Di lokasi syuting, Anya diperlakukan istimewa. Wintang yang melihatnya merasa sebal. Seseorang seperti Anya harusnya tidak diperlakukan spesial. Gadis sepertinya bisa melakukan segala cara untuk mencapai keinginannya.
"Tolong ambilkan aku kinum!" pintanya pada Wintang.
Wintang menanggapinya dengan tersenyum. Bisa-bisanya Anya berkata seperti itu padanya. Dia pikir Wintang pembantunya apa? Walaupun dia pemeran utama seharusnya tidak boleh melakukan hal itu.
"Kamu lihat botol-botol yang ada di meja itu?" tanya Wintang padanya.
"Iyalah. Kamu pikir aku nggak bisa lihat."
"Kalau begitu, kamu ambil aja sendiri."
Wintang kemudian pergi dan tak menghiraukan ucapan Anya. Anya benar-benar seenaknya sendiri.
"satu, dua, tiga, action!"
Sutradara mulai mengucapkannya, tanda syuting dimulai. Ini kesempatan untuk Wintang membalas kekesalannya pada Anya. Scene berikutnya mengatakan kalau dirinya memulai pertengkaran kecil dengan Anya.
"Flora! Kamu itu cuma adik tiri aku. Jangan pernah membantah ucapanku sekalipun!" * mulai mengekspresikan aktingnya.
"Iya kak. Tapi jangan semena-mena sama aku!" Anya yang berperan menjadi Flora juga mendalami aktingnya.
"Kamu berani ya ngebantah aku!" sosok Wintang kemudian menarik rambut Anya.
"Aw, sakit." hanya mulai mengeluh sakit.
Hal yang Wintang lakukan tidak ada dalam dialog. Iya tahu kalau ini disengaja.
"Cut. Bagus!"
Sutradara menghentikan mereka berdua. Dia cukup puas dengan akting keduanya.
"Bagus. Rupanya kalian berdua memang benar-benar anak kebanggaan Star. Bahkan kalian sudah janjian untuk semakin membuat dialognya terlihat natural dan lebih bagus."
Anya merasa kebingungan dengan apa yang diucapkan sutradara.
"Pak, sebenarnya.."
Belum sempat Anya melanjutkan perkataannya, Wintang mencegahnya lebih dulu.
"Aku udah bilang kok sama Pak sutradara. Kita udah sepakat buat nambahin Scene yang ada dan dia juga sudah setuju," ucap Wintang berpura-pura.
"Kalian benar-benar luar biasa! Aku suka itu."
Anya terdiam dan tak bisa mengatakan apa-apa lagi. Dia terpaksa diam karena sutradara juga memuji aktingnya Dan diapun juga baik-baik saja.
"Kamu sengaja, kan?" tanyanya tiba-tiba.
Wintang hany tersenyum tanp menjawab apapun. Berani semena-mena padanya, berarti berani menantangnya. Wintang takkan segan-segan dengan hal itu.
"Dasar ya? Kamu itu cuma junior aku. Jadi jangan seenaknya begitu," ucap Anya kesal.
"Kenapa? Mau marah? Mau mukul atau nampar? Pukul aja. Palingan juga kamu di keluarin dari drama ini. Belum juga tayang, udah bikin scandal."
Wintang menantangnya yang semakin membuat Anya kesal. Sayangnya, dia tak bisa melakukan apapun.
"Ngeselin banget sih!" ucap Anya terus menggerutu.
Rasanya dia tak suka jika harus memiliki lawan main seperti Wintang. Dia dan Rinai sama saja. Sama-sama mengesalkan dan menyebalkan. Juga suka menguras emosinya.
"Bagaimana syutingnya? Lancar, kan?" tanya Felix ketika Anya tengah berada di ruangannya.
"Lancar sih. Hanya saja Wintang itu sedikit keterlaluan padaku," ucap Anya bercerita.
Anya masih merasa kesal dengan kejadian tadi. Dia tahu kalau Wintang mungkin saja iri karena Anya lah yang mendapatkan peran itu.
"Kamu harus sabar. Jangan sampai masalah-masalah kecil seperti itu menggganggu syutingmu."
Felix mencoba menenangkan Anya. Membuat gadis itu terdiam. Bagi Anya, Felix sudah seperti Papanya sendiri. Yang selalu ada dan selalu mendukungnya.
Di lain sisi, Felly tengah menatap keduanya. Dia benar-benar tak percaya dengan apa yang dia lihat. Papanya benar-benar keterlaluan. Dia malah membantu Anya menjadi pemeran utama, dan malah membuatnya menjadi pemeran pendukung. Kebenciannya terhadap Anya bertambah.
"Papa!" Felly tiba-tiba saja masuk.
Tak perduli keduanya terkejut dengan perlakuannya, Felly mengungkapkan perasaannya sekarang.
"Papa ini kenapa sih?" tanya Felly kasar.
"Apa Maksud kamu bertanya seperti itu?" Felix berpura-pura tak mengerti.
"Sebenarnya ada apa di antara kalian berdua? Kenapa Papa selalu membantunya? Bahkan kepadaku tidak seperti itu," ucap Felly kesal.
"Apa maksud kamu? Bukankah ini tugasku untuk membuat anak-anak Star memiliki karir yang cemerlang? Bukan hanya Anya, juga semuanya."
Felly menajamkan matanya. Gadis itu benar-benar tak menyangka dengan apa yang Papanya katakan. Apa istimewanya Anya dibandingkan dirinya? Bukankah dia putrinya yang harusnya lebih dahulu dia bantu? Entahlah, Felly semakin tak mengerti dengan semua ini.
"Sudahlah. Aku muak dengan kalian berdua. Dan kamu, senang dulu karena kamu merasa menang setelah merebut posisi Wintang menjadi pemeran utama. Siapapun tahu kalau caramu tidak benar," ucap Felly lalu pergi.
Felly awalnya juga melakukan hal yang sama. Dia meminta bantuan Papanya agar bisa mendapatkan peran utama tersebut. Sayangnya, justru Rinai yang merusak segalanya. Felly tersenyum saat memikirkannya. Dia punya cara untuk membuat masalah. Ini semua tentang Rinai dan Anya. Cukup mengadu keduanya, Dan mereka sendiri yang akan memulai perang. Felly benar-benar akan merasa bahagia jika hal itu terjadi.
"Dua musuhku saling menyerang. Dan siapakah yang akan beruntung? Tentu saja aku!" ucapnya Seraya tersenyum picik.
( bagian kedua)
Wintang, Rinai dan juga Rose tengah tertawa bersama. Mereka tertawa saat mendengar cerita dari Wintang.
"Lu beneran gila ya! Bisa-bisanya lu jambak rambut Anya, pakai cara bilang udah lapor sutradara. Sutradaranya juga percaya aja." Rose terus tertawa dan tak bisa berhenti.
"Yang bener aja, Dia nyuruh gue ngambilin dia minum. Hello, gue bukan babunya kali!"
Bukan Wintang namanya kalau tidak melawan seseorang yang membuatnya jengkel. Gadis itu gila dan akan melakukan apapun pada seseorang yang berani melawannya. Menurut Wintang, siapapun yang berani menyalahinya, maka dia akan membalasnya.
"Puas banget sih lu!" ejek Rinai.
Ketiganya masih saling tertawa, sampai tiba-tiba Aiden dan Ziao datang menyapa mereka.
"Rupanya kalian ada disini?" tanya Ziao.
Rose tersenyum. Kekasihnya itu memang sangat-sangat tak bisa jauh darinya. Barusan dia memberitahu kalau tengah nongkrong di cafe, eh sudah datang saja.
"Cie, gebetan kalian tuh!" ledek Wintang.
Sebenarnya Wintang kesal, Ajun cukup sibuk hari ini sampai-sampai tak bisa menemaninya.
"Ih, bukan. Jangan ngomong gitu." Rinai mulai protes.
Gadis itu baru tadi bertemu dengan Aiden, dan sekarang justru bertemu lagi.
"Kesini, jangan kayak kambing congek. Duduklah!" suruh Rose.
Keduanya lalu duduk bersama mereka. Setidaknya Aiden tidak merasa bosan karena sendirian di tempatnya.
"Kakak emang gak ada kesibukan ya? Kayaknya setelah putus dari Anya, lebih sering nongkrong sama kita-kita," ucap Wintang tanpa bisa mengontrol perkataannya.
Rinai beberapa kali memberikan kode agar Wintang tak mengatakan apapun tentang hubungannya dengan Anya. Karena Rinai tahu, Aiden masih belum move on dari hubungan itu.
"Daripada aku sendirian, mending aku bersama kalian!" jawab Aiden.
Rinai menatapnya sejenak, tak menyangka dengan ucapan lelaki itu. Bisa-bisanya lelaki itu berkata demikian dan sama sekali tidak tersinggung.
"Ye, level kita naik setelah Aiden nongkrong sama kita," ucap Wintang girang.
Rinai menggelengkan kepalanya saja. Wintang benar-benar tak bisa mengontrol ucapannya. Untung saja Aiden bukan tipe lelaki yang mudah tersinggung.
"Sebenarnya aku cukup pusing. Minggu depan ada pagelaran busana. Ini pertama kalinya aku tampil di catwalk yang cukup besar." Rose mulai menceritakan apa yang dia alami.
"Bukankah itu justru bagus?" ucap Ziao.
Rose hanya diam saja. Memang benar ini kesempatannya, hanya saja dia cukup gugup dan grogi. Minggu depan nanti, banyak orang-orang penting dari dunia model dan juga Designer- Designer terkenal yang akan datang untuk melihat pagelaran busana.
"Aku takut dan gugup," Rose memanyunkan bibirnya.
"Kamu jangan begitu. Kamu pasti bisa. Atau kalau enggak, biar nanti kita ke sana buat lihat kamu," ucap Ziao tiba-tiba.
"Kamu yakin, Sayang?" tanya Rose memastikan.
Ucapan sayang padanya membuat Ziao terdiam. Betapa senangnya dia mendengar ucapan Rose.
"Tentu saja. Kamu akan ikut denganku kan?" tanyanya pada Aiden.
"Siapa? Aku?" tanya Aiden tak mengerti.
"Kalian berdua mau ikut, kan?" tanya Rossi pada kedua sahabatnya itu.
Rinai dan sontak saja mengangguk.
"Kita datang kok," jawab Rinai.
Akhirnya, semuanya sepakat untuk datang bersama.
"Baguslah. Kalian memang benar-benar bisa aku andalkan!" ucap Rose.
Rinai akhirnya pulang dengan Aiden. Ziao dan Rose masih ada keperluan. Sementara Wintang masih menyusul Ajun. Mau tak mau Rinai setuju untuk pulang dengan Aiden.
Keduanya terdiam hening. Merasakan perasaan Canggung yang datang berulang kali.
"Kak!"
"Rinai!"
Keduanya mengucapkan hal itu dengan bersamaan. Sempat saling menatap sampai akhirnya tertawa bersama.
"Kamu duluan saja!" ucap Aiden.
"Kakak saja dulu," pinta Rinai.
"Kamu mau pergi ke suatu tempat bersama ku?" tanya Aiden.
"Kemana? Aku sih mau saja," jawab Rinai sekenanya.
"Baiklah. Aku akan memberitahumu suatu tempat yang cukup bagus. Lagipula ini terlalu sore untuk pulang."
Aiden membawa mobilnya menyelusuri jalanan kota yang cukup padat. Mobil itu terhenti di suatu tempat, di pinggiran kota dan tepatnya di dekat pantai.
"Lihatlah!" Aiden menunjukkan senja yang mulai terbenam.
Meganya kemerah-merahan, membuat pemandangan nampak sangat indah. Rinai tercengang saat melihatnya. Apa yang dia lihat Cukup Indah dimata. Deburan ombak perlahan-lahan mengenai kakinya. Ah, rasanya benar-benar sejuk. Baru kali ini Rina tahu tentang tempat bagus ini. Dia tebak kalau tempat ini sering Aiden datangi dengan Anya.
"Kakak sering kemari, Ya?" tanya Rinai.
"Dulu sering. Setelah bangun dari koma, baru sekarang aku udah datang ke sini dan itu juga dengan kamu."
"Pasti bersama kak Anya, kan?" tanya Rinai sekali lagi.
"Tidak sih. Anya paling tidak suka dengan laut. Entah kenapa, saat aku mengajaknya kemari dia selalu menolak." pandangan Aiden terfokus ke depan.
Keduanya masih menatap senja yang mulai berlalu. Perlahan tapi pasti menghilang tanpa jejak. Berganti dengan malam yang mulai gelap tanpa secercah cahaya. Melihat hal itu, hati Rinai menjadi tenang. Di sela kesibukan syutingnya, menatap senja seperti ini sangat mengasyikkan.
"Indah sekali. Pantai dengan ombaknya, dan senja dengan Meganya," ucap Rinai tanpa sadar.
Aiden seketika menatap gadis dengan Dress Floral itu. Nampak sangat manis disaat senja terakhir. Wanginya tetap sama, dengan khas jeruk yang menyegarkan netra.
Aiden begitu suka terhadap ciri khas itu. Tak ada yang memiliki wangi itu, kecuali Rinai sendiri. Bahkan Anya sendiri justru menyukai wangi tipe-tipe khas selebriti luar negeri. Sangat berbeda dengan Rinai yang sederhana. Dan justru, wanginya membuat Aiden suka. Apalagi tentang ingatan waktu itu. Dia benar-benar tak bisa melupakannya.
"Mulai dingin!" ucap Rinai Lirih.
Aiden membuka jaketnya. Memakaikannya pada Rinai. Selalu seperti itu, ada ikatan antara dia dan Rinai. Sama sekali tak suka melihat gadis itu merasa kedinginan.
"Mau berkeliling sebentar?" ajak Aiden.
Rinai mengangguk. Beberapa helai rambutnya tertiup angin. Aiden terpesona saat menatapnya. Gadis itu masih sama, meninggalkan pesona yang tak pernah mendua. Selalu lampu membuat dia lupa segalanya.
Rinai berlari-lari di atas hamparan pasir, seperti anak kecil. Berkejar-kejaran dengan ombak. Aiden hanya sesekali tertawa.
"Sudah, ayo kita pulang!" ajak Aiden.
"Ya, sebentar saja kak. Lagi asyik nih!" jawab Rinai.
Gadis itu tak menggubris ucapan Aiden. Masih setia dengan permainannya bersama ombak.
"Ah, Cukup melelahkan."
Rinai kembali duduk didekat Aiden sampai rintik-rintik Hujan mulai menetes. Apa yang Aiden takutkan benar-benar terjadi. Senja yang indah itu berubah menjadi mendung yang mencekam, dan justru meneteskan titik-titik airnya.
"Lari, Kak!"
Rinai berlari, diikuti oleh Aiden dibelakangnya. Menjangkau mobil terlalu jauh, sampai mereka berteduh di sebuah gubuk bambu yang ada di pinggiran dekat pantai.
"Yah, hujan." Rinai menengadahkan tangannya, lalu merasakan titik-titik air hujan jatuh di atas telapak tangannya.
"Kamu suka hujan?" tanya Aiden.
Rinai hanya mengangguk. Hujan memberikannya banyak kenangan. Sejak kecil sampai sekarang.
"Ya, ponselku mati. Mana gelap lagi," ucap Rinai sembari menatap ponselnya.
"Pakai ini saja."
Aiden memberikan panselnya pada Rinai. Jika dulu wallpapernya adalah Anya, kini berganti dengan siluet lelaki dan perempuan. Rinai mengira itu siluet yang Aiden dapatkan dari internet.
"Begini kan lebih baik."
Rinai menghidupkan senter. Namun, pada ujungnya terdiam. Keduanya diam seperti batu. Hanya embusan angin yang lewat diantara keduanya.
"Kayaknya cuma kita yang ada di sini." Rinai akhirnya bicara lagi.
"Itu karena sudah malam dan tidak terlalu banyak yang tahu tentang tempat ini," ucap Aiden.
Entah kenapa semakin lama tangan Rinai gemetar. Menuju mobil pun sia-sia. Menerjang hujan yang cukup deras hanya akan membuatnya semakin basah dan kedinginan.
"Hei, tangan kamu menggigil." Aiden dengan memperhatikan tangan Rinai yang gemetar.
Entah kenapa, tiba-tiba dia mengingat sesuatu yang sebelumnya seakan pernah terjadi. Ada seorang perempuan yang tengah kedinginan, dan dia tak bisa menghangatkan nya.
"Kemarilah!" ucap Aiden.
Rinai tercengang, masih bingung dengan ucapan itu.
"Kemarikan tanganmu!" pinta Aiden.
Aiden mengambil tangan itu kemudian menggosokkan tangannya beberapa kali. Hal itu benar-benar dapat membantu menghangatkan tangan Rinai. Sementara Aiden melakukannya, Rinai terus memperhatikan lelaki itu. Bulu mata lentik nya, serta bibir merahnya. Tak ada yang cacat dari wajah lelaki itu, dan benar-benar sangat sempurna. Rinai benar-benar menyukai semuanya, sampai tak sadar kalau dia tengah tersenyum saat ini. Andai waktu bisa berhenti, ingin sekali dia menghentikan waktu dan terus bersama lelaki yang ada di depannya saat ini.
"Kak!" ucap Rinai lirih.
"Kamu ini suka hujan, padahal tidak kuat dingin." Aiden benar-benar heran terhadapnya.
Rinai hanya tersenyum saat mendengarnya. Tanpa sadar memegang wajah itu. Keduanya saling menatap. Aiden hanya tersenyum dan Rinai balas tersenyum. Mereka terbuai dalam perasaan itu, sampai tak terasa keduanya semakin dekat.
Tak perlu menunggu lama lagi, bibir mereka menyatu. Keduanya saling berciuman. Membuat malam yang dingin ini terasa lebih hangat. Keduanya terus berciuman sampai Rinai menyadari kalau hujan telah berakhir. Seperti halnya ciuman itu yang juga harus berakhir.
"Hujannya sudah reda."
Perkataan Rinai menyudahi hal itu. Aiden hampir lupa terhadap apa yang dia lakukan. Lelaki itu hanya mampu menghela nafas panjang. Ingin sekali mendekap Rinai, tapi dia urungkan karena Aiden masih bisa berpikir jernih, jangan sampai ada yang melihat mereka. Meskipun yeah, meskipun Aiden sangat berhati-hati sekali saat melakukan sesuatu.