Bila Cinta Memang bisa sembuhkan luka, mungkinkah Aiden juga begitu? Malam ini keduanya duduk di sebuah bangku yang ada di taman atas bukit. Kembang api Terdengar sangat riuh. Terlalu indah untuk Rinai dilihat saat ini.
"Kak, lihat itu! Kembang api nya sangat indah."
Rinai nampak sangat antusias. Senyumnya tak pernah luntur sedikitpun. Aiden yang melihatnya juga ikut tertular dengan senyumannya. Rinai adalah sosok yang periang dan ceria. Siapapun yang bersamanya juga akan tertular keceriaannya.
"Lihat itu!" ucap Aiden.
Kali ini Aiden yang menunjuk gedung-gedung yang menjulang tinggi.
"Dilihat dari sini, gedung-gedung itu sangat kecil."
Rinai tersenyum. Seperti ini saja sudah cukup baginya. Melihat Aiden tersenyum bahagia.
Tiba-tiba rintik hujan turun begitu saja. Aiden dan Rinai berlari untuk berteduh. Keduanya duduk di sebuah gubuk untuk berteduh.
"Pakai ini, jangan sampai kamu kedinginan."
Aiden benar-benar ingat akan sesuatu. Dia ingat ada seorang perempuan yang tengah kedinginan, dan saat itu dia tak bisa melakukan apapun.
Aiden kemudian melepaskan jaketnya dan memakaikannya pada Rinai. Gadis itu mendongakkan kepalanya, menatap Aiden dengan tatapan yang sangat dalam.
Bukan hanya tentang Aiden, tapi Rinai juga mengingat hal itu. Entah kenapa hujan selalu membuatnya teringat tentang hal-hal yang dulu pernah mereka lewati.
"Yah, Sepertinya kita akan terjebak di sini," ucapan Rinai membuat Aiden tersenyum.
Aiden sendiri tak masalah, karena dia terjebak di sini bersama dengan Rinai. Aiden juga merindukan tentang hujan.
"Maaf ya, Kak. Kalau aku nggak ngajak kesini Mungkin kita nggak akan terjebak." Rinai merasa bersalah dengan ajakannya.
"Ah, Memangnya kenapa? Aku suka disini dan aku juga suka hujan." Aiden tersenyum sembari menatap Rinai.
Ketika bersama dengannya, ada rasa nyaman dan tenang yang Aiden rasakan. Bahkan ketika bersama Anya, dia tak pernah merasakan hal itu.
"Kamu mau dengar ceritaku tentang hujan? Cerita tentang aku masih kecil." Aiden bertanya.
"Cerita saja, Kak. Aku mau dengar kok!" ucap Rinai.
Aiden mulai bercerita sementara Rinai terus mendengarkannya. Lelaki itu bercerita kalau dulu sering main hujan-hujanan. Sampai suatu hari, dia sakit karena hal itu. Mamanya yang posesif Kemudian melarangnya untuk hujan-hujanan lagi. Sejak saat itu juga, Aiden sering sembunyi-sembunyi untuk bisa merasakan tetes air hujan.
"Hahaha, tante pernah tahu kalau Kakak itu sembunyi-sembunyi dan hujan-hujanan, dia marah dan akan mengurung Kakak setiap kali hujan turun." Rinai tertawa renyah, membuat Aiden terus menatapnya.
"Mau aku tunjukkan sesuatu?" ajak Rinai.
Gadis itu meraih tangan Aiden, mengajaknya untuk bermain air hujan.
"Rasakan ini. Bagaimana air hujan bisa menutupi kesedihan kita. Ketika aku sedih dulu, aku sering menangis di tengah hujan. Air mataku menjadi satu dengannya, sehingga tidak ada yang sadar kalau aku tengah menangis.
Rinai kembali menarik Aiden di sisi bukit.
"Berteriaklah yang kencang, sehingga apa yang menjadi kesedihanmu akan hilang."
Rinai masih setia menatap Aiden. Menunggu lelaki itu untuk berteriak.
"Aaa! Aku benci kamu!" Rinai mulai berteriak.
Melihat hal itu Aiden tersenyum. Dia tak menyangka kalau bisa melihat Sisi Rinai yang seperti ini.
"Aaa! Aku benci dengan keegoisan mu!" Aiden juga mulai berteriak.
Rinai yakin dan tahu untuk siapa teriakan itu. Setidaknya, Aiden meluapkan isi hatinya.
"Kamu benar. Perasaanku sedikit lega," ucap Aiden.
"Benar, kan? Itu berteriaklah lagi sampai perasaanmu benar-benar menjadi lega," suruh Rinai.
"Aku benci sikapmu. Aku benci ketika kamu menyalahkan ku atas kekalahan mu. Dan aku benci ketika kamu meninggalkan aku tanpa alasan!" Aiden terus berteriak sampai suaranya habis.
Rinai masih tertawa. Dia tak menyangka kalau Aiden yang lemah lembut bisa berteriak sekeras ini.
"Bagaimana? Merasa lega, kan?" tanya Rinau memastikan.
Aiden tersenyum lalu mengangguk. Apa yang Rinai katakan memang benar adanya. Dia benar-benar merasa lega untuk saat ini. Perasaan yang dia pendam bisa keluar.
"Terima kasih, Rinai!" ucapnya Lirih.
"Baiklah. Aku beritahu kalau ini adalah tempat favoritku. Ketika aku sedih, aku selalu datang ke sini. Ketika aku kalau audisi, aku juga datang ke sini dan meluapkan segalanya. Sehingga aku tidak mudah menyerah, karena bukit ini kembali memberikanku harapan.
"Kamu memang benar. Bukit seperti Magic. Membuat semua yang datang kesini menjadi bahagia lagi. Seperti aku, Kesedihanku berkurang sekarang." Aiden berucap panjang lebar.
Aiden tersenyum lalu memeluk Rinai seketika itu juga. Rina cukup terkejut dengan perbuatan itu. Dia hanya bisa diam dan merasakan pelukan Aiden.
"Ayo pulang! Aku tidak mau kamu sakit," ucapan Aiden membuat Rinai senang.
Aiden kembali memakaikan jaket miliknya tadi. Setidaknya Rinai tidak akan terlalu kedinginan.
Anya sendiri merasa gelisah. Keputusannya untuk berpisah dengan Aiden sedikit menguras pikirannya. Sebenarnya dia tak mau ini terjadi. Hanya saja, Anya harus memilih antara karir atau cintanya.
"Orion, Aiden ada di mana?" tanyanya.
"Aku tidak tahu. Sepertinya dia kembali ke tempatnya. Kamu sendiri kenapa masih di sini? Bukankah kamu seharusnya juga sudah kembali ke tempatmu?" tanya Orion ketika melihat Anya masih ada di agensi.
"Bukan seperti itu. Sesuatu yang masih harus aku selesaikan terlebih dahulu di sini. Kamu sendiri kenapa masih ada disini?" tanya Anya.
"Aku masih harus menyembuhkan kakiku. Besok aku ada janji bertemu dengan dokter di sini. Mungkin besok Ziao akan menjemput ku," ucap Orion.
Anya terdiam. Rupanya, yang tersisa di agensi ini hanya dirinya dan Orion.
"Baiklah. Aku pikir Aiden masih ada di sini."
Anya kemudian pergi. Dia tak bisa terus-terusan seperti ini. Memang benar dia memutuskan Aiden kemarin, tapi perasaannya tak pernah berubah. Hatinya masih untuk lelaki itu.
( bagian kedua)
Rose dengan tingkah Rinai. Kencan apa-apaan yang membuatnya sampai hujan-hujanan seperti ini. Rose benar-benar tak mengerti dengan keduanya.
"Kalian berdua seperti anak kecil saja," ucap Rose.
Rose merasa kalau Rinai dan Aiden tidak ada kerjaan sampai mereka hujan-hujanan seperti itu.
"Lu pakai jaket Aiden, Ya?" tanya Rose.
Rinai tersenyum kemudian mengangguk setuju. Memang benar. Dia memakainya karena Aiden yang memintanya.
"Cie, gue yakin kalian saling suka," ucap Rose menggoda.
"Ih, lu apaan sih. Dia itu baru putus sama Kak Anya. Enggak semudah itu buat dia move on secepatnya," ucap Rinai mengelak.
Rinai tahu dengan benar betapa Aiden sangat menyukai Anya. Bahkan ketika lelaki itu koma, dia gentayangan dan berharap Rinai menyampaikan pesan itu pada Anya.
"Gue dukung kalau lu jadian sama dia!" ucap Rose.
Rinai memberikan tatapan yang tajam pada sahabatnya itu. Tak mungkin baginya untuk mengambil kesempatan disaat Aiden tengah patah hati.
"Gue cuma mau hibur dia, Rose. Gue tahu dia terluka. Gak mungkin juga dia move on secepat itu," ucap Rinai.
"Lu harusnya tahu. Ini kesempatan yang cukup langka buat lu. Raih hatinya. Gue tahu lu suka sama dia. Nunggu apa lagi, Nai. Si Anya sendiri yang udah mutusin Aiden. Bukan salah lu kalau nantinya Aiden dan lu jadian. Toh, kalian kalau jadian setelah mereka putus," ucap Rose begitu serius.
"Biarin aja semua ini berjalan dengan semestinya," jawab Rinai.
Rose merasa kalau Rinai memungkiri perasaannya. Padahal Rose tahu kalau sahabatnya itu sangat menginginkan Aiden agar bisa menjadi kekasihnya.
Rinai hanya tak mau kalau nantinya dia terluka. Rinai tak mau terlalu berharap sedangkan dia tahu kalau Aiden sangat mencintai Anya.
"Sudahlah. Ayo tidur," ajak Rose.
Rinai mulai membaringkan tubuhnya. Mencoba memejamkan mata. Sayangnya, dia malah tak bisa. Pesan dari Aiden justru membuatnya semakin tidak bisa tidur.
"Sudah tidur?" tanya Aiden lewat pesan suara yang dia kirimkan.
"Belum," balas Rinai pelan. Takut Rose bangun dan mendengarnya.
Rose sendiri mendengar semuanya. Dia bertanya-tanya apakah Aiden memang tengah patah hati? Karena sama sekali tak terdengar seperti orang yang tengah habis putus cinta.
Mereka berdua terus berkirim pesan suara sampai dini hari. Rose saja benar-benar merasa heran.
Keduanya seperti sedang berpacaran saja. Hal-hal yang sepele mereka berdua tanyakan pada satu sama lain. Rose benar-benar yakin kalau mereka berdua saling suka. Cepat atau lambat, Rose pastikan mereka akan jadian.
Rinai bangun cukup siang hari ini. Dia terlalu sibuk berkirim pesan suara dengan Aiden, sampai dia lupa kalau ada pertemuan siang ini.
"Nai, buruan bangun. Lupa ya kalau ada janji?" tanya Rose.
Rinai meregangkan seluruh tubuhnya. Membuatnya seolah-olah melakukan pemanasan sebelum bangun dari ranjangnya.
"Iya, gue ingat kok. Ada pertemuan mengenai tawaran menjadi pemeran utama di sebuah drama. Sebenarnya ada tiga artis yang hendak di Casting hari ini. Gue juga nggak terlalu yakin kalau akan terpilih jadi pemeran utama. Jadi pemeran pendukung tentu saja gue udah bersyukur." Rinai bangun kemudian menuju kamar mandi.
"Lu jangan nyerah dulu. Siapa tahu nanti pemeran utamanya ganteng. Lu juga bisa makin terkenal kalau jadi pemeran utama." terus memberikan semangat.
Rose disitu memilihkan beberapa pakaian yang cocok untuk Rinai pakai hari ini.
"Apa gue harus pakai yang ini?" tanya ketika melihat sebuah dress berwarna pink.
Dia merasa ini cukup berlebihan hanya untuk sekedar casting.
"Wajib, Nai. Ini masalah penentuan pemeran utama. Jangan sampai lu gagal jadi pemeran utama gara-gara penampilan aja. Percaya sama gue yang seorang model ini. Penampilan itu nomor satu," ucap Rose mencoba meyakinkan.
"Iya, gue pakai kok." Rinai akhirnya memakai gaun milik Rose.
Dia sendiri tidak punya banyak gaun. Rinai lebih suka mengenakan dress simple. Berbeda dengan Rose yang selalu up to date kalau soal model pakaian.
"Wah, lu cantik banget. Gue yakin kalau lu yang bakal terpilih!" ucap Rose terus memuji sahabatnya.
"Semoga aja, Ya. Gue sih nggak terlalu banyak berharap. Masuk sebagai pemeran pendukung saja gue udah seneng."
Rinai membenarkan rambutnya. Jika gadis itu selalu membiarkannya terurai, Rose memintanya untuk mengikatnya saja. Rinai harus menunjukkan leher jenjangnya yang indah. Siapa tahu nanti sutradara terpikat dengan kecantikannya.
"Lu beneran yakin gaya ini cocok buat gue?" tanyanya pada Rose.
Rose sendiri hanya tertawa. Sebenarnya dia belum pernah melihat Rinai dengan gaya seperti ini. Namun, diakuinya kalau Rinai sangat cantik hari ini.
"Percaya sama gue, Lu beneran kelihatan cantik banget," ucapan Rose.
Rinai tersenyum dan mulai percaya diri dengan penampilannya.
"Sudah siap? Ayo gue anterin," ajak Rose.
Keduanya kemudian keluar dan segera masuk ke dalam mobil. Rose mengantarkan Rinai dan menunggunya.
"Pokoknya lu Mesti percaya diri. Berakting sebagus mungkin kayak lu yang jadi Cinderella waktu itu. Yakinkan sutradara kalau itu cocok jadi pemeran utama. Dan jangan lupa, gue dengar sutradaranya masih muda." Rose sekali lagi menggoda Rinai. Walau dia tahu, Rinai takkan terpikat pada siapapun selain Aiden.
Rinai memasuki ruangan itu. Beberapa kandidat yang lain telah berkumpul di sana. Mereka semua sudah siap dan hendak di casting satu-persatu. Semua mata tertuju padanya. Rinai merasa tidak enak. Di tempat ini, hanya dirinya saja yang termasuk Junior. Semuanya sudah tergolong senior.
"Rinai!" ucap Felly cukup terkejut.
Rinai sontak menoleh ke sumber suara. Dia pun tak kalah terkejutnya dengan Felly. Tak menyangka kalau keduanya kembali dipertemukan dalam kandidat pemeran utama.
Felly menatap kesal kearah Rinai. Mati-matian dia merekomendasikan dirinya dalam drama yang akan tampil. Felly merengek memohon pada Papanya. Namun, kenyataannya malah dia dipertemukan dengan Rinai lagi. Dia tak mau Kalah dua kali olehnya.
"Hai, kamu Rinai Asmara, kan? Ternyata lebih cantik aslinya daripada di video maupun di televisi," ucap Luna, salah satu kandidat pemeran utama.
Rinai menutup mulutnya. Dia tahu dengan benar siapa sosok selebriti yang tengah berbincang dengannya itu. Dan wanita itu tahu dengan benar Siapa nama panjangnya.
"Kak Luna bisa saja. Terima kasih, kak."
Rinai tersenyum kemudian mengambil duduk di dekatnya.
"Semoga kamu berhasil!" ucap Luna.
Rinai tersenyum lalu menundukkan kepala dan mengucapkan terima kasih. Baru kali ini Luna merasa dihormati.
Sutradara muda itu datang. Dia tampan dengan tubuh atletis dan rambut hitamnya yang lebat. Rinai mendengar kalau namanya adalah Desta. Apapun drama yang dia sutradarai akan terkenal dan melejit.
"Baiklah, kita mulai sekarang."
Semua fokus mendengarkannya. Lelaki itu cukup tegas dan profesional. Mengatakan kalau pemilihan ditentukan dengan bakat. Siapa yang paling baik dalam berakting, dialah yang akan menjadi pemeran utama.
"Hai, kamu itu berakting atau sedang bicara di kamar mandi? Kenapa pelan sekali? Sosok Aurel dalam Drama ini tegas. Enggak menye-menye kayak gitu," ucap Desta kasar.
Felly merasa kesal. Dia sudah berusaha berakting dengan sangat baik. Malah dihina seperti itu. Dia menganggap kalau si Sutradara saja yang salah.
"Giliran kamu, Luna. Contohkan akting yang bagus." Desta menyuruh Luna maju.
"Kenapa harus dengan dia, Ayah? Pernikahan itu harus dengan cinta. Kalau seperti ini, namanya pemaksaan. Aku tidak suka itu," ucap Luna lantang.
Seperti biasanya, Desta puas dengan aktingnya.
"Rinai Asmara. Silakan maju ke depan," pintanya.
Desta menerima Rinai sebagai kandidat karena dia mendapat rekomendasi saat acara penghargaaan. Managementnya membanggakan gadis itu. Desta penasaran mengenai aktingnya dan setuju memilihnya menjadi kandidat pemeran utama. Rinai maju dan mulai menarik nafas.
"Maafkan aku, Ayah. Apa tidak ada cara lain untuk membayar hutang itu? Kenapa harus dengan menikahinya? Aku saja tidak kenal siapa dirinya. Aku hanya ingin menikah dengan seseorang yang aku cintai," ucap Rinai dengan perasaan sedih. Mengatakan semua itu sesuai hatinya.
Desta terpukau. Star tidak main dengan ucapannya. Rinai benar-benar berbakat. Gadia itu menjiwai perannya. Bahkan untuk pemula sepertinya, ini sudah sangat baik.
"Silakan duduk!" pinta Desta.
Luna tersenyum sembari mengacungkan jempolnya. Rinai membalasnya tersenyum.
"Baiklah. Aku sudah memutuskan kalau yang cocok berperan dalam drama ini adalah Rinai Asmara," ucap Desta.
Semua bertepuk tangan untuknya. Rinai memukai semua yang ada di dalam ruangan itu. Termasuk dengan seseorang yang melihatnya dari depan pintu.
"Karena kita sudah mendapatkan pemeran utama perempuan, aku akan mengenalkan pemeran utama pria. Kalian sudah tidak asing lagi padanya. Aiden, masuklah!" suruh Desta.
Rinai terdiam di tempatnya. Masih belum percaya dengan apa yang dia lihat. Bagaimana bisa? Dan kenapa dia lagi? Pertanyaan itu terus berkecamuk dalam benaknya.
"Hai semuanya. Salam kenal. Mari kita bekerja sama dengan baik dalam drama ini!" ucap Aiden.
Lelaki itu sempat menatap ke arah Rinai. Membuat gadis itu menjadi salah tingkah.
"Selamat bergabung untuk kalian semua!" ucap Desta.
Rinai masih bertanya-tanya mengapa Aiden tidak di casting seperti yang lain? Dia langsung ditunjuk sebagai pemeran utama pria.
"Kamu enggak usah bingung. Aiden itu anak kesayangan Desta. Beberapa dramanya memang sudah sangat terkenal." Luna menjawab keraguan Rinai.
"Lalu kenapa Kak Luna enggak jadi pemeran utamanya?" tanya Rinai.
Diapun merasa tidak enak dengan hal itu. Seharusnya Luna yang lebih senior itu yang mendapatkan peran utamanya. Malah membiarkan Rinai yang mendapatkannya.
"Udah. Kamu mendapatkannya dengan cukup adil. Lagipula, sejak awal aku emang udah enggak mau. Aku kemari cuma buat memeriahkan aja," ucap Luna sembari tertawa.
Artis senior memang sesukanya sendiri. Mereka melakukan hal itu untuk bersenang-senang saja.
"Pasti lelah," ucap Aiden sembari memberikan satu botol jus jeruk. Lelaki itu sampai hafal kalau minuman kesukaan Rinai adalah jus jeruk.
"Terima kasih, kak." Rinai menerima dan meminumnya.
Baru kali ini Aiden melihat Rinai dengan rambut terikat. Gadis itu nampak sangat cantik dengan rambut terikat. Sayangnya, Aiden tak suka karena pria lain bisa melihat leher jenjangnya.
"Kenapa diikat seperti ini? Kamu lebih cantik dengan rambut tergerai. Seperti biasanya," ucap Aiden.
"Kan, aku sudah bilang pada Rose kalau lebih baik digerai. Dia ngotot kalau lebih cantik diikat," ucap Rinai menggerutu kesal.
Rinai berusaha melepaskan ikatan rambutnya.
"Biar aku bantu," ucap Aiden menawarkan diri.
Lelaki itu membuka ikatan rambut Rinai. Dia jadi salah fokus karena bau wangi menyeruak dari rambut gadis itu. Wangi jeruk yang memanjakan netra.
Cklek!
Felly yang sedari tadi melihat keduanya terlihat cukup mesra mengabadikan foto mereka berdua. Bisa dia berikan dan tunjukkan pada Anya nanti.
"Begini kan lebih cantik."
Rinai membenarkan rambutnya. Membuatnya lurus teratur.
"Nai, udah selesai? Gimana hasilnya?" tanya Rose yang baru datang.
Senyuman Rinai membuat dia tahu jawabannya.
"Lu bener, Rose. Gue terpilih."
Keduanya saling berpelukan dan membuat Aiden tersenyum senang.
"Selamat ya. Gue bilang apa. Pasti berhasil," ucap Rose senang.
"Setelah ini kalian mau ke mana?" tanya Aiden.
Keduanya diam. Mereka tak tahu harus kemana setelah ini.
"Bagaimana kalau kita makan siang bersama," ajak Aiden.
Keduanya setuju tanpa berpikir lama. Sampai akhirnya mereka memutuskan untuk pergi bersama.