Rinai dan Aiden memulai syuting pertama mereka. Drama yang dibintangi keduanya dengan judul 'You are My Lovely'.
Ada satu pemeran pendukung yang menjadi second lead antara Rinai dan Aiden. Dia bernama Dewa. Lelaki tampan yang akhir-akhir ini jadi trending.
Scene pertama diawali dengan Rinai yang teryata bersahabat dengan Dewa sejak dulu. Dia sudah menyukainya sejak dulu, tapi belum bisa mengatakannya sampai sekarang.
Aiden menatap keduanya. Rinai begitu menghayati perannya. Tatapannya pada Dewa terlihat natural. Ada sebersit rasa tak suka saat melihatnya.
Syuting telah selesai dilakukan. Semua kru dan pemain Tengah beristirahat. Dewa dengan percaya dirinya mendekati Rinai. Melihat hal itu, Aden menghampiri Rinai. Lelaki itu tak mau membiarkan Rinai dekat dengan Dewa.
"Rinai, bukannya kamu mau menghafalkan dialog sama aku?" ajak Aiden.
Dewa menatap Aiden dengan tatapan tajam. Dia tahu, Aiden sengaja melakukannya.
"Iya kak. Setelah ini giliran scene kita kan?" ucap Rinai.
Rinai tak lagi menggubris keberadaan Dewa. Fokusnya teralihkan pada Aiden.
"Kak, yang benar apa?" ucap Rinai yang bertanya ketika ada scene yang menurutnya kurang pas.
"Begini saja," usul Aiden.
Aiden mengajari Rinai bagaimana mengucapkan dialog yang benar dan tepat.
"Hai!" sapa Felly pada Dewa.
Lelaki itu hanya tersenyum, memandangi Rinai dengan Aiden yang tertawa lepas.
"Hati-hati sama Rinai. Dia itu sebenarnya bukan perempuan yang baik. Beberapa kali dia sempat digosipkan dekat dengan Aiden. Padahal Aiden sudah memiliki pacar. Kamu tahu Anya, kan?" ucap Felly secara tiba-tiba.
Mendengar hal itu, Dewa menjadi ilfeel padanya. Mereka berdua baru kenal hari ini. Akan tetapi, Felly malah menjelekkan nama teman satu agensinya. Dewa sekarang tahu, Felly ini tipe-tipe gadis yang iri pada teman yang lain.
"Maaf, Aku harus pergi!" Dewa mengabaikan Felly dan pergi begitu saja.
Feli yang melihatnya merasa kesal. Disitu diacuhkan. Padahal dia juga tak kalah cantiknya dengan Rinai. Dia juga sama berbakatnya, dan yang lebih penting dia adalah anak Maestro terkenal di seluruh penjuru negeri ini.
Felly mencebik kesal beberapa kali. Semua ini gara-gara Rinai. Gadis itu terlalu mencari perhatian semua orang dan dirinya sangat tidak suka hal itu.
"Dasar enggak tahu diri. Lihat saja nanti! Aku akan memberimu pelajaran."
Felly menatapnya diam-diam. Tatapannya benar-benar memperlihatkan ketidaksukaannya pada Rinai. Baginya, kebenciannya cukup besar pada Rinai dan juga Anya. Selama ada mereka berdua, maka dirinya takkan pernah dianggap.
Syuting berjalan dengan lancar. Rinai hendak pulang. Namun, Dewa kembali menemuinya.
"Pulang dengan siapa?" tanyanya.
Rinai kebingungan. Manager barunya belum datang menjemputnya.
"Sebenarnya aku..."
Belum sempat berkata, Aiden datang.
"Manager kamu bilang pulang denganku. Lagi pula kita satu agensi," ucap Aiden.
Rinai cukup bingung dengan hal itu.
"Ayo, masuk ke mobil." Aiden memperjelas ucapannya.
Melihat hal itu, Dewa hanya tersenyum. Dia tahu kalau Aiden tengah posesif pada Rinai.
"Kakak, kok manajer aku nggak kirim pesan?" tanya Rinai pada Aiden.
"Dia kirim pesan sama manager aku," jawab Aiden singkat.
"Syuting selesai dengan cukup cepat. Baru jam segini udah nggak ada kerjaan," celetuk Rinai.
"Mau mampir ke studio villa?" tanya Aiden.
"Wah, ke sana ya? Boleh saja!" jawab Rinai antusias.
Aiden tersenyum. Rinai berkata demikian seperti pernah datang ke sana saja.
"Kamu ini lucu, ya? Emangnya kamu tahu tempat itu? Aku aja udah jarang ke sana kok."
Rinai menghela nafas. Dia lupa kalau saat itu datang ke sana di waktu Aiden tengah koma. Bisa-bisa Rinai membuat lelaki itu curiga.
"Siapa yang nggak tahu villa itu? Semua penggemar Kakak juga tahu. Makanya aku penasaran Seperti apa tempatnya." Rinai berhasil mengelak.
Sekali lagi Aiden tertawa. Tingkah Rinai benar-benar sangat menggemaskan.
"Baiklah. Sekalian kita juga belajar dialognya di sana. Di sana tempatnya tenang sehingga kita bisa berlatih sepuasnya," ucap Aiden.
Mereka berdua akhirnya telah sampai di tempat tujuan. Rinai sudah tidak bisa lagi menahan pipisnya.
"Kak, aku ke kamar mandi dulu. Udah nggak tahan!"
Rinai segera berlari menuju kamar mandi setelah Aiden membuka pintu. Lelaki itu merasa heran karena ini baru pertama kali nya Rinai kemari. Tapi dia justru tahu letak kamar mandi. Gadis itu segera menuju ke belakang.
Aiden pun memilih untuk duduk sembari menunggunya.
"Udah selesai?" tanya Aiden.
Rinai tersenyum. Sudah sejak tadi dia menahan nya. Sampai akhirnya ada kesempatan. Rasanya benar-benar melegakan.
"Udah, Kak," jawabnya cukup singkat.
"Kamu tahu ya letak kamar mandinya," ucap Aiden.
Rinai tersenyum lagi. Lagi-lagi dia melakukan kesalahan. Orang yang pertama kali datang ke suatu tempat tidak akan tahu letak suatu kamar mandi. Dan dengan bodohnya dia menunjukkan kalau dirinya benar-benar tahu persis Di mana letak tempat itu.
"Aku hanya menebak nya saja. Biasanya letak kamar mandi itu tidak jauh ada di belakang. Dan dugaanku memang benar," elaknya sekali lagi.
Aiden lagi-lagi tersenyum. Rinai benar-benar sangat istimewa. Dia cukup memperhitungkan semuanya.
"Baiklah. Karena kita belum makan, sebaiknya kita makan dulu," ajak Aiden.
Rinai setuju saja. Aiden kemudian bangkit dan berdiri. Dia segera menuju dapur dan membuka lemari es. Dipilihnya beberapa bahan makanan. Daging dan juga sayur lalu dia potong-potong.
Rinai menghampirinya. Dia baru tahu kalau Aiden juga bisa memasak. Hal yang tak pernah Rinai duga sebelumnya.
"Kakak bisa masak?" tanyanya.
"Menurutmu?" tanya Aiden
Rinai mengangkat bahunya tanda dia tak tahu. Diapun merasa penasaran Bagaimana rasa masakan buatan Aiden.
"Wah, Kakak bikin pasta ya?"
Rinai menyadari lelaki itu membuatkan pasta untuknya.
"Wah, kelihatannya enak sekali!"
Aiden tersenyum lalu meletakkan sepiring pasta buatannya di depan Rinai. Gadis itu menatap takjub pada masakan itu. Rasanya benar-benar menggugah selera.
Gadis itu mulai mencoba memakannya. Saat suapan pertama, dia cukup terkejut. Rasanya benar-benar sangat enak. Dia menyadari kalau Aiden memang benar-benar pandai memasak.
"Kenapa rasanya seenak ini? Kalau begini aku bisa makan ini setiap hari." Rinai berujar dengan segenap hatinya.
Aiden sendiri tersenyum. Rinai terlihat benar-benar lahap dengan makanannya.
"Aku benar-benar suka!" serunya.
"Makan yang benar. Jangan belepotan seperti itu," tegur Aiden.
Aiden mengambil tissue dan membersihkan sisa-sisa makanan yang tertempel di sudut bibir Rinai. Gadis itu menjadi salah tingkah karena perbuatan yang lain lakukan. Mungkin menurutnya ini hal biasa. Akan tetapi, jantung Rinai berpacu cukup cepat. Perasaannya menjadi tak menentu. Mungkin pipinya memerah saat ini.
"Hei, ayo makan juga, Kak. Kenapa hanya aku saja yang makan dari tadi," ucap Rinai mengalihkan pembicaraan.
Aiden seketika tertawa melihat tingkah lucu Rinai. Mereka terus mengobrol sampai lupa waktu.
( bagian kedua)
Anya terus termenung sendirian. Rasanya hampa ketika mengingat Aiden dan dirinya bukan siapa-siapa lagi. Dia terlalu terbiasa bersamanya, sampai ketika mereka putus rasanya tidak nyaman sama sekali.
"Ziao, Apa kamu tahu Aiden ada di mana?"
Anya bertanya pada Ziao yang menurutnya pasti tahu di mana keberadaan Iden sekarang.
"Tadi pagi dia syuting di lokasi drama. Tadi sih bilang sama aku kalau mau ke studio villanya," jawab Ziao jujur.
"Baiklah, terima kasih!" ucap Anya lalu pergi.
Anya terus berpikir. Sepertinya dia harus mengurungkan niatnya untuk putus. Dia benar-benar tidak bisa hidup tanpa Aiden. Seperti ada sesuatu yang hilang jika tak bersamanya walau itu hanya satu hari.
"Aku harus menemuinya!" ucapnya.
Anya segera memanggil supir untuk mengantarkannya ke tempat Aiden berada. Dia akan memperbaiki hubungannya dengan Aiden.
Setibanya Di sana, Anya mendapati pintu itu tak terkunci. Dia masuk ke dalam dan mendapati Aiden sedang bersama Rinai. Keduanya tengah berbincang bersama dan terus tertawa bersama.
Anya merasa sedih dan memutuskan kembali sebelum keduanya menyadari keberadaannya. Anya tak menyangka kalau Aiden bisa mengajak perempuan lain ke Villa miliknya. Padahal Anya tahu, dia tak pernah mengajak perempuan lain selain dirinya.
"Apa kamu benar-benar sudah melupakan aku?" tanya Anya dalam hati.
Anya merasa benar-benar sedih. Begitu mudahnya dia melupakan hubungan mereka.
"Harusnya aku tidak bodoh dan menganggap dia masih memikirkan hubungan kita."
Anya kecewa dan terluka. Begitu mudahnya Rinai menggantikan posisinya di hati Aiden.
Anya kembali ke Agensi dan malah bertemu dengan Felly yang menyebalkan itu.
"Anya!" panggilnya.
Anya sangat malas menghadapi Felly. Dia tahu bagaimana ujungnya jika menanggapi perempuan ini.
"Aku sedang tidak mood untuk berdebat denganmu," ucap Anya lalu pergi.
"Lihat ini!"
Dengan tiba-tiba Felly menunjukkan foto Aiden yang terlihat mesra dengan Rinai.
"Kekasihmu terlihat sangat dekat dengan Rinai. Uh, Anya yang sempurna di khianati." Felly mengejek Anya.
"Menurutmu, semua yang kamu lakukan ini bisa membuat aku cemburu dan marah? Tidak sama sekali!" ucap Anya lalu pergi.
Mendengar hal itu, Felly menjadi kesal. Dia bingung mengapa Anya sama sekali tidak marah dengan hal itu.
Sesampainya di ruang latihan, Anya mengeluarkan kekesalannya dengan bermain piano yang cukup keras. Dia benar-benar kesal dengan Aiden dan juga Rinai.
"Kenapa? Ada apa denganmu?" Mr. Felix datang dan menghampirinya.
Anya menghentikan permainan pianonya. Dia menatap Felix dengan cukup dalam. Apa yang lelaki itu katakan memang benar. Hanya harus fokus terhadap karirnya. Tak ada lagi nama Aiden dalam kamusnya mulai sekarang. Dia bertekad untuk menjadi bintang dari segala bintang.
"Tolong lakukan apapun agar aku menjadi nomor satu. Kalau bisa, aku ingin mengalahkan Aiden."
Mr. Felix tersenyum ketika mendengarnya. Ini Anya yang dia tahu dan dia kenal. Gadis yang memiliki tekad kuat.
"Ini baru Anya. Yang lebih mementingkan karirnya daripada urusan cintanya. Ingat Anya, saat karir ada di tanganmu, cinta akan mengikutinya. Tapi ketika cinta dari tanganmu, karir itu akan menghilang," ucapan Felix berhasil membuat Anya mengangguk.
"Anda betul. Sekarang aku hanya akan memikirkan karirku. Tidak ada lagi namanya Aiden maupun cintanya. Aku anggap semua itu hanya bullshit belaka!" Anya mengatakannya dengan sangat kesal.
"Kalau kamu mau, aku bisa membuatmu terpilih menjadi pemeran utama dalan drama yang akan datang. Kamu hanya perlu bersaing dengan Wintang," ucap Mr. Felix.
"Baik. Lakukan Apapun agar aku bisa terpilih menjadi pemeran utamanya," ucap Anya setuju.
Lelaki itu tersenyum. Inilah yang dia mau dari Anya. Seorang gadis yang penuh dengan Ambisi. Sama seperti dirinya saat muda dulu.
"Datanglah ke ruangan ku besok. Aku akan memberi tahu kamu sesuatu," ucap Felix yang ditanggapi dengan anggukan Anya .
Anya membereskan semua barang-barangnya berkaitan dengan Aiden. Dia membuangnya dalam tong sampah kemudian membakarnya. Mulai detik ini, di bersumpah akan melupakan semua tentang Aiden. Dia telah membakar semua cintanya bersama barang-barang ini.
"Selamat tinggal Aiden." Anya berucap dengan Lirih.
Anya menyadari kalau cintanya tak pernah berguna. Yang ada Aiden malah membuatnya terluka. Anya tak bisa kehilangan dua-duanya, dan seharusnya hanya hanya memilih karirnya saja.
"Jadi kamu dan Aiden putus? Kenapa harus begitu?" tanya Tere sembari memandangi kobaran Api yang Anya ciptakan sendiri.
"Iya. Aku merasa sudah tidak ada kecocokan diantara kami berdua."
Tere terdiam dan tak menyangka dengan hal itu. Padahal dia tahu kalau keduanya saling mencintai, tapi hubungan mereka malah berakhir seperti ini.
"Kamu benar-benar yakin kalau kalian seperti ini?" tanya Tere memastikan.
Anya tersenyum Getir. Untuk apa mempertahankan cinta yang hanya menimbulkan luka. Anya tak mau hal seperti itu. Malah karirnya menjadi turun karena hubungan itu.
"Aku enggak mau. Biarkan saja semua seperti ini. Aku yakin, lebih baik hubungan ini berakhir. Aku lihat Aiden bahagia tanpa diriku," ucap Anya.
Walau berkata demikian, Tere tahu kalau Anya tak bersungguh-sungguh dengan ucapannya. Dia tahu Anya masih menyukai Aiden.
"Baiklah. Terserah kamu saja! Aku hanya berharap ini yang terbaik untuk kalian berdua. Semoga kamu nggak akan pernah menyesal dengan keputusan kamu. Aku tahu, Aiden baik." Tere kembali mengingatkan Anya tentang hal itu.
Bagi Anya, tak ada hal lain yang lebih penting dari karirnya saat ini. Anya benar-benar harus fokus terhadap hal itu. Ia mungkin bisa tanpa Aiden, tapi nyatanya tanpa pria itu ya bukan apa-apa dan hanya penyanyi biasa.
Meskipun awalnya sedikit resah karena keberadaan seorang perempuan bernama Rinai. Ia harus tetap fokus dengan tujuan awalnya menjadi bintang bukan?