Aiden mengetuk pintu kamar Rinai beberapa kali, sampai perempuan itu menyadari keberadaannya.
"Selamat pagi!" ucapnya.
Rinai tersenyum karena kedatangan Aiden yang tiba-tiba itu. Tak disangka, lelaki itu masih peduli padanya.
"Aku bawa beberapa bunga dan paket dari fans kamu. Mereka tadi ramai sekali ada diluar. Sayangnya, Security melarang mereka masuk. Melihatku, mereka jadi tambah ramai. Akhirnya, aku kasih solusi dan mengambil hadiah itu. Masih banyak juga di depan," ucap Aiden panjang lebar.
Rinai merasa senang. Bukan karena hadiah-hadiah yang dia dapatkan. Memang, dia senang karena para fansnya peduli padanya. Yang paling membuatnya senang, karena Aiden yang membawa hadiah-hadiah itu.
"Terima kasih banyak, Kak." Rinai tersenyum lalu mengambil bunga yang ada di tangan Aiden. Kebetulan sekali, bunga Anggrek ungu itu adalah kesukaannya.
"Kamu tahu tidak? Bunga anggrek melambangkan persahabatan," ucap Aiden.
Rinai mengangguk. Dia jadi kepo, siapa fans yang sampai mengetahui bunga kesukaannya itu.
"Bunganya cantik sekali." Rinai menaruh bunga itu di meja dekatnya.
"Sudah lebih baik?" tanya Aiden.
"Kata dokter, lukaku mulai kering. Mungkin dua hari lagi baru bisa pulang," ucapnya.
Tak lupa, Aiden menaruh buah untuk Rinai dan mengupasnya.
"Syukurlah! Aku lega mendengarnya."
Aiden tersenyum lalu menarik kursi dan mendekat ke arahnya. Dia mengulurkan buah yang baru saja dia kupas untuk Rinai. Gadis itu bersyukur karena dia selesai merias wajahnya tipis-tipis. Kalau tidak, penampilannya akan berantakan di depan Aiden.
"Ada banyak komentar yang ingin tahu keadaan kamu. Mereka terus mengirim DM ke IG ku. Memaksaku untuk setidaknya memposting fotomu."
Aiden menatap Rinai dengan serius. Si gadis justru tersenyum.
"Kenapa tidak live saja sekalian?" tanya Rinai.
Aiden balik tersenyum. Dia tak menyangka kalau Rinai akan setuju.
"Bolehkah?"
"Kenapa tidak?"
Keduanya tertawa bersama, sampai Aiden mulai menghidupkan ponsel dan memulai Live IG bersama Rinai.
Tak perlu lama. Live itu dilihat oleh puluhan ribu pengikut Aiden. Rinai dan Aiden memberikan salam untuk semua yang tengah menonton. Semua memberikan komentar positif untuk Live tersebut. Banyak dari mereka menyuruh mereka berpacaran saja.
"Ini yang kalian tunggu, kan? Rinai baik-baik saja," ucap Aiden sembari tersenyum ke arah Camera.
"Kalian tenang saja. Aku akan segera sembuh dan kembali menyanyi untuk kalian," lanjut Rinai.
Beberapa komentar meminta merek berdua untuk duet saat ini. Aiden dan Rinai saling pandang untuk sesaat.
"Sepertinya Rinai sedang tidak enak badan," ucap Aiden.
"Ah, tidak Kak. Yang sakit itu kakiku. Dan suaraku baik-baik saja. Jangan kecewakan mereka. Setidaknya satu lagu saja," ucap Rinai.
Aiden tersenyum lalu mengangguk. Dia melihat gitar milik Orion di sofa. Kebetulan sekali, diapun mengambil gitar tersebut.
Para pengikut Aiden meminta mereka menyanyikan lagu duet yang tak sempat mereka nyanyikan di atas panggung tempo hari. Aiden pun memberikan isyarat untuk Rinai. Dia mulai memetik gitar itu.
Penonton Live tersebut mencapai seratus ribu. Sebuah Live yang memecahkan rekor Aiden. Semua terfokus pada keduanya. Rinai mengambil bagian pertama, membuat netizen IG memberikan pujian atas merdunya suara gadis itu. Kini giliran Aiden yang menyanyikan lirik lagu dari 'Become Trhue' yang membuat penonton semakin riuh. Mereka benar-benar memberikan komen positif walau tak sedikit yang memberikan komentar negatif untuk Rinai.
"Rinai itu cantik dan manis. Lebih baik dengannya saja."
"Anya memang cantik, tapi setelah melihat duet ini, aku lebih suka pada Rinai. Jadian deh!"
"Rinai sok kecakepan. Lebih baik Anya seribu kali."
"Pokoknya sekarang aku fans dari Airin. Aiden dan Rinai."
"Wah, cocok juga ya? Airin. Kita bikin Fans page nya mereka yuk!"
Stop. Anya mulai kesal ketika Tere membacakan komentar tentang duet Live IG Rinai dan Aiden. Dia muak dengan komentar-komentar itu. Anya merasa tersisihkan saat ini. Aiden juga, tak bilang apapun tentang ini. Dia tak pamitan ketika hendak menengok Rinai ke rumah sakit.
"Berhenti. Aku muak dengan Rinai. Selalu saja dia yang jadi pusat perhatian sekarang," ucap Anya kesal.
Tere mendekat dan menghampirinya. Menunjukkan Live yang sedang berlangsung saat ini.
"Sok kecakepan banget sih dia. Kamu yakin dia enggak ada hati sama Aiden? Dari tatapannya aja, dia kelihatan suka sama Aiden," ucap Tere memprovokasi.
"Entahlah, aku juga gak tahu. Lama kelamaan, aku juga kesal sih. Seakan-akan, dia yang cari perhatian."
Anya masih kesal dan mematikan ponsel Tere. Dia tak sanggup lagi jika harus menyaksikan Live tersebut. Cemburu? Ya, tentu saja. Siapa yang tak cemburu melihat kekasihnya dengan perempuan lain? Untuk saat ini Anya percaya pada Aiden. Dengan Rinai, dia mulai tak percaya. Seharusnya Rinai bisa menghindari Aiden dan menjaga perasaannya.
"Mau kemana, Nya?" tanya Tere.
"Kemana lagi, nyusul Aiden," jawabnya singkat.
Anya meninggalkan Tere sendirian. Dia hendak menemui Rinai di rumah sakit. Tak bisa membiarkan Aiden dan Rinai berdua saja.
"Baguslah! Kamu enggak boleh diam aja, Nya." Tere bergumam dalam hati.
(Bagian Kedua)
Anya datang ke rumah sakit dengan wajah kesalnya. Dia harus menegur Rinai untuk hari ini. Bukankah Rinai tahu kalau Aiden adalah kekasihnya? Lalu mengapa sama sekali tidak mau menjaga jarak? Setidaknya Anya tidak boleh tinggal diam saja.
Klek!
Anya membuka pintu. Sosok Aiden tak ada. Hanya tinggal Rinai yang ada saat ini, dan itupun sendirian saja.
"Kak Anya?" ucap Rinai.
Rinai menatap ke arah Anya. Sementara Anya sendiri menghampirinya. Ini waktunya memberikan teguran menurut Anya.
"Kemana Aiden?" tanya Anya.
"Kak Aiden baru saja keluar. Dia..."
Belum sempat melanjutkan kata-katanya. Anya sudah memotong ucapan Rinai.
"Baguslah tidak ada dia. Aku harus mengatakan sesuatu mengenai ini. Tolong, jangan terlalu dekat dengan Aiden. Dia itu kekasihku. Ah, maaf. Maksudku bukan begitu. Kamu tahu, kan? Dia dan aku punya hubungan. Aku tidak mau para fans kami memiliki pandangan yang berbeda mengenai hubungan kita. Tolong, jagalah hal itu. Aku berbicara seperti ini sebagai Kakak pada adiknya. Kamu juga baru di dunia Entertainment ini. Jadi, jagalah karirmu baik-baik." Anya mengatakan hal itu tanpa memberi Rinai kesempatan untuk menjelaskannya.
Klek!
Suara pintu kembali dibuka. Aiden kembali dan membawa dua kotak makanan. Anya berpura-pura seolah tak mengatakan apapun.
"Aiden!" ucapnya.
Anya tersenyum sembari mendekat dan menggamit lengan Aiden. Memberikan tanda pada Rinai kalau Aiden adalah miliknya saja.
"Kenapa kesini enggak bilang-bilang? Aku kan bisa minta Mr. Felix buat anterin kamu. Atau tidak, Ziao dan Orion juga bisa."
Percakapan keduanya membuat Rinai terdiam. Dia benar-benar disadarkan kalau ternyata Aiden memang bukan untuknya. Dan selamanya takkan pernah bisa dia gapai.
Aiden tak jadi makan siang dengan Rinai karena Anya. Dia memilih untuk mengantar Anya pulang. Gadis itu terus merengek padanya dan meminta untuk segera pulang. Aiden pun tak bisa menolaknya.
Aiden dan Anya sudah sampai di depan Agensi. Aiden menyuruh Anya untuk turun saja.
"Anya, kamu turun saja dulu. Aku masih ada keperluan."
Anya tersenyum, mendekatkan wajahnya pada Aiden dan hendak menciumnya.
"Anya, hentikan ini!" ucap Aiden.
Entah kenapa, Aiden merasa Anya cukup agresif saat ini. Seperti bukan Anya yang dia kenal dengan baik.
"Kenapa? Kenapa menolak ku?" Anya terlihat kecewa dengan penolakan Aiden.
"Ini tidak benar. Kalau ada yang melihat kita, bisa ada Scandal nanti," ucap Aiden.
Anya tertawa kecil. Dia tahu, dibalik alasan Aiden pasti karena Rinai.
"Kamu berubah. Bukan Aiden yang aku kenal dulu," ucap Anya kesal.
"Bukan aku yang berubah, tapi kamu. Kamu bukan Anya yang aku kenal. Anya yang aku kenal bukan seperti ini. Yang menghakimi orang lain tanpa tahu apa yang sebenarnya. Tadi aku dengar kamu mengatakan banyak hal pada Rinai. Sudah aku katakan kalau dia dan aku hanya berteman. Aku berkunjung dan semua perhatian itu karena dia menyelamatkan aku," ucap Aiden.
Anya terdiam. Sama sekali tak menyangka kalau Aiden mendengar hal itu. Anya jadi merasa semakin bersalah. Apakah benar kalau dirinya saja yang terlalu posesif pada Aiden?
"Turunlah!" pinta Aiden.
Anya lalu turun tanpa kata. Namun, sebelum Aiden pergi, dia mengatakan maaf.
"Maafkan aku!" ucap Anya.
"Jangan minta maaf padaku. Yang kamu sakiti adalah Rinai," jawab Aiden.
Aiden tahu, seberapa sakit hatinya Rinai dengan ucapan yang Anya berikan padanya. Anya banyak berubah. Bukan seperti Anya yang Aiden kenal dulu. Lemah lembut dan sabar. Sekarang, Anya lebih banyak cemburu padanya bahkan sering menuduh tanpa alasan.
Aiden pergi, meninggalkan Anya yang masih terpaku di depan gedung Agensi. Dia benar-benar salah karena melakukan hal itu tanpa berpikir
Panjang dulu.
Aiden terdiam sepanjang perjalanan. Dia sendiri merasa sangat bingung dengan apa yang dia rasakan saat ini. Satu sisi, dia tahu hubungannya dan Anya adalah sepasang kekasih. Satu sisi, dia tahu kalau ada ketertarikan untuk Rinai dari hatinya. Aiden seketika merasa menjadi lelaki paling egois. Setelah kesembuhan Rinai, dia akan memberi jarak antara keduanya. Dia tak mau terus menerus larut dalam hubungan dan perasaan itu. Ada hati Anya yang harus dia jaga. Aiden ingat, sejak awal yang dia cintai adalah Anya, dan seterusnya akan begitu.
"Sayang!" Arlita senang saat melihat Aiden datang.
"Mama, maafkan aku baru datang."
Karena berdebat dengan Anya barusan, Aiden jadi telat.
"Enggak masalah, sayang. Mama tadi nonton Live kamu sama Rinai. Kalian serasi ya?" ucap Arlita mencoba untuk memancingnya.
"Ma, Aiden dan Rinai hanya teman dan rekan saja. Mama tahu, kan? Anya lah kekasihku."
Bukannya tidak sopan. Aiden tahu kalau Mamanya menyukai Rinai, dilihat dari sikap dan caranya memperlakukan Rinai. Sayangnya, mulai saat ini Aiden harus menjaga perasaan Anya. Aiden sadar kalau perubahan Anya karena rasa cemburu untuknya.
"Aiden. Mama enggak bilang kamu harus sama Rinai. Mama cuma bilang kalau Rinai itu gadis baik. Dia sopan dan dia juga peduli sama kamu. Mama enggak mau maksa kamu buat ninggalin Anya. Mama cuma mau kamu berpikir dengan benar. Ikuti kata hati kamu. Kalau kamu memang sudah yakin dengan Anya, mau bagaimana lagi? Mama tetap harus menyetujuinya. Ini demi anak Mama."
Aiden terdiam. Mamanya benar. Aiden harus harus berpikir dengan benar. Jangan sampai nanti dia menyesal dengan pilihannya itu.
"Iya, Ma. Aku pasti lakukan itu. Aku juga yakin, kalau Anya memang yang terbaik buatku," ucap Aiden penuh keyakinan.
"Baiklah. Mama dukung apa pun yang menjadi pilihan kamu," ucap Arlita pasrah, walaupun sebenarnya dia sedikit tidak suka dengan pilihan Aiden.