Memang sedari kecil aku ini sudah aneh. Contohnya saat aku sudah bisa bicara walau tidak jelas saat masih usia delapan bulan. Apakah itu tidak aneh? Entahlah bagaimana aku bisa melakukannya. Mungkin aku ingin segera menceritakan apa yang aku lihat saat itu. Saat aku masih belum bisa membedakan yang benar-benar makhluk konkrit atau makhluk gaib.
Ibuku juga pernah bercerita kalau kata pertama yang keluar dari mulutku adalah “takut” sambil mengacungkan tanganku ke arah belakang ibu. Aku sendiri lupa apa yang kulihat saat itu. Seingatku, di rumah lamaku ada sosok hitam yang tubuhnya sangat tinggi sampai tembus plafon, kurus, dan berkuku panjang. Mungkin sosok itulah yang membuatku ketakutan saat itu.
Setelah itu, dan hari-hari berikutnya, banyak kata yang kuucapkan dan kebanyakan seputar hal-hal aneh yang kulihat tetapi tidak dilihat orang lain. Hal yang waktu itu hanya dianggap bualan seorang bayi yang sedang belajar berbicara. Hal yang tidak diketahui oleh ibu adalah darimana aku mendapatkan imajinasi seperti itu. Padahal semua orang yang ada di rumahku dan di sekitarku sangat jarang bahkan tidak pernah membicarakan hal-hal gaib atau supernatural.
Yah, itulah sekelumit cerita yang pernah aku dengar dari ibuku dan hanya sesekali saja diucapkan. Ibuku sepertinya benar-benar menutup rapat masalah yang berhubungan dengan gaib. Keluargaku membenci dan jijik pada segala sesuatu yang tidak masuk logika. Jadi, aku juga tidak banyak tahu tentang keanehan di masa bayiku. Bagaimana kalau kita lanjut ke masa di mana aku mulai bisa mengingat kejadian-kejadian di masa lalu? Tentunya peristiwa yang aku ingat saja dan berhubungan dengan pengalaman mistis.
Dimulai saat aku tepat umur tiga tahun, tengah malam pada 3 Maret 1993. Pada pukul dua belas malam aku dibangunkan oleh keluargaku. Mereka memberi kejutan selamat ulang tahun padaku. Ada kakek, nenek, ayah, ibu, dan Mas Dedi, mereka semua tersenyum, tertawa, dan bernyanyi lagu “Selamat Ulang Tahun” yang kusambut dengan senyum ceria. Ibu membawa kue dengan lilin berbentuk angka tiga. Aku merasa sangat senang mendapatkan kejutan ini walaupun pada awalnya aku sempat kesal karena dibangunkan saat sedang tidur.
Untuk sementara aku masih merasa senang, tetapi saat aku sadar bahwa nenek sudah meninggal jauh sebelum aku lahir, aku jadi bertanya-tanya siapa nenek tadi. Aku menengok lagi ke arahnya. Dia tidak bergerak sama sekali, diam di belakang kakekku. Mungkin ada beberapa saat aku diam melongo memandang sosok nenek tersebut. Dia masih tidak berani mengalihkan arah pandangnya kepadaku. Lama kelamaan, sosok tersebut seperti berubah menjadi asap dan menembus keluar melalui tembok kamarku. Shock? Tidak, kejadian seperti ini bukan yang pertama kali aku alami. Aku hanya heran sosok tersebut tidak pernah kulihat sebelumnya, dan dia berani berada di tengah keramaian keluargaku. Biasanya mereka memilih pergi kalau ada banyak orang dan ramai aura kehidupan.
Kalau sekarang aku pikir-pikir lagi, apakah mungkin itu nenekku? Nenek meninggal saat ibu, anak tunggalnya, baru berusia enam tahun yang disebabkan oleh kanker serviks. Jadi, saat itu nenek juga masih muda, belum terlalu tua tidak seperti sosok yang tadi kulihat. Aku juga tidak tahu makhluk gaib apa tadi, yang jelas, hawa yang disebabkannya biasa saja, tidak panas, tidak dingin.
Saat masih kecil, aku selalu menganggap hantu yang memiliki hawa panas adalah jahat, dan yang berhawa dingin adalah hantu baik. Contohnya seperti saat aku masuk TK, ada hantu yang mendiami kelasku. Hantu ini memakai baju pendeta Kristen, dia memiliki hawa yang dingin. Sepanjang aku melakukan aktifitas di kelas, dia hanya berdiri diam di pojok kelas dengan tangan dalam posisi menangkup seperti berdoa. Dia tidak mengganggu, tidak mengajak berinteraksi, tidak menunjukkan wajah seram. Hantu tersebut tidak pernah mengangkat kepalanya barang sekali. Aku hanya melihat ubun-ubun kepalanya yang berambut tipis dan hampir botak. Rambutnya juga berwarna coklat tembaga. Mungkin dia bukan hantu dari orang Indonesia. Hanya sesekali dia terdengar seperti berbicara sendiri, mungkin sedang berdoa.
TK tempatku bersekolah memang dari yayasan Kristen, dan letaknya berada di sebelah gereja. Mungkin hantu tadi memang salah satu pendeta yang pernah berkarya di gereja tersebut. Walaupun dekat dengan gereja, bukan berarti TK ini aman dari gangguan makhluk gaib. Pernah sekali aku merasakan hawa panas dari sesosok makhluk gaib. Pagi hari saat kami mulai masuk ke kelas, tiba-tiba aku merasakan sensasi tersebut. Aku masih dalam keadaan berdiri dan melongokkan kepalaku ke luar melalui jendela kelas. Ada sesosok makhluk berambut panjang, berpakaian hitam seperti gaun, dan semua kulitnya berwarna abu-abu kehijauan. Makhluk tersebut melayang dan berhenti di belakang salah satu orang tua murid yang sedang duduk di barisan kursi tempat biasanya menunggu anak-anaknya selesai bersekolah.
Satu. Dua. Tiga. Tiba-tiba ibu tersebut tertawa dengan suara yang berat, suara laki-laki tua dan serak. Orang tua murid lainnya yang berada di sana terkejut mendengar suara tertawa aneh itu. Ya, dia kesurupan, makhluk tadi masuk ke badannya. Semua orang tua murid yang kebanyakan adalah ibu-ibu menjerit ketakutan. Seseorang kesurupan di pagi menjelang siang saat matahari sedang bersinar dengan terang. Kepanikan sampai masuk ke ruang kelas dimana semua siswa yang masih kanak-kanak ini ikut menjerit dan menangis. Kecuali aku yang tahu bahwa memang ada sosok yang masuk ke badan ibu tadi.
Aku tidak takut, karena bagaimanapun seramnya dia tertawa dan meraung, sosok yang masuk tadi jauh lebih menyeramkan. Aku hanya diam saja tidak berkata apapun pada siapapun. Memang sedari kecil aku sudah pendiam seperti ini. Selain itu, aku sudah mulai paham bahwa kemampuanku ini tidak disukai. Aku sudah dari kecil berusaha menahan untuk tidak mengatakan hal-hal yang bersifat gaib.
Tidak lama, salah seorang pendeta yang tinggal di rumah dalam kompleks gereja tersebut datang dan menghampiri ibu tersebut. Aku mengenal pendeta ini, namanya Pendeta Broto. Dia meminta agar beberapa laki-laki di sana memegang tangan ibu yang kesurupan dan memaksanya duduk bersimpuh di kedua lututnya. Pendeta Broto tidak berkata apapun, dia hanya menumpangkan tangan kirinya di pundak kanan ibu tersebut. Sedangkan tangan kanannya memegang buku tebal bersampul kulit berwarna hitam. Bukan Alkitab, entah apa itu yang dibawanya. Pendeta Broto komat-kamit seperti membaca sesuatu namun suaranya tidak terdengar. Atau mungkin terucap hanya saja aku yang di dalam kelas tidak bisa mendengarnya.
Beberapa menit dia melakukan itu, tidak lama, hanya sekitar tiga sampai lima menit. Pendeta Broto mengakhiri ritual tersebut dengan sebuah teriakan, “Dalam nama Tuhan Yesus, pergi kamu kuasa jahat!”. Seketika ibu tadi ambruk dari simpuhnya bersamaan dengan keluarnya bayangan hitam yang melesat cepat ke belakang. Hawa panas yang tadi aku rasakan seketika menghilang.
Kagum, aku sangat terkagum dengan yang dilakukan Pendeta Broto saat itu. Apakah Pendeta Broto juga bisa melihat hantu? Bagaimanakah cara mengusir hantu yang ingin berbuat jahat? Apakah aku juga bisa menjadi sepertinya? Padahal aku selalu ketakutan saat menghadapi makhluk-makhluk itu.