Sebenarnya masih banyak lagi peristiwa mistis yang aku alami saat masih kecil. Tapi kebanyakan hanya berupa penampakan, suara, dan godaan-godaan kecil yang tidak berarti. Pengalaman mulai menjadi lebih seru saat aku sudah masuk Sekolah Dasar. Entah mengapa mereka menjadi seperti sadar bahwa aku bisa mengetahui keberadaan mereka. Makhluk-makhluk tersebut mulai mengajakku untuk berkomunikasi. Di masa ini juga aku mulai mendapatkan cap “Anak Aneh” dari teman-temanku.
Kisah kali ini akan dimulai saat aku masih duduk di bangku kelas 1 SD. Aku bersekolah di sebuah SD negeri yang letaknya di pinggir salah satu jalan utama kota Solo. Jangan tanya ada makhluk gaib apa saja di sekolah ini. Semua sekolah menurutku memiliki sangat banyak makhluk gaib yang kebanyakan kuat-kuat. Sekolah dan tempat-tempat yang hanya aktif di pagi dan siang hari biasanya sangat sepi di malam hari. Hal tersebutlah yang membuat mereka sangat suka mendiami tempat-tempat tersebut.
Saat kelas satu, ruangan kelasku berada di jajaran kelas yang paling dekat dengan jalan raya. Dulu, waktu aku masih bersekolah di sana, ada jembatan penyebrangan di depan sekolahku. Jadi, jendela belakang kelasku bisa melihat langsung ke arah jalan raya dan jembatan penyeberangan tadi. Jendela belakang kelas yang mengarah ke jalan raya cukup besar dan rendah sehingga kami para siswa bisa melihat ke luar dengan jelas.
Aku sering memandang ke arah jembatan tersebut. Tepatnya bukan jembatan penyeberangan yang menarik perhatianku, tetapi sosok yang menggantung di bawahnya. Sosok ini merangkak sepanjang jembatan dalam keadaan terbalik. Posisi tubuhnya seperti merangkak, tetapi melawan gravitasi, punggungnya menghadap ke bawah. Sosok tersebut berbaju merah panjang dan berkibar-kibar seperti kain yang tertiup angin. Mukanya menyeramkan sekali, matanya hitam dan besar, keriput di seluruh wajah, mulutnya vertikal tapi penuh dengan taring, dan memiliki lidah yang cukup panjang. Rambutnya juga sangat panjang sampai menggulung di atas aspal.
Sosok inilah yang menurutku paling kuat, terbukti dengan auranya yang sangat kuat dan hawa tidak nyaman yang dihasilkannya. Tidak ada makhluk yang berada di area tersebut selain dia. Termasuk di deretan kelas tempatku belajar. Jadi, tidak ada gangguan dari makhluk-makhluk jahil saat aku masih kelas 1. Sosok ini juga tidak pernah mengganggu siswa atau guru di sekolahku. Dia tidak peduli dengan aktifitas kami di sekolah, tetapi berbeda dengan pengendara yang melintas di bawah jembatan penyeberangan.
“Awas!” teriakku dari dalam kelas yang mengejutkan semua kelas.
Teriakan tersebut menandai terjadinya kecelakaan yang disebabkan oleh sosok tersebut. Beberapa kali aku melihat ada pengendara motor yang terjerat oleh rambutnya dan terjadilah kecelakaan. Kebanyakan korban kecelakaan meninggal di tempat. Ada yang terjatuh sendiri dan kepalanya terbentur trotoar, ada juga yang tiba-tiba blank dan tertabrak bis kota sampai mati, yang paling mengenaskan adalah pengendara motor yang tiba-tiba hilang kendali dan menabrak truk yang berhenti di pinggir jalan.
Ada lagi hal yang membuatku mual. Makhluk tadi memanjangkan leher dan lidahnya lalu menjilati darah yang keluar dari tubuh korban. Semua itu tepat di depan mataku dan aku bisa melihat dengan jelas dan terasa seperti slow-motion. Aku juga tidak bisa menahan muntah saat melihat peristiwa tersebut. Aku juga ingat bagaimana mata-mata teman sekelasku yang memandang aneh padaku. Setelah berteriak, terjadi kecelakaan, dan aku muntah. Aku juga pernah mendengar gosip bahwa mereka berpikir aku yang menyebabkan kecelakaan itu.
Bu Lita, wali kelas sekaligus guruku, segera membawaku ke UKS. Aku selalu menolak untuk dibawa ke UKS. Alasannya pasti sudah terduga, benar, ada makhluk gaib di ruang UKS. Anak kecil berkulit melepuh dan berwarna gelap. Aku yakin dia ini jahat karena hawanya panas dan tidak nyaman. Tapi apa daya, Bu Lita tetap memaksaku berbaring di bed setelah mengganti bajuku yang terkena muntahan. Itulah bentuk kepeduliannya terhadapku. Benarkah? Tidak, aku melihat muka jengkelnya yang menandakan dia ini sengaja menyeret aku ke UKS agar tidak mengganggu siswa lain. Setelah itu, aku ditinggalkan di UKS bersama dengan makhluk gosong tadi.
“Haaaarrrrghh.... haaaarrrrrrgh.... ” suara makhluk tersebut seperti kehabisan napas atau menahan rasa sakit.
Jika mendengar suara tersebut, aku langsung berlari keluar ruang UKS. Satu-satunya tempat yang aku tuju adalah taman di belakang sekolah, dekat dengan kantin. Di taman itu ada satu sosok besar yang biasa disebut dengan genderuwo. Tetapi, tidak seperti yang diceritakan, makhluk ini tidak mengganggu dan bahkan tidak peduli terhadapku. Hawanya juga dingin, walaupun ada sensasi mengintimidasi.
Biasanya aku di sana sampai bel istirahat berbunyi. Ada yang aneh? Iya, kebanyakan peristiwa tersebut terjadi di pagi hari. Bel istirahat dibunyikan pukul sembilan pagi. Biasanya peristiwa tersebut terjadi antara pukul 7-8 pagi. Benar-benar pada jam-jam awal kami masuk kelas. Entah apa alasannya makhluk tersebut memilih jam-jam itu untuk berburu mangsa. Mungkin memanfaatkan ketergesa-gesaan para pengendara yang mengejar jam sekolah atau kantor. Terlebih lagi, pada masa ini, pengendara motor masih diperbolehkan menggunakan helm batok yang mudah pecah dan kurang aman. Walaupun tidak terlalu sering, peristiwa kecelakaan di sana bisa terjadi 2-3 kali dalam sebulan.
Mata-mata yang memandangku aneh sudah dimulai dari saat ini, di kelas satu dimana aku masih sangat kecil dan belum siap untuk diperlakukan seperti itu. Terkadang aku muak dengan tatapan mereka, semua itu karena aku yang tidak bisa menahan reflek untuk tidak berteriak atau mengambil tindakan yang tidak mencolok. Tetapi, pada masa ini, mereka hanya menganggapku sebagai penyebab kecelakaan saja, mereka belum tahu bahwa aku bisa melihat hal-hal gaib yang tidak bisa mereka lihat.
Oh, iya, pernah sekali si “Wanita Spiderman”, begitu aku menyebutnya, masuk ke kelasku. Saat itu ada sesosok makhluk berbentuk bayangan hitam yang aku tidak tahu kapan tiba-tiba berada di bagian belakang kelasku. Aku mengetahuinya saat aku merasakan hawa panas dan tidak menyenangkan tiba-tiba berada di kelasku. Saat aku melihatnya, ternyata Si Wanita Spiderman sudah ada di sana. Dia beberapa kali mengayunkan cakarnya ke arah bayangan hitam, namun dia bisa menghindarinya. Sampai akhirnya, Wanita Spiderman seperti menangkapnya dan merobeknya menjadi dua. Sama seperti seseorang yang merobek kain. Lalu muncul bau terbakar yang tidak enak. Kali ini bukan aku saja yang menciumnya. Semua yang ada di kelas mencium bau terbakar tersebut. Bu Lita mengecek semua kelas memastikan tidak ada listrik konslet atau benda terbakar lainnya. Percuma saja, tidak ada yang terbakar di kelas itu, hanya sesosok hantu berbentuk bayangan yang terbakar setelah badannya terbelah dua.
Setelah itu, Si wanita Spiderman kembali ke jembatan penyeberangan dengan cara terbang. Dia sangat cepat sampai-sampai hanya menyisakan bayangan merah saat melaju. Saat itu aku baru tahu, ternyata di dunia gaib juga ada bullying. Yang kuat, akan menindas yang lemah. Aku juga tidak tahu apa yang terjadi pada sosok bayangan tadi. Apakah dia mati? Bukannya hantu tidak bisa mati? Entahlah, aku juga tidak peduli. Bahkan kalau boleh memilih, aku tidak ingin melihat hal-hal yang menurut orang lain tidak masuk akal ini.