Panitia memutuskan untuk menentukan siapa yang pantas untuk peran Cinderella dan Pangeran.
"Kami sudah menentukan dengan sangat benar. Kami juga sudah merundingkan hal ini. Melihat dan menilai dari kemampuan mereka yang telah mendaftar. Yang terpilih sebagai Pangeran adalah, Orion. Dan untuk peran Cinderella jatuh kepada Rinai Asmara."
Semua mulai berbicara sendiri. Mereka tak menyangka kalau Orion yang terpilih dan bukannya Aiden. Untuk Rinai, mereka sudah menduga sebenarnya karena aktingnya memang sangat bagus. Namun, untuk Orion ini sedikit tidak masuk akal. Ya, walaupun memang aktingnya lumayan bagus.
"Kenapa malah Orion? Bukankah seharusnya Aiden?" ucap yang lain.
Ia juga memberitahukan peran pendukung. Anya dan Wintang sebagai kakak tiri Cinderella, sedangkan Gena sebagai ibu tirinya.
"Khusus untuk Aiden, dia akan menjadi pianis dalam acara itu." Panitia menjelaskan.
Anya merasa sangat kecewa. Aktingnya lebih baik dan lebih bagus daripada Rinai. Lalu mengapa Rinai yang jadi peran utama? Harusnya itu dirinya.
"Sabar saja! Peran Cinderella nggak terlalu penting. Yang penting nanti, Piala aktris berbakat akan jatuh ke tangan mu," ucap Tere menenangkan.
Anya menjauh dari tempat itu. Aiden lalu mengejarnya, karena dia tahu Anya sangat berambisi untuk peran itu. Anya pasti sangat kecewa berat hari ini.
"Anya, kamu baik-baik saja kan?" Aiden menghampirinya.
"Kenapa bukan aku? Kenapa harus dirinya?" tanya Anya kesal.
"Hei, jangan begitu. Tidak menjadi peran utama bukan berarti kamu jelek. Kamu sudah sangat berbakat. Dan berikan kesempatan pada yang lain. Bukankah tahun sebelumnya kamu yang jadi pemeran putri salju?" ucap Aiden tersenyum.
Anya kemudian tersenyum lalu memeluk kekasihnya itu.
"Kamu memang selalu begitu. Sebenarnya tidak masalah karena bukan kamu yang jadi pangerannya. Aku akan marah kalau kamu yang jadi pangeran."
Anya dan Aiden tertawa. Mereka semua tertawa bersama. Hal yang Aiden rindukan dari sosok Anya yang dia kenal.
"Baiklah kaka tiri Cinderella. Apakah kamu merindukan aku?" ucap Aiden menggodanya.
Anya sontak mencubit lengan Aiden. Membuat lelaki itu meringis kesakitan. Mereka bergurau bersama. Satu hal yang lama tidak mereka lalukan.
Dari kejauhan, Rinai melihat semuanya. Dia tersenyum tipis kemudian menjauh. Dia harus latihan dan menjadi Cinderella terbaik demi adiknya, Astri.
Sebenarnya Anya merasa kecewa, Namun karena Aiden, kesedihannya terobati. Sudah lama mereka tidak berbicara bersama seperti ini, dan Anya merindukan hal itu.
Sesi latihan pun dimulai. Aiden memainkan pianonya, tanda Cinderella mulai keluar dan menyanyi sembari menyirami kebunnya. Gadis itu tetap ceria walaupun setelah kematian ibunya.
Tak berselang lama, sang ayah datang dengan membawa istri baru dan dua kakak tiri. Cinderella yang baik hati, menerima ketiganya dengan senang. Pada awalnya, semuanya nampak akur dan baik-baik saja. Sampai Ayah Cinderella kembali pergi ke Negeri seberang. Ketiganya mulai menyiksa Cinderella dengan sangat kejam. Kamar dan pakaian Cinderella diambil alih oleh Kakak tirinya.
Cinderella mulai dijadikan pembantu oleh mereka. Siang dan malam bekerja, Hanya bisa pasrah dan meneteskan air mata.
Suatu hari, Cinderella mendapatkan kabar kalau Ayahnya meninggal dalam sebuah kecelakaan. Penderitaannya semakin bertambah kala itu. Di tengah malam, Cinderella kerap memandangi jendela sembari menatap bintang-bintang di langit. Berharap ayahnya akan pulang dengan selamat. Dengan itu penderitaannya akan berkurang.
Kisah itupun di lompat dengan Cinderella yang telah bertemu dengan pangeran di sebuah pesta. Mereka akhirnya berdansa bersama.
Saat latihan itu, Rinai ditegur oleh pelatih.
"Rinai, tatap mata Orion dengan dalam. Dialah Pangeranmu, dan kamu telah jatuh cinta padanya."
Rinai tak bisa melakukan itu. Orion bukan orang yang dia suka, jadi Rinai tak bisa menghayati perannya.
"Orion, lebih erat lagi. Kamu ini sedang berdansa dengannya!" pelatih membenarkan letak tangan Orion. Menaruhnya di pinggang Rinai.
Melihat hal itu, permainan piano Aiden jadi tidak fokus dan salah. Kini giliran Mr. Felix yang menegurnya.
"Aiden, fokus. Barusan ada not yang salah!" ucapnya mengingatkan.
Aiden jadi salah tingkah. Dia memang harus fokus pada permainannya. Seharusnya dia tak peduli Rinai bersama siapa. Rinai pun juga bukan siapa-siapanya, jadi berhak berdansa dengan siapapun juga. Terlebih ini hanyalah sebuah pementasan drama.
Latihan dua jam lamanya, akhirnya semuanya selesai juga. Rinai merasa sangat lelah. Melihat hal itu, Aiden mengambilkan air untuk nya. Sayangnya, Orion juga mengambilkan air untuknya. Aiden jadi mengurungkan niatnya, memberikan air itu untuk Anya. Jelas saja, Anya merasa senang.
"Terima kasih!" ucap Rinai pada Orion.
Entah kenapa, Orion kembali menjadi baik padanya. Atau mungkin ini hanya karena peran yang mereka dapat. Tidak mungkin mereka bertengkar, Padahal mereka disatukan dalam satu peran.
"Cukup melelahkan bukan?" tanya Rinai.
Orion mengangguk seketika. Latihan hari ini memang benar-benar melelahkan. Yang utama saat latihan berdansa. Mereka berdua harus mengulanginya beberapa kali sampai mendapatkan hasil yang baik.
Dari kejauhan, Felly menatap semuanya dengan tatapan tidak sukanya. Jika bukan karena ayahnya, Felix. Mungkin Felly tidak akan terima dengan keputusan ini. Harusnya yang menjadi peran Cinderella adalah dirinya. Bukan Rinai yang sok kecakepan itu menurutnya.
"Kenapa Papa malah biarin ini terjadi? Papah bisa saja kan membuatku menjadi Cinderella?" ucap Felly kesal.
Felix masih sibuk memperhatikan kertas-kertas not yang ada di ruangannya. Tak terlalu menggubris apa yang Felly katakan.
"Kamu tahu, kan? Kalau aku membiarkanmu menjadi Cinderella, mereka semua akan protes dan berkata kalau aku melakukan nepotisme. Sudahlah Felly, kamu harus bersiap-siap. Bukankah kamu menjadi salah satu bintang tamu di acara itu nanti? Fokuslah! Aku akan mengusahakan suara terbanyak ada di pihakmu.
Apakah kamu tidak ingin menjadi bintang ternama yang meraih piala itu? Lebih baik kamu fokus, dan jangan hanya mementingkan peran Cinderella saja. Lihat dan contohlah Anya. Dia benar-benar Sempurna. Aku yakin piala kemenangan akan jatuh lagi padanya," ucap Felix yakin.
Mendengar hal itu, Felly menjadi kesal. Dia pun memilih keluar dan pergi tanpa permisi. Lagi-lagi Papanya terlalu membanggakan sosok Anya. Felly benar-benar benci dengan Anya ataupun Rinai. Dia harus melakukan sesuatu agar mereka tidak lagi di atas angin.
Felly tersenyum saat ada sebuah ide yang melintas di pikirannya. Saat tiba waktunya nanti, dia akan melakukan sesuatu. Lihat saja, peran Cinderella dan juga piala penghargaan itu akan beralih padanya.
(Bagian Kedua)
Felly membisikkan sesuatu pada seseorang. Seseorang itu, yang memakai topeng dengan Hoodie warna hitam.
Setelah berbicara dengan Felly, lelaki itu kemudian pergi dan melaksanakan tugasnya. Acara pementasan itu tinggal tiga hari lagi. Felly pun mulai melancarkan rencananya. Masalah suara, dia sudah yakin kalau penghargaan itu akan jatuh padanya. Dan setelah ini, peran Cinderella juga akan beralih padanya.
"Latihan dimulai! Ingatlah, ini tiga hari terakhir. Dan kalian harus latihan dengan sungguh-sungguh!" perintah Felix.
Semuanya mulai memasuki Aula latihan. Mereka mulai harus memakai atribut latihan yang baru saja tiba. Rinai pun mulai mengambil sepatu Cinderella nya. Juga demikian dengan Orion, dia mengambil sepatu miliknya.
Mereka semua latihan seperti biasa. Rinai dan Orion sudah paham dengan gerakan mereka. Namun, tiba-tiba sesuatu terjadi. Sepatu hak milik Rinai patah dan hampir menjatuhkannya. Untung saja Orion sergap dan menangkapnya. Rinai pun tak jadi terjatuh karena bantuan Orion.
Namun tiba-tiba, Orion merasa kesakitan. Dia merasakan ada sesuatu yang aneh di kakinya. Orion lalu jatuh tersungkur. Mulai membuka sepatunya dengan perlahan. Akan tetapi, kakinya berdarah. Darah segar mengalir dari kakinya. Membuat semua menjadi panik seketika.
Mereka segera membawa Orion ke Klinik Agensi. Ziao memeriksa sepatu Orion dan menemukan pecahan beling di dalamnya. Hal itu tidak akan terasa kalau Orion tidak berlari dan menarik Rinai. Semua ini telah direncanakan.
"Ada pecahan kaca." Zio mengangkat pecahan itu yang penuh dengan darah.
Semuanya berteriak histeris. Mereka semakin yakin kalau ini disengaja. Mereka mulai menerka-nerka tentang Siapakah pelakunya.
Rinai dan Aiden mengantar Orion ke klinik. Dokter menjahit kaki Orion. Dengan terpaksa, Orion tak bisa menjadi pangeran lagi.
"Orion harus beristirahat total. Dia harus menghentikan segala aktivitasnya dan beristirahat agar kakinya sembuh." Dokter mengingatkannya.
Orion terdiam menatap kakinya yang saat ini telah diperban. Kecewa? Tentu saja dia kecewa. Tiga hari lagi, dan semua keinginannya sirna. Felix dan yang lainnya datang menghampirinya.
Semua panitia merasa bingung dengan apa yang terjadi hari ini. Sebagian dari mereka masih meneliti tentang siapa yang menaruh pecahan kaca itu di dalam sepatu Orion.
"Bagaimana ini? Orion tak bisa lagi jadi pangeran. Mencari penggantinya pun sangat sulit karena ini sudah hari sebelum hari jadi." Beberapa panitia menggerutu kesal.
Acara pementasan drama musikalisasi ini bisa saja gagal. Agensi Star yang akan menjadi taruhannya. Star telah dipercaya untuk mengatur dan memeriahkan acara penghargaan nanti. Dan semuanya bisa kacau karena kejadian hari ini. Semua panitia menjadi bingung seketika.
Keesokan harinya, mereka masih bingung di tempat Aula latihan. Orion kini tengah duduk di kursi rodanya. Hanya mampu melihat Rinai dari kejauhan. Impiannya untuk menjadi pangeran dan bisa berdansa dengan Rinai telah sirna.
"Bagaimana ini? Haruskah kita mundur?" ucap panitia yang lain.
"Tidak bisa. Agensi kita sedang di taruhkan hari ini. Walaupun waktunya cukup singkat, kita tetap harus menemukan pengganti Orion. Kita tidak boleh menyerah begitu saja. Pelakunya pasti menginginkan agar kita mundur. Sekarang kita tentukan, Siapa yang pantas menjadi pangeran selain Orion." Felix mulai berbicara.
Semua mata menatap Aiden. Dalam pandangan mereka, hanya dirinya yang mampu menggantikan Orion.
"Aiden, kami mohon!" seru yang lain.
Karir semua anak Star sedang dipertaruhkan saat ini. Semua menaruh tangannya pada Aiden. Hanya dia yang dapat mereka andalkan. Selama ini, hanya Aiden mampu menjalani peran dengan cukup dalam dan baik. Tak ada sosok yang tepat kecuali Aiden sendiri.
Aiden sendiri memandang kearah Anya, kekasihnya. Aiden tahu, Anya berharap Aiden akan menolak hal itu.
"Pikirkan semuanya dengan baik. Nasib kami ada di tanganmu. Lancarnya pementasan hari itu, tergantung padamu. Mungkin untuk kamu dengan anak Star yang terkenal dan populer, pementasan itu tidak berarti dan tidak begitu berpengaruh. Tapi untuk kami semua, hal itu sangat berpengaruh. Hanya itu kesempatan kami untuk dikontrak oleh salah satu stasiun televisi. Tolong Aiden!" ucap Vito, salah satu anak Stat yang tak terlalu populer.
Aiden menarik nafas cukup dalam. Dia merasa benar-benar berada di ujung tanduk. Padahal, dia sudah berjanji pada Anya. Sayangnya, dia harus mengambil keputusan ini dengan baik.
"Baiklah, aku akan menggantikan peran Orion," jawabnya.
Semua anak Star bergembira. Aiden memang benar-benar bisa diantar saat ini. Yang terpenting, setelah ini mereka harus latihan dengan sangat baik.
"Tapi siapa yang akan menggantikan aku menjadi pianis?" tanya Aiden.
Orion menggeser kursi rodanya.
"Bukankah menjadi pianis hanya perlu duduk? Aku bisa melakukannya!" ucap Orion.
Mungkin Orion memang sedikit kesal. Namun, dia tak bisa egois dan membiarkan semua teman-temannya jadi kecewa. Setidaknya, ada hal yang bisa dia lakukan.
Sedari tadi, Rinai hanya diam saja. Dia masih sulit percaya dengan apa yang terjadi. Dia mencoba menghindari Aiden, dan dan kini malah menjadi pasangannya dalam peran.
"Baiklah. Kita sudah menentukan semuanya. Latihan akan dimulai!" ucap salah satu panitia.
"Rinai, Tolong bantu Aiden menghayati perannya," pinta Felix.
Mau tak mau Rinai melakukan tugasnya. Dia pun mulai mengajari Aiden. Lelaki itu dapat memahami perannya dengan sangat baik. Terkecuali satu, saat berdansa. Aiden merasa kesulitan saat melakukannya.
Setelah latihan berakhir, semua diam. Mereka bertanya-tanya, apakah acara nanti akan sukses? Sementara Aiden hanya memiliki waktu yang singkat untuk berlatih berdansa.
Rinai membuka jendela kamar di asramanya. Dia rindu tempatnya bersama Rose. Semua kejadian akhir-akhir ini membuatnya sangat lelah. Rinai pun memutuskan untuk keluar dari kamar.
Gadis itu pergi ke Aula latihan. Tanpa sengaja melihat Aiden yang tengah berlatih sendirian. Rinai tersenyum menatapnya. Lelaki itu berdialog seperti pangeran. Kemudian mulai berdansa sendirian, sembari menghafalkan gerakannya.
Prok! Prok!
Rinai bertepuk tangan untuknya. Aiden pun mulai menghentikan gerakannya. Dia memilih untuk duduk. Rinai yang kebetulan membawa jus jeruk memberikannya untuk Aiden.
"Kakak sudah keren, kok." Rinai berkata dengan sungguh-sungguh.
"Kamu meledekku, ya? Iya, kan?” ucap Aiden sambil tertawa.
"Kakak tahu tidak? Sejak Kakak mulai debut, aku sudah menjadi penggemar mu. Karena kakak juga, aku bisa jadi seperti ini. Kakak yang buat aku berani. Kakak juga yang mengajariku bahwa harus percaya pada diri sendiri. Jadi, Kakak juga harus percaya pada diri Kakak sendiri. Kakak pasti bisa!" ucap Rinai menyemangati.
Aiden tersenyum. Rinai memang benar-benar bagaikan magnet yang membuatnya memiliki daya tarik tersendiri. Sesingkat itu, Aiden jadi percaya diri.
"Maukah kamu berdansa denganku tuan putri?" Aiden bangkit lalu mengulurkan tangannya pada Rinai.
Rinai tersenyum lalu mengangguk. Gadis itu bangkit dan mulai berdansa dengan Aiden. Mengajari lelaki itu gerakan yang benar.
"Tangannya lebih kebawah, Kak."
Rinai meletakkan tangan Aiden di pinggulnya. Pada awalnya mereka Canggung, tapi kemudian tertawa bersama.
"Ayo, Kak! Kita bisa kok."
Rinai terus meyakinkan Aiden. Mereka mulai berdansa. Keduanya saling pandang dengan tatapan yang begitu dalam. Bagi Aiden, sorot mata Rinai menunjukkan sebuah kenyamanan. Tanpa mereka sadari, mereka berdansa dengan sangat baik. Aiden terus saja menatap Rinai. Langkahnya perlahan-lahan mengikuti gerakan Rinai. Mereka larut dalam gerakan itu.
Keduanya masih saling menatap, tanpa mereka sadari ada yang memperhatikan dari kejauhan. Orion sadar, bagaimanapun mereka dipisahkan, selalu ada cara untuk mereka bersama. Entah itu sengaja atau tidak. Yang Orion tahu, Rinai menyukai Aiden. Begitupun sebaliknya. Hanya saja, Aiden tak menyadari hal itu. Dia hanya tahu sedang menjalin hubungan dengan Anya. Padahal, perasaan cintanya untuk Anya telah lenyap. Aiden tidak sadar kalau sebenarnya yang mulai dia sukai adalah Rinai.
"Wah, aku bisa!" ucap Aiden antusias.
Mereka kembali mengulang gerakan itu. Aiden mulai paham. Dia terus mencobanya sampai bisa.
Di lain sisi, Felly merasa sangat kesal. Ada seseorang yang mengubah rencananya. Harusnya yang celaka dan cidera adalah Rinai. Hak sepatunya lepas dan dia akan terjatuh. Sayangnya, Orion menyelamatkannya. Yang tidak Felly ketahui, Siapa orang yang menaruh pecahan kaca di sepatu Orion. Itu diluar rencananya.
Anya sendiri menahan kekesalannya. Malam ini, Aiden meminta maaf padanya.
"Maafkan aku, Anya! Aku terpaksa menerimanya. Semua ini demi anak Star," ucap Aiden menjelaskan.
Anya hanya diam. Dia juga tidak tahu, Kenapa harus kekasihnya? Padahal bisa saja Ziao yang menggantikan Orion.
"Harusnya Ziao saja. Bukannya kamu."
Anya masih kesal. Sejak awal, Rinai lah yang membuatnya cemburu. Gadis itu selalu selangkah di depannya. Dan Anya benar-benar tidak suka akan hal itu. Sekarang, malah Aiden berpasangan dengannya. Hal yang Anya takutkan terjadi. Anya jadi semakin tersingkir.
"Ayolah! ini bukan Anya yang aku kenal. Anya yang aku kenal adalah sosok yang sangat baik. Dia memikirkan kepentingan semuanya, bukan hanya tentang dirinya." Aiden terus membujuknya.
Aiden kemudian mengambil botol minuman yang dia pegang, yang baru saja dia dapatkan dari Rinai.
"Dan penghargaan aktris terfavorit tahun ini, jatuh pada 'Anya'!"
Aiden menghibur Anya. Membuat Gadis itu mulai tersenyum. Dia tahu, hal yang paling Anya inginkan adalah piala kemenangan.
"Untuk Anya, silakan maju ke depan dan menyampaikan pesan dan kesannya," pinta Aiden.
Anya tertawa. Dia menerima botol yang Aiden berikan, lalu maju ke depan.
"Terima kasih semuanya. Aku nggak nyangka akan mendapat piala ini lagi. Semua ini berkat kalian semua. Untuk Aiden kekasihku, yang selalu mensupport karirku. Untuk keluargaku, teman-temanku. Dan yang paling penting, semua ini tidak akan pernah aku dapatkan tanpa kalian, penggemarku."
Anya kemudian mengangkat botol itu. Aiden pun bertepuk tangan untuknya. Keduanya saling tertawa, sampai Anya memeluk Aiden.
"Apakah mungkin piala itu akan aku dapatkan lagi tahun ini?" tanya Anya pada Aiden.
"Tentu saja. Piala itu akan jatuh lagi ke tangan mu. Tidak ada yang pantas mendapatkannya kecuali kamu. Kamu cantik, berbakat dan aku pastikan piala itu akan jatuh ke tanganmu," ucap Aiden menghiburnya.
"Aiden, aku jadi malu!" Anya benar-benar senang, dan berharap kalau hal itu jadi kenyataan esok lusa.
"Percaya Padaku! Kamu yang pantas mendapatkannya," ucap Aiden sekali lagi.
Anya masih saja tersenyum. Dia akan menjadi orang yang paling beruntung ketika mendapatkan penghargaan itu lagi. Karirnya, asmaranya, dan kehidupannya. Semua akan ada dalam genggaman nya. Kekasih yang tampan dan baik hati. Semua akan menjadi keberuntungannya nanti.
"Baiklah, ini sudah malam. Ayo aku antar ke kamarmu!" ucap Aiden.
Anya tersenyum, kemudian menggenggam tangan Aiden cukup erat. Keduanya melangkah bersama. Anya berharap hari ini takkan pernah berakhir. Aiden akan selalu ada bersamanya sampai nanti. Sampai mereka menikah dan memiliki anak, nanti. Itulah harapan Anya untuk saat ini dan seterusnya.