Rinai merasa sedih ketika mendengar ucapan Anya siang tadi. Perkataan Anya selalu saja terngiang di telinganya. Mungkin memang dia yang keterlaluan karena tak bisa menjaga jarak dengan Aiden. Mungkin juga, Rinai yang lupa menahan perasaannya dan tanpa sengaja menunjukkan rasa sukanya itu.
"Lu kenapa, Nai? Kok dari tadi bengong," tanya Rose.
Roseline merasa ada yang salah dengan sahabatnya itu. Dia menyadari hal itu sejak datang barusan. Raut wajah Rinai menunjukkan ketidaksenangan hari ini. Padahal, Rose tahu kalau dia dan Aiden baru melakukan Live bersama.
"Cerita sama gue. Lu ingat, Nai. Gue ini sahabat lu." Rose mencoba membujuk Rinai sampai akhirnya, air mata Rinai tumpah seketika.
Air mata yang sedari tadi Rinai tahan dan sembunyikan akhirnya pecah juga. Setidaknya, dia lega karena bisa menangis. Melihat Rinai menangis, Rose seketika memeluknya.
"Apa gue salah kalau gue suka sama Aiden? Gue juga gak mau ini terjadi. Tapi perasaan itu tiba-tiba aja datang."
Rose diam. Akhirnya, Rinai pun mengakui perasaannya. Baru kali ini Rose melihat sahabatnya terluka.
"Lu gak salah, Nai. Siapapun berhak mencintai. Cinta gak pernah salah, Nai." Rose memaklumi hal itu. Rinai mencintai lelaki yang salah karena Aiden telah memiliki kekasih.
"Kenapa, Rose? Kenapa gue justru suka sama Aiden yang jelas-jelas cintanya sama Anya," ucap Rinai sedih.
"Lu gak salah, Nai. Lu juga gak bisa ngatur yang namanya perasaan. Cinta itu datang dengan sendirinya, kan?" Rose masih terus berusaha menenangkan Rinai.
"Tapi, Rose. Dia enggak suka sama gue. Cinta gue ini cuma cinta sepihak aja," ucap Rinai dengan sendu.
"Lu pasti bisa lupain dia, Nai. Pelan-pelan. Gue juga bakalan bantuin lu, kok."
Rinai hanya diam dan terus menangis di pelukan Rose. Diapun menceritakan tentang Anya yang tadi menyalahkan dirinya. Rinai jadi tak enak hati pada Anya. Rinai baru sadar, kalau dia melakukan satu kesalahan.
Dari luar pintu, Rindu mendengar semuanya. Dia juga ikut sedih saat mendengarnya. Dia juga bersyukur karena ada Rose yang senantiasa menjaga Rinai dan mau mendengarkan curhatnya. Sedihnya, Rinai merasakan cinta sepihak yang menyakitkan. Rindu tahu dengan benar, Rinai belum pernah mencintai lelaki lain kecuali Papanya. Dan Aiden adalah lelaki yang beruntung karena menerima cinta Rinai. Sayangnya, Aiden justru memiliki kekasih. Rindu berjanji, akan membuat Rinai melupakan Aiden.
"Udah ya? Gue yakin cepat atau lambat, lu bakal lupa sama dia. Gue juga yakin kalau lu nanti bakalan dapat cowok yang lebih keren dari Aiden," ucap Rose.
Rinai tersenyum, bahkan tertawa kecil. Dia menatap Rose yang sok tahu itu. Sahabatnya itu memang paling bisa kalau soal menyenangkannya.
"Bagaimana dengan Orion? Atau Ziao? Gue bisa membuat mereka suka sama lu. Mereka enggak kalah keren dari Aiden, kan? Lu mau siapa, tinggal bilang aja. Ajun, Cakra atau Mr. Felix?"
Rinai dan Rose tertawa bersama. Ya, walaupun Mr. Felix keren pada masanya, tak mungkin juga Rinai suka pada lelaki beristri itu.
"Gila ya, Lu." Rinai dan Rose masih saja tertawa.
Rindu kemudian masuk dan ikut bergabung. Berpura-pura tak tahu soal tadi.
"Kalian bercandain apa nih? Kok aku enggak di ajak?" Rindu ikut tersenyum. Berpura-pura kalau dia tak tahu apapun.
"Enggak, Tante. Kita lagi ngomongin Mr. Felix yang keren itu. Komposer terkenal," sindir Rose membuat Rinai tertawa.
"Kita foto bareng yuk!" ajak Rose.
Ketiganya kemudian foto bersama. Anggrek ungu yang tadi Rinai taruh di atas meja juga ikut terfoto. Tanpa Rinai sadari, diapun memposting foto tersebut di IG miliknya.
Tak lama berselang, banyak komentar yang memenuhi unggahan terbarunya. Rinai mulai membacanya satu persatu.
"Bunga anggrek itu pasti dari Aiden."
"Bunga dari Aiden pastinya."
"Siapa tahu dari Fans." Yang lain membalas.
"Itu bunga dari Aiden. Tadi pagi, dia yang membelikannya untuk Rinai. Dia beli di tokoku," ucap yang lain.
Komentar itu segera banyak yang suka. Semua justru berbondong-bondong untuk membalas komentar tersebut. Mereka berasumsi kalau Aiden dan Rinai benar-benar memiliki hubungan khusus.
Rinai malas lagi untuk melihat ataupun membaca komentar dari para pengikutnya. Jika dia membalas, maka akan timbul asumsi lain. Rinai terlalu jenuh dan akhirnya mematikan kolom komentar. Ingin menghapus postingan itu tapi sudah terlanjur.
Suara notifikasi beberapa kali berbunyi. Pada awalnya Rinai mencoba untuk mengabaikannya. Akan tetapi, bunyi itu terus mengganggunya. Diapun terpaksa membukanya. Ada DM di IG nya. Alangkah terkejutnya Rinai saat ada akun fake yang menghina bahkan mencaci maki dirinya. Mengatakan Rinai itu murahan dan juga penggoda. Benar-benar membuat Rinai emosi.
"Kenapa lagi, Nai?" tanya Rose.
"Enggak ada. Gue matiin ponsel aja. Mau istirahat." Rinai membaringkan tubuhnya dan mencoba memejamkan mata.
Rinai berharap, hari esok akan lebih baik lagi. Rinai juga berharap, secepatnya perasaannya pada Aiden bisa menghilang. Walau Rinai tahu, hak itu sangat sulit untuknya.
(Bagian Kedua)
Hari ini adalah hari kepulangan Rinai. Terpaksa, untuk sementara waktu Rinai harus memakai tongkat lebih dulu.
"Tara!"
Rinai tertegun dan tak menyangka beberapa anak Star datang untuk mengantarnya pulang. Ada Orion, Ziao, Mr. Felix dan juga ada Aiden maupun Anya. Rinai tersenyum, walau seharusnya dia mulai harus menghindari Aiden.
"Selamat Rinai! Atas kepulangan kamu," ucap Aiden.
Orion sendiri membawa sebuah boneka Teddy Bear yang cukup besar untuk Rinai.
"Terima kasih semuanya," ucap Rinai.
Mereka semua datang untuk menjemput sekaligus merayakan kepulangan Rinai. Sayangnya, ada yang berbeda antara Rinai dan Aiden. Karena hari itu, mereka berdua sama-sama saling menghindar satu sama lain. Tujuan mereka sama, agar perasaan nyaman itu hilang. Aiden tak ingin perasaan yang lebih lanjut, begitu pula dengan Rinai, tak ingin perasaan itu lebih jauh lagi.
"Rinai bisa ikut mobil kami," ajak Anya.
"Orion. Kamu bawa mobil, kan? Biar Rose dan Rinai ikut kamu." Rindu menyela perkataan Anya. Dia hanya ingin Rinai dan Aiden menjaga jarak. Rindu tak mau putrinya terluka lebih jauh.
"Ah, iya. Kita sama kamu aja, Ya?" ucap Rose menyetujui.
"Sama kita, Nai?" tanya Orion.
"Tentu saja." Entah kenapa, Aiden tidak suka dengan hal itu. Dia merasa kalau perhatian Rinai untuknya berkurang. Padahal, Aiden bertekad untuk menjauhinya.
"Ini buat kamu," ucap Orion seraya memberikan boneka besar itu. Rinai tersenyum dan menerimanya dengan senang hati.
"Aku berharap, boneka ini akan menemani kamu." Orion tersenyum manis.
"Cie, Cie!" Rose menggoda Orion membuat Aiden semakin tak suka.
"Mama sudah selesai dengan semua administrasinya. Ayo pulang sekarang!" ajak Rindu.
Merekapun akhirnya pergi bersama. Anya sendiri merasa senang karena sejak tadi, Aiden maupun Rinai tak menunjukkan rasa saling peduli.
Rinai untuk sementara waktu pulang ke rumah Mamanya. Semua anak Star mengantarnya sampai rumah. Mereka juga merayakan kesembuhan Rinai.
Anya mengantar Rinai ke kamarnya. Juga ingin bicara empat mata dengannya.
"Rinai. Boleh aku bicara?" tanya Anya.
Rinai mengangguk. Menyuruh Anya untuk duduk di atas ranjangnya.
"Iya, kak. Aku juga," ucap Rinai.
"Mengenai waktu itu, aku minta maaf. Aku benar-benar menyesal. Aku tidak tahu seperti apa pikiranku sampai bisa mengatakan hal itu. Aku minta maaf. Kamu boleh membenci aku," ucap Anya.
Rinai sendiri dapat melihat rasa bersalah Anya. Dari matanya, Rinai melihat sebuah penyesalan.
"Kak Anya enggak salah. Aku yang alah, Kak. Seharusnya aku memikirkan apa yang kakak rasakan waktu itu. Aku benar-benar sangat egois." Rinai tak mau menyalahkan Anya, karena dirinya juga bersalah.
"Terima kasih Rinai. Aku tahu kamu gadis yang baik. Aku salah menilai mu. Maafkan aku karena sudah sempat salah paham," ucap Anya sungguh-sungguh.
"Baik, Kak. Aku juga minta maaf. Aku janji, takkan ada hubungan lain antara aku dan kak Aiden kecuali urusan pekerjaan." Rinai sampai melakukan hal itu.
"Aku percaya padamu!" ucap Anya.
Keduanya akhirnya berbaikan. Sekali lagi, Rindu mendengarkan hal itu. Dia sedih karena putrinya sampai harus melakukan hal itu. Hal yang seharusnya sama sekali tak perlu dia lakukan.
Setelah Anya keluar, giliran Orion yang pamit pulang. Masih dengan Teddy Bear yang dia gendong. Membuat Rinai merasa lucu dengannya.
"Aku harus meletakkannya dimana?" tanya Orion.
Rinai tak berhenti tertawa melihat Orion yang kesusahan untuk meletakkan boneka tersebut.
"Disini, Kak. Di dekatku," jawab Rinai.
Orion meletakkannya di atas ranjang. Dekat dengan tempat Rinai berada.
"Lekas sembuh untukmu," ucap Orion.
Rinai tersenyum lalu mengangguk. Dia beruntung bisa memiliki teman sebaik Orion. Sayang, tak ada perasaan apapun untuk Orion darinya.
"Terima kasih, Kak." Rinai diam. Terjadi kecanggungan antara mereka berdua.
"Aku akan menanyakan keadaanmu setiap hari. Jadi, jangan bosan. Satu lagi, anak Star menunggumu kembali," ucap Rinai.
Deg...
Aiden tak sengaja melihat mereka berdua saling bicara dan terlihat cukup dekat. Aiden ingin pamit. Namun, segera dia urungkan saat melihat Rinai dan Orion bersama. Saat ini, Aiden cukup terkejut karena melihat Sweater yang tergantung di tembok kamar Rinai. Aiden tahu dengan jelas kalau itu adalah Sweater buatan neneknya. Tapi bagaimana bisa ada pada Rinai? Atau memang dia yang salah? Tapi tidak mungkin, karena Aiden hapal betul. Sweater itu berwarna pink dengan dua saku dia masing-masing sebelah kanan dan kiri.
"Aiden, ayo pulang!" ajak Anya.
Suara Anya membuyarkan lamunan Aiden. Bukan hanya Aiden, tapi Orion dan Rinai. Mereka tak menyadari sejak kapan Aiden ada di depan pintu.
"Rinai, kita pamit pulang." Aiden terpaksa mengatakannya. Padahal, sebelumnya dia hendak mengurungkannya.
"Iya. Aku juga pamit." Orion juga melangkah keluar dan ikut Aiden maupun Anya. Tak lupa, mereka pamit pada Rose dan Rindu.
"Hati-hati di jalan!" ucap Rose.
Rose mengantar mereka sampai depan. Setidaknya, dia memperlakukan tamu dengan sangat baik.
"Ya Ampun!" Rinai menyadari kalau Sweater itu tergantung di kamarnya.
"Dia sadar enggak ya?" Rinai bertanya-tanya dalam hatinya.
Celaka kalau sampai Aiden sadar dan menanyakannya. Namun, Rinai tahu kalau Aiden sadar, mungkin dia akan menanyakannya.