Anya masih kesilal karena kejadian kemarin. Berniat ingin memperbaiki hubungan, malah melihat Aiden dengan Rinai bersama.
"Rinai!" panggil Anya.
Rinai tertegun sesaat tapi tetap memandang Anya.
"Iya, Kak. Ada apa?"
Anya tersenyum sinis. Menatap Rinai dengan tatapan tak suka.
"Langkah kamu bagus juga. Mengambil kesempatan saat aku dan Aiden tidak baik-baik saja," ucap Anya tiba-tiba membuat Rinai begitu terkejut.
"Maksud Kak Anya apa? Aku benar-benar enggak paham," jawab Rinai jujur.
Hanya lagi-lagi hanya tersenyum. Akting Rinai sangat bagus saat ini. Pantas saja Aiden mudah sekali melupakannya.
"Aku sempat menganggapmu baik. Kini aku tahu, ternyata kamu itu cuma sok polos saja. Pantas saja kamu jadi pemeran utama. Teknik berakting kamu sudah sangat bagus! Anya menyindir Rinai.
Rinai diam saja. Sebenarnya masih tak menyangka dengan apa yang Anya ucapkan. Anya yang lemah lembut jadi kasar seperti sekarang.
" Kamu tahu tidak? Perbuatan kamu ini benar-benar murahan!" ucapnya sekali lagi.
Wintang dan Gena yang lewat mendengarnya. Mereka tak sengaja Mendengar pembicaraan keduanya! Walaupun lebih banyak Anya yang berbicara, sementara Rinai hanya diam saja.
"Apa yang kakak dudukan itu salah. Aku Beneran enggak ngerti apa yang kakak maksud," jawab Rinai.
Anya tersenyum miring. Benar menurutnya sosok Rinai adalah pembohong ulung.
"Terserah kamu saja. Aku tahu bagaimana sosok kamu yang sebenarnya. Benar-benar enggak bisa diduga!" ucap Anya lagi.
"Apa maksud kamu? Jangan menuduh seseorang tanpa sebab," ucap Rinai mulai kesal juga.
"Kamu itu bukan siapa-siapa. Kamu cuma pendatang baru yang kebetulan naik karena menempel pada Aiden. Atau saat kamu menyelamatkannya dulu, kamu hanya berpura-pura agar kamu bisa terkenal?"
Anya benar-benar keterlaluan saat ini. Siapapun yang mendengarnya tidak akan percaya kalau itu adalah dirinya.
"Cukup. Hentikan semua itu!" Aiden datang dan membela Rinai.
"Kamu kenapa sih? Dulu kamu nggak seperti ini kok. Anya yang aku kenal enggak kayak gini. Dia tidak pernah menghakimi orang lain tanpa sebab," ucap Aiden.
"Udah kak. Ayo kita pergi!" ajak Rinai.
Rinai tak mau hal ini jadi lebih panjang lagi. Yang dia butuhkan hanyalah sebuah Kedamaian.
"Tunggu dulu, ada yang harus aku katakan padanya."
Aiden menjeda perkataannya. Lalu menatap Anya dengan tatapan yang sangat serius.
"Kamu nggak seharusnya berkata seperti itu pada Rinai. Dia sama sekali tidak tahu masalah kita. Jaga baik-baik ucapan kamu," ucap Aiden memperingatkan.
"Jadi kamu belain dia? Oke, Aku ngerti sekarang. Berakhirnya hubungan kita nggak ada pengaruhnya sama sekali sama kamu," ucap Anya kesal.
Anya diam sembari menatap keduanya, sampai Aiden menggandeng tangan Rinai dan membawanya pergi.
"Ayo pergi! Jangan dengarkan omongan nya."
Rinai mengikuti Aiden walau dia tahu, Anya tengah kesal padanya. Di sisi lain, Wintang dan Gena yang mendengarnya sangat terkejut. Mereka mengetahui fakta kalau Aiden dan Anya telah putus.
Anya benar-benar merasa kesal. Dia segera pergi ke tempat Felix berada.
Klek..
Anya membuka pintu itu. Dari raut wajahnya, Felix tahu kalau dia sedang kesal.
"Ada apa?" tanyanya.
"Aku ingin dapat peran utama itu, bagaimanapun caranya. Pokoknya, aku harus jadi peran utama," ucapannya tiba-tiba membuat Felix cukup terkejut.
"Kamu yakin?" tanya Felix.
"Aku sangat yakin. Aku akan membuktikan pada Aiden dan Rinai kalau drama yang aku bintangi akan lebih laku dibandingkan drama mereka," ucapnya penuh keyakinan.
Felix tersenyum. Dia benar-benar suka dengan sifatnya yang seperti ini. Anya yang penuh dengan Ambisi dan juga keinginan.
"Kamu tahu? Ini yang aku suka darimu. Selain cantik dan berbakat, kamu juga teguh. Jangan pernah pikirkan Aiden lagi. Aku yakin kamu akan jadi bintang nomor satu. Percaya Padaku, kamu akan dapatkan peran itu."
Felix bertekad membantu Anya untuk mendapatkan perannya.
"Jangan masukkan ke hati omongannya dia," ucap Aiden menenangkan Rinai.
"Enggak masalah, Kaak." Walau sebenarnya sedih, Rinai berusaha menutupinya.
"Ayo berangkat denganku!" ajak Aiden.
Keduanya berangkat ke lokasi syuting bersama-sama.
"Kakak udah dengar nggak? Drama saingan kita, pemeran utamanya kayaknya Wintang. Secara dialah yang memenangkan penghargaan kemarin," ucap Rinai.
Aiden tersenyum. Rinai begitu yakin dengan kemungkinannya. Padahal bisa saja Sesuatu terjadi, seperti saat kemarin penentuan drama mereka. Tak disangka-sangka, Rinai yang menjadi pemeran utamanya.
"Kita pasti bisa. Kita cukup melakukan yang terbaik saja," ucap Aiden.
Rinai menatap lurus kedepan. Bersaing dengan Wintang, mungkinkah dia bisa? Rinai harus berlatih dengan keras. Dia tak bisa mengecewakan Aiden, lawan mainnya sendiri.
"Semangat, Kak. Kita pasti bisa!"
Rinai terlihat bersemangat sekali. Hal itu memicu senyum Aiden. Inilah yang dia suka dari Rinai. Ceria dan juga bersemangat.
"Mau aku berikan tips agar tidak gugup saat berakting?" ucap Aiden.
"Boleh saja, Kak." Rinai dengan senang hati menerimanya.
"Kalau kamu merasa gugup dan grogi, tarik nafas dalam-dalam dan Pejamkan mata sesaat. Gugup itu akan segera berkurang," ucap Aiden dengan serius.
( bagian kedua )
Wintang tengah duduk sembari menunggu kabar.
"Baiklah. Kita sudah menentukan siapa yang cocok jadi pemeran utamanya. Dan yang cocok menjadi pemeran utamanya adalah Anya."
Wintang terdiam saat pengumuman itu diresmikan. Dia cukup terkejut saat mendengarnya. Anya sama sekali tak mengikuti casting, dan yang terpilih adalah dirinya. Wintang merasa ini tidak adil.
"Bagaimana bisa begitu?" tanya Wintang protes.
"Sutradara berubah pikiran. Anya baru saja direkomendasikan langsung oleh Star. Kami berpikir kalau dialah yang cocok mendapatkan peran utama itu. Dan untuk kamu, Jangan khawatir. Kamu akan jadi pemeran Antagonis. Bukankah itu seimbang?" ucapnya.
"Selamat datang Anya. Selamat bergabung dalam proyek drama baru kami,"
Ucap sutradara yang baru datang dengannya.
Wintang terlihat sangat kesal. Dia memutuskan untuk keluar tanpa menyapa Anya.
"Kamu kenapa?" Ajun yang melihat Wintang kesal mencoba menenangkannya.
Gadis itu datang padanya dengan emosi yang meluap-luap.
"Aku kesal banget. Bukan aku yang jadi pemeran utama di drama itu." Wintang menggerutu kesal, kemudian merebahkan dirinya di atas sofa.
"Bukannya kamu yang dapat peran itu? Aku udah siapin kue loh buat kamu!"
Wintang menata kue di atas meja. Yang bertuliskan kata selamat untuknya. Sayangnya, dia gagal menjadi pemeran utama.
"Aku gagal!" seru bintang dengan nada terisak.
Akhirnya, tangisnya pun pecah. Baru kali ini Ajun melihat kekasihnya itu benar-benar hancur.
"Sudahlah, jangan menangis seperti ini. Wintang yang aku kenal tidak cengeng." Ajun terus berusaha menenangkannya.
Wintang masih menangis sesenggukan. Dia benar-benar tak menduga kalau kerja kerasnya akan diambil oleh Anya.
"Aku nggak nyangka. Padahal aku sudah bekerja keras. Untuk sampai di titik ini saja enggak mudah. Dan dia dengan tiba-tiba merampas segalanya," ucap Wintang masih menangis.
"Begini, Katakan padaku apa yang terjadi!" Ajun memintanya untuk menjelaskan.
"Aku udah ikutan casting. Dan saat itu sutradara sudah berkata 'Ya'. Dan kamu tahu apa yang terjadi? Tadi Anya datang dengan sutradara. Dialah yang menggantikan aku menjadi pemeran utama," ucap Wintang masih tersedu-sedu.
"Apa? Anya? Dia yang satu agensi dengan kamu, kan?" tanya Ajun memastikan.
"Iya. Anya siapa lagi kalau bukan dia? Dengan begitu mudahnya dia menggeser posisiku. Bahkan dia sama sekali nggak ikut casting. Ini aneh. Katanya Star diri yang merekomendasikan dia dan meminta pemeran utama itu diganti olehnya. Aku tidak percaya itu terjadi. Bahkan mereka mengganti peranku dengan peran antagonis," ucap Wintang panjang lebar.
"Lalu apa yang akan kamu lakukan?" tanya Ajun.
"Tentu saja aku akan mengundurkan diri. Ini namanya penghinaan untukku," ucap Wintang.
"Tunggu dulu, Sayang. Jangan terburu-buru. Pikirkan sekali lagi. Ini tentang karir yang kamu inginkan dan juga kamu nantikan. Karena tidak menjadi pemeran utama, lantas apakah kamu akan mundur begitu saja?"
Pertanyaan yang Ajun berikan membuat Wintang terdiam. Gadis itu tak bisa berkata apa-apa lagi.
"Kamu tahu, kan? Wintangku tidak seperti ini. Dia gadis pemberani dan juga penuh percaya diri. Apapun perannya, Wintangku yang berarti Bintang, akan bersinar dimanapun tempatnya. Percayalah padaku, satu Anya tidak akan membuatmu berhenti bersinar. Kamu adalah bintang, dan selamanya akan tetap begitu!"
Wintang tersentuh dengan ucapan Ajun. Dia jadi tambah sayang pada kekasihnya itu. Ajun yang selalu ada untuknya disaat susah. Yang selalu ada untuknya dan juga selalu mendukungnya. Saat harapan bintang pudar, meyakinkannya dan tetap membuatnya bersinar. Inilah yang Wintang suka dari kekasihnya. Dia selalu bisa menenangkan perasaannya.
"Kamu benar. Aku tidak boleh menyerah hanya karena tidak dapat peran utama. Aku yakin, aku bisa membuktikan kalau aku memang yang terbaik," ucap Wintang penuh keyakinan.
Ajun tersenyum saat melihatnya. Senyuman Wintang adalah segalanya untuknya.
"Baiklah. Sekarang kita potong kuenya!" ajak Ajun.
"Kok potong sih? Tiup lilin dulu dong!" protes Wintang.
Ajun tertawa. Dia bahkan sampai lupa kalau Wintang belum meniup lilinnya.
"Selamat, Sayang. Awal permulaan untuk karirmu di industri perfilm-an. Aku yakin kamu akan bisa bersinar lewat itu," ucap Ajun masih menyemangatinya dan hal itu berhasil membuat Wintang tersenyum.
Ajun benar-benar lelaki yang sangat humble dan mampu membuat semua gadis merasa nyaman dengannya.
Di sisi lain, Rinai dan Rose memberikan kejutan pada Wintang. Mereka datang dengan membawa kue ke tempat Ajun berada. Ada Aiden dan Ziao yang juga ikut dengannya.
"Wintang, selamat buat lu!"
Rinai dan Rose masuk begitu saja ketika mengetahui pintu tidak tertutup. Mereka cukup terkejut karena sudah ada kue di depan Wintang.
"Ya, Ajun udah kasih kejutan duluan ya!" seru Rose.
"Iya, Kalian sih telat!" gurau Ajun.
"Gue sedih guys!" lanjut Wintang.
Rinai dan Rose saling memandang. Hari ini adalah hari yang paling membahagiakan bagi Wintang karena telah terpilih menjadi pemeran utama. Tak mungkin baginya merasakan kesedihan disaat-saat seperti ini.
"Jangan bercanda lu. Nggak lucu, Tang!" Rinai berkata dengan serius tanpa tahu apapun.
"Huhu, gue nggak jadi pemeran utama," jawab Wintang jujur.
Rose sangat terkejut saat mendengarnya. Apalagi Rinai yang jelas-jelas mendengarnya dari beberapa kru film yang membicarakan drama sebelah. Mereka telah yakin kalau Wintang lah yang menjadi pemeran utamanya.
"Ini nggak mungkin. Semua tahu kalau lu yang jadi pemeran utamanya," ucap Rinai masih bersikekeuh dengan keyakinannya.
"Gue bicara beneran kok. Kalian semua pasti kaget kalau gue bilang Siapa yang jadi pemeran utamanya."
Kali ini Aiden yang cukup penasaran. Benar-benar ingin tahu siapa yang bisa menggantikan posisi Wintang.
"Emangnya siapa? Jadi lu serius."
Kali ini Rose benar-benar yakin kalau Wintang tidak tengah bercanda.
"Gue serius!" jawabnya.
"Lalu siapa orangnya?" tanya Rinai.
"Anya. Orang itu adalah Anya," jawab Wintang yang berhasil membuat semuanya terkejut.
"Apa? Anya! Dia bilang Kalau enggak mau menerima tawaran syuting drama apapun. Rencananya tahun ini cukup dengan tampil sebagai musisi saja," ucap Aiden.
Aiden sangat terkejut saat mendengarnya. Tidak pernah dia duga sebelumnya kalau Anya akan menerima tawaran untuk bermain serial drama. Anya benar-benar tidak konsisten dengan ucapannya.
"Iya. Gue juga kaget. Tiba-tiba peran utama diganti sama dia. Udah jelas dia nggak ikut casting sama sekali," ucapan bintang mengemukakan apa yang dia tahu.
Rinai terdiam. Entah kenapa dia merasa kalau Anya melakukan itu karena dia dan Aiden. Anya merasa kalau Rinai yang telah merebut segalanya, sampai dia berniat untuk bersaing dengannya. Rinai tak menyangka kalau Anya sampai bisa berbuat hal seperti itu.
"Ada apa dengannya? Kenapa Anya jadi berambisi seperti ini?" Aiden bertanya dalam hatinya sendiri.
Dia kalau Anya bukan perempuan seperti itu. Yang patut dipertanyakan sekarang adalah, siapa dibalik semua ini? Sampai membuat Anya mudahnya masuk sebagai pemeran utama.
"Udah, Tang. Gue yakin lu tetap bakalan bisa walau bukan sebagai pemeran utama," ucap Rose menenangkannya.
"Iya. Gue juga yakin kok, seorang Wintang nggak akan menyerah begitu saja. Wintang yang gue kenal, dia selalu bersinar dimanapun dia berada. Walau bukan sebagai pemeran utama," Rinai mengucapkan satu hal yang sama persis dengan apa yang Ajun katakan.
"Ih, gue nggak nyangka kalian baik sama gue!" Wintang merasa terharu dengan semuanya.
"Sebenernya kita baik kok. Asal lu juga baik sama kita. Dan satu hal, lu kurangin tuh Songong lu!" ledek Rose.
Ajun dan yang lainnya tertawa. Memang begitulah Wintang. Sifatnya yang cukup gengsian kadang membuat semuanya jengkel. Tapi sebenarnya dia itu baik walau sedikit keras kepala dan penuh percaya diri.
"Lah, baru aja gue muji-muji lu," ucap Wintang lalu tertawa.
Semuanya lalu tertawa bersama sembari menikmati kue yang ada di atas meja. Tak lupa mereka memesan beberapa makanan dan minuman untuk makan malam bersama. Waktu itu mereka habiskan untuk menonton Film dan juga bersenda gurau.
"Kamu tidak curiga dengan siapa yang membantu Anya?" tanya Ziao.
Apa yang dipikirkannya sama dengan apa yang Aiden pikirkan. Keduanya sama-sama curiga ada orang yang sengaja melakukan hal ini, dan dengan terang-terangan membantu Anya.
Di lain tempat, Felly datang ke tempat Papanya dengan amarah yang luar biasa.
"Apa ini, Pa. Anya jadi pemeran utama? Bagaimana bisa itu terjadi? Ini semua karena Papa, kan? Kenapa Anya bisa sedangkan aku tidak bisa?" Felly bertanya dengan nada kesalnya.
Entah kenapa dia benar-benar benci dengan Anya. Papanya selalu saja membantunya bahkan lebih darinya. Dalam sekejap Anya mengambil semua perhatian itu.
"Diamlah. Jangan marah-marah di sini. Kamu beruntung bisa jadi pemeran antagonis di serial drama itu. Kamu sendiri yang telah menyia-nyiakan kesempatan itu. Jadi jangan salahkan aku!"
Felix tak menggubrisnya lagi. Lelaki itu meninggalkan Felly yang sedang terpaku sendirian. Felly sendiri tak menyangka dengan perlakuan yang papanya sendiri berikan. Bisa-bisanya Papanya Itu mengabaikan dirinya, dan hanya peduli pada Anya. Lihat saja, Felly akan membuat perhitungan pada Anya. Lihat saja, dari dulu Iya selalu merasa wanita itu adalah pengganggu hubungannya dengan Aiden.