Rinai sudah pulih dan sudah saatnya kembali ke agensi. Luka di kakinya juga sudah sembuh dan hanya tersisa bekasnya saja. Dengan krim pemudar luka, nantinya juga akan hilang.
"Selamat datang, Rinai!"
Orion menyambut kembalinya Rinai dengan perasaan bahagia. Merasa sangat senang karena dapat sering bertemu dengannya lagi. Semua ikut menghampiri Rinai saat melihatnya datang. Kecuali Aiden yang hanya diam dan tersenyum dari kejauhan.
"Sebenarnya, aku ingin menyapamu, Nai. Sayangnya, ada Anya dan aku tidak bisa," ujar Aiden membatin.
Rinai melangkah ke arah Aiden dan tersenyum manis padanya. Seketika, degup jantung Aiden berpacu lebih cepat.
"Hai!" Rinai melambai ke arah Aiden membuat lelaki itu terdiam sembari menahan debaran jantungnya. Andai saja, Aiden belum bersama Anya. Mungkin dia akan berlari dan memeluknya.
Semakin dekat, Rinai hampir sampai ke tempat Aiden. Setelah ini, Aiden harus tegas dan menolak perempuan itu. Rinai menatap Aiden sejenak lalu menunduk seraya memberi hormat padanya.
Aiden terdiam. Merasa dipermainkan oleh gadis yang baru saja lewat itu.
"Apa kabar, Nai? Aku kangen sama kamu!" Gena dan Rinai saling berpelukan.
Melihat hal itu, Aiden malu sendiri. Dia pikir, Rinai akan pergi padanya. Rupanya, sapaan maupun senyuman itu untuk Gena.
"Aku ikut terkejut saat itu, Nai."
Masih dengan obrolan yang sama seputar kecelakaan yang Rinai alami. Keduanya meninggalkan Aiden yang masih terpaku di tempatnya. Mereka kemudian berkeliling bersama. Saling bercerita sebelum sesi latihan dimulai. Dimana semua anak Star berkumpul.
"Aku lama tidak mendengar kabar Wintang. Terakhir kali, aku dengar dia ke luar negeri," ucap Rinai.
"Oh, si Wintang. Sejak kepulangannya, dia tak berhenti latihan. Selalu saja memainkan biolanya setiap waktu. Hanya istirahat saat makan dan tidur." Jawaban Gena membuat Rinai terdiam. Ini bukan seperti yang Rinai tahu tentang Wintang.
"Kenapa dia bisa begitu?" tanya Rinai.
"Lebih baik kamu lihat saja sendiri," ajak Gena.
Rinai mengikuti langkah kaki Gena. Membawa Rinai ke tempat Wintang berlatih. Rinai tercengang mendengar permainan Biola Wintang.
Prok! Prok!
Rinai bertepuk tangan. Membuat Wintang menghentikan permainannya. Wintang menatap Rinai kemudian meletakkan Biola kesayangannya.
"Wah, sang bintang telah kembali. Membuat media terus membicarakannya," ucap Wintang.
Rinai hanya tertawa sesaat. Tak ada yang berubah dari Wintang kecuali kegilaannya.
"Gue gak ada apa-apanya dibandingkan Wintang pemain Biola terkenal itu. Bahkan gue dengar, pesonanya mampu mengalahkan Anya," ucap Rinai.
"Hahaha! Gue suka ini. Gue suka Rinai yang selalu beradu mulut sama gue." Wintang masih saja tersenyum. Tak ada yang berubah dari keduanya. Mereka masih sama-sama keras kepala dan sering kali beradu mulut.
Gena yang menyaksikan itu terdiam. Dua bintang sedang beradu mulut, dan ia hanyalah anak Star yang tergolong biasa.
Disinilah Wintang dan Rinai berakhir. Merek duduk di taman sembari meminum jus kesukaan mereka masing-masing.
"Gue pikir lu gak bakalan balik, Nai. Secara, lu kan penakut!" ejek Wintang.
"Bukannya yang gue dengar, lu merasa tertampar setelah ke luar negeri, kan? Kehebatan yang lu banggain gak ada apa-apanya," ucap Rinai membalas ejekan itu.
"Sialan lu. Enak aja. Gue Wintang yang gak akan pernah takut."
Mereka saling memandang tajam sampai kemudian sama-sama tertawa bersama. Sungguh, walau kerap kali bertengkar maupun adu mulut, mereka tetaplah teman, dan juga pernah dekat.
"Lu sama Aiden pacaran? Atau sama Orion?" Pertanyaan Wintang membuat Rinai geleng-geleng kepala.
"Gue gak ada hubungan apapun sama mereka semua," ucap Rinai mengelak.
Dia jujur apa adanya. Karena memang sejak awal tak ada hubungan apapun antara dia dan Aiden ataupun Orion. Kecuali satu, perasaannya tentang Aiden.
"Lu tahu gak? Gue sempat lihat Live lu sama Aiden. Rupanya, gak ada apapun ya? Gue sadar setelah lu konfirmasi kalau lu dan Aiden cuma rekan aja," ucap Wintang.
"Memang begitu kebenarannya," ucap Rinai jujur.
Wintang kenal dengan benar bagaimana Rinai. Dia tak dapat membohongi Wintang. Dibalik ucapannya, ada hati yang berkata lain.
"Nai. Gue sama Ajun lagi break."
Rinai tertegun, masih menatap Wintang dan mencari kebohongan itu.
"Jangan bercanda, dong!" pintanya.
"Gue serius." Kali ini Rinai percaya, tapi tak bertanya banyak hal tentang kenapa, mengapa dan bagaimana.
"Gimana kalau nanti kita ngumpul sama Rose juga? Udah lama enggak bareng," ucap Rinai.
Wintang tersenyum lalu mengangguk. Betapa amat dia merindukan Rinai dan Rose. Walau seringkali dia egois terhadap mereka berdua.
Setelah berbincang cukup lama dengan Wintang, Rinai kembali ke tempatnya. Masih banyak hal yang harus dia kerjakan.
Langkah Rinai terhenti saat mendengar suara Anya yang memainkan Piano. Sangat merdu dan masih semahir dulu. Tak ada yang berubah darinya. Masih cantik dan menjadi pujaan.
Rinai menatap Anya yang tengah serius memainkan pianonya. Sementara itu, Mr. Felix dengan seksama memperhatikan itu. Namun, ads yang aneh dari pandangan Rinai. Lelaki itu tersenyum. Bukan seperti senyuman guru terhadap muridnya. Lebih tepatnya seperti suka pada lawan jenis. Rinai segera membuang pikiran buruk tersebut. Dia hanya berpikir positif dengan hal itu.
"Rinai!"
Seseorang datang sembari menunjukkan seruai senyum yang menakutkan. Ya, sosok itu adalah Felly. Rinai memilih diam daripada balas menjawab ucapan Felly. Perempuan itu seakan mencari cara agar bisa selalu berdebat dengannya.
"Kenapa menghindar? Kamu takut padaku?" tanya Felly. Perempuan itu mengejar Rinai.
"Ada banyak tugas yang harus aku lakukan!" ucap Rinai lalu pergi.
Felly masih ingin memberi perhitungan pads Rinai. Sayangnya, Mr. Felix datang dan melihatnya. Felly pun mengurungkan niatnya tersebut.
Rinai dengan segala kemampuannya mulai memainkan piano dan juga mulai menyanyi. Dari sisi bawah, Orion dan Aiden tengah menyaksikannya. Mereka terbius dengan suara merdu Rinai.
Orion menatap Aiden yang tengah melihat Rinai dari kejauhan sampai membuat Aiden sendiri pergi karena ada yang sadar kalau dia memperhatikan Rinai secara diam-diam.
"Sempurna!" puji Orion.
Orion naik ke atas panggung dan terus memuji penampilan Rinai. Hal itu membuat Aiden yang masih memperhatikan keduanya merasa sedikit kesal. Sangat jelas sekali kalau Orion menyukai Rinai.
Aiden melangkah dan menjauh dari keduanya. Memberi kesempatan untuk mereka berdua agar bisa menghabiskan waktu bersama.
Aide keluar dan berdiri di depan gedung Star. Sayangnya, cuaca tak bersahabat sampai akhirnya turun hujan yang cukup deras. Bajunya sampai sedikit basah karena itu.
"Sepertinya aku harus mengambil payung," gumamnya.
Aiden hendak masuk ke dalam sebelum Rinai berada tepat di hadapannya dan mengulurkan sebuah payung
"Kebetulan, aku bawa dua."
Aiden terdiam, tapi menerima payung yang Rinai berikan tanpa berkata apapun. Rinai membuka payungnya dan berjalan ke depan. Sayang, angin cukup kencang sampai menerbangkan payungnya dan membuatnya basah kuyup. Rinai hanya bisa memejamkan mata sembari merasakan tetes-tetes air hujan membasahi tubuhnya.
Aiden memayungi Rinai sehingga mereka bisa satu payung berdua. Sangat romantis seperti drama-drama Korea.
Keduanya saling pandai. Terhipnotis dengan keadaan yang mampu membuat mereka bersama saat ini. Tiba-tiba terlintas bayangan seseorang yang tengah kedinginan. Aiden ingat, saat perempuan itu kedinginan karena hujan, dia tak mampu memeluk dan menghangatkannya. Dalam ingatan itu, Aiden memeluk Rinai dan merasakan kehangatan itu. Entah kenapa, dia merasa kalau pernah mengalami hal ini dengan Rinai.
"Katakan padaku! Apa kita pernah bertemu sebelumnya?" tanya Aiden lirih, membuat Rinai terkejut dengan perlakuan maupun pertanyaan itu.
Dari kejauhan, ada seseorang yang memotret keduanya. Menjadikannya bom yang sewaktu-waktu bisa meledak kapanpun juga.
"Kakak salah orang. Pertemuan kita hanya di agensi." Rinai berbohong sembari menahan perih itu dalam hatinya.
"Rinai, ini payung mu!" Orion datang dan mengacaukan segalanya. Membawa Rinai satu payung dengannya lalu pergi.
Aiden hanya mampu menatap keduanya sambil berdiri tanpa bergerak.
"Kenapa hujan-hujanan?" Anya datang dan mengambil payung Aiden yang terjatuh lalu mengajaknya pergi.
(Bagian kedua)
Rinai melamun setelah kejadian tadi sore. Berharap Aiden tak benar-benar mengingatnya.
"Apa kamu ingat atau ini hanya perasaanku?"
Rinai terus mencoba menetralkan perasaannya, tapi sangat sulit karena tingkah Aiden seperti sore tadi. Yang Rinai permasalahkan adalah pelukan tiba-tiba tersebut.
"Udah siap?" tanya Rose.
Sebenarnya sesuai dengan janji Wintang tadi siang, mereka akan pergi malam ini.
Tiiitttt!
suara klakson mobil Wintang berbunyi membuat keduanya segera turun dan masuk ke dalam mobil.
"Udah siap, Guys?" tanya Wintang.
Keduanya mengangguk sampai Wintang pada akhirnya menekan gas. Ketiganya tertawa saat ini. Sudah sangat lama merek tidak seperti ini.
Mobil berhenti tepat disebuah Club malam dengan lampu kerlap-kerlip nya. Ketiganya masuk ke dalam dengan mengenakan masker agar tak ada yang mengetahui bagaimana rupa mereka.
Mereka saat ini adalah orang terkenal yang cukup berbahaya jika ada di club malam dan bisa saja menimbulkan skandal besar. Mungin bagi Rose tak terlalu beresiko. Akan tetapi, untuk mereka berdua sangat beresiko. Hanya saja, mereka bertiga memang menyukai tantangan.
"Let's Have fun together, guys!" ajak Wintang.
Mereka bertiga menari bersama, masih dengan masker di wajah mereka. Gerakan tari merkea bertiga membuat semua pria memandangnya. Baru kali ini ada gadia segar datang ke Club. Para p****************g itu tak menyiakan kesempatan tersebut.
"Hai Ladies, boleh bergabung?" tanyanya.
Lelaki dengan brewok diwajahnya itu mendekat ke arah Rose. Yang paling mencolok soal tubuh adalah Rose karena dia seorang model. Ya, walau yang lainnya juga sama bagusnya. Ketiganya sangat mencolok malam ini.
Mereka bertiga tak peduli degan ajakan lelaki tersebut dan hanya terus menari, sampai lelaki itu ikut menari dan mendekat ke arah Rose. Lelaki itu mulai memepetkan tubuhnya membuat Rose jengkel.
Di lain tempat, Ziao, Orion dan Aiden tanpa sengaja datang ke Club yang sama. Mereka hanya sekedar mencari kesenangan saja. Mereka tengah berdiri sembari memperhatikan tiga gadis yang tengah menari dengan energik.
"Siapa mereka?" tanya Ziao pads salah satu pelayan.
"Entahlah. Mereka baru kali ini datang. Sayang sekali mereka tak mau melepas maskernya. Tapi kami yakin kalau mereka bertiga cantik," ucap si Pelayan.
Aiden dan keduanya menatap ketiganya tanpa henti. Namun, pemandangan tersebut dirusak oleh seorang lelaki yang mencoba menggoda salah satu gadis.
Si gadis tetap saja menari tanpa mempedulikannya. Membuat ketiganya hanya tersenyum.
"Hentikan ini sebelum aku marah, Tuan!" tegur Rose.
Lelaki itu hanya menyeringai tanpa berkata apapun. Masih menatap Rose dengan tatapan ingin. Rinai dan Wintang menarik Rose agar menjauh dari lelaki tersebut.
"Ayo, Rose. Acuhkan saja dia."
Seseorang dengan tiba-tiba menarik tangan Wintang. Rose dan Rinai yang melihatnya juga ikut terkejut. dia adalah Ajun, dan mereka tahu akan ada yang baikan malam ini.
"Rose, gue ke toilet dulu," ucap Rinai.
Rose mengangguk dan akhirnya dia sendirian. Wintang juga sedang bicara dengan Ajun.
"Kamu sendirian, Sayang!" Lelaki yang sama yang tadi mengganggunya datang lagi.
"Aku mau ke toilet dul," ucap Aiden.
Keduanya mengangguk dan masih memperhatikan perdebatan di depan matanya.
Plak!
sebuah tamparan rose berikan pada lelaki yang selalu saja mengganggunya sejak tadi. Lelaki itu mulai marah dan menarik masker yang Rose kenakan.
"secantik apa kamu sampai beraninya menampar aku!" ucapnya kasar. Lelaki itu semakin membuat Rose muak.
Rose menatapnya tajam. Ziao dan Orion yang melihatnya merasa terkejut karena ternyata sosok itu adalah Rose.
"Wow, kamu memang cantik sayang. Kalau begitu, tampar aku sepuas mu, tapi di atas ranjang," ucapnya lagi menghina.
Bugghh...
Kali ini Ziao turun tangan mendapati Rose hendak dilecehkan. Melihat sahabatnya bertengkar, Orion juga segera menghampirinya. Dia harus melerai keduanya.
"Ziao, hentikan ini!" ucapnya.
Orion melerai Ziao begitu pula dengan Rose. Dia berusaha melerai keduanya sebelum penjaga datang dan menyeret mereka keluar.
"Ah, sial. Mereka salah orang." Ajun mau tak mau membantu mereka karena Rose bersama Wintang.
"Ayo pergi!" ajak Ajun.
Wintang juga menarik Rose agar segera keluar dan itu juga lewat pintu belakang. Mereka salah karena menghadapi seorang b******n yang sangat berpengaruh. Bisa-bisa mereka semua dihajar atau hal terburuknya dibunuh.
"Syukurlah kita berhasil kabur," ucap Rose.
Mereka melupakan Aiden dan Rinai yang masih ada di dalam Club.
"Aiden!"
"Rinai!"
Ziao dan Rose berucap secara bersamaan. Membuat Orion terkejut saat mendengarnya. Dia baru sadar kalau sosok di dalam tadi adalah Rinai.
"Kita harus kembali," ucap Orion takut. Dia terlalu takut terjadi sesuatu pada Rinai.
"Jangan! Ini berbahaya. Kalian tidak tahu siapa lelaki tadi," ucap Ajun mengingatkan.
"Aku enggak peduli." Orion bersikeras menyelamatkan Rinai.
Ziao akhirnya percaya pada Ajun saat melihat para bodyguard itu keluar. Mereka akhirnya masuk dalam mobil dan pergi. Menyisakan u*****n kasar dari mulut Orion. Mereka menepi sejenak. Menenangkan Orion yang kesal.
"Sabar, Orion. Kamu harus tahu. Ada Aiden bersama Rinai. Mereka aman. Aiden akan melindungi Rinai. Aku sudah mengirim pesan," ucap Ziao, barulah Orion merasa tenang.
Rose dan Wintang juga demikian. Mereka merasa sangat cemas terhadap Rinai yang masih terjebak di dalam Club.
"Ingat juga. Kita ini anak Star. Kalau ada Skandal, semua buyar."
Orion memukulkan tangannya pada kaca mobil. Merasa tak bisa melindungi Rinai saat ini.
Di dalam Club, semua bodyguard pria tadi mencari keberadaan Rinai yang pergi ke toilet.
"Masuk ke dalam. Cari temannya dan buat pelajaran!" perintahnya.
Lelaki itu bernama Agas. Bisa dikatakan Mafia kelas kakap. Baru kali ini dipermalukan oleh seorang perempuan.
Rinai tertegun dan terkejut. Dia tak berani keluar dan hanya bisa bersembunyi. Dia tahu, ada sesuatu yang terjadi diluar sana. Membuat Rinai yang dicari, berarti hanya tersisa dirinya saja di Club tersebut.
Suara beberapa mulai menelusuri setiap bilik toilet membuat Rinai semakin takut. Tubuhnya bergetar menahan ketakutan itu. Dia pasrah, jika setelah ini ketahuan. Tapi jika dia selamat, dia berjanji tidak akan pernah ke Club malam lagi.
Krek!
Suara seseorang masuk dan membuat Rinai benar-benar ketakutan.
"Rinai!"
Aiden menghampiri Rinai dan menariknya segera. Membawa perempuan itu dalam dekapannya. Rinai sendiri tak percaya dengan apa yang dia lihat.
"Cepat cari!"
Suara itu semakin membuat keduanya bingung, sampai terlintas sebuah ide di pikiran Aiden.
"Kamu ingin selamat, kan? Kalau begitu diam saja dan ikuti permainan ku."
Rinai merasa bingung. Namun, tak ada pilihan lain kecuali menuruti permintaan Aiden. Diapun hanya bisa mengangguk pasrah.
Suara langkah kaki itu semakin dekat. Membuat degup jantung Rinai semakin cepat. Dia hanya bisa memejamkan mata, sampai sesuatu terjadi dan dua rasakan sendiri.
Bibir Aiden seketika menempel pada bibirnya. Lelaki itu menciumnya cukup agresif. Bahkan, Rinai tak bisa bernafas karenanya. Dia pun pasrah dan mengikuti kemauan Aiden. Bahkan, lama kelamaan meresapi ciuman tersebut. Sekujur tubuhnya menjadi panas.
Klek!
Orang-orang itu memandang sejenak ke arah keduanya. Mendapati pemandangan tersebut, mereka lantas pergi.
"Zonk, Bos. Kayak biasanya. Sepasang kekasih."
Gerombolan preman itu keluar. Sampai tak terdengar lagi suara maupun langkah kaki mereka. Namun, yang terjadi adalah berbeda. Keduanya masih larut dalam ciuman itu sampai suara telepon dari Ziao menghentikannya.
Aiden dan Rinai jadi salah tingkah. Mereka tak pernah membayangkan, akan berciuman dalam kondisi dan situasi seperti ini. Mereka merasa semua ini hanyalah keterpaksaan semata.
"Ayo pergi! Sebelum mereka kembali," ajak Aiden.
Rinai tak bisa berkata. Dia hanya mampu memegang tangan Aiden dan mengikuti langkahnya. Meskipun banyak yang merasa terasa canggung, tapi langkah ini harus lebih cepat dan tanggap. Aiden ingin menikmati apa saja tentang Rinai seperti eratan tangan yang saling menyatu, dan ternyata damai.