Seluruh siswa berlarian menuju ke gedung tingkat lima setelah mendengar kabar dari pengumuman di aula. Karena rasa penasaran itu mengundang kegairahan para siswa, guru serta kepala sekolah SMAN 3 Bandung. Egi kesulitan masuk ke dalam aula karena sudah banyak siswa yang mengerubunginya. “Permisi, maaf, permisi.”
Egi berucap seraya mencari celah agar tubuhnya yang tidak terlalu gemuk untuk maju di barisan paling depan. Dia ingin tahu siapa dalang dari semua ini. Salah satunya, dia akan melihat apa yang sedang terjadi? Egi selalu begitu, dia sangat pemberani walaupun terkadang masih sedikit ngeri.
“Ada apaan, sih?” tanya Egi pada Nathan yang sudah berdiri di barisan paling depan. Nathan tidak bisa berkata-kata lagi, dia menunjuk dengan jari telunjuknya ke arah depan dan menampakkan sosok gadis berparas cantik sedang berumuran darah di bagian kepalanya hingga merembes ke seluruh tubuhnya.
Gery sedang duduk menghampiri gadis itu dengan tatapan terluka. Hatinya teriris, tangannya mengepal. “Siapa yang melakukan ini?” Egi langsung menghampiri Gery seraya menepuk pundaknya, lantas Gery menoleh dengan mengedihkan bahunya.
“Ada yang aneh dengan kejadian ini. Woy, siapa saja yang ada di sini bubar!” Gery beranjak, lalu tatapannya melebar dengan kilat amarah memuncak. Lantas yang bergerombol seperti semut merah merebut gula itu langsung bubar dengan barisan amburadul. “Tolong bawa ke rumah sakit! Jangan hanya diam semuanya, mau dia mati kehabisan darah di sini dan kalian hanya menjadi penonton gratisan?” Gery berbicara tegas, ketus dan penuh amarah.
Nathan yang berada di samping kiri Gery, lantas mencoba untuk menenangkan pria tersebut. “Udah, Ger, gue yakin ada dalang di balik semua ini. Lo jangan kemakan emosi, lo harus bisa tenang biar semuanya jelas."
“Gue gak bisa tenang! Gisya itu udah gue anggap sebagai adik sendiri, nyokapnya nitipin dia ke gue tapi gue justru membiarkan dia terluka.”
Gery menutup matanya rapat-rapat dengan nada sesal.
“Ini bukan sepenuhnya salah lo, Ger. Gue bakal bantu lo untuk mencari siapa pelakunya. Sebenarnya, kenapa dia bisa ada di aula dan ditemukan sudah belumuran darah seperti itu?” tanya Egi penasaran.
“Tadi, guru olahraga kita yang ngumumin. Katanya dia udah seperti ini waktu ada di aula sendirian ketika anak-anak kelas X mau olahraga.”
Gery mencoba menjelaskan kronologi kejadian singkat dari orang lain. “Berarti, semua terjadi di aula ini?” tanya Nathan langsung masuk ke dalam perkara.
“Gue nggak melihat ada yang aneh di aula ini, bahkan jejak darah sekalipun karena Gisya lukanya sudah parah banget itu. Dan, luka itu hanya ditemukan tepat di mana dia tergeletak pingsan. Atau mungkin ada orang dalam yang membawa dia ke aula karena tahu akan ada olahraga? Atau bahkan kejadian ini berada di tempat lain agar kita tidak bisa mengetahui siapa dalangnya?” Egi cowok paling cerdas dalam memikirkan segala hal itu langsung konek dengan apa yang sedang dibahas. Bahkan, Gery tak pernah memikirkan hal itu. Dia kebawa emosi dan pikirannya kacau.
“Boleh juga pemikiran yang logis.” Gery setuju dengan pendapat Egi. Sekarang dia tahu, di mana dia harus mencari seseorang yang menjadi kecurigaannya selama ini.
Naufan Raid Azka. Batin Gery.
“Ger, mau kemana?” teriak Nathan cemas, jika Gery akan melakukan tindakan yang akan memerumit keadaan. Di antara mereka yang paling emosional adalah Gery jika sudah masuk ke dalam suasana seperti ini.
“Kita ikutin dia dari belakang?” kata Egi memberi keputusan terbaik.
***
Anggun, Pricil dan Calista berlari menuju ke lantai lima dengan napas memburu. Mereka menerobos kerumunan siswa sebanyak ratusan yang menuruni anak tangga hingga akhirnya tiba di aula. Anggun yang lebih dulu sampai di aula itu lantas melebarkan matanya, tidak ada siapapun di dalam aula ini. Kosong.
“Lah? Kemana perginya semua manusia di sini?” ujar Anggun, seraya meminimalisir napasnya.
“Gery?” Pricil tersentak saat tidak menemukan seseorang di aula tersebut.
“Kayaknya mereka udah pada bubar deh.” Calista baru saja tiba, berusaha meminimalisir napasnya juga.
“Pricil, apa yang lo lihat?” bisik Anggun mendekati Pricil.
“Gue melihat Gery dalam bahaya, tapi yang gue lihat itu samar-samar.” Pricil balas dengan berbisik pelan.
“Ada apa?” tanya Calista berjalan mendekati Pricil dan Anggun.
Anggun dan Pricil mencoba untuk tenang. Walaupun di raut wajah mereka tertampang rasa cemas. “Gak kenapa-napa kok. Oh, iya, lo bisa balik ke kelas duluan, Cal?” ujar Pricil dengan senyum singkat.
“Aku belum hafal jalan sekolah ini. Emang kalian mau ke mana?” tanya Calista dengan kedua alis saling bertautan.
Anggung mengangguk. “Yaudah, lo ikut kita dulu.”
Mereka pun keluar dari ruangan aula tersebut. Pricil meraih ponselnya yang berada di dalam saku. “Gue telpon aja kali, ya?” kata Pricil lalu mencari kontak Gery dan mendial nomernya.
'Maaf, nomer yang anda tuju sedang tidak dapat diganggu gugat.'
“Ish, mbak operator selingkuhannya Gery malah yang jawab,” decaknya kesal.
“Telpon Egi atau Nathan coba?” saran Anggun.
“Oke, gue coba lagi. Awas aja kalau sampai selingkuhan Egi yang jawab, nih!” Pricil pun mendial nomer ponsel Egi, terdengar suara tut-tut dan—
“Halo?” kata Egi di seberang sana.
“Woy, kalian pada ke mana?” teriak Pricil dengan suara tiga oktaf membuat Egi menjauhkan ponselnya dari jangkauan telinga.
Nih, cewek cabe rawit tapi suara kek toa, Egi membatin di seberang sana.
“Lantai tujuh lapangan basket indoor.” Egi pun menutup sambungan teleponnya secara sepihak. Dan, mereka bertiga segera menuju ke lapangan basket indoor yang berada di lantai tujuh.
Sesampainya di sana, Gery sedang ribut dengan pria jangkung berparas tampan yang memiliki rambut berjambul dan memakai seragam olahraga. Pria itu sangat dikenali oleh Pricil dan Anggun, dia itu anak kelas XI IPA tingkat tiga dan namanya, Naufan Raid Azka.
“b*****t! Lo yang lakuin ini semua ke adik gue?!” Gery berteriak dengan penuh amarah, ia mencengkram baju seragam Naufan. Matanya berkilat marah, tangan kirinya mengepal, membuat siapa saja yang melihat akan bergidik ngeri.
“Sabar Ger, tanya orangnya baik-baik dulu.” Nathan mencoba untuk meredakan emosi Gery yang sudah meluap-luap.
“Gak bisa sabar orangnya lagi pms.” Gery dengan sinisnya menatap Nathan. Dan, anehnya di situasi seperti ini dia malah bercanda walaupun mukanya nampak garang seperti singa yang ingin memburu mangsanya.
“Gery!!” Pricil yang berada di atas tribun itu lantas berteriak dengan suara kekuatan lima oktaf, membuat mereka semua menoleh ke arah ketiga gadis tersebut. “Lo ngapain?” tanyanya dengan polos tanpa melihat keadaannya sedang gawat darurat.
“Anak toa, jangan teriak-teriak dong!” Egi yang berada di samping Nathan langsung menyuruh mereka bertiga turun ke lapangan.
“Anjirr, dipanggil anak toa,” desis Pricil lalu menuruni tribun diikuti oleh Anggun dan Calista di belakangnya.
“Ngapain, sih? Lagi ada adu tinju di sini?” tanya Pricil seperti biasanya dia suka bacor sana-sini yang membuat mereka ingin sekali meremas mulut gadis mungil tersebut. “Pricil, lo diam aja, ya?” Nathan dengan gemas membekap mulut gadis itu. Pricil pun meronta untuk melepaskan tangan Nathan dari mulutnya.
“Ishh, Nathan jahat!” Pricil mayun, kemudian tatapannya beralih ke arah Gery yang sedang adu mulut dengan Naufan.
“Bukan gue yang melakukan itu semua!” Naufan tak kalah kalut, dia membentak dan mencoba untuk melepaskan tangan Gery dari cengkraman bajunya. “Lo coba mikir dong! Gue sayang sama adek lo itu, mana mungkin gue tega gituin dia? Punya otak gak sih, lo ini?” Naufan kini membuat suasana lapangan indoor menjadi hening. Seolah mereka semua tidak bisa berkata-kata lagi. Dengan langkah cepat, Naufan berjalan meninggalkan mereka semua. Bahunya sengaja ditabrakkan dengan Gery, lalu dia mengambil ransel yang berada di tribun dan keluar dari ruangan tersebut.
“Ger, lo harus tenang dan sabar. Selesaiin masalah itu bukan dengan cara emosi, di antara kita yang paling emosional itu lo! Lalu apa gunanya kemampuan lo itu?” Anggun mencoba untuk memberi nasihat kepada Gery yang tampak mengacak rambutnya frustasi.
“Kemampuan apa?” Calista yang tidak tahu menahu tiba-tiba menjadi kepo dengan kalimat 'kemampuan' yang dimaksud oleh Anggun. “Kemampuan dia dalam ilmu bela diri,” alibi Pricil mencoba membantu mereka semua, hampir saja ketahuan dan untung saja Anggun tidak menjelaskan secara detail. Karena kemampuan ini bersifat privasi dan hanya diketahui oleh lima orang tersebut. Untung saja, Calista tidak terlalu memiliki penyakit kepo. Jadi, dia hanya bisa membulatkan bibirnya membentuk 'O' bulat.
***
Naufan berjalan menuju ke lokernya, dia meletakkan baju seragam olahraganya ke dalam loker ketika sudah menggantinya dengan seragam putih abu-abu. Tiba-tiba saja, dia menemukan sebuah amplop berwarna coklat di dalam sana. Naufan membukanya, sontak dia membulatkan matanya. “Apa maksud dengan semua ini?” tanyanya pada diri sendiri.
Di dalam amplop berwarna coklat itu terdapat kertas putih yang bertuliskan dengan tinta merah menyerupai darah.
“AKU INGIN KEMATIAN.”
Naufan menjatuhkan kertas tersebut, dia melihat ke kanan-kiri tidak menemukan seseorang yang telah meletakkan kertas tersebut ke dalam lokernya. Bulu kuduknya bergidik ngeri, ini sudah seperti horor yang ada di film. Emang Naufan telah membuat kesalahan apa? Hingga hari ini dia seperti dituduh sebagai buroran. Dengan perasaan bercampur aduk, Naufan menatap kertas yang tadi terjatuh di bawah dan ternyata—
Kertas itu hilang?
“SETANNNN!” Naufan berlari dengan napas ngos-ngosan. Dia tidak peduli lagi dengan lokernya yang terbuka itu. Lagi pula, di lokernya tidak menyimpan barang berharga selain baju ganti.
'BRUAKK'
“WADAW!” Naufan memekik dengan wajahnya yang sudah merah abis seperti orang baru makan bon cabe level tigapuluh.
Gaswat, yang ditabrak bukan manusia biasa ternyata. Dia adalah Mario Teguh seorang paling berpengaruh besar di sekolah ini. Siapa lagi kalau bukan guru botak yang berprofesi sebagai kepala sekolah SMAN 3 Bandung.
“Naufan! Kenapa kamu lari seperti orang kesetanan gitu?” tanya Pak Mario dengan tampang yang lebih serem dari pada setan, menurut Naufan.
“Anu pak.. Anu..” Naufan masih ngos-ngosan, dia mencoba untuk meminimalisir napasnya dan bingung hendak memberi jawaban apa.
“Ona Anu ane, bisa bicara yang jelas?” tegas pak Mario membuat Naufan makin bergidik ngeri ditatap olehnya.
“Itu, tadi pak.. di sana saya melihat se—tan.” Naufan berbicara dengan terbata-bata, bulu kuduknya masih belum membaik dan merasakan ngeri, dia mencoba untuk menelan ludahnya susah payah.
“Hahahaha!” Pak Mario malah ketawa ngakak.
Busyet, nih orang malah ketawa-ketiwi gimana toh? Batin Naufan menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
“Kamu itu! Yang benar saja, siang bolong begini dibilang sekolah ada setannya? Kamu mau seluruh siswa di sini akan heboh karena lelucon kamu itu? Trus, kamu mau sekolah ini tidak berisi karena di beritakan hoax 'ada setan gentayangan di SMAN 3 Bandung' kamu mau saya keluarkan karena telah mengada-ngada. Naufan Raid Azka?” pak Mario menatap anak didiknya dengan mata melotot setelah puas tertawa. Tuh, kan. Dia itu makhluk paling menyeramkan kalau sudah seperti ini.
Naufan hanya bisa melebarkan mulutnya sambil mangut-mangut seperti orang yang kelihatan bloon. “Iya Pak, saya ndak jadi lihat setan,” ujarnya sambil menundukkan kepala, tidak berani menatap kepala sekolahnya tersebut.
Tapi, saya lihat lebih dari setan. Manusia setan jahat, lanjutnya dalam hati. Naufan pun segera pergi sebelum kepala sekolahnya berubah pikiran dan menghukumnya membersihkan toilet seluruh gedung dari lantai satu sampai lantai tingkat tujuh.
“Saya undur diri, mohon bapak geser sedikit, ya?” ucap Naufan dengan nada sesopan dan selembut mungkin.
“Oh, iya nak, silahkan!” pak Mario pun bergeser dan Naufan langsung kabur. Lantas, dia sadar langsung menepuk jidatnya. “Lah? Kok saya dikerjain sama anak didik saya sendiri, toh?” ujarnya pada diri sendiri.
Hari sudah seperti hari sibuk dengan masalah. Masalah yang datang dari jam perjam bagi kelima saudara yang sering disebut dengan 'PASLIM' alias pasukan lima bersaudara. Tidak bagi Calista, hari pertamanya masuk sekolah sudah disambut dengan suasana horor dan berbagai pertanyaan di dalam benaknya yang janggal maupun tak terjawab. Calista kini mengikuti jejak pasukan lima bersaudara tersebut. Mereka yang awalnya berlima setiap kali pergi kemana-mana kecuali ke kamar mandi, sekarang berubah menjadi profesi karena ketambahan anggota baru jadi berenam.
“Kita ke rumah sakit.” Gery masuk ke dalam mobil. Dia duduk di bangku pengemudi dan di sampingnya ada Egi. Di belakang ada Nathan, Anggun, Pricil serta Calista. Untung saja, tubuh para gadis itu tidak ada yang gemuk, jadi bisa memuat empat orang.
“Elssa ngapain diajak?” Egi menoleh ke belakang sambil menatap ke arah Anggun dan Pricil lalu beralih menatap ke arah Elssa.
“Biarin dia ikut kita, dia masih berstatus sebagai murid baru. Jadi, hanya kita yang dikenalinya,” kata Anggun membela Calista yang dibalas senyuman oleh gadis di sampingnya.
“Serah kalian semua.” Egi pun menyerah, dia berbalik lagi menatap ke depan saat mobil mulai melaju untuk menyisir jalanan setapak menuju ke rumah sakit.
Rumah sakit MYB, di ruang rawat inap VIP nomer XII. Gery memasuki ruangan tersebut. Seorang gadis berbaju seragam rumah sakit sedang diinfus dan tertidur damai di atas ranjang tersebut. Dia bernapas lega saat melihat adiknya tidak kenapa-napa. "Syukur, kalau dia baik-baik aja.”
Gery mengelus dadanya lega, lalu dia berjalan mendekati ranjang adiknya. Anggun, Pricil, Calista, Nathan dan Egi pun memasuki ruangan tersebut.
“Gimana keadaannya, Ger?” tanya Egi setelah dia berdiri di samping cowok tersebut.
“Dia baik-baik aja, kan?” Egi berucap kembali sebelum Gery menjawab pertanyaannya.
“Seperti yang lo lihat, Gi.”
“Gisya?” tiba-tiba saja, dari balik pintu tersebut membuka dan menampilkan sosok pria jangkung dengan seragam putih abu-abu, wajahnya terlihat panik dan penuh keringat bercucuran di dahinya. Dia adalah Naufan, sangat khawatir melihat keadaan Gisya.
“Maaf, saya mengganggu.”
Naufan melihat satu persatu orang yang ada di ruangan itu dengan langkah berhenti di ambang pintu. Dia hendak berbalik, namun Gery memanggilnya agar tetap tinggal. “Naufan, lo tetap di sini.”
Naufan tersenyum, dia berbalik dan berjalan mendekati ranjang Gisya.
“Apa yang membawa lo ke sini?” tanya Anggun terdengar aneh dan lantas semua pandangan mata beralih ke arah Anggun.
Naufan mulai gemetaran, bibirnya kelu untuk berkata. Namun, dia berusaha menunjukkan wajah biasa-biasa saja meski sudah kentara oleh Anggun—cewek peka yang bisa merasakan hal janggal di sekitarnya. “Gue tadi habis dapet peringatan aneh.”
Naufan pun berbicara dengan nada pelan. “Ada yang neror gue di loker.” Naufan pun melanjutkan kalimatnya yang sempat tertunda, seraya menengadah.
“HAH?” serempak mereka memekik histeris.
“Gak usah berjama'ah juga, kali!” Naufan memayunkan bibirnya sebal.
“Jelasin secara detail, jangan dipotong-potong kayak sayuran dong!” Gery gemas karena Naufan membuatnya penasaran. Setelah Naufan menjelaskan kronologinya, mereka semua jadi ikutan takut. Takut, sesuatu akan terjadi lagi.
“ARGHHHH!” Calista berteriak histeris secara tiba-tiba membuat suasana tegang ini menjadi semakin mencengkram dan gadis itu lantas memeluk Egi karena dialah yang berada di dekatnya. “Kamu lihat apa?” Egi berbisik ke telinga gadis itu. Tapi, Calista tidak menjawab dan dia bungkam semakin menenggelamkan wajahnya di d**a bidang Egi. “Sosok juba hitam,” lirihnya.