Hari itu telah tiba. Acara penghargaan ajang bergengsi itu telah dimulai. Banyak artis-artis yang datang. Ada juga penyanyi maupun sutradara-sutradara penting. Produser film, kritikus film, komposer terkenal, maupun artis-artis yang baru debut.
"Selamat datang di Star awards 2022. Ajang paling bergengsi di tahun ini," sang MC mulai membuka acara.
Suara kembang api bergemuruh di atas langit. Banyak penonton di luar sana. Bagian tamu VVIP berada di dalam gedung. Banyak dari mereka termasuk orang-orang penting dalam industri musik ataupun perfilman. Kita datang untuk memeriahkan acara penghargaan tahun ini.
Di belakang panggung, para anak Star yang ikut pementasan drama tengah bersiap. Mereka semua sudah akan tampil setelah ini.
Rinai keluar pertama kali. Bernyanyi diatas panggung, diantara bunga-bunga yang tengah bermekaran.
Sorot kamera tertuju padanya. Kru film saling teratur dalam setiap pengambilan video. Acara ini ditampilkan secara live Di sebuah stasiun televisi swasta. Siapapun yang bisa berdiri di panggung itu, Karirnya selama setahun kedepan akan terjamin.
Pementasan itu berjalan dengan baik. Anya dan Wintang benar-benar menghayati perannya sebagai kakak tiri. Beberapa Penonton cukup terkejut, sebab bukan Anya yang menjadi bintang utama malam ini.
Rinai sebagai pendatang baru tahun ini, berhasil mengambil semua perhatian awak media. Mereka meyakini, Rinai akan menyabet salahsatu piala penghargaan malam ini.
Kini tiba saatnya Pangeran bertemu dengan Cinderella. Di dalam pesta, mereka saling berdansa bersama. Semua penggemar keduanya diluar berteriak histeris. Mereka sangat yakin kalau keduanya sama-sama memiliki perasaan saling suka. Bahkan dari mereka mempercayai kalau Aiden dan Anya telah putus sejak lama. Keduanya benar-benar menjadi bintang karena membawakan peran yang sangat baik.
"Wah, Rinai dan Aiden benar-benar memiliki Chemistry yang sangat baik."
Beberapa penonton mulai berbisik-bisik tentang keduanya. Mereka sangat serasi malam ini, bahkan menunjukkan sesuatu yang sangat baik.
"Aku terharu melihatnya," ucap Astri. Dia tengah menonton televisi di rumahnya saat ini bersama dengan Rindu.
Keduanya sangat antusias melihat pementasan Rinai. Terutama Astri, dia nampak sangat senang. Kakaknya benar-benar seperti Cinderella. Memakai gaun yang sangat indah, dan juga berdansa dengan pangeran tampan.
Acara pementasan drama ditutup dengan permainan piano Orion. Semua bertepuk tangan karena meriahnya pementasan itu.
"Kita berhasil!" Ziao berteriak di belakang panggung.
Semua anak Star merasa senang. Mereka benar-benar mendapatkan tepuk tangan yang meriah dari penonton menandakan keberhasilan pementasan mereka,
Aiden berdiri di samping Orion setelah berganti pakaian. Rinai keluar dan membawa satu botol minuman. Tanpa sengaja, Rinai memperhatikan Vito yang membawa beberapa aksesoris panggung. Peluhnya membasahi dahi. Melihat itu, Rinai jadi tidak tega.
"Kak, ini minuman untukmu. Ambillah!" ucap Rinai setengah berteriak.
Vito menoleh, hendak menangkap minuman yang Rinai berikan. Tanpa dia sadari, Aiden dan Orion salah sangka dan mengira Minuman itu juga untuknya. Keduanya juga sama-sama menengadahkan tangan dan hendak menangkap minuman itu.
Rinai diam ketika melihatnya. Kebetulan sekali Ziao sedang lewat dan membawa beberapa minuman. Rinai mengambilnya, kemudian memberikannya untuk keduanya.
"Maaf ya? Aku enggak tahu kalau kalian juga mau," ucap Rinai tersenyum.
Sungguh, Aiden dan Orion merasa malu. Mereka sampai jadi Salting karena hal itu. Mengira minuman tadi untuk mereka, nyatanya untuk Vito.
"Kalian kenapa?" tanya Ziao.
Semuanya diam dan mengelak.
"Tidak ada," jawab Aiden singkat lalu pergi.
Semuanya berkumpul di kursi VIP. Menyaksikan Wintang, Anya dan sang Maestro utama, Mr. Felix tampil. Satu kesatuan itu membuat penampilan mereka jadi sangat keren.
"Mereka bertiga benar-benar keren, ya?" ucap Orion.
Aiden tersenyum. Dia tersenyum menyaksikan Anya tampil dengan sangat baik malam ini.
"Menurutmu, Siapa yang malam ini akan kembali menyabet piala penghargaan?" ucap Orion tiba-tiba.
Ziao mengangkat bahunya. Diapun merasa bingung karena kandidat-kandidat nya sangat baik dan juga pantas menerima penghargaan. Aiden hanya tak berani berkata-kata.
"Kamu tahu nggak? Kalau yang mendapat penghargaan malam ini Rinai bagaimana?" Orion bertanya.
Rinai yang mendengar hal itu tentu saja mengelak. Masih banyak kandidat yang lebih baik darinya. Anya dan Wintang sama-sama kuat. Mereka juga sama-sama berbakat. Rinai akui, dia masih belum ada apa-apanya.
Giliran sang MC membacakan para kandidat.
"Penghargaan aktris terbaik tahun ini, dengan kandidatnya sebagai berikut."
Video menampilkan calon-calon pemenang. Beberapa darinya membintangi sebuah film maupun drama. Ada Anya, Wintang, Rinai, Gena dan Felly. Namun, Rinai sama sekali tak berharap dia menang.
Di dekat Aiden, Anya hendak berdiri karena dia sangat yakin kalau dirinya yang akan memenangkan penghargaan itu. Anya menatap panggung, tempatnya berdiri sebentar lagi.
"Dan pemenang penghargaan aktris terbaik tahun ini, jatuh pada 'Wintang'!"
Semua bersorak. Wintang memang pantas mendapatkannya. Dia berbakat, cantik dan juga mudah akrab dengan siapapun.
Anya yang berdiri tiba-tiba duduk kembali. Yang merasa kecewa dalam seketika. Bisa-bisanya kemenangannya digantikan oleh pendatang baru Seperti Wintang. Aiden menatap Anya dalam. Dia tahu kekasihnya itu sangat rapuh saat ini. Anya kecewa, marah dan kesal. Harusnya dia yang berada di atas panggung itu. Namun, saat ini Wintang tengah berdiri sembari mengatakan pesan dan kesannya. Anya terluka dan merasa benar-benar ada di titik paling rendah.
Kenapa semua ini terjadi? Kenapa dia bisa dikalahkan? Padahal selama ini dia berusaha menjadi yang terbaik.
"Aktris terfavorit pilihan penonton, jatuh pada 'Rinai Asmara'."
Sekali lagi Anya terluka. Dia dikalahkan oleh keduanya. Keberadaan Anya sekarang Justru tak dianggap sama sekali. Semua memperhatikan Rinai dan Wintang.Ya, Anya benar dikalahkan oleh pendatang baru tersebut.
Anya diam sejenak. Menghela nafas cukup panjang. Kali ini tiba giliran Aiden. Lelaki itu maju karena mendapat penghargaan aktris terfavorit. Tidak tanggung-tanggung, Aiden menjadi komposer terfavorit tahun ini, dan juga aktor terfavorit tahun ini. Lelaki itu memborong beberapa penghargaan sekaligus.
Harusnya ini menjadi kebahagiaan bagi Anya. Sayangnya, Anya merasa semakin jauh dengan Aiden. Kebahagiaan ini hanya ada pada Aiden seorang, bukan ada padanya.
"Terima kasih untuk semuanya. Semua ini tidak bisa aku dapatkan kecuali tanpa kalian penggemarku. Untuk para teman-temanku, keluarga dan juga orang yang sangat berarti bagiku," ucap Aiden di atas panggung.
Anya pergi menjauh. Dia tak bisa mendengarkannya lebih lama lagi. Hanya benar-benar rapuh dan kecewa, memilih untuk menjauh dan menyendiri saja.
Setelah turun dari atas panggung, Aiden menyusul kekasihnya. Dia ingin menghibur anaknya yang tengah terluka. Hanya benar-benar jatuh saat ini, dan Aiden tahu kalau kekasihnya itu tak menyukai kekalahan.
"Anya, dengarkan aku!"
Aiden terus memanggil Anya. Sang kekasih terus berjalan tanpa henti.
"Anya, jangan seperti ini." Aiden menggapai punggung Anya. Membuat gadis itu menatapnya dalam.
"Kenapa? Kamu mau membuat aku merasa semakin rendah?" ucap Anya membuat Aiden tercengang.
Aiden mencoba tersenyum, karena dia paham kalau Anya tengah kesal saat ini.
"Sudahlah, kamu pasti..."
Belum melanjutkan ucapannya. Anya memotongnya lebih dulu.
"Aku tidak pernah suka kekalahan, Aiden. Tidak untuk sekarang ataupun nanti." Tangis Anya pecah. Dia tak menyangka kalau dirinya dikalahkan dengan begitu mudah. Dan Anya tahu penyebabnya.
"Anya, jangan begitu. Kamu tetap pemenang bagiku. Ambil ini! Aku berikan piala ini untuk kamu," ucap Aiden masih mencoba menenangkan.
Anya melempar piala itu, sampai salah satunya patah menjadi dua.
"Aku enggak butuh itu. Sikapmu semakin membuat aku merasa kalah!"
Aiden memungut piala itu. Mengambil yang bagus dan membiarkan yang patah.
"Aku kecewa padamu. Ini bukan Anya yang aku kenal," ucap Aiden.
Anya menatap tajam ke arah Aiden. Dia kemudian tersenyum sinis ke arahnya.
"Mungkin ini kesalahanku. Aku terlalu terbuai dalam hubungan kita. Aku merasa semua ini karena kamu. Aku sempat terpuruk karena kamu yang koma. Tanpa aku sadar kalau karirku yang menjadi taruhannya. Sekarang aku mengerti semuanya."
Aiden semakin terluka saat mendengar penuturan Anya. Dia bahkan menyalahkan keadaan saat dia koma dulu.
"Maafkan aku, Anya!" ucap Aiden pelan.
"Aiden. Lebih baik kita..."
Terasa berat Anya mengatakan itu. Dia kembali mengingat ucapan Mr. Felix tentang hubungannya. Dan kejadiaannya benar-benar terjadi. Dia dikalahkan oleh oleh orang-orang baru.
"Kita putus saja!"
Aiden terdiam saat mendengarnya. Anya tega sekali mengatakan hal itu. Sementara dirinya terus mempertahankan hubungannya dengan Anya. Menahan diri dari perasaannya untuk Rinai. Mencoba membuat Mamanya menyetujui hubungan mereka, walau pada akhirnya Anya sendiri yang membuat hubungan itu kandas. Aiden benar-benar merasa sangat sakit hati dengan ucapan yang Anya sebutkan tadi.
"Baiklah, kalau itu memang mau kamu." Aiden juga mengiyakan ucapan Anya. Dia tak mau menjadi beban bagi Anya.
Keduanya berpisah di balkon atas gedung. Aiden hanya berdiri, sementara Anya meninggalkan dirinya dengan hati penuh sesak. Dia harus meninggalkan cintanya untuk satu ambisi memiliki karir yang baik.
Aiden menghirup nafas sejenak. Merasakan hembusan angin malam yang menerpa sekujur tubuhnya. Langkahnya gontai, meninggalkan gedung itu dengan hati yang terluka. Semua ini karena Anya, yang memutus hubungan itu. Menganggapnya memberikan beban terhadap kariernya.
Setelah kepergian Aiden, seseorang datang ke atas balkon. Memungut piala yang patah tadi. Rinai melihat dan mendengarnya. Rasanya cukup menyedikan menjadi Aiden. Ditinggalkan begitu saja tanpa sebab. Anya sungguh egois. Menyalahkan Aiden atas kekalahannya.
(Bagian Kedua)
Aiden membuka matanya. Melihat piala miliknya berjumlah tiga. Dia melihatnya dengan lebih serius lagi. Benar, dia tak salah lihat.
"Ziao? Kenapa Piala milikku ada tiga?" tanya Aiden.
Ziao menjitak kepala Aiden sehingga lelaki itu merasakan sakit.
"Kamu ini ngelindur, ya? Kan emang kamu dapat tiga penghargaan semalam. Kamu menyabet semuanya bahkan mengalahkan Mr. Felix yang selalu ada di urutan pertama sebagai seorang komposer," ucap Ziao menjelaskan.
Bukan itu maksud Aiden. Dia hanya bingung karena semalam dia meninggalkan piala itu atas balkon gedung.
"Sebenarnya Rinai yang memberikannya padaku. Dia bilang kamu mungkin menjatuhkannya di suatu tempat," lanjut Ziao.
Mendengar hal itu, Aiden jadi termenung. Diraihnya piala itu. Rinai ternyata memperbaikinya. Seutas senyum terbit dibibir Aiden.
Lelaki itu kemudian keluar. Hendak mendengar pengumuman pagi ini. Dia berpapasan dengan Anya. Sayangnya, tak ada lagi kata manja untuknya. Dia dan Anya bukan siapa-siapa lagi.
"Rinai!" panggilnya.
Rinai menoleh dan tersenyum, dia tahu Aiden pasti sadar mengenai piala itu.
"Terima kasih untuk piala itu," ucap Aiden.
Rinai mendekat kemudian menghampirinya.
"Kak, sebenarnya aku hanya menemukannya. Karena patah, jadi aku benarkan."
Sebelum Aiden berkata lebih, dia menjelaskannya lebih dulu.
"Makanya, aku sangat berterima kasih padamu," ucap Aiden.
Anya menatap keduanya dengan tatapan tidak suka. Baru semalam putus dengannya, Aiden sudah mendekati Rinai.
Setelah pengumuman itu, mereka dibebaskan untuk berada diluar agensi sampai waktu yang ditentukan.
Rinai yang menatap Aiden sejenak. Dia tahu, lelaki itu sedang patah hati saat ini. Niatnya ingin pergi, namun hatinya peduli.
"Kak, apa nanti malam sibuk?" tanya Rinai menghentikan langkah Aiden.
"Tidak, memangnya kenapa?" tanya Aiden.
Rinai merasa ragu, hendak mengatakannya atau tidak. Akankah terlihat seperti dia ingin menggoda Aiden? Padahal dia hanya ingin membuat lelaki itu merasa terhibur. Jika Aiden terus-terusan mengurung diri di kamar dia tetap tidak akan bisa melupakan kejadian semalam. Makanya, Rinai mengajak lelaki itu keluar.
"Mau lihat kembang api di atas bukit?" ajak Rinai.
Aiden menyunggingkan sebuah senyuman. Ajakan Rinai padanya terdengar sangat manis. Harusnya dia langsung saja ke intinya. Rinai terlihat menggemaskan saat mengajaknya berkencan. Ralat, keluar bersama.
"Boleh saja. Biar nanti aku jemput kamu."
Keduanya sama-sama tersenyum. Mereka kemudian berpisah dan kembali ke rumah mereka masing-masing.
Di depan gedung, Rose telah menunggu Rinai. Dia tersenyum lalu memberikan selamat.
"Selamat atas kemenangan Cinderella!" goda Rose.
Rinai memajukan bibirnya. Sudah tidak datang semalam, Rossi masih bisa menggodanya. Sahabatnya itu ada fashion show semalam, jadi tak bisa menghadiri ajang penghargaan semalam.
"Rinai Asmara, sekali lagi selamat atas penghargaan yang lu raih. Gue nggak nyangka kalau lu bisa menang. Si Wintang mana? Gue belum ngucapin selamat juga sama dia. Kalian berdua, Pokoknya keren deh!" seru Rose.
Mereka akhirnya Pergi. Rose membawa Rinai ke tempat mereka berdua. Sungguh, mereka berdua saling merindukan.
"Nanti malam ada acara apa?" ucap Rose bertanya.
"Sebenarnya gue janjian sama Aiden."
Rinai menjawab dengan sedikit keraguan.
"Apa? Lu masih ada hubungan sama dia? Ingat Nai, dia udah punya cewek." Rose masih mengingatkan Rinai.
"Ini nggak seperti apa yang lu lihat dan lu duga. Niat gue baik kok. Sebenarnya..."
Rinai akhirnya menjelaskan semuanya. Alangkah terkejutnya Rose mendengar cerita dari Rinai. Dia merasa iba dengan Aiden. Menurutnya, hanya benar-benar keterlaluan dan sangat egois.
"Gila aja ya dia? Gue jadi kasihan sama Aiden," ucap Rose.
Rose sendiri juga sudah janjian dengan Ziao. Jika memang begini takdirnya, Rose yakin kalau Rinai dan Aiden memang ditakdirkan untuk bersama. Rose bertekad akan menyatukan keduanya.
"Ini kesempatan buat Rinai sama Aiden. Gue harus nyatuin mereka berdua," ucapnya dalam hati.
Rinai meletakkan piala miliknya di atas meja dekat ranjangnya. Dia menatapnya cukup lama. Rinai tak pernah menduga kalau piala itu akan ada di tangannya. Dulu, impiannya tak terbatas. Rinai hanya ingin menjadi musisi terkenal. Tak pernah dia sangka, kejayaan itu ada di tangannya saat ini. Dia tahu, semuanya tak lain karena berkat Aiden yang mengajarinya. Bahkan dari awal masuk star, semua berkat Aiden. Pria itu sangat membuatnya terenyuh.