Sejak ditegur oleh Mr. Felix, Anya dengan sangat keras terus berlatih. Gadis itu tak mau tersishkan maupun terkalahkan. Terutama oleh sosok Wintang.
"Mau ke mana, Tang?"
Pertanyaan itu Rinai berikan saat melihat Wintang tergesa-gesa.
"Biasa. Bentar lagi bakalan pergi. Emang kudu buru-buru, Nai. Salah satu stasiun televisi itu telah mengundangku." Wintang berkata dengan sangat percaya diri.
"Wah jadwal kamu padat juga ya? Gue aja kalah!" akui Rinai kalah.
"Lu juga hebat kok, Nai."
Rinai hanya Melambaikan tangan pada Wintang dan memberikan selamat padanya. Berharap agar Gadis itu sampai dengan aman dan lancar.
Sejak tadi ada yang mendengarkan percakapan keduanya. Sosok itu tak lain adalah Anya. Memang beberapa bulan ini job dia sedikit berkurang.
"Kamu sendiri juga harus siap-siap kan, Nai?" ujar Gena.
"Iya sih kamu emang bener, tapi jadwal On air aku cuma sebentar aja."
Rinai kemudian bangkit lalu pergi untuk bersiap-siap. Melihat hal itu Anya semakin merasa kesal. Dia tak mau tertinggal oleh teman-temannya. Keinginannya untuk menjadi bintang sudah ada sejak dia kecil. Anya juga sangat kenal bagaimana keinginan itu sampai sekarang. Kerja kerasnya tidak boleh berakhir saat ini.
"Anya!" panggil Aiden.
Lelaki itu datang lalu menghampiri kekasihnya. Sayangnya, Anya kemudian pergi.
"Maaf, Aiden, aku harus latihan sekarang!" jawabnya jujur.
Dia membiarkannya pergi. Hanya bisa melihat Anya berakhir menghilang dari pandangannya.
"Semuanya sibuk ya?" Aiden bergumam dalam hati.
Aiden sendirian, karena hari ini jadwalnya terbilang kosong.
"Sepertinya memang takdirku harus sendirian hari ini," ucapnya lirih.
Rinai muncul di hadapan air dan dengan raut wajah yang khawatir. Dia merasa benar-benar lalai kali ini. Melihat hal itu Aiden pun bertanya padanya.
"Ada apa? kenapa kamu terlihat kesal?"
Sebenarnya Rinai sangat malas sekali jika harus berdialog dengan lelaki di depannya ini. Dia tak mau lagi menciptakan kesalahpahaman yang sama.
"Gimana ya? Semua anak laki-laki star sekarang tidak ada di sini. Masalahnya, aku harus tampil di sebuah acara stasiun televisi dan membawa salah satu teman yang aku rasa sangat cocok dengan kepribadian ku. Aku lupa hal itu," jawab Rinai.
Aiden terdiam saat mendengar hal itu. Satu yang dia tahu dari Rinai. Gadis itu masih sama yaitu sering ceroboh.
"Hari ini kamu bisa saja mengajakku. Jadwalku mumpung kosong."
Rinai menatap lelaki itu dengan serius. Haruskah dia mengajaknya atau menerima resiko apapun nantinya.
"Cepat putuskan sekarang Rinai?" tanyanya pada diri sendiri, dan tentu saja dalam hati.
"Baiklah sekali ini saja, lain kali tidak." Rinai mencoba meyakinkan dirinya sendiri.
"Baiklah kak, ayo ikut!" ajak Rinai.
Keduanya pun pergi bersama. Aiden tak jadi sendirian. Diacuhkan Anya. Diajak pergi oleh Rinai. Bukankah ini takdir?
Sesuai dengan pembicaraannya dengan Mr. Felix kala itu, Anya datang ke ruangannya untuk berlatih. Lelaki itu benar dalam perkataannya. Hampir saja Anya tertinggal dan tersisih.
Anya mengetuk pintu itu beberapa kali. Lelaki itu tersenyum dan mempersilahkan dia masuk.
"Apa anda sibuk?" tanyanya.
Lelaki itu menggeleng. Sang Maestro ternama itu menyuruh Anya duduk di depannya.
"Sepertinya anda benar. Aku harus berlatih keras mulai sekarang," ucap Anya serius.
Lelaki itu tersenyum sumringah. Dengan senang hati akan mengajari Anya berlatih.
"Masalahmu hanya satu Anya."
Anya menatap serius padanya. Bertanya-tanya tentang kesalahannya. Memang apa masalahnya? Anya terus bertanya-tanya dalam hati.
"Apa itu?" tanya Anya sekali lagi.
"Kamu terlalu sibuk dengan Aiden. Sampai kamu lupa, kalau karir bintangmu adalah yang nomor satu. Kamu tidak bisa memiliki keduanya Anya."
Anya cukup kaget saat mendengar hal itu. Mr. Felix yang biasanya diam itu berkata demikian.
"Tapi semuanya lancar-lancar saja. Kenapa saat ini malah berpengaruh?" Anya memberanikan untuk bertanya lebih lanjut.
"Karena kamu adalah bintang Anya. Kamu tahu bagaimana siklus dunia hiburan ini berjalan? Bosan. Mereka tidak pernah terpacu pada satu bintang. Apalagi saat ada bintang baru muncul. Siapa yang bertahan dialah yang menang. Aku tidak menyuruh mau putus dengan Aiden. Hanya saja, kamu harus memberi jarak. Semua ada di tanganmu, kamu ingin bertahan atau dilupakan?"
Anya cukup terhenyak saat mendengar hal itu. Ucapan Felix memang benar adanya. Anya tahu betapa kejamnya dunia entertain ini. Memang benar semua pilihan ada di tangannya.
"Terima kasih ya, karena telah membuka pikiranku."
Anya menundukkan kepala sembari memberi hormat pada sang maestro terkenal itu.
"Baiklah! Ayo kita mulai."
Anya mulai serius dengan latihannya. Dengan arahan Mr. Felix, dia memainkan piano nya dengan sangat lihai. Lelaki itu tersenyum saat melihatnya. Lelaki itu duduk di dekat Anya, menuntun gadis itu memainkan jemari nya di atas not.
"Ini baru Anya yang aku kenal," ujar Felix.
Anya tersenyum. Dia benar-benar menyadari sesuatu. Terkadang menjadi egois itu lebih baik. Setidaknya mulai sekarang, dia dan Aiden tidak boleh terlalu menempel.
(Bagian Kedua)
Semua terkejut saat melihat penampilan Aiden bersama Rinai di salah satu stasiun televisi yang cukup ternama.
Berita tentang kedekatan keduanya dulu, kembali muncul lagi. Kali ini Rinai berkata kalau mereka hanya rekan kerja saja. Seketika, stasiun televisi itu menjadi trending di nomor satu, dengan banyaknya penonton hari ini. Mereka cukup kepo dengan kehidupan kedua bintang tersebut.
"Jadi, hubungan kalian berdua hanya sebatas rekan kerja?" pertanyaan itu diajukan oleh salah satu mc di acara tersebut.
"Netul sekali. Kita berdua merasa saling cocok saat menjadi rekan. Mungkin karena ciri khas kita sama," jawab Aiden.
Aiden kemudian menatap Rinai sembari tersenyum. Juga sebaliknya, tatapan gadis itu membuat Aiden salah tingkah. Hanya karena keduanya bersama, stasiun televisi sebelah yang dihadiri oleh Wintang kalah trending.
"Terakhir saat itu, kalian live bersama. Memecahkan rekor terbaru di tahun ini. Kalian yakin sama sekali tidak ada perasaan?" Sepertinya MC memang suka memancing keduanya.
"Untuk saat ini tidak," jawab Aiden dengan tegas.
Di ruangannya, Mr Felix dan Anya tengah menyaksikan kebersamaan mereka berdua. Anya terluka, merasa cemburu terhadap mereka. Melihat hal itu, Mr. Felix memegang bahunya.
"Biarkan saja Anya. Kamu tidak boleh sedih ataupun cemburu. Harusnya kamu senang, kamu bisa lebih fokus pada karirmu.Kamu pernah bilang, kan? Semua hidup keluargamu ada di tanganmu. Setahuku, Anya adalah Bintang dari segala Bintang," ucap Mr. Felix.
Anya merasa tergugah dengan ucapkan itu. Walau usianya tak lagi muda, lelaki itu mampu memahami perasaannya.
"Oh iya. Kami tahu kalau Aiden ini selain Pianis, penyanyi, juga seorang komposer lagu. Bisakah kamu ciptakan satu lirik lagu untuk, Rinai?" tantang sang MC.
Awalnya Aiden diam saja. Tapi kemudian mengangguk setuju. Rinai menatap Aiden dengan tatapan kaget. Lelaki itu membuatkan satu lirik lagu yang cukup indah. Membuat Rinai merasakan perasaan itu. Saat dulu keduanya bersama. Aiden juga pernah menciptakan lagu untuknya.
"Wah, lagunya sangat Indah." Semua yang berada di tempat itu tercengang.
Dalam sekejap mata, Aiden menciptakan lagu yang cukup indah. Lirik demi liriknya mengartikan sesuatu.
"Kau adalah Asmara yang Menyejukkan mata.
Semua senyuman itu meneduhkan rasa.
Matamu, Suara dan Manjamu Bergema di hati.
Mengabaikan Angan dalam setiap sanubari."
Semua bertepuk tangan riuh dengan apa yang Aiden lakukan.
"Permintaan terakhir. Duet, duet, duet!" sang MC terus saja membuat mereka menjadi canggung. Walau Aiden masih saja setuju.
Keduanya pun bernyanyi lagu yang sama. Membuat rating semakin jauh dari acara Wintang. Bahkan sosial media kembali viral dengan kebersamaan keduanya.
Saat perjalanan pulang, Wintang tertawa dalam mobilnya.
"Rupanya mereka memang benar-benar memiliki daya tarik tersendiri ya?" tanya Wintang pada manajernya. Ada Ajun juga yang menemaninya di sebelah.
"Harusnya kamu juga mengajakku masuk tadi, sayang. Aku yakin ratingnya akan melesat tinggi." Ajun terus aja menggoda Wintang. Membuat gadis itu tersipu malu.
"Apaan sih!" ucap Wintang.
Wintang menyadari kalau Aiden dan Rinai berbeda sifat. Aiden yang cukup pendiam, dengan Rinai yang sangat ceria.
Namun, saat keduanya disandingkan justru membuat satu kecocokan yang memiliki daya tarik. Wintang malah tidak suka dengan Anya yang kerap kali digosipkan sangat posesif pada Aiden, bahkan pula sering mengatur apapun yang Aiden kerjakan.
Setelah acara itu selesai, Rinai dan Aiden pulang bersama. Tentu saja, mereka satu Agensi dan Rinai pula yang mengajaknya. Sebenarnya bukan karena ajakan Rinai, melainkan tawaran yang Aiden berikan.
"Kamu tahu kan, ada Mie ramen yang sangat terkenal di ujung sana."
Rinai masih setia mendengarkan ocehan Aiden sedari tadi. Saat membahas masalah Mie ramen, air ludah Rinai seakan hendak menetes.
" Wah, itu makanan favorit aku banget." Rinai merasa antusias saat mendengarnya.
"Pak, kita mampir dulu!" ucap Aiden pada supir.
Aiden dan Rinai tak perlu bersembunyi saat makan di tempat itu karena tempat itu letaknya berada di belakang toko pakaian. Saat sore seperti ini, tempatnya lumayan sepi. Mereka merasa cukup aman. Bagaimana mereka tahu? Entahlah, Aiden lupa. Akan tetapi, Rinai cukup ingat karena Aiden dulu yang memberi tahunya. Saat masih jadi sosok arwah.
"Hai Nona, lama tidak kemari," ucap si pelayan.
Dia seorang Bibi separuh baya. Sangat hapal dengan sosok Rinai karena sebelum jadi Artis, dia sering datang ke kedai itu.
"Iya, Bibi. Apa kabar?" tanya Rinai.
Bibi itu tersenyum lalu mengatakan kalau dia baik-baik saja. Dia merasa sangat senang karena saat ini Rinai telah menjadi seorang artis.
"Masih menu seperti biasa kan?" tanya Bibi.
Bibi juga tidak salah mengenali sosok Aiden. Lelaki muda yang kerap sekali datang dan menjadi langganan tetap nya.
"Wah, kamu juga sudah lama tidak kemari. Apa kabar anak muda?"
Rinai tersenyum saat melihatnya. Apalagi saat Aiden bercengkrama dengan serius. Tak lama kemudian pesanan mereka berdua datang. Alangkah terkejutnya Aiden saat melihat menu yang Rinai pesan.
"Kenapa bisa sama seperti ini?"
Rinai terdiam, dia bingung harus menjawab apa. Semua ini karena dulu dia pernah makan bersama Aiden di sini. Dia jadi hafal mengenai menu yang sering Aiden pilihkan untuknya. Lama-kelamaan dia jadi ikutan suka.
"Sudahlah ya, makan saja. Entar keburu dingin nggak enak lho," ungkap Rinai.
"Kamu benar juga."
Aiden langsung memakan mie tersebut dengan lahapnya. Melihat itu hati Rinai tergugah. Melihat Aiden makan dengan lahap saja sudah membuatnya merasa senang. Jika ingat waktu itu, Rinai merasa sangat sedih. Sosok arwah Aiden berkeliaran. Mencari penyebab kecelakaannya. Terombang-ambing tanpa arah tanpa tujuan sampai akhirnya bertemu dengannya. Setidaknya untuk saat ini, melihat Aiden sehat saja sudah jadi kebahgiaan tersendiri baginya.
"Hati-hati, nanti kamu keselek loh." Rinai mencoba mengingatkan.
Aiden hanya tertawa. Baru kali ini dirinya sempat Datang kemari dan makan semangkuk mie ramen yang terenak menurutnya. Hal itu bisa dia lakukan karena pergi bersama dengan Rinai.
"Aku merindukan tempat ini," ucapnya.
Melakukan hal yang sama, Rinai makan dengan sangat lahap. Perlahan-lahan, mengingatnya bersama kenangan. Bayang-bayang itu masih saja ada dalam Angan. Kalau tak bisa dia gapai, setidaknya bisa dia rasakan.
Tanpa mereka ketahui, salah satu pengunjung yang ada disana memotret mereka secara sembunyi-sembunyi dan secara diam-diam.
Cekrek!
Satu foto berhasil diabadikan. Lelaki itu kemudian mengunggah foto tersebut di IG pribadinya. Memberikan hastag kalau Rinai sedang makan bersama Aiden saat ini.
"Wah, mereka baru syuting dan makan bersama!" komentar salah seorang pengikut.
Beberapa komentar mulai membanjiri postingan tersebut. Mulai meragukan lagi tentang hubungan yang Rinai dan Aiden jalani.
"Semoga saja mereka benar-benar berjodoh," ucap komentar yang lain.
Ada yang sampai bersumpah, kalau Aiden dan Rinai menikah nanti, mereka akan telanjang keliling lapangan. Beberapa yang lain berharap hal itu benar-benar terjadi.
"Sudah kenyang. Ayo kita pulang!" ajak Rinai.
Kembali ke dalam mobil, keduanya bergandengan tangan tanpa sadar. Rinai memberanikan diri, menatap lelaki itu cukup lama. Dan mulai tertidur, Aiden tanpa sadar bersandar pada bahu Rinai. Rinai menatapnya dengan dalam. Lelaki itu terlihat cukup lelah. Perasaan itu kembali muncul dalam hati dan pikiran Rinai. Berharap saat ini takkan pernah berakhir
"Ya Tuhan! Andai saja waktu bisa berhenti saat ini." Rinai berucap dalam hati.
"Nona, kita sudah sampai."
Sang sopir hendak membukakan pintu namun Rinai menolaknya. Dia tak mau membangunkan Aiden secepat itu. Satu jam berlalu, masih dalam posisi yang sama. Aiden terus bersandar padanya. Sangat nyenyak dan sangat pulas.
Rinai masih tersenyum. Apakah dia salah dengan perasaannya? Kenapa mencintai harus sesakit ini? Bahkan jika Aiden dengan Anya, Apakah dia bersalah karena menyukainya? Rinai tidak mau yang banyak. Cukup dia saja yang mencintai. Dia tidak meminta cinta Aiden untuknya. Hanya ingin melihat lelaki itu bahagia dan selalu tersenyum, itu sudah sangat cukup baginya.
Perlahan-lahan Aiden merenggangkan tubuhnya. Matanya terbuka, merasakan seseorang ada di sampingnya.
"Sudah bangun?" hanya Rinai dengan seksama.
Aiden masih saja sempat menengok jam tangannya. Alangkah kagetnya dia saat menyadari kalau dia telah tertidur selama 1 jam lamanya.
"Kenapa kamu nggak bangunin aku?" Aiden hendak protes.
"Aku juga tertidur baru aja bangun." Rinai itu sengaja mengatakan hal itu. Dia tidak mau Aiden salah paham.
"Sepertinya kita benar-benar kekenyangan sekarang. Buktinya kita sampai tidak sadar kalau telah tertidur di dalam mobil selama satu jam." Aiden tertawa. Sementara Rinai masih terus menatapnya.
"Ayo masuk ke dalam!" ajak Rinai.
Semuanya kembali masuk ke dalam gedung agensi. Kali ini, hanya tidak terlalu memperhatikan keduanya. Bahkan membiarkan mereka berjalan bersama. Ada hal penting harus Anya lakukan bukan hanya sekedar tentang Aiden saja.
"Kak, Sebelumnya aku minta maaf karena enggak sempat izin." Rinai mengatakan hal itu saat berpapasan dengan Anya.
"Santai aja, Nai. Kamu nggak perlu khawatir. Aku ngerti kok. Sebelumnya aku juga udah pernah bilang sama kalian kalau masalah pekerjaan aku nggak akan apa-apa."
Aiden merubah posisi dan berada di samping Anya. Melihat hal itu Rinai kemudian pamit dan meninggalkan keduanya.