Rinai Asmara, dengan nama cantiknya, membuat Dewa dalam sekejap suka. Bukan sekedar biasa, melainkan terbawa suasana. Rinai yang manis, ramah mampu membuat semuanya suka, termasuk dirinya.
Dewa dan Aiden duduk berjejer. Di depan mereka ada Rinai yang juga tengah duduk. Syuting sedang break sebentar. Asisten mereka menemani dan selalu memenuhi kebutuhan mereka.
Rinai membuka ponselnya dan berkirim pesan dengan Rose. Membahas perihal pagelaran busana esok malam.
"Cantik, benar-benar cantik," gumam Dewa.
Ucapan itu terdengar oleh Aiden. Lelaki itu menatap Dewa dengan cukup serius.
Dewa membalasnya dengan tatapan tajam. Dia tahu kalau Aiden tak suka dengannya.
"Kenapa menatap aku dengan seperti itu?" tanya Dewa.
"Pede sekali kamu," jawab Aiden.
Keduanya kemudian terdiam. Fokus menatap gadis yang ada di depan mereka. Rinai dengan ponselnya, dan betapa seriusnya dia.
Keduanya terus menatapnya dengan serius. Pandangan mereka terfokus padanya. Rinai tiba-tiba menoleh ke arah mereka berdua. Tiba-tiba dia tersenyum dan melambaikan tangan ke arah mereka.
"Pasti untukku," batin Dewa.
"Jelas saja untukku," ucap Aiden dalam hati.
Keduanya sama-sama membalas lambaian tangan dari Rinai. Mereka juga terkejut saat mengetahui mereka masing-masing melambaikan tangan ke arah gadis yang sama.
Rinai sendiri merasa bingung. Dia menyapa Aiden, tapi yang ikut melambaikan tangan adalah Dewa.
Akhirnya bangkit, Rinai datang menghampiri Aiden.
"Kak, untuk acara besok malam katanya kita datang jam tujuh malam," ucap Rinai.
Aiden kemudian mengangguk, setelah itu Rinai pergi ke toilet sebentar. Aiden kemudian menatap Dewa sembari tersenyum. Seakan mengejek Dewa, kalau yang di sapa Rinai adalah dirinya. Dewa sendiri cukup jengkel dengan lelaki di sampingnya itu.
"Syuting dimulai lagi, Bersiaplah untuk kalian!" ucap sutradara.
Scene berikutnya tentang Aiden dan Dewa yang berkelahi dalam drama. Kebetulan sekali, ini saat yang tepat untuk membalaskan kekesalan Dewa.
Adegan dimulai dengan pertemuan Rinai dan Dewa. Aiden yang sejak awal menyukai Rinai tak suka akan hal itu. Setelah kepergian Rinai, Aiden menghampiri Dewa. Di situ Aiden berperan sebagai Kaisar, sementara Dewa berperan sebagai Abi.
"Kamu menyukai Aurel, bukan?"
Pertanyaan yang diberikan Kaisar dibalas dengan senyuman oleh Abi.
"Kalau suka, emangnya kenapa? Ini bukan urusan kamu. Lagipula kamu bukan siapa-siapanya," jawab Abi.
Kaisar semakin benci, dan menarik kerah baju Abi.
"Sejak awal aku sudah menyukainya, jangan berani-berani kamu mendekatinya."
Abi hanya tersenyum. Seakan menentang Kaisar yang tengah kesal.
"Selama belum ada pernikahan, terserah aku saja!"
Ucapan itu tidak ada dalam dialog. Dewa sendiri yang menambahinya. Sengaja agar Aiden merasa kesal.
"Pukul aku! Dasar pecundang!"
Aiden hanya tersenyum. Dia tahu kalau itu hanyalah pancingan Semata.
"Kamu benar. Selama dia belum menikah dengan siapapun, kita berhak bersaing secara adil. Kita lihat saja, Siapa yang nanti akan Aurel pilih."
Cut! Cut!
Sutradara dan Semua kru bertepuk tangan. Akting keduanya nampak natural, padahal itu benar-benar dari hati mereka berdua. Dewa sendiri terdiam. Rupanya Aiden bukan sosok lelaki yang mudah emosi.
"Wah, kalian berdua keren. Dialog itu kalian tambahkan sendiri, kan? Kakak senior memang hebat!" ucap Rinai.
Aiden hanya tersenyum. Andai saja Rinai tahu Kalau itu bukan dialog tambahan, melainkan kata hati mereka berdua.
"Kamu benar. Kita sudah sepakat untuk menambah dialog itu. Bukankah begitu, Dewa?" uca Aiden pura-pura.
Dewa tak mau kalah. Dia juga berakting dengan baik di depan Rinai.
"Tentu saja. Biarkan dialognya bertambah bagus," ucap Dewa.
Dalam hati, mereka berdua sama-sama mengumpat. Cukup kesal dengan lawan masing-masing yang sok baik itu.
"Baiklah, semangat untuk kita. Bagaimana kalau kita selfie bareng. Biar aku upload di IG ku!" ajak Rinai.
"Boleh saja!" jawab keduanya serempak.
Rinai mengambil ponsel miliknya lalu berpose dengan mereka berdua.
"Senyum!" ucapnya sebelum foto terambil.
Keduanya sama-sama ingin dekat Rinai dan mencoba pose terbaik.
"Bagus, Kak. Akan aku Up di IG sebentar lagi," ucap Rinai lalu pergi.
Setelah kepergian Rinai, mereka berdua perang dingin dengan tatapan tajamnya.
"Kamu sengaja, kan?" tanya Aiden.
"Iya, memangnya kenapa? Mau marah?" balas Dewa.
"Seperti dalam dialog tadi, kita bersaing secara adil."
Setelah mengucapkan itu, mereka melanjutkan syuting mereka.
Syuting pun selesai. Rinai mulai berkemas-kemas barang-barangnya. Setelah memastikan semuanya tak tertinggal, Rinai hendak pergi.
"Rinai, tunggu dulu. Kamu mau pulang denganku?" ajak Dewa.
"Hem, bagaimana ya?" Rinai berpikir sejenak. Masih bimbang dalam menentukan keputusannya.
"Rinai, pulang denganku saja. Bukankah kita ada rencana untuk menemui Rose?" Aiden datang dengan tiba-tiba dan menyela pembicaraan mereka.
"Ya ampun, aku hampir saja lupa." Rinai yang menepuk jidatnya, karena lupa dengan janjinya.
Rinai ada janji dengan Rose, memilihkan pernak-pernik yang cocok untuk dia kenakan besok.
"Kak Dewa, aku minta maaf. Aku lupa kalau ada janji. Lain kali saja, ya?" jawab Rinai.
Aiden dan Rinai kemudian pergi. Aiden sempat menoleh, lalu tersenyum ke arah Dewa. Melihat hal itu, Dewa menjadi kesal.
"Kak, Bagaimana kalau pulang denganku saja?" Felly tiba-tiba datang dan menawarkan diri.
Dewa terdiam saat melihatnya. Sejak syuting pertama, Felly selalu saja mengganggunya.
"Astaga! Kenapa dia selalu menggangguku?" ucap Dewa dalam hati.
"Aduh, Aku lupa harus menemui sutradara. Maaf ya? Sepertinya kamu harus pulang sendirian," ucap Dewa lalu meninggalkan Felly sendiri.
Felly merasa sangat kesal. Kenapa Rinai ditawarkan, sementara dirinya ditinggalkan. Benar-benar dia membenci Rinai. Semua perhatian diambil olehnya. Felly tak suka akan hal itu. Dua gadis yang dia tidak sukai. Rinai yang selalu mengambil perhatian, dan Anya yang mendapatkan perhatian dari Papanya.
Rinai kemudian mengunggah foto itu di IG miliknya. Respon para pengikutnya luar biasa. Dalam satu menit, Rinai mendapatkan ribuan suka dari para penggemarnya. Sejak digosipkan dekat dengan Aiden, pengikut Rinai bertambah. Dari yang ratusan ribu menjadi jutaan pengikut dalam beberapa bulan. Sungguh, ini merupakan pencapaian yang luar biasa.
"Kenapa tersenyum begitu?" tanya Aiden.
Rinnai menatap lelaki itu. Benar-benar merasa senang hari ini. Rinnai kemudian membacakan komentar-komentar dari para pengikutnya.
"Kak, Aku baru saja mengunggah foto kita ber tiga. Kakak harus tahu komen-komen nya!" seru Rinai.
"Aku tidak sabar menunggu dramanya tayang!"
"Beruntung sekali menjadi Rinai, didampingi dua lelaki tertampan."
"Sepertinya, drama itu akan jadi populer. Pemainnya saja cantik dan tampan."
Aiden sendiri tanpa sengaja membaca salah satu komentar.
"Kalau aku jadi Rinai, aku akan memilih Dewa. Dia benar-benar sangat tampan."
Aiden merasa sangat kesal dengan hal itu. Dia tidak suka saat membaca komentar tersebut.
"Kalau aku tetap saja Aiden dan Rinai. Mereka sejak awal sudah cocok."
Kali ini Aiden tersenyum. Dia suka dengan komentar tersebut.
"Jangan seperti itu. Aiden berpacaran dengan Anya. Bukankah lebih baik Rinai dengan Dewa?" jawab yang lain.
Aiden benar-benar merasa kesal lagi. Mereka tidak sadar kalau Aiden sudah lama tidak mengunggah foto bersama Anya. Bahkan sudah menghapus foto-foto mereka berdua.
(Bagian Kedua)
Rasanya ingin membalas komentar-komentar mereka, tapi Aiden sadar kalau itu tak bisa begitu saja. Satu komentar hanya akan menimbulkan kontroversi yang cukup panjang.
Di lain sisi, Anya tengah melihat postingan Rinai di IG miliknya. Dia tersenyum tak suka. Menurutnya, Rinai hanya men cari perhatian saja.
"Memang ya, dia ini suka Cari perhatian," ucap Anya.
Anya terpikirkan sebuah ide. Dia meng-unfollow IG Rinai dan juga Aiden. Kemudian memposting fotonya yang tengah melamun sedih.
"Hastag, kamu yang telah pergi," ucap Anya.
Gadis itu tersenyum. Tinggal menunggu Sesuatu terjadi setelah ini. Anya benar-benar merasa puas.
"Lihat saja setelah ini," ucapnya Lirih.
Anya mendapatkan banyak komentar dari postingan fotonya.
"Sepertinya Anya sedang sedih. Apa ini karena Aiden?" ucap Anya membaca komentar-komentar di postingannya.
"Sepertinya benar. Aiden sudah mencampakkan hanya untuk Rinai." Anya kembali membaca komen itu.
Anya tersenyum karena rencananya berhasil. Setelah ini Rinai akan mendapatkan banyak komentar-komentar jahat.
Keesokan harinya, Rinai, Aiden, Ziao, Wintang dan Ajun benar-benar datang di acara catwolk Rose. Mereka terlanjur berjanji dan memilih datang untuk menyaksikan acara itu.
"Udah Rose, lu yang santai aja. Menurut gue, lu udah cocok pakai gaun itu." Rinai mencoba menenangkan Rose.
"Iya, lu udah cantik kok. Ayo semangat!" ucap Wintang.
"Makasih ya, karena kalian sudah hadir." Rose tersenyum pada kedua sahabatnya.
Keduanya kemudian hendak kembali ke tempat duduk. Namun, mereka dihentikan karena mendengar beberapa perdebatan.
"Kenapa ini bisa terjadi? Bukankah model utamanya benar-benar harus profesional? Tapi kenapa mereka justru sama sekali tidak bertanggung jawab," ucap salah satu penata busana terkenal.
"Maaf Nona! Kami benar-benar minta maaf."
Desainer ternama itu diam. Dia benar-benar merasa frustasi. Acara akan dimulai dan model utamanya justru tidak bisa hadir malah mengundurkan diri. Dia benar-benar merasa sangat kesal.
"Oh tuhan, harus bagaimana ini? Waktunya tinggal tiga puluh menit lagi. Kalau begitu, Carikan aku satu model penggantinya."
"Ada Nona. Namanya Rose. Dia cukup berpengalaman dan proporsi tubuhnya juga sama dengan model utama yang mengundurkan diri," ucap asisten tersebut.
"Baiklah, panggil dia kemari."
Desainer yang bernama Alexa itu ingin melihat Rose. Tak lama setelah itu, Rose datang.
"Terima kasih Tuhan, kamu membantuku kali ini!" serunya.
Alexa menatap dan Memutar tubuh Rose berulang kali.
"Benar-benar sama. Kalau begitu pakai kan gaun itu dan benarkan tatanan rambutnya." Alexa tersenyum.
"Nona, sebenarnya..." sang asisten terdiam kembali. Masalah satu terselesaikan dan masalah lainnya muncul.
"Ada apa lagi ini?" Alexa kembali bertanya.
"Model pengiringnya terjebak macet parah, bisa-bisa tiba di sini satu jam lagi."
Mendengar hal itu, Alexa kembali frustasi. Kesabarannya benar-benar diuji. Karirnya dipertaruhkan dengan acara malam ini.
"Kenapa semua model disini tidak profesional? Aku tidak butuh model seperti itu. Kalau mereka datang nanti, bilang aku sudah mengecat mereka semua. Astaga, harus bagaimana ini?" ucapnya pasrah.
Rinai dan Wintang masih setia menyaksikan itu. Mereka ikut prihatin akan hal itu.
Ziao, Aiden dan Ajun merasa khawatir. Kedua gadis itu pamit melihat Rose sebentar, nyatanya justru sangat lama. Mereka memutuskan untuk menyusul di belakang stage.
"Kalian disini?" tanya Ziao.
Rinai dan Wintang menoleh ke arah mereka bertiga. Tak terkecuali Alexa dan asistennya.
"Amazing. Kalian para anak Star bukan? Kenapa bisa ada di sini?" tanya Alexa.
Mendengar hal itu, Rinai angkat bicara.
"Iya, kami disini untuk menonton acara Rose. Dia teman kami semua," ucap Rinai.
Senyum terbit di bibir Alexa. Wanita itu memiliki ide yang cukup Cemerlang
"Berapa bayara anak star untuk sekali manggung?" tanyanya tiba-tiba.
Mereka semua terdiam. Masih heran dengan pertanyaan yang Alexa ajukan.
"Jadilah modelku dan aku akan membayar kalian semua!" Alexa berkata demikian.
Mereka semua terdiam, masih tak menyangka dengan apa yang Alexa katakan.
"Kami ini Artis dan musisi. Bukan model," jawab Wintang.
"Aku mohon pada kalian semua. Karirku sedang dipertaruhkan saat ini. Bukan hanya karirku, tapi karir Rose. Acara hari ini gagal, karir kita berdua hancur. Jangan lakukan ini untuk aku, tapi lakukan untuk Rose."
Rinai menghela nafas. Apa yang Alexa katakan memang benar. Karir Rose sedang dipertaruhkan.
"Aku butuh seseorang yang sudah berpengalaman berdiri diatas panggung. Dengan wajah tampan dan juga cantik. Semuanya sudah ada pada diri kalian. Jika harus mencari pengganti model malam ini, akan sangat sulit untuk ditemukan. Aku mohon tolong aku!" pinta Alexa memelas.
Mereka semua menjadi luluh. Entah bagaimana caranya, mereka semua setuju.
"Baiklah, kita setuju." Ziao akhirnya menjawab.
Semua ini dia lakukan untuk kekasihnya. Sebagai kekasih yang baik, Ziao akan melakukan apapun untuknya.
"Aku tidak bisa!" jawab Ajun.
"Ayolah, ada Wintang bersama kamu!" ucap Ziao.
"Kalian tidak mau, kan?" tanya Ajun pada Rinai dan Wintang.
Kedua gadis itu saling memandang. Mereka tak bisa meninggalkan Rose begitu saja. setidaknya mereka telah menjadi sahabat yang baik untuk Rose.
"Ayolah sayang. Sekali Ini Saja!"
Mendengar perkataan Wintang yang seperti itu, Ajun jadi tak tega dan luluh seketika.
"Baiklah, aku akan setuju Kalau Aiden juga ikut tampil."
Kini tatapan mereka tertuju pada Aiden seorang.
"Baiklah, lagipula hanya tampil sebentar bukan?" jawab Aiden.
Alexa tersenyum. Tuhan menyelamatkannya kali ini.
"Baiklah, Seza bahwa mereka semua ke ruang ganti. Masih ada waktu lima belas menit," ucap Alexa.
Mereka semua kemudian di bawa ke ruang ganti. Ada yang bagian memoles wajah dan cara membenarkan pakaian maupun gaun mereka.
"Kalian semua Kenapa ada disini?" Rose terheran-heran saat mereka semua duduk di bangku model dan sedang didandani.
"Kita jadi model dadakan," jawab Rinai.
Rinnai akhirnya menceritakan semuanya. Dia bercerita kalau model pengirimnya sedang terjebak macet dan acara bisa gagal karena itu. Dia juga bercerita kalau ini atas permintaan Alexa. Rose malah berterima kasih pada mereka semua. Berkat mereka semua, acara ini tetap dilaksanakan.
Acara pun dimulai. Semua tamu sudah berada di bangku masing-masing. Beberapa model mulai keluar dan memperagakan busana tersebut. Para wartawan dan juga fotografer memotret hal tersebut. Karya-karya Alexa Memang benar-benar luar biasa.
Kejutan untuk para tamu, anak-anak Star juga datang dan memperagakan busana mereka dengan berpasang-pasangan. Rinai dengan Aiden, dan Wintang dengan Ajun. Di sesi akhir, Rose memamerkan gaun terindah yang menjadi topik utama malam ini. Tak lupa, ada Ziao yang menjadi pendampingnya.
"Alexa benar-benar luar biasa. Ada saja idenya dalam menampilkan beberapa anak Star yang tengah populer akhir-akhir ini. Acara malam ini benar-benar sangat mewah."
Para wartawan dan fotografer tak menyia-nyiakan hal ini. Kemunculan para anak Star di event pagelaran busana ini akan jadi topik hangat minggu ini. Dunia model dan busana akan jadi trending lagi.