Hubungan Anya dan Aiden semakin tak menentu. Anya sangat sibuk sampai-sampai tak peduli bahkan memperhatikan Aiden lagi.
"Sendirian?" tanya Rinai.
Rinai menaruh segelas cappuccino di depan Aiden. Lelaki itu meliriknya sekilas, lalu meminum cappucino yang Rinai berikan.
"Kamu sendiri kenapa belum tidur malam ini? Ini udah malam loh!" ucap Aiden bertanya.
Rinai hanya tersenyum, juga menyesap minuman itu perlahan.
"Insomnia aku kambuh, Kak!" jawab Rinai.
Memang biasa seperti itu. Terkadang waktu mempertemukannya dengan Rinai dengan cara tidak bisa tidur. Mereka keluar dari asrama dan tanpa sengaja bertemu.
"Sama kalau begitu aku juga!"
Mereka diam sesaat, lalu tertawa bersama. Selalu saja mereka bertemu dengan cara seperti ini. Awalnya Rinai mencoba menghindar, tapi lama-kelamaan dia mengerti juga. Bagaimana caranya dia bisa menghindar dari cinta? Mencoba menghindar, Namun nyatanya selalu dipertemukan.
"Walaupun aku lelah, tetap saja insomnia."
Rinai tersenyum saat mendengar ucapan Aiden. Seketika mereka berdua berada dalam keadaan yang sangat Canggung.
"Kakak lagi ada masalah sama Kak Anya?" pertanyaan itu terus saja Rinai berikan tanpa berpikir panjang.
"Entahlah! Akupun juga bingung dengan hubungan kami. Dia benar-benar banyak berubah. Biasanya posesif sekarang jadi biasa saja."
"Kakak sedih? Kenapa tidak mencoba bicara dengan baik-baik saja?" Rinai mencoba memberikan solusi.
"Bagaimana kita mau bicara, Nai. Sedangkan untuk menghubungiku saja dia tak bisa. Sudahlah, Mungkin dia memang sedang fokus mengejar karirnya."
"Sabar saja ya, Kak. Mungkin saja keadaannya sedang memprioritaskan karirnya. Akan ada masanya dia kembali padamu dan perhatian lagi padamu." Rinai mencoba untuk menenangkannya.
"Terima kasih banyak ya? Berkatmu aku jadi sedikit lega."
Aiden membelai sebagian rambut Rinai. Gadis itu jadi salah tingkah dibuatnya. Hal yang pernah Aiden lakukan ketika masih menjadi arwah.
Keduanya saling menatap. Sebuah Pancaran sorot mata itu, meneduhkan hati Aiden. Ada perasaan hangat yang menjalar disekujur tubuhnya. Keduanya masih saling memandang, cukup dalam sampai membuat Rinai terbuai. Gadis itu menyentuh pipi Aiden tanpa sadar. Mengusapnya lembut. Betapa sangat dia merindukannya.
Merindukan sosok Aiden yang berjanji akan memberikan bayaran untuknya. Nyatanya, sebelum menuntaskannya, dia kembali pulih dan melupakan semuanya.
Kenangan saat bersama Rinai waktu itu, dengan mudahnya dia lupakan. Mungkin Aiden lupa. Tapi Rinai selalu mengingatnya. Mungkin bagi Aiden semua itu tak berarti apapun karena dia sama sekali tidak ingat. Sayangnya, Aiden menyisakan banyak kenangan indah untuk Rinai. Yang awal mulanya Rinai menganggap itu hanya perasaan biasa, justru merasa kehilangan saat Aiden tak ada di depan matanya.
Cup!
Rinai melakukan satu kesalahan dengan mencium terlebih dahulu. Semua itu benar-benar murni karena ketidaksadarannya.
Rinai takut Aiden menolak ciuman itu. Namun, justru Aiden membalas ciuman itu.
"Tahukah kamu, Kak? Ketika kamu pulih, kamu justru melupakan aku!" ucap Rinai dalam hati.
Mungkin Aiden bisa melupakannya. Sayangnya, Rinai selalu rindu dengan kehadirannya yang tiba-tiba. Rinai rindu ketika lelaki itu mohon bantuannya.
Di lain tempat, Orion menyadari kalau Aiden tak ada di kamarnya. Dia pun berinisiatif untuk mencari lelaki tersebut. Tempat yang Orion duga tempat latihan biasanya.
Orion terkejut. Dia melihat Rinai dan Aiden saling berciuman. Hatinya terasa sakit. Dadanya tiba-tiba menjadi sesak. Sesakit itukah melihat orang yang dia suka bersama orang lain? Orion benar-benar yakin untuk saat ini, kalau dia benar-benar menyukai Rinai.
Tak dapat menyaksikan terlalu lama, Orion lalu pergi. Langkahnya menjadi gontai seketika. Mengapa harus bersama Aiden? Dan mengapa pula harus Rinai? Bukankah Aiden tahu kalau Orion menyukainya? Mungkin Orion harus melupakan perasaannya pada Rinai.
Aiden dan Rinai menghentikan ciuman tersebut. Mereka kembali terdiam sampai Rinai membuka suara.
"Maafkan aku, Kak. Aku nggak sengaja!" jawab Rinai.
Aiden juga mengutuk sikapnya malam ini. Kenapa dia justru ikut larut dalam ciuman itu?
"Aku juga bersalah!" ucap Aiden.
Keduanya masih canggung dan menjadi salah tingkah.
"Kalau begitu, kembalilah ke kamarmu. Biar aku yang ngantar sampai depan asrama." Aiden menawarkan diri.
Keduanya berjalan bersama, di dalam sepinya malam.
"Terima kasih, Kak, sudah mau mengantarku!" ucap Rinai.
Aiden membalasnya dengan sebuah senyuman.
"Semoga mimpi indah."
Keduanya kemudian berpisah, dengan senyuman masing-masing.
Keesokan harinya, sikap Orion pada Aiden terlihat berbeda.
"Orion, Bisa tolong ambilkan itu?" Aiden meminta Orion mengambilkan minuman yang ada di depannya.
Orion tak menggubris. Hanya berjalan dan mengabaikannya. Melihat itu, Aiden sama sekali tak mengerti.
"Kalian bertengkar?" tanya Ziao. Kebetulan sekali, ada Ziao yang melihatnya.
"Entahlah, aku juga tidak mengerti. Apa aku punya salah?" tanya Aiden pada Ziao.
Keduanya sama-sama menggelengkan kepala. Merasa tak mengerti dengan mood Orion yang tiba-tiba memburuk.
"Mungkin dia lelah saja!" Ziao mencoba memberikan alasan.
Saat latihan, Orion melihat Rinai. Gadis itu Melambaikan tangan ke arahnya. Mencoba untuk menyapanya. Ingin sekali rasanya Orion untuk balik menyapanya. Namun, hal semalam membuatnya jadi mengurungkan niatnya.
Orion mengacuhkan Rinai juga. Bukan karena dia tidak suka, hanya saja tak ingin perasaannya lebih dalam lagi. Orion yakin, yang Rinai sukai adalah Aiden.
"Tumben dia gak balik nyapa?" ucap Wintang.
"Gue juga gak tahu, Tang. Mungkin lelah."
Keduanya balik berlatih. Tak terlalu peduli dengan sikap Orion.
Siangnya, Orion membawa beberapa makanan. Menawarkan pada semua, kecuali Aiden. Dia merasa muak padanya.
Benar-benar mereka tidak beradab dan berselingkuh dibelakang Anya.
"Untukku mana?" Aiden mencoba meminta pada Orion.
Orion tak menjawab, kembali melewati Aiden.
"Ini untukmu," ucap Ziao mengalah. Memberikan makanan miliknya untuk Aiden.
"Sudahlah itu untukmu. Aku bisa beli sendiri."
Aiden lalu pergi. Dia benar-benar yakin untuk saat ini kalau memang benar Orion membuat jarak dengannya.
Ziao sendiri terbengong melihat keduanya. Baru kali ini melihat mereka berdua seakan tak akur. Dia harus mencari alasannya.
"Kenapa kamu bersikap seperti itu pada Aiden? Apakah dia punya salah padamu?" Ziao mendatangi Orion dan bertanya padanya.
"Tidak ada kok!" jawabnya singkat.
Ziao merasa Orion berbohong padanya. Tidak mungkin jika tidak ada masalah dia bersikap seperti itu.
"Ayolah, Orion! Kita sudah berteman sejak lama. Jangan seperti itu. Kalau ada masalah, bisa kamu dan dia selesaikan dengan baik-baik," ucap Ziao mencoba memberikan saran.
Sayangnya Orion langsung marah. Dia memandang Ziao dengan tatapan penuh kekesalan.
"Ini urusanku. Kamu tidak perlu ikut campur."
Mendengar hal itu, Ziao menjadi murka.
"Oh, jadi begitu? Kamu anggap kalau saran aku ini kesalahan. Kamu bilang kalau aku ini selalu ikut campur sama urusan kamu kan? Baiklah, sejak saat ini aku tidak akan pernah mengganggumu lagi. Aku pikir kita teman, ternyata bukan."
Kali ini giliran Ziao yang meninggalkan Orion sendirian. Walau sebenarnya Orion tak mau seperti ini. Hanya saja dia terlalu kesal pada Aiden.
"Dasar egois!" Ziao terus mengumpat sedari tadi, sampai bunyi pesan masuk terdengar. Dia pun segera melihat pesan yang ternyata datang dari Rose.
Kekesalan itu berubah menjadi senyuman saat tahu kalau Rose mengajaknya keluar nanti malam.
(Bagian kedua)
Sesuai dengan janjinya, Ziao datang untuk menjemput Rose. Keduanya hendak nonton bioskop bersama.
"Masuklah!" Zio membukakan pintu mobil untuk Rose.
Rose segera masuk dan mengambil tempat di depan bersama Ziao. Sepanjang perjalanan, Rose menyadari kalau dia sedikit lebih diam dari biasanya.
"Apa ada masalah? Kenapa kamu hanya diam saja?" Rose mulai bertanya.
"Apa memang kelihatan ya?" ucap Ziao sambil tersenyum.
"Ada apa? Coba cerita padaku!" suruh Rose.
Dia kemudian menepikan mobilnya. Berada di atas bukit, sembari melihat pemandangan kota dengan kelap-kelipnya.
"Apa kita harus ke bioskop dulu? Nanti kita telat loh." Ziao memberikan Rose pilihan.
"Ke bioskop itu nggak harus kok. Tempat ini juga enak kok. Pemandangannya sangat indah!" Rose fokus menatap pemandangan di depan matanya.
"Kamu benar. Malam ini benar-benar sangat indah ya?"
Keduanya masih fokus menatap kedepan. Sampai Ziao mulai bercerita.
"Sebenarnya, aku dan Orion bertengkar."
Rose mulai tahu penyebab Ziao lebih banyak diam. Rupanya karena Orion.
"Kalian bertengkar karena apa? Bukankah kalian ini sahabat ya?"
Pertanyaan itu berhasil membuat Ziao tersenyum.
"Pada awalnya aku kira begitu. Ternyata bukan. Aku saja yang menganggap kalau kita itu bersahabat. Orion sangat egois." Ziao berucap panjang lebar.
"Bagaimana bisa begitu? Awalnya bagaimana?"
Ziao Kemudian menceritakan semuanya pada Rose. Bagaimana Orion memperlakukan Aiden dengan begitu.
"Oh, jadi masalahnya begitu? Iya, Iya aku paham sekarang!"
Rose menerka-nerka kalau alasan Orion seperti itu cemburu pada Aiden. Tentu saja ada hubungannya dengan Rinai.
Siapapun dapat melihat kalau Orion tertarik pada Rinai. Sayangnya, sahabatnya itu justru tertarik pada Aiden.
"Kamu mau tahu alasannya?" ucap Rose bertanya.
Ziao mengangguk, mengangkat bahunya.
"Semua itu karena cinta," jawab Rose.
Ziao menatap Rose dengan tatapan cukup dalam.
"Dia menyukai Rinai, dan merasa cemburu terhadap Aiden."
"Kenapa aku baru sadar itu? Tapi sebenarnya tidak semudah itu bagi Orion untuk cemburu. Kecuali, ada satu hal yang terjadi. Namun, entahlah. Aku juga tidak tahu apa itu."
Rose menggenggam tangan Ziao. Membuat lelaki itu merasa nyaman. Keduanya masih fokus melihat pemandangan kota di depan mata mereka.
"Bukankah malam ini terlihat indah?" Rose bertanya.
Ziao mengangguk, selalu merasakan Rose bersandar di bahunya. Degup jantung Ziao bekerja lebih cepat dari sebelumnya. Mengapa Rose melakukan hal ini?
"Rose! Rosaline!" panggilnya.
Menatap Rose dengan tatapan yang berbeda. Mata itu mengisyaratkan sesuatu. Haruskah dia mengatakannya saat ini?
"Rose, Sebenarnya aku..."
Belum sempat mengatakan sesuatu. Rose melakukan sesuatu yang tak pernah dia duga sebelumnya. Gadis itu mencium bibirnya. Membuat Ziao merasa kaku seketika. Lama kelamaan, Ziao merasakan kehangatan itu. Hatinya jadi tenang seketika. Dia pun mulai membalas ciuman yang Rose berikan. Cukup lama, dan hampir saja kebablasan.
"Rose, apa ini artinya..." Ziao mulai bertanya-tanya.
"Apakah kamu juga merasakan hal yang sama?" tanya Rose balik.
Ziao tersenyum, kemudian kembali mencium Rose dengan lembut. Mereka melupakan niat mereka untuk pergi ke Bioskop. Justru menghabiskan waktu bersama di atas bukit.
Ziao merasa sedikit lega setelah mencoba menceritakan semuanya pada Rose. Memang benar, dia butuh seseorang teman curhat. Dan Rose memberikan rasa nyaman itu.
"Jadi, mulai sekarang kita adalah kekasih, kan?" ucapan Rose mau memastikan.
"Tunggu dulu!"
Ziao tiba-tiba berlutut di depannya.
"Ehm, Rosaline. Maukah kamu menjadi kekasihku?" tanya Ziao.
Rose merasa takjub dengan perlakuan yang Ziao berikan padanya. Tak salah kalau jadinya dia benar-benar suka pada lelaki itu. Ziao memang sosok yang sangat baik dan juga romantis. Mampu meluluh lantahkan perasaan Rose.
"Aku mau," jawab Rose singkat.
Keduanya saling berpelukan setelah peresmian ini. Mereka sepakat untuk menyembunyikannya terlebih dahulu. Tidak enak hati pada Rinai dan juga Aiden. Bukan hanya itu, mereka juga sungkan pada Orion. Karena masih ada masalah antara mereka berdua.
Ziao kembali mengantar Rose pulang. Hatinya sangat bahagia malam ini. Akhirnya, dia bisa mengeluarkan isi hatinya pada Rose. Dan yang paling dia syukuri, Rose membalas perasaannya. Ternyata cintanya tak bertepuk sebelah tangan.
Di dalam agensi Star, Rinai tak sengaja kembali berpapasan dengan Orion. Laki-laki itu lagi-lagi menghindarinya. Bahkan sama sekali tak menatapnya.
"Kak! Sapu tanganmu terjatuh," ucap Rinai sembari berlari menuju ke arah Orion.
Lelaki itu berbalik dan menatapnya. Mengambil sapu tangan itu tanpa berkata apapun. Ada perasaan sedih yang Rinai rasakan hari ini. Dia yakin kalau Orion benar-benar menghindarinya. Atau bisa saja saat ini dia membencinya.
"Kenapa, Kak? Ada apa?" Rinai mulai bertanya.
Sayangnya Orion tetap bersikeras dan meninggalkan Rinnai tanpa menjawab apapun. Rinai benar merasa diabaikan olehnya.
"Baiklah." Rinai pasrah lalu kembali ke kamarnya.
Dia mulai bertanya-tanya tentang Apa kesalahannya sampai Orion bersikap seperti itu padanya.
Tiga hati yang sedang merasakan Dilema. Satu sisi Orion yang merasa cemburu dan mengabaikan Rinai maupun Aiden. Ada Rinai yang bingung tentang perasaannya pada Aiden, juga tentang Aiden yang bingung terhadap perasaannya dengan Anya ataupun Rinai.
Keesokan harinya, Aiden menghampiri Anya.
"Kamu sangat sibuk sekali ya?" ucapnya sembari menghampiri gadis yang tengah duduk itu.
"Kamu tahu sendiri kan? Jadwalku cukup padat akhir-akhir ini. Mr. Felix berusaha untuk mencarikan aku Job. Tentu saja aku tak boleh membuatnya kecewa." Hanya itu yang bisa Anya katakan.
Aiden hanya tersenyum tipis. Ini memang Anya yang dia kenal. Sosok gadis yang sangat ambisius terhadap karirnya. Namun, Aiden tak pernah tahu kalau Anya bisa secuek ini padanya.
"Baiklah, aku pergi sekarang. Sebentar lagi ada interview di salah satu stasiun televisi."
Anya tersenyum lalu pergi meninggalkan Aiden yang masih terpaku melihatnya pergi. Aiden benar tak suka dengan hal ini. Apalagi saat Anya mengacuhkannya.
Aiden sempat melihat Anya pergi dengan Mr. Felix. Sebegitu inginnya Anya bekerja, sampai butuh bantuan lelaki itu. Aiden tersenyum miris saat melihatnya.
Seseorang mengulurkan minuman ke arahnya. Siapa lagi kalau bukan Rinai? Sosok gadis yang mampu membuatnya nyaman. Bahkan beberapa kali membuat Aiden tanpa sadar larut dalam ciumannya.
"Sudah mencoba bicara?" tanyanya.
Aiden hanya mengangguk. Sayangnya, tak sesuai dengan harapannya.
"Dia terlalu sibuk, dan bahkan tak mau mendengarkan aku." Aiden nampak kecewa.
"Enggak masalah, Kak. Mencoba itu bukan hanya sekali. Bisa berkali-kali sampai berhasil," ucap Rinai.
Aiden tersenyum. Rinai memang paling bisa mengerti dirinya. Ia merasa paling nyaman dengan perempuan itu, entahlah kenapa jadi begini?