Aiden berhasil membawa Rinai keluar dari klub malam tersebut. Aiden mengendarai mobil milik Wintang yang sengaja tidak dibawa pergi. Keduanya saling diam tanpa kata. Ciuman tadi benar-benar membuat Rinai syok. Ciuman itu bukan seperti bohongan. Rinai benar-benar merasakan perasaan yang menghangat dari hatinya. Tidak, mungkin hanya dia saja yang menganggap ciuman itu dengan serius. Aiden sendiri terlihat biasa saja. Sepertinya, ciuman itu tak bermakna baginya. Sayangnya, itu merupakan ciuman pertama bagi Rinai.
"Katanya, mereka menunggu kita di depan gedung Star," ucap Aiden biasa saja.
Rinai hanya diam saja tanpa kata. Dia mencoba menetralisir kan hatinya yang sedang kacau. Mengapa bisa begitu? Padahal mereka baru saja melakukan satu ciuman yang cukup panas.
"Iya, Kak." Rinai menjawabnya dengan cukup singkat dan jelas.
"Kenapa kalian bertiga sampai ke klub malam itu?"
Mendengar pertanyaan yang Aiden berikan, Rinai tersenyum tipis. Bisa-bisanya dia masih bertanya, sedangkan dirinya sendiri juga ada di klub malam tersebut.
"Yang kakak lakukan apa? Kalian bertiga juga ada di klub malam itu kan?"
Skakmat. Aiden hanya diam dan tak bisa berkata apapun lagi. Rinai benar-benar memutar pertanyaannya.
"Hampir saja kita ketahuan. Kalau tidak, mungkin kita semua sudah akan dikeluarkan dari Star."
Rinai menarik nafas cukup dalam. Memang beruntung dirinya bertemu dengan Aiden tadi di toilet. Bisa-bisa dia tertangkap dan juga mungkinan buruknya, dia dilecehkan oleh para lelaki tersebut.
"Kak Aiden. Terima kasih banyak," ucap Rinai ketika mereka telah sampai di depan gedung.
Orion segera menghampiri mobil yang Aiden kendarai. Dia benar-benar sangat khawatir terhadap keselamatan Rinai. Melihat hal itu, ada perasaan tak suka dalam hati Aiden. Sayangnya, dia tak berhak untuk mengatur apa yang akan Rinai lakukan. Termasuk perasaannya pada Orion. Aiden telah berjanji akan menjaga hubungannya dengan Anya.
"Rinai!" Rose dan Wintang menghampirinya.
"Syukurlah kalian selamat," ucap Rinai.
Rinai memang begitu. Harusnya, yang dia khawatirkan adalah dirinya sendiri. Bisa-bisanya, dia malah mengkhawatirkan kedua temannya.
"Untuk kalian, jangan sampai mengulangi hal ini lagi." Ajun memperingatkan semuanya.
Untung saja, Ajun diberitahu oleh seseorang kalau kekasihnya tengah pergi ke Klub.
"Baik," Rinai dan Rose menundukkan kepala mereka, kecuali Wintang ya masih kekeuh dengan pendiriannya. Padahal, Ajun telah meminta maaf padanya.
"Sepertinya, mereka berdua harus bicara." Ziao mengajak semuanya pergi, agar membiarkan Wintang dan Arjun saling berbicara dan menyelesaikan masalah mereka.
"Sayang, aku sadar kalau aku salah. Maafkanlah Aku!" ucap Ajun dengan segenap hati.
Wintang masih diam saja. Dalam hatinya, dia juga tidak tega melihat Ajun mengemis cintanya.
"Baiklah!" jawab Wintang singkat.
Ajun tersenyum, memeluk Wintang sesaat kemudian mencium bibirnya.
"Jangan lihat!" ucap Orion sembari menutup mata Rinai.
Aiden kemudian menatap Rinai. Mengingat ciuman yang tadi mereka lakukan. Ada yang salah dengan hati dan perasaannya. Aiden yakin, ada sebuah rasa yang dia miliki untuk Rinai. Hanya saja perasaannya sedang bingung saat ini. Antara mempertahankan hubungan dengan Anya, atau semakin menumbuhkan perasaan pada Rinai.
"Aiden!"
Dari dalam gedung, Anya berlari kemudian memeluk Aiden erat. Dia baru dengar masalah yang terjadi di klub malam. Dia sangat mengkhawatirkan kekasihnya itu.
"Kamu baik-baik saja, kan?" Anya menatap Aiden dengan dalam.
Seketika Rinai terdiam dan merasa sedih. Rinai menyadari kalau Aiden sangat sulit untuk dia gapai. Rini tahu, Aiden akan tetap menjadi miliknya sampai kapanpun.
"Kamu tahu dari siapa?" Aiden merasa penasaran, bagaimana Anya bisa tahu masalah ini.
"Mr. Felix yang memberitahu aku," jawabnya jujur.
Merasa tak enak pada yang lainnya, Aiden menepis pelukan yang Anya berikan.
"Kamu jangan khawatir. Aku selama dan aku baik-baik saja," jawab Aiden.
"Ayo masuk!" Rose mengajak Rinai masuk ke dalam. Dia tak mau melihat Rinai sedih, melihat kemesraan Anya dan Aiden.
"Malam ini gw ingin di tempat lu ya? Nggak masalah kan, Nai?" tanya Rose
Rinai mengangguk lalu mengajak Rose ke kamarnya. Tepatnya, kamar di agensinya di Star.
"Lu baik-baik saja kan, Nai?" lagi-lagi Rose bertanya.
"Gue baik kok, Rose," jawab Rinai.
Rose kadang berpikir, Aiden terlihat peduli pada Rinai. Siapapun bisa salah mengartikan rasa peduli tersebut. Entahlah, Rose juga bingung dengan perasaan keduanya. Yang dia inginkan, Rinai bahagia selalu.
Jam menunjukkan pukul 02.00 dini hari. Rinai yang tak bisa tidur, memilih pergi ke ruang latihan. Ruangan itu di desain kedap udara, sehingga walaupun sedang bernyanyi ataupun memainkan alat musik takkan ada yang bisa mendengar dari luar.
Rinai mulai memainkan pianonya. Jemarinya mulai menekan satu persatu not musik tersebut. Rinai rindu saat itu. Tanpa sadar, dia mulai menyanyikan lagu ciptaannya bersama Aiden waktu itu.
Di waktu yang bersamaan, Aiden juga tak bisa tidur. Tanpa sengaja dia melihat Rinai memainkan piano. Sayangnya, dia tak bisa mendengar lagu yang sedang Rinai mainkan. Aiden hanya tersenyum melihat Rinai tengah menghayati permainan piano dan nyanyiannya. Ingin sekali Aiden bergabung dan juga menghampirinya. Perlahan, Aiden mulai mendekat. Kakinya melangkah ke tempat Rinai berada. Belum sempat membuka pintu, sosok Orion tiba-tiba saja masuk. Aiden mengurungkan niatnya untuk datang pada Rinai. Dia lebih memilih untuk bersembunyi.
"Kenapa belum tidur?" tanya Orion.
Rinai menghentikan permainannya dan memilih memperhatikan Orion. Dirinya saja tidak tidur, malah memikirkan orang lain.
"Enggak tahu, insomnia aku kambuh, tidurku berantakan."
Orion mengambil tempat duduk disebelah Rinai. Keduanya saling tertawa, sementara Aiden hanya menyaksikan mereka bersama dari kejauhan.
Kisah cinta mereka sangat rumit. Di satu sisi, Orion yang sangat mencintai Rinai. Namun, sayangnya Rinai justru mencintai Aiden. Aiden sendiri memiliki kekasih yaitu Anya. Dan yang Rinai ketahui, mereka berdua saling mencintai. Yang Rinai tak tahu, hati Aiden mulai goyah. Rinai inilah yang membuat Aiden mulai merasakan kebimbangan dalam perasaannya.
"Kenapa? Bukankah cintaku untuk Anya sangat besar, lalu kenapa hanya karena sosok Rinai hatiku jadi seperti ini," ucap Adien bergumam dalam hatinya.
(Bagian Kedua)
Keesokan harinya, Mr. Felix mengumpulkan para anak Star yang keluar tadi malam.
"Jujur saja, aku sedikit kecewa dengan kalian. Harusnya kalian tahu, pergi setiap malam itu sangat beresiko tinggi untuk nama baik star sendiri. Apa kalian benar-benar sudah tidak ingin ada di sini lagi?"
Mereka hanya diam dan mendengarkan ceramah yang Mr. Felix berikan.
"Maafkan kami. Kami berjanji tidak akan pernah mengulanginya lagi!" Aiden mulai angkat bicara.
Bagaimanapun mereka semua memang bersalah dan pada akhirnya mereka semua harus minta maaf. Mr. Felix berjanji tidak akan pernah membocorkan masalah tersebut. Asalkan mereka semua patuh dan tidak mengulanginya lagi.
Mereka semuanya keluar dari ruangan itu. Melakukan aktivitas dan latihan seperti biasanya. Anya sendiri sangat menempel pada Aiden. Menunjukkan kalau Aiden hanyalah miliknya semata.
"Syukurlah! Kita masih dimaafkan." Wintang kemudian meneguk air mineral yang ada di tangannya.
Rinai sendiri hanya melamun saja. Dia masih mengingat soal ciuman tadi malam. Dia benar-benar tidak akan pernah bisa melupakannya. Ciuman pertamanya direnggut oleh seseorang bukan kekasihnya. Namun, seseorang itu adalah orang yang dia suka.
"Nai, lu melamun lagi ya?" ucapan Wintang membuat Rinai tersadar dari lamunannya.
"Eh? Hah! Enggak kok." Rinai pun juga meneguk air itu sampai habis.
"Kalau begitu, ayo kita latihan!" ajak Wintang bersemangat.
Aiden mulai berlatih menyanyi. Sang bintang itu mulai menunjukkan bakatnya.
"Wah, dia memang keren!" Gena menatapnya kagum.
Rinai dan Wintang juga tak luput mengawasi lelaki itu. Mereka juga sangat terpukau dengan keindahan suara yang Aiden miliki.
Latihan itu selesai, Aiden Beranjak Pergi lalu menuju pintu keluar ruangan. Langkahnya berderit, hanya tertuju pada sosok Rina yang ada di depan pintu. Beberapa kilasan ingatan Itu muncul di pikirannya. Suara-suara seorang perempuan, dan betapa dekatnya mereka saat itu.
Langkah Aiden terhenti, menatap Rinai sejenak. Tiba-tiba kepalanya terasa pusing. Tubuh Aiden mulai lemas. Tanpa sadar, lelaki itu jatuh dalam pelukan Rinai. Sontak semuanya terkejut dengan apa yang terjadi saat ini.
"Aiden pingsan!" teriak yang lain kompak.
Rinai sendiri masih berusaha menyangga tubuh Aiden agar tidak terjatuh. Degup jantung Rinai bekerja lebih cepat dari sebelumnya. Kenapa harus padanya? Dia tidak mau Anya cemburu lagi padanya.
Dokter datang dan memeriksa keadaan Aiden yang telah dipindahkan ke kamarnya. Dokter berkata Aiden latihan terlalu keras sampai kelelahan.
"Kau tidak apa-apa? Sudah aku bilang jangan terlalu lelah." Anya datang menghampiri Aiden.
Aiden hanya bisa memegangi kepalanya. Dia masih berusaha mengingat apa yang terjadi sebelumnya. Siapakah sosok perempuan itu sampai bisa membuatnya pingsan. Bukan dia, melainkan ingatannya itu. Saat mengingat hal itu kepala Aiden berdenyut dan jatuh pingsan.
"Anya, tolong tinggalkan aku sendiri karena aku butuh istirahat," ucapnya dengan rasa tanpa bersalah.
Anya mebalasnya dengan senyuman. Dia pun keluar dan membiarkan Aiden beristirahat. Dan berharap ingatan Itu akan muncul lagi. Aiden benar-benar merasa penasaran tentang sosok yang sering muncul dalam mimpi maupun ingatannya.
"Siapa kamu? Kenapa kamu sering muncul dalam mimpiku? Ingatkan itu juga tiba-tiba datang. Seingat ku, Aku tidak pernah mengenalmu."
Aiden terus berpikir dan berusaha mengingatnya. Sayangnya, hasilnya tetap saja nihil.
Tok tok!
Suara ketukan membuyarkan Lamunan Aiden. Kali ini, sosok Rinai datang menghampirinya. Dia hendak menanyakan keadaan Aiden saat ini.
"Rinai!" ucap Aiden Lirih.
Rinai tersenyum, lalu mendekat dan duduk di atas ranjang dekat Aiden.
"Kamu nggak kenapa-kenapa kan? Aku hanya takut saja, karena tadi kamu jatuh dalam pelukanku."
Aiden tersenyum dan merasa senang karena perhatian yang Rinai berikan padanya.
"Ayolah, aku ini kuat dan aku akan baik-baik saja! Kamu tidak perlu khawatirkan aku."
Keduanya tertawa bersama. Setelah ini Rinai hendak pergi. Dia sudah merasa lega karena ternyata Aiden baik-baik saja.
"Kalau begitu aku pergi dulu, Kak!" pamitnya.
Aiden menahan tangan Rinai agar tidak segera pergi. Dia masih ingin mengatakan sesuatu padanya. Bukan tentang apa, melainkan tentang ciuman semalam. Dia tak mau Rinai salah paham terhadap hal itu.
"Aku minta maaf mengenai ciuman dadakan semalam. Aku tidak bermaksud mencari kesempatan dalam kesempitan. Meskipun waktunya benar-benar sempit. Semua itu aku lakukan karena terdesak. Dan ternyata berhasil," ucap Aiden sungguh-sungguh.
Hal ini justru membuat Rinai tertawa dan tidak sama sekali menunjukkan kalau dia kesal ataupun marah. Semalam, bukan hanya Rinai saja yang tidak nyenyak tidur. Dia dengar cerita dari Ziao kalau Aiden juga tak bisa tidur.
Dari hal itu, Rinai dapat menyimpulkan kalau Aiden terlalu Lelah sampai pingsan hari ini.
"Santai saja, Kak. Aku paham dengan keadaannya, kok."
Rinai masih saja tersenyum. Setelah ini dia benar-benar harus pergi. Tak ingin lagi menciptakan kesalahpahaman yang sempat terjadi.
"Selamat beristirahat, Kak. Aku pergi dulu ya!"
Rinai membuat Aiden tersenyum. Selalu saja begitu. Rinai bagaikan memiliki magnet yang selalu dapat membuat Aiden merasa bimbang dengan perasaannya. Kalau begini terus bisa-bisa dia meninggalkan Anya.
"Sadar Aiden, kamu sudah memiliki seorang kekasih." Aiden berkata pada dirinya sendiri.
Sepertinya Aiden memang harus beristirahat saat ini. Dia berharap pikirannya akan kembali normal setelah bangun. Aiden tahu pikirannya hanya terfokus kan pada Rinai dan Rinai lagi.
"Rinai Asmara!" Aiden menyebut namanya sebelum terlelap.
Wintang menatap hanya dengan senyuman. Sejak awal mereka berdua memang kurang dekat. Wintang mulai naik dengan kehebatannya, dananya yang sedikit teralihkan karena adanya Rinai.
Setiap kali berpapasan mereka tak pernah bertegur sapa. Mereka bisa menghitung berapa kali, ketika mereka saling berbicara satu sama lain. Anya tak terlalu suka pada Wintang yang menurutnya sombong. Dengar kalau tentang membanggakan dirinya sendiri. Berkata kalau Wintang artinya adalah seorang bintang. Dan dirinya telah ditakdirkan untuk hal itu. Anya merasa kalau Wintang membual soal hal itu. Namun, ternyata dugaannya salah. Wintang mulai meroket dengan keahliannya. Bahkan semuanya mulai mengenal siapa dirinya.
"Anya, bisa ke tempatku sekarang?" Mr. Felix memanggilnya.
Tanpa banyak tanya Anya mulai mengikuti langkah Mr. Felix. Dia tahu ada satu hal yang harus dia bicarakan dengannya. Dalam ruangan itu hanya ada Anya dan Mr. Felix.
"Anya, akhir-akhir ini kamu kurang konsentrasi dalam latihan. Kamu tahu kan? Yang kamu andalkan di sini adalah bakat dan kecantikan mu. Ingat Anya, cantik saja tidak cukup. Kalau kamu mau bertahan di tempat ini dan terus menjadi bintang, maka kamu harus terus konsentrasi. Terakhir kali, kamu mainkan not yang salah." Mr. Felix menasehatinya.
"Maafkan Aku. Aku berjanji akan berlatih lebih keras lagi!" Anya merasa bersalah.
"Jangan ambil hati, Anya. Aku melakukan ini demi kebaikan kamu. Seseorang seperti Aiden memiliki bakat alami. Berbeda denganmu yang memiliki bakat karena latihan. Usahamu kendur sekali saja, penggemarmu akan tahu."
Mendengar hal it, Anya menyadari sesuatu. Dia dan Aiden benar-benar berbeda. Aiden benar-benar diciptakan menjadi bintang sejak lahir. Sedangkan dirinya terus berlatih agar menjadi seorang bintang.
"Baik, akan aku ingat itu." Anya merasa berterima kasih karena Mr. Felix mengingatkannya.
"Kalau kamu butuh bantuanku untuk berlatih, panggil saja aku. Atau kamu bisa berkunjung kemari," ucap Mr. Felix.
Anya mengangguk setuju. Jika ingin terus bersama Aiden dan memantaskan diri untuk mendampinginya nanti, jalannya hanya satu. Yaitu tetap menjadi seorang bintang yang bersinar. Setelah sesi pembicaraan itu, Anya keluar dari ruangan tersebut. Anya menghela nafas lega karena ternyata masalahnya adalah itu.
Saat hendak kembali ke tempatnya, Anya mendengar Wintang memainkan biolanya. Benar-benar sangat indah. Anya merasa kalau Wintang setara dengannya, bahkan bisa saja melebihinya. Anya harus kembali berlatih dengan keras. Dia tak mau tersisihkan nantinya. Kenapa pula banyak saingan yang mencoba menjatuhkannya sekarang?