Anya?"
Rose terdiam. Mencerna pertanyaan yang Astri berikan padanya.
"Apa maksud kamu?" tanya Rose.
"Sudah jelas, kan? Kak Rinai suka pada Aiden."
Rose menepuk jidatnya. Kenapa dia baru sadar? Bahkan Astri juga lebih pintar darinya. Sejak awal, Rose berpikir sikap Rinai pada Aiden hanya sekedar suka dari penggemar pada idola. Ternyata, Astri pun menyadari hal tersebut.
"Astri, bisakah kamu diam saja dan jangan katakan pada siapapun juga. Ini rahasia kita," ucap Rose.
Astri yang polos mengangguk setuju. Rose tak ingin orang lain tahu kalau sahabatnya menyukai Aiden yang notabennya memiliki seorang kekasih.
"Orion, sebaiknya kamu pulang." Aiden menghampiri lelaki itu.
"Aku ingin menjaga Rinai!" jawabnya singkat.
"Kamu baru pulih. Aku tidak mau kamu juga ikutan sakit. Percayalah padaku. Aku akan menjaga Rinai dengan baik."
Orion berpikir sejenak. Rasanya sangat berat jika harus meninggalkan Rinai sendirian.
"Aku yang bersalah. Jadi, aku yang akan bertanggung jawab. Ziao, bawa Orion pulang bersamamu."
Setelah berunding, Orion akhirnya setuju. Aiden juga meminta pada Felix agar membawa Mamanya ke tempatnya. Aiden tahu, Mamanya cukup lelah karena menempuh perjalanan jauh.
Di rumah sakit hanya tersisa Rindu dan Aiden yang menjaga Rinai. Astri juga ikut pulang bersama Rose dan Ziao.
Aiden terus memandangi Rinai yang tertidur pulas. Dia berhutang budi pada Rinai. Jika tidak diselamatkan olehnya, mungkin saja Aiden tak selamat dan tak bisa hidup lagi. Dia beruntung karena Rinai ada dengannya.
"Tante!"
Rindu masuk kedalam. Menatap Aiden yang nampak cemas. Dia tahu, ads sesuatu antara dia dan putrinya.
"Santai saja, Nak. Rinai memang begitu, kok." Rindu bergabung di Sofa bersama Aiden.
"Sejak kecil, Rinai memang tipikal anak yang peduli. Pernah dulu dia pulang dengan baju yang sobek. Membuatku ketakutan setengah mati. Saat ditanya, dia bilang menyobek bajunya sendiri untuk mengobati Anjing yang terluka. Pernah juga dia terluka karena menyelamatkan seekor kucing dari atas pohon. Rinai selalu membuat semua orang bahagia dengan celotehnya," ucap Rindu panjang lebar.
Aiden tersenyum. Entah kenapa, dia merasa senang mendengar cerita masa kecil Rinai. Dia juga baru tahu kalau Rinai mulai menyanyi sejak kecil. Berawal dari pesta ulang tahun teman-temannya. Rinai bagaikan Magic untuknya. Mempu membuat sosok Aiden yang tak mudah tertawa jadi sering tertawa.
"Bagaimana, Ya? Rinai memang selalu begitu."
Aiden tertawa lagi mendengar cerita lucu tentang Rinai. Sesekali, lelaki itu menatap ke arahnya.
"Tante tidur aja dulu. Biar aku yang jaga Rinai," ucap Aiden.
Rindu mengangguk. Dia mempercayakan Rinai pada Aiden. Sementara Rindu tidur, Aiden duduk di dekat Rinai. Terus menjaganya sepanjang malam, sampai lelaki itu terlelap di dekatnya.
(Bagian Kedua)
Rinai membuka mata. Alangkah terkejutnya dia saat mendapati Aiden tengah terlelap di dekatnya. Rinai tersenyum dan berharap lelaki ini akan selalu di dekatnya. Sayang, kenyataan tak seindah harapan.
"Mama!" panggil Rinai pelan.
Dia tak mau Aiden terbangun. Jadi, meminta Mamanya agar membantunya ke kamar mandi. Dia tak mau, saat lelaki itu terbangun melihat wajah kusamnya yang belum dicuci.
Aiden terbangun. Mendapati Rinai tengah tersenyum padanya. Aiden jadi salah tingkah. Apalagi, keduanya hanya berdua saat ini.
"Kemana, Tante?''
Aiden yang salah tingkah menjadi salah fokus karena Rinai. Yang dia tanyakan justru Mamanya. Seharusnya dia bertanya tentang keadaan Rinai.
"Mama sedang ke kantin. Katanya mau beli sarapan," jawab Rinai.
"Oh, begitu."
Keduanya terdiam, lalu tertawa bersama. Keadaan canggung itu sungguh membuat keduanya merasa tidak nyaman.
Klek...
Seseorang masuk ke dalam kamar Rinai. Dialah Anya yang baru bisa datang.
"Selamat pagi, Rinai?" sapa Anya.
Rinai tersenyum walau sebenarnya kecewa. Kenapa Anya harus datang disaat momen-momen seperti ini? Ingin sekali Rinai egois, namun dia ingat kalau Anya lah yang jadi kekasih Aiden saat ini.
"Selamat pagi, Coach." Rinai masih saja tersenyum.
"Hei, kita kan berteman. Panggil saja Kakak," pinta Anya.
Rinai mengangguk dan tersenyum. Entah kenapa, ucapan Anya seperti tidak benar dari hatinya.
"Wah, ada Anya juga?" sapa Rindu.
Sekilas, Rindu melirik Rinai. Dia tahu, Putrinya merasa canggung bila ada Anya di antara Rinai dan Aiden. Mau apalagi? Kekasih Aiden adalah Anya.
Tak lama berselang, Ziao dan Orion datang juga. Mereka datang dengan tergesa-gesa.
"Kalian sudah lihat artikel pagi ini?" tanya Ziao.
Tanpa salam tanpa kata, Ziao langsung saja ke intinya.
"Memangnya kenapa?"
Aiden segera mengambil ponsel miliknya. Melihat berita pagi ini. Namanya dan Rinai menjadi trending Twitter. Bahkan beberapa media membicarakan keduanya. Anya terdiam, karena dia juga baru dengar.
Aiden membuka ponsel. Banyak sekali DM yang dia terima dari penggemarnya. Banyak yang menyuruhnya memutuskan Anya dan memilih Rinai saja. Ada juga yang memintanya berduet dengan Rinai. Ada juga yang bilang kalau Anya tak tulus mencintainya dan beda dengan Rinai yang bisa menyelamatkannya.
Anya sendiri merasa kepo dan akhirnya mengecek Twitter. Dia juga terkejut melihat banyak komentar di IG miliknya.
"Kenapa diam saja saat melihat Aiden celaka? Pacarnya itu kamu, bukan Rinai."
"Pacar tak berguna. Aku berpindah haluan dari Anya menjadi Rinai. #AidenRinai."
Hastag Aiden Rinai menjadi viral di IG. Bahkan semua foto-foto mereka tadi malam berkeliaran di beranda IG. Membuat hati Anya semakin panas saja.
"Kamu tenang saja. Jangan pikirkan gosip apapun. Yang terpenting sekarang adalah kesembuhan kamu," ucap Orion.
Bukannya kenapa. Rinai hanya menangkap sinyal tidak enak dari raut wajah Anya untuknya. Jelas sekali kalau dia cemburu berat.
"Ada apa ini?"
Arlita juga tiba dan langsung menunjukkan wajah tak bersahabat dengan Anya. Dia justru tersenyum pada Rinai seorang.
"Rinai, Tante bawakan sup buat kamu. Katanya baik untuk luka agar cepat kering." Arlita berjalan melewati Anya dan menuju Rinai. Arlita bahkan menyuapi Rinai, sampai membuat Rinai merasa tak nyaman.
"Gak perlu repot-repot, Tante." Rinai hendak menolak, tapi Arlita memaksa.
"Kalau begitu, biar Aiden saja yang menyuapi kamu," suruh nya.
Padahal keduanya baru kenal kemarin, tapi sudah terlihat sangat dekat. Bahkan mengalahkan Anya yang semestinya ada di posisi Rinai mengingat kalau dia adalah kekasihnya.
"Biar aku saja, Tante." Orion mengambil mangkuk sup yang ada di tangan Arlita. Dia tak mau menimbulkan keretakan antara Anya dan Aiden sampai dia sendiri yang turun tangan.
"Anya, ayo kita pulang!" ajak Aiden.
Aiden mulai merasa tak nyaman dengan keadaan dimana Mama dan kekasihnya saling perang dingin. Anya pun demikian. Dia memilih untuk setuju dan pulang bersama Aiden.
"Mama gak mau pulang?" tanya Aiden.
"Enggak. Mama masih mau disini bersama Rinai."
Ziao memberikan kode bahwa Mamanya akan ada bersamanya. Dia juga akan bertanggung jawab dan mengantarkannya nanti. Ziao memberikan waktu agar Aiden dan Anya bisa bicara berdua.
"Kamu marah pada Mama?" tanya Aiden.
Anya hanya tersenyum tipis. Mau mengatakan marah pun tak ada gunanya. Anya tahu, Aiden akan tetap membela Mamanya.
"Tidak. Bukankah kami memang biasa seperti ini?" Jawaban Anya membuat Aiden diam. Entah sampai kapan, kekasih dan Mamanya akan satu arah. Selalu saja berdebat tanpa henti. Aiden kadang pusing saat mendengar mereka saling melontarkan perang dingin.
"Kamu tidak marah dengan berita pagi ini, kan?" tanya Aiden lagi.
"Sebenarnya aku marah dan kesal. Bagaimanapun, kamu adalah kekasihku. Kenapa Media justru memojokkan aku dan malah mendukung Rinai?" ucap Anya kesal.
"Jangan masukkan hati. Kamu tahu sendiri kan? Berita Media akan menghilang dengan seiring berjalannya waktu."
Anya hanya tersenyum singkat. Mungkin bagi Aiden ini biasa saja. Berbeda dengan perasaan Anya yang mulai berkecamuk beberapa bulan ini. Terlebih, melihat Aiden yang perhatian pada Rinai.
Di rumah sakit, Rose baru saja tiba dan membawa Astri bersamanya. Ziao yang melihatnya merasa sangat senang.
"Lihat apa yang kita bawa," ucap Rose.
Astri memberikan Sweater kesayangan Rinai yang berwarna pink itu. Rinai berkata, Sweater itu membawa keberuntungan untuknya.
"Aduh, kenapa lu bawa kemari?" ucap Rinai.
Rinai takut Aiden melihatnya dan merasa bingung. Mengapa sweater buatan neneknya malah menjadi miliknya? Dia takut kalau Aiden berasumsi lain terhadapnya. Rinai segera menyembunyikan Sweater itu agar tak ketahuan.
"Wah, ada adik manis disini?" Arlita belum pulang. Dia betah karena ada Rindu yang ternyata sangat cocok dengannya.
"Salam, Tante." Astri memberikan salam sapa pada Arlita.
Rose pun demikian, setelahnya mengajak Ziao untuk pergi ke taman bersamanya. Dia jenuh jika harus mendengarkan dua Mama itu bergosip. Sama sekali tak cocok dengannya.
"Kamu sudah dengar berita pagi ini?" tanya Rose pada Ziao.
Ziao mengangguk. Dia juga tak menyangka kalau akhirnya akan seperti ini.
"Aku membaca beberapa komentar yang mendukung Rinai dan Aiden." Rose berbicara serius pada Ziao.
"Bukan hanya itu. Ada beberapa yang malah menghina Rinai dan tetap berada dipihak Anya. Media terlalu membesarkan sesuatu," jawab Ziao.
"Apakah kamu tidak berpikir kalau Aiden menyukai Rinai?"
Pertanyaan dari Rose membuat Ziao terdiam, lalu tertawa kemudian.
"Apanya yang lucu?" tanya Rose.
Rose merasa tak ada yang lucu dari pertanyaannya itu. Dan mengapa Ziao sampai menganggapnya lucu?
"Semua tahu, seberapa cintanya Aiden pada Anya. Semua anak Star tahu itu. Terutama para teman dekat Aiden sendiri."
Rose menghela nafas sesaat. Merasa sangat kasihan dengan cinta sepihak yang Rinai rasakan. Rupanya, Aiden sangat cinta pada Anya.
"Apakah tidak ada kemungkinan Aiden berubah perasaannya?" tanya Rose lagi.
"Sepertinya tidak. Mungkin hanya Tante Arlita saja yang menjadi sedikit penghalang untuk hubungan mereka. Tinggal menunggu restunya saja dan mungkin setelah itu mereka akan..."
Stop. Rose tak bisa mendengar apa yang Ziao katakan selanjutnya.
"Jangan lanjutkan. Aku mengerti. Aku juga akan membantu Rinai untuk menghindari rumor tersebut." Ada nada kesal dari ucapan Rose.
Malang sekali nasib Rinai, sahabatnya itu. Menyukai lelaki yang ternyata mencintai orang lain. Rose tahu dengan benar, Rinai bisa melakukan apapun untuk orang yang dia sayang. Dia bahkan sampai terluka saat menyelamatkan Aiden. Rose tahu, betapa terlukanya Rinai mengetahui Aiden sangat mencintai Anya.
"Kamu kenapa marah? Aku ada salah?" tanya Ziao khawatir. Dia takut melakukan kesalahan.
"Tidak ada. Aku yang salah karena menanyakan hal ini. Seharusnya aku tidak membiarkan Rinai dekat dengan Aiden sampai muncul rumor tentang mereka. Gila sih! Riani nekat sekali emang." Rose mengatakan itu sesuai dengan perasaannya.
"Orion yang suka pada Rinai," ucap Ziao memberitahu.
"Ya, aku tahu itu. Andai saja Rinai juga suka pada Orion. Akan beda lagi ceritanya. Mungkin saja, Rinai tidak akan mengalami hal ini."
Rose merasa cinta ini sangat rumit. Orion mencintai Rinai dan Rinai mencintai Aiden. Sayangnya, Aiden dan Anya saling mencintai satu sama lain. Yang terluka dalam cinta ini adalah Orion dan Rinai sendiri. Rose sangat menyayangkan hal ini. Kenapa cinta bisa begitu membingungkan? Rose juga tak mengerti.
"Baiklah, ayo kembali!" ajaknya.
Rose mulai bangkit. Hampir saja dia tersandung batu di depan. Hampir pula dia terjatuh kalau Ziao tak menangkapnya. Mereka berdua saling menatap. Rose menatap wajah tampan Ziao dari dekat. Jantungnya berdegup cepat dan ini belum pernah dia alami sebelumnya.
Sama halnya dengan Rose, Ziao merasa ada yang salah dengan hatinya. Rose sangat menggoda, cantik dan menarik. Siapa pun akan jatuh cinta padanya dan dia mengalami hal itu. Ia tahu dulu sering sekali menganggap perasaan Rose hanya sekedar tabu tapi tidak dengan sekarang bukan? Bagaimana mungkin Rose akan dianggap hanya angin belaka saja?
"Ah, terima kasih. Hampir saja." Ziao mulai menatap Rose dengan tatapan anehnya.
Lamunan Ziao terbuyarkan saat Rose mulai bersuara. Mereka pun akhirnya memilih kembali ke kamar Rinai.