Ziao dan Rose hendak berkencan. Namun, sejak kejadian di klub malam tersebut, semua anak star dilarang pergi sendirian. Peraturan semakin diperketat, seketat ikat pinggang yang sering digunakan Rose.
"Ayo dong, Nai. Pergi sama gue. Gue nggak punya temen nih!" ucap Rose meminta.
Mendengar sahabatnya merengek, Rinai tak bisa menolaknya.
"Baiklah. Sekali ini aja ya pokoknya!" Rinai membuat Rose senang.
Rose tak berkata apapun. Dia juga tak bilang kalau dia pergi dengan Ziao.
Malamnya, Rinai keluar dengan mengendap-endap. Jangan sampai dia ketahuan kalau keluar malam-malam begini.
"Rinai!" panggilnya sembari berbisik.
Rose telah menunggunya di depan gedung. Perempuan itu tersenyum sembari melambaikan tangannya.
"Di sini! Hei!" ucap Rose.
Rinai berjalan sembari menjinjitkan kaki. Keluar dari Asrama Star harus ekstra hati-hati.
Klotak...
Seseorang melempar sepatunya dan memanjat jendela. Wintang terperangah kala melihat kedua temannya ada di depan.
"Kalian!" ucapnya setengah kaget.
Wintang kemudian menghampiri keduanya. Merasa heran terhadap keduanya. Hendak melakukan apa mereka itu.
"Kalian ngapain?" tanya Wintang heran.
"Lu yang ngapain, Tang?" tanya Rose balik.
Wintang hanya tersenyum. Tak lama setelah itu, ketiga lelaki hadir di depannya. Rose dan Rinai semakin merasa heran. Mengapa ada Ziao, Aiden dan juga Ajun.
"Bisa dijelaskan ada apa ini?" ucap Rinai bingung.
Ziao kemudian menjelaskan semuanya. Dia tanpa sengaja bertemu dengan Ajun yang hendak menjemput Wintang. Dan untuk Aiden, memang sengaja Ziao mengajaknya.
Rinai yang menatap tajam kearah Rose. Bisa-bisanya sahabatnya itu berbohong. Dia tadi berkata kalau hanya keluar berdua. Tidak ada kata Ziao ataupun Aiden. Dan justru, masih ada Wintang dan Ajun.
"Sudahlah! Ayo cepat keluar daripada ntar kita ketahuan!" ucap Ajun.
Rinai terpaksa mengikuti yang lainnya. Sudah kepalang tanggung dia keluar dari gedung. Tidak lagi, cukup kali ini saja.
Ketiga pasangan tersebut. Ralat, dua pasangan tersebut. Karena Rinai dan Aiden belum jadian dan belum bisa dikatakan sebagai pasangan. Mereka memutuskan untuk pergi ke bioskop. Seperti tujuan Rose waktu itu. Yang malah berakhir dengan jadiannya dia dan Ziao.
"Yakin gak bakalan ketahuan, kan?" tanya Rinai khawatir.
"Jangan khawatir, Nai. Bioskop ini khusus untuk kita berenam. Ajun sudah booking semuanya. Jadi, bakal dipastiin kalau enggak ada yang akan datang," ucap Wintang.
Rinai menjadi lega. Setidaknya, mereka semua ada di tempat yang aman. Bukan seperti klub malam waktu itu.
"Sejak kapan?" tanya Rinai pada Rose.
"Maksudnya?" Rose berpura-pura tak mengerti dengan pertanyaan yang diberikan padanya.
"Kapan kalian jadian? Hm?" ucap Rinai menjelaskan.
"Hehehe, seminggu yang lalu," Rose akhirnya menjawab. "Hussttt, rahasia."
Rinai bernafas sejenak. Bisa-bisanya Rose rahasiakan semua ini darinya. Seharusnya dia Jujur saja sejak awal.
Tak perlu bersama Aiden, karena nantinya hanya akan menimbulkan salah paham antara dia dan Anya. Rinai hanya tak mau itu terulang lagi.
"Jadi lu udah jadian sama Ziao?" tanya Wintang.
Ah, rasanya Rinai ingin berteriak. Di sini, hanya dialah yang bisa dikatakan sebagai obat nyamuk. Film pun dimulai. Mereka memilih film bernuansa Bollywood. Rinai kenal betul, Siapa yang suka film ini.
"Udah mau mulai!" seru Wintang.
Diam-diam, Wintang menyukai film itu. Namun, jika diwawancarai ataupun ditanya, dia justru akan bilang menyukai film Hollywood.
Adegan di film menunjukkan, satu pasangan yang tengah berciuman. Ketiga pasangan itu terdiam menyaksikannya. Apalagi, di sebelah Rinai ada Aiden. Keduanya tanpa sengaja saling menatap. Rinai sampai salah tingkah dibuatnya. Lelaki itu menatapnya dengan senyuman. Hampir saja membuat jantung Rinai copot. Dia akui, pesona Aiden takkan pernah pudar.
Rinai menghindar, kembali menengok ke layar lebar. Melihat disampingnya, Wintang yang tengah bersandar pada Ajun. Juga Rose yang menggenggam tangan Ziao. Benar-benar, Rinai dan Aiden bagaikan obat nyamuk.
"Aku ke toilet dulu ya!" pamit Rinai pada semuanya.
Dia pun keluar. Setidaknya dia bisa menetralkan perasaannya saat ini. Tak lupa ketika diluar, dia membeli minuman dingin. Saat hendak melangkah masuk ke dalam, Rinai dihentikan dengan suara kembang api. Rinai beralih ke dekat jendela yang terbuat dari kaca. Menatap keindahan kembang api itu.
"Bukankah sangat indah?" ucap Aiden.
Rinai langsung menoleh padanya. Lelaki itu masih saja tersenyum. Rinai sampai tak bisa mengartikan senyuman itu. Yang dia tahu, jantungnya berdegup sangat cepat.
"Kamu pasti merasa nggak nyaman. Maaf ya? Karena sekali lagi, waktu itu aku menciummu tanpa sengaja." Aiden mengatakan isi hatinya. "Meskipun aku minta bukan maaf karena terlalu berani melakukannya lagi."
Sebenarnya bukan salahnya. Ini juga kesalahan Rinai yang menciumnya terlebih dahulu.
"Sebenarnya kakak gak salah. Aku sendiri yang salah. Waktu itu, sekali lagi aku terbawa suasana. Aku gak bisa menahan perasaan aku. Sampai aku lupa, kalau kakak punya kak Anya," ucapan Rinai yang memperjelas.
Aiden tersenyum mendengarnya. Rinai benar-benar seorang gadis yang sangat pengertian.
"Rinai, Sebenarnya aku...!" Aiden tak bisa meneruskan kata-katanya.
"Kalian ngapain di sini?" Rose tiba-tiba keluar dan memergoki keduanya berbicara bersama.
Rinai yang salah tingkah kemudian masuk. Dia juga membawa Rose bersamanya. Dia di situ tak mau sahabatnya salah paham.
"Nai, jujur sama gue. Ciuman apa?" Rupanya Rose mendengar semuanya. Membuat Rinai jadi malu.
"Gue jelasin nanti aja ya, pas kita pulang. Oke?"
Rinai tak mau membicarakan hal itu malam ini.
Dua jam berlalu. Mereka akhirnya pulang. Masih banyak hal yang harus Rose pertanyakan pada Rinai. Mengapa bisa berciuman dengan Aiden? Rose hanya bisa membendung perasaannya.
"Maaf ya? Kayaknya malam ini gue belum bisa cerita, Rose. Gue ngantuk!" ujar Rinai berbohong. Dia hanya belum siap mengatakannya.
Rose mengangguk. Mencoba untuk memahami situasi yang terjadi. Apalagi, Wintang berkata kalau Agensi Star akan membentuk sebuah Musikalisasi Drama di ajang Awards yang akan datang. Mereka akan memilih satu pasangan utama yang akan berperan jadi putri dan pangeran. Wintang sampai menginginkan peran itu.
"Oke. Lu istirahat aja!" ucap Rose mengingatkan.
Rinai kemudian masuk ke dalam. Merasakan hatinya yang rasanya gelisah. Kenapa rasa itu tak bisa menghilang? Semakin dia mencoba menghilangkan perasaan itu, maka semakin pula rasa itu menjadi-jadi. Rinai juga bingung akan hal itu.
"Pokoknya, aku harus melupakannya. Semua itu enggak pernah terjadi. Ya, anggap saja seperti itu!" Rinai terus mencoba meyakinkan perasaannya sendiri.
(Bagian Kedua)
Keesokan harinya, Anak Star berkumpul di aula latihan. Aula yang dikhususkan untuk semua anak berkumpul.
"Selamat pagi semuanya," sapa Mr. Felix sang Maestro utama itu.
Semua tentu saja mendengarkannya. Mereka berbaris sembari mendengarkan apa yang hendak sang Maestro itu katakan.
"Agensi kita mendapat mandat besar dari Star Awards 2022 ini. Kabar baik untuk kalian, beberapa anak Star yang terpilih akan tampil di acara drama musikalisasi bulan depan. Akan ada pemilihan untuk itu. Ini juga kesempatan kalian untuk maju dan menjadi sang Bintang."
Semua bersorak saat mendengarnya. Mereka sangat antusias dengan hal itu. Sebagian dari mereka, saling berbisik dan bercengkrama. Mendengar tema dari pementasan drama itu adalah 'Cinderella'.
Mereka mulai mengira-ngira siapa yang akan jadi sosok Cinderella. Yang pasti, dia cantik, suara merdu dan bentuk tubuh tinggi semampai.
"Sudah pasti Anya, siapa lagi." Yang lain berucap.
"Wintang juga cocok," sahut yang lain.
"Jangan salah. Bisa juga Felly. Dia kan anak Maestro kita," jawab yang lain.
"Kalau Rinai bagaimana? Bukankah dia naik daun akhir-akhir ini? Calon bintang juga bukan?" tanya yang lain.
Semuanya berdebat tentang siapa yang akan jadi sosok Cinderella. Yang mereka elu-elukan adalah ketiga anak kebanggaan Star.
"Yang jadi masalahnya, siapa yang akan jadi sosok pangeran?" tanya yang lain.
Kandidat yang paling cocok untuk pangeran adalah Aiden. Tidak ada lagi kecuali dirinya. Jika memang Aiden, maka kandidat yang paling memungkinkan adalah Anya.
"Wah, aku tidak bisa membayangkan Bagaimana acara itu nanti. Pasti seru sekali!" ungkap yang lain.
Anya yang mendengarkan perbincangan itu tersenyum. Sudah pasti, dirinya yang akan menjadi Cinderella. Cantik, suara merdu dengan permainan piano yang baik dan tubuh ideal.
"Ayo kita mendaftar. Siapa tahu panitia berubah pikiran!" ucap salah satu dari yang lainnya.
Bagi anak Star yang terkenal, hal ini sangat menguntungkan bagi mereka. Namun, untuk anak Star yang hanya remahan, semua ini tak ada artinya. Mereka hanya bisa mendengarkan keputusannya besok hari.
"Nai, kalau gue yang kepilih gimana?" tanya Wintang.
"Ya mau gimana lagi, gue sih nggak masalah!" jawab Rinai dengan santainya. Dia bukannya tak peduli, saja menjadi Cinderella itu sangat sulit baginya.
"Kalau lu yang jadi Cinderella, gue setuju kok!" Wintang hari ini berkata dengan tulus. Entah kenapa, Baru kali ini Rinai tak merasa bersaing dengan temannya itu.
"Saingannya berat. Biar panitia aja yang nentuin." Rinai berkata demikian, agar tak kecewa nantinya.
Sebenarnya Rinai dan Wintang menyadari kalau banyak yang berbakat disini selain mereka. Keputusan bisa jatuh pada siapapun besok.
Aiden sudah dielu-elukan untuk menjadi sang Pangeran. Tidak ada lagi yang cocok selain dirinya.
"Aku ingin mendaftar sebagai pangeran!" ucap Orion.
Semuanya tercengang saat melihat Orion maju ke depan. Mereka tak menyangka kalau Orion bisa seberani itu.
"Apa? Orion mendaftarkan diri?" Ziao terkejut dan tak menyangka akan hal itu. Orion benar-benar menantang Aiden.
"Bukankah lebih adil untuk dipilih sesuai keahlian? Bukan hanya ketenaran?" tanya Orion.
Mr. Felix tersenyum. Dia bangga dan takjub dengan keberanian Orion.
"Tentu saja. Siapa pun boleh mendaftar. Dan besok kami yang akan memilihnya." Mr. Felix mengatakan hal itu. Membuat semua anak Star memiliki sebuah harapan baru.
Orion berjalan dengan gagahnya. Menghampiri Aiden yang tengah berdiri menatapnya.
"Jangan kamu pikir kamu yang selamanya ada di depan. Ingat! Aku akan melawanmu," ucap Orion dengan nada kesalnya.
Aiden hanya tersenyum menanggapi ucapan Orion. Lelaki itu kesal terhadapnya. Aiden tak mau meladeninya.
Semua terkejut mendengar hal itu. Mereka tahu, ada sesuatu yang terjadi antara Orion dan Aiden.
"Wah, akan ada perang besok!" ucap yang lain.
Mereka melihat sorot mata tajam Orion pada Aiden. Mereka tahu, ada api permusuhan di antara mereka. Namun, mereka tak tahu apa penyebab hal itu terjadi.
"Jangan mendengarkan dia!" ucap Ziao menengahi.
Orion akhir-akhir ini memang benar-benar keterlaluan. Tidak ada apa, dia marah pada I
Aiden. Hari ini, dia malah menantangnya.
"Aku tidak akan mendaftar!" jawab Aiden.
Kali ini, Ziao yang merasa sangat terkejut. Lelaki itu sudah memutuskan, akan memberikan kesempatan itu pada Orion. Lagipula, Aiden tak membutuhkan peran itu.
"Apakah kamu serius? Bagaimana jika..?" Ziao tidak melanjutkan kalimatnya.
Aiden tersenyum, lalu mengangguk dengan mantap.
"Aku serius!" jawab Aiden serius.
Ziao semakin tak mengerti dengan apa yang terjadi. Rasanya, sangat sulit menyatukan keduanya lagi. Ziao tak menyangka kalau pada akhirnya, persahabatan mereka akan jadi seperti ini.
Orion yang keras kepala, dan Aiden yang pendiam. Dia tahu keduanya memiliki sifat yang bertentangan. Sayangnya, Ziao tak tahu alasan mereka bertengkar karena apa.
Malam harinya, Astri menelepon Rinai.
"Hai Rinai. Aku merindukan kamu!" ujarnya.
"Tumben sekali?" tanya Rinai heran.
"Hehe, aku dengar dari Rose, akan ada drama musikalisasi nanti? Ceritanya tentang Cinderella, kan? Kak Rinai, berjanjilah padaku. Kamu yang akan jadi Cinderella nya." Rinai terdiam.
Niatnya sama sekali tak ingin jadi Cinderella. Dia tahu, peran itu sangat sulit untuk dia dapatkan.
"Aku tidak akan bicara padamu kalau akhirnya kamu tidak jadi Cinderella," ucap Astri.
Ucapan itu bahkan terdengar seperti ancaman. Bukan seperti sebuah permintaan. Rinai tahu, Astri paling suka dengan kisah Cinderella.
"Baiklah. Aku akan mendaftar besok. Tapi kalah aku gagal, kamu jangan marah. Setidaknya, aku sudah mencoba." Tidak mungkin jika Rinai terpilih. Esok akan ada Felly, Anya, Gena, dan Wintang. Mereka sangat hebat dan berbakat. Apalagi Wintang yang sangat berambisi.
Paginya,
Pendaftaran dibuka. Beberapa anak mendaftar untuk jadi pemeran utama maupun pemeran pengganti.
"Baiklah. Untuk pemeran pangeran, pesertanya ada tiga. Ziao, Orion dan Vito."
Semua terkejut saat mendengar hal itu. Tak ada nama Aiden yang mendaftar.
"Apa? Kenapa Aiden tak mendaftar?" tanya yang lain.
Mendengar hal itu, Orion menjadi sangat kesal. Tanpa meminta persetujuan Aiden, dia mendaftarkan lelaki itu.
"Aiden. Masukkan nama dia juga!" ucap Orion.
Orion kemudian menghampiri Aiden yang sedang berolahraga. Dia sangat kesal dengan lelaki itu. Tidak mendaftarkan diri, sama saja dengan penghinaan baginya.
"Kamu mau menghinaku?" tanya Orion.
Aiden yang sedang berlatih angkat beban itu, kemudian menghentikan aktivitasnya.
"Apa maksudmu? Apa tidak enak Jika kamu tidak mencari masalah denganku?" Aiden menatapnya dengan serius.
"Jangan jadi pengecut Aiden! Hadapi dan lawan aku. Jangan hanya diam seperti ini. Buktikan kalau dirimu itu memang berkualitas." Orion terus memancing emosi Aiden.
Setelah berkata demikian, Orion meninggalkan Aiden yang masih terpaku. Dia tak tahu, Apa salahnya sampai Orion seperti itu. Jika hanya masalah Rinai, Suda Aiden katakan berkali-kali, dia dan Rinai hanya berteman.
"Sudahlah, jangan dengarkan dia!" Ziao masih berusaha menengahi keduanya.
"Dia benar-benar keterlaluan hari ini." Aiden merasa terpancing kali ini.
"Baiklah. Kalau memang ini maunya, akan aku buktikan padanya," ucap Aiden kesal. Aiden merasa Orion harus diberi pelajaran walau sedikit.
Semua berkumpul di tempat, ada Rinai juga di sana. Rinai hanya mencoba ikut mendaftar. Masalah terpilih atau tidaknya, itu urusan belakang.
"Baiklah, audisi akan dimulai!" ucap panitia.
Aiden datang dan menghebohkan semuanya. Mereka tahu kalau Aiden setengah kesal saat ini, dilihat dari raut wajahnya.
"Kita mulai dengan Cinderella!" ucap panitia.
Panitia tersebut mulai memberikan teks dan mereka harus menghapal satu dialog yang cukup menarik.
"Tidak! Ibu, Kakak. Jangan tinggalkan aku! Aku juga ingin ke pesta bersama kalian." Gena mulai berakting. Menangis karena ditinggal pergi oleh Ibu dan kedua kakak tirinya.
Semua bersorak untuknya. Akting Gena cukup baik.
"Maaf, Pangeran! Aku harus pergi sekarang!" Kali ini giliran Wintang yang berakting. Dengan berlari menuruni tangga dan menyisakan satu buah sepatu yang tertinggal.
Semua takjub melihat aktingnya. Benar-benar cocok seperti Cinderella.
"Maafkan aku. Aku bukan wanita bangsawan dan kaya raya seperti yang lain. Yang bisa aku berikan hanyalah kesetiaan semata," ucap Anya menghipnotis semua. Benar-benar sulit menentukan pemeran yang cocok.
Kali ini giliran Rinai. Gadis itu maju dan menarik nafas panjang. Berharap kalau Aktingnya tidak terlalu buruk.
"Ayah, aku merindukanmu. Andai aku tahu kalau Ayah takkan kembali setelah perjalanan itu. Aku akan mencegahnya. Tidak ada lagi yang bisa aku andalkan. Mereka tak sebaik yang Ayah kira. Mereka sering kali menyiksaku, Ayah. Aku ingin bertemu denganmu walaupun sekali. Setidaknya aku tahu, ada yang menyayangiku di sini."
Semua terdiam melihat akting Rinai. Gadis itu membuat semuanya diam dan sedih. Dia benar-benar memainkan perannya dengan sangat baik. Sampai membuat semuanya terharu.
Prok! Prok!
Semua memberikan tepuk tangan untuknya. Mereka yakin, Rinai yang akan jadi Cinderella. Benar-benar seorang gadis yang luar biasa. Bukan hanya cantik, Rinai rupanya juga memiliki bakat berakting yang sangat baik.