Kamis malam jum'at seusai pulang dari rumah sakit menunggu kedatangan kedua orang tua Gisya, mereka semua berkumpul di sekolah tepat pukul tujuh malam. Bukannya malah pulang ke rumah, ini semua karena ide konyol Egi dan disetujui oleh semuanya termasuk Calista dan Naufan yang kini ikut bergabung bersama ketiga cowok serta dua cewek bersaudara tersebut.
Calista berdiri di samping Anggun, sedang menatap sebuah ruangan yang lumayan besar untuk di tempati sebagai peristirahatan melepas penat di tengah kemacetan jantung kota Bandung. “Ini ruang apaan?” tanya Calista, seraya menyisir pandangannya ke seluruh sudut ruangan saat Egi berhasil membuka kunci ruangan tersebut.
Pricil masuk dan langsung menghempaskan bokongnya ke sofa empuk berwarna coklat yang berukuran besar. “Ruang OSIS, udah biasa kita suka nongkrong di sini kalau anak-anak OSIS pada pulang,” jawab Pricil mewakili semuanya yang telah mengambil posisi istirahat di tempat senyaman mungkin.
Calista hanya mengangguk dengan bibir membulat, lalu dia ikut duduk di samping Pricil dan Anggun sedang membuatkan mereka minuman di ruang khusus untuk dapur. “Kenapa kalian pada milih sekolah? Kenapa nggak di rumah aja kita bisa sambil tiduran?” oceh Calista, membuat Egi menatap cewek itu dengan mata membulat.
“Diam deh, jangan banyak nanya,” ketus Egi, merasa kesal diomelin, Calista memilih diam.
Anggun datang dengan nampang yang berisikan tujuh cangkir hot milktea. “Jangan ngomong sama Egi, awalnya aja dia manis kek gula. Lama kelamaan dia pedes kalau sama cewek bawel.”
Calista mengangguk dan menatap Egi sinis.
“Gue bukan cabe yang pedes.” Egi tak terima dituduh seperti itu.
“Dia ketos galak, Cal. Lo mah tenang aja, dia galak cuma depan kita doang pas ada lo. Kalau lo pergi dia bakal nyariin seperti tadi,” tukas Nathan sambil berkedip manja, mendapat tatapan horor dari Egi seolah mengatakan ‘Jangan sok tahu, lo!’
Naufan membenarkan posisinya menjadi duduk dan bersandar pada bantal sofa. “Oh, jadi Egi ketos. Pantes, tegas trus auranya juga nyeremin gitu,” celetuk Calista, mengundang tawa dari lainnya.
“Serah lo, dasar cewek!” Egi mengalah, lalu dia mengambil salah satu cangkir untuk meminumnya sebagai pelepas dahaga.
“Jadi, gimana?” Naufan bertanya, membuat mereka semua lantas menatap laki-laki tampan berambut fringe tersebut.
Wajah Naufan tampak bingung dan cemas memikirkan kejadian beberapa jam yang lalu. “Lo ada masalah sama seseorang sampai dia neror lo seperti itu?” tanya Gery yang akhirnya angkat bicara setelah mengunci bibirnya rapat.
Naufan tampak mengingat dengan siapa dia bermasalah? Namun, pria itu menggeleng pelan. “Nggak ada. Gue anak baik tanpa masalah.”
Egi menautkan kedua alisnya, tampak berpikir keras. “Aneh.”
“Apanya yang aneh?” Ketiga gadis yang duduk sejajar berceletuk menanggapi gumaman Egi dengan wajah berseri.
“Aneh kalau Egi lagi mikirin Calista sekarang, hahaha.” Nathan malah mencairkan suasana tegang menjadi candaan yang sama sekali tidak ada lucu-lucunya.
Egi mendengus kesal melihat kelakuan sepupunya. “Nggak lucu b**o!”
“Tunggu deh, Cal. Ada yang mau gue tanyain ke lo,” ada jeda diucapan Pricil yang janggal, membuat Calista menegang. “Apa lo bisa lihat hantu?”
Tuh, kan. Mereka curiga.
Calista diam menatap semua pasang mata yang sedang mengarahkan pandangan ke arahnya.
“Jujur aja, kita nggak bakal jauhin lo atau bahkan musuhin lo karena orang aneh yang sangat istimewa. Anggap aja kita udah jadi bagian keluarga lo. Jadi, lo nggak usah takut buat bilang ke kita.” Anggun meyakinkan Calista, membuatnya terenyuh seraya menundukkan kepalanya menatap karpet coklat di lantai.
“Elssa, lo udah gue anggap jadi sahabat kok. Sahabat itu udah seperti saudara lo sendiri. Perlahan semua rahasia kita juga bakal kebongkar kalau lo mau jujur sama kita,” ujar Egi menambahi dengan nada lembut. Gadis yang dipanggil Elssa pun menengadahkan kepalanya, menatap Egi lamat-lamat.
Nathan tersenyum jahil, lalu berceletuk. “Bukan dianggap pacar khusus lo, Gi? Yakin cuma sahabat, Gi?”
Sontak, semua yang berada di ruangan itu pun bersorak riuh. Kecuali Egi dan Elssa yang hanya bisa bersemu malu dengan rona merah tumbuh di pipi Elssa.
Dengan cepat, Egi membalas. “Nathan gila,” cibirnya, mengalihkan perhatian menatap ponselnya.
“Udah, udah kok malah tengkar, sih. Nathan lagi serius juga malah kek badut lo bikin candaan nggak lucu malah rese banget,” cibir Anggun kepada Nathan. Nathan hanya bisa nyengir kuda sambil mengangkat kedua jari telunjuk dan jari tengah ke udara, peace.
Tiba-tiba, suasana diselimuti oleh keheningan. Gery dan Naufan sejak tadi hanya diam menunggu pembahasan konyol menjadi serius kembali. Calista merasa semua perhatian di ruangan OSIS tertuju kepadanya. Calista menggigit bibir bawahnya, dia menyerah merasa terintimidasi.
“Aku punya kemampuan yang nggak dimiliki oleh manusia seperti kalian, aku bisa... lihat hantu,” titah Calista pada akhirnya. Mereka semua tersenyum ke arah Calista. Membuat Calista menautkan kedua alisnya bingung.
“Kita juga sama, kita semua sama-sama bukan manusia sempurna. Karena kita punya kelebihan masing-masing. Kecuali, Naufan, dia tahu tentang kita karena dekat dengan Gisya. Lo nggak usah khawatir karena kita udah bisa jaga rahasia masing-masing.” Mendengarkan pengakuan dari Pricil, membuat hati Calista merasa lega sekaligus terkejut.
Ternyata masih ada yang benar-benar tulus di dunia ini, batin Calista.
“Makasih, guys.” Calista pun memutuskan untuk memeluk Pricil dan Anggun tanpa mau bertanya keistimewaan apa yang mereka miliki. Calista akan menunggu mereka saja yang menceritakan.
“Eginya nggak dipeluk?” celetukan dari Nathan membuat Egi menjitak kepala pria tersebut yang mulai kumat otaknya.
“Sakit, beruang kutub!” Nathan mengadu.
“Tadi....” Calista yang ingin mengatakan sesuatu lantas terhenti karena semua pasang mata memandangnya penuh serius.
'Tokk... tokk...'
Terdengar suara ketukan pintu ruang OSIS. Mereka semua menengok, digeluti rasa penasaran. Egi beranjak dari duduknya. Melihat seseorang yang berada di balik pintu tersebut.
Tidak ada orang. Egi kembali ke tempat duduknya.
“Siapa?” tanya Gery, penasaran.
Egi mengedikkan bahu acuh. “Setan jahil maybe,” jawabnya asal.
“Lo tadi bilang apa?” Naufan bertanya kepada Calista, karena ucapan gadis itu sempat terhenti. Calista terlihat bingung, matanya melihat sekeliling sudut ruangan. Dia merasa was-was saat akan mengatakan sesuatu.
“Dia bilang, kalau dia ingin kamu mati.”
Detik itu juga, bulu kuduk Naufan merinding, dia bergidik ngeri. Naufan meringis, padahal tidak ada yang terluka.
“Naufan, di belakang lo... dia datang....” Calista membelalakkan matanya, bibirnya tertarik ke bawah, tergugup dengan wajah pucat, dingin dan gemetar. Sosok itu sedang menatap Calista, namun dia mundur kala Egi mendekati Naufan. Calista masih melihatnya, wajahnya berlumuran darah. Sangat menyedihkan. Saat sosok itu terbang, semakin tinggi. Calista pingsan.
“CALISTA?” suara cempreng Pricil, terdengar histeris. Mereka pun mengerubungi Calista.
“Hantu itu beraura jahat. Dia seperti sedang mengincar seseorang, entah apa masalahnya. Sepertinya Naufan terseret mau diajak hantu itu main-main deh,” celetuk Anggun menyimpulkan jawaban dari semuanya. Karena Anggun bisa merasakan aura hitam itu, tubuhnya dingin, dia menggigil juga. Tapi, Anggun sudah terbiasa.
Naufan parno, dia menggigit bibir bawahnya. “Anggun, lo nggak bercanda, kan?”