Sebenarnya, Venya tidak menginginkan untuk di sapa orang itu. Tapi, Venya yang menawarkan diri untuk memberi pinjam jaketnya untuk anak yang akan di bawa ke rumah sakit setelah ambulan datang.
"Mungkin dia bisa kedinginan di mobil." Katanya pada saat itu.
Sebenarnya, tidak ada yang diinginkan Venya selain mematikan anak itu baik - baik saja nantinya. Venya juga merasa kasihan kepada pria asing yang sering kali ia pikirkan. Dia bahkan tidak bisa memberikan jaketnya kepada pria itu. Venya bisanya memberikan jaketnya kepada anak kecil dengan refleks karena Venya merasa bahwa danau itu dingin pada siang itu. Apalagi untuk orang yang hampir tenggelam.
Venya bahkan senyuman kepada ibu sang anak dan ibu itu yang memberikannya senyuman terima kasih yang paling tulus ketika Venya memberikan jaketnya untuk dipakaikan kepada anak yang hampir saja tenggelam. Venya mengangguki senyuman itu lalu mengusap lengan sang ibu, "dia akan baik - baik saja." Kata Venya kemudian.
Selanjutnya, sang ibu kini memakaikan jaketnya kepada asang anak kemudian menaikkan anak itu ke dalam ambulance yang sudah ada di sana begitu seseorang meneleponnya setelah anak itu dilakukan CPR oleh pria yang entah siapa itu menolongnya. Venya juga bahkan tidak mengenali pria itu.
Hanya sebatas kenal secara asing. Dia bahkan muncul entah darimana. Menceburkan dirinya sendiri bersama pakaian dan sepatu yang ia pakai. Bahkan saat Venya akan memberikan pertolongannya, Venya masih memikirkan dan menyelamatkan sepatunya. Entah kenapa, namun itu menjadi refleks pertama kali yang ia lakukan.
Sebenarnya salah. Namun, Venya tidak memikirkan itu lagi sekarang.
Beribu terima kasih sang ibu dari anak itu ucapkan kepada orang tidak di kenalnya sebelum ambulance benar - benar pergi dan membawa anak itu ke rumah sakit. Meskipun anak itu sudah diberikan CPR dan pertolongan pertama, dia harus menjalani observasi lebih lanjut. Kemudian, Venya memberikan salam dan senyuman lega saat ambulance yang bahkan sudah pergi membawa anak itu dan juga sang ibu di dalamnya.
Setelahnya, semuanya bubar.
Tidak ada yang mengumpul di sana. Hanya tersisa Venya dan pria asing itu yang masih basah kuyup dengan baju dan sepatu yang masih menempel di badannya. Bahkan Venya hanya bisa mengangguk kemudian tersenyum kaku. "Sepertinya masnya harus segera ganti baju. Masuk angin bukanlah hal yang menyenangkan." Kata Venya pada pria itu.
Kini, pria itu menatapnya. Mereka bertatapan dari mata ke mata kemudian mengedip setelah cukup lama saling menatap. Pria itu terkekeh kemudian tersenyum, "ya, sepertinya mbanya benar." Katanya kemudian, "kalau begitu saya permisi, mbak." Kata orang itu lagi.
Venya mengangguk kemudian tersenyum melihat orang itu pergi dan melenggang entah menuju kemana. Venya juga tidak terlalu perduli, Venya hanya memberikan solusi terbaik untuk orang itu yang bahkan terlihat kasihan dan juga kedinginan.
Selanjutnya, yang dilakukan oleh Venya adalah duduk kembali di tempat duduknya tadi kemudian membuka laptopnya lagi. Selanjutnya dia membuka minuman kalengnya untuk yang kedua kali lalu meneguknya. Rasanya, kejadian beberapa waktu yang lalu bisa Venya masukkan ke dalam ceritanya yang ini. Venya juga menjadi mendapat inspirasi oleh kejadian itu. Sehingga Venya dengan lancarnya menuliskan cerita yang akan segera berakhir.
Lagi - lagi akhir dengan bahagia bukanlah pilihan Venya untuk menyelesaikan ceritanya.
*** *** ***
Venya sudah menyelesaikan ketikan - ketikan di laptopnya tanpa melihat jam yang ada di pergelangan tangannya. Sakit punggung sampai ke pinggang membuat Venya menyedari jika dirinya duduk terlalu lama. Dia duduk di kursi besi dan dingin. Venya mengangkat pandangannya dan melihat ke sekitar.
Dia menyadari jika alam ini memang memberikannya banyak hal. Bukan hanya alam yang indah dan memberikan pandangan yang bagus untuk menyejukkan mata, tapi ada alam yang membuat Venya tenang dan juga bisa menjadikan inspirasi untuknya. Terkadang, sesekali, Venya mengangkat pandangannya sewaktu berpikir untuk mendapatkan ide di ceritanya. Dia memandangi alam kemudian tiba - tiba ide itu muncul dan lancar untuk memberikan seluruh hal yang dibutuhkan oleh Venya. Tentu saja, Venya menyadari, bukan kamarnya saja yang bisa menjadi sumber inspirasi, bukan hanya kamar mandi yang banyak inspirasi, tapi alam ini dengan sangat menakjubkanya membuat pikiran Venya lebih terbuka lagi.
Ternyata benar kata orang yang pernah ia baca di salah satu buku novelnya yang menceritakan bahwa penulis tidak harus duduk di depan laptop, di kamar yang sepi dan juga gelap, di kamar dengan segala kesumpekkannya dan tidak harus di dalam kamar yang pemandangannya itu - itu saja.
"Alam juga memberikan dan menjalankan tugasnya dengan baik untuk seorang penulis." Kata Venya meneruskan kalimat yang sudah ia ucapkan di dalam hari kini terucap begitu saja di mulutnya.
Saking banyaknaya buku yang ia sudah baca, Venya menjadi lupa, buku yang mana yang menuliskan kata - kata dan kalimat yang sangat bermakna itu. Dimana benar adanya.
Venya sudah merasakannya dan juga udah benar - benar membuktikan jika zona nyaman tidak selamanya indah.
Selanjutnya yang dilakukan Venya adalah menutup laptopnya dan mengesampingkannya. Memasukkannya ke dalam tas dan melanjutkan makan camilan beserta minuman bersoda.
Selain mengangkat kepala untuk mendapatkan inspirasi, terkadang tangannya juga mengambil beberapa camilan lalu ia masukkan ke dalam mulutnya untuk sekedar berpikir kalimat apalagi yang akan ia ketikkan untuk menuntaskan ceritanya. Sesekali juga ia meneguk minuman bersodanya sambil melihat apa yang ada di depannya.
Sekarang, keadannya sama. Venya meminum dan meneguk minumannya dan memakan camilannya sambil memadang orang - orang yang semakin sore semakin ramai. Bahkan Venya juga terkadang tidak menyadari jika di Jakarta ada tempat seperti ini. Dimana danau buatan yang di buat itu tidak pernah sepi pengunjung. Bahkan waktu sore ini saja banyak pengunjung yang menghabiskan waktuya ke sini dan menikmati sejuknya sore itu.
Kendaraan juga hari ini tidak begitu banyak yang melalui taman ini. Dan setahu Venya, memang jalan ke sini kendarana di batasi untuk mengurangi polusi udara sehingga udara sore hari di waktu kerja ini cukup sejuk untuk di hirup. Hiruk pikuk kota metropolitan ini tidak terlalu menyenangkan. Namun, jika semuanya jalanan seperti ini, kemungkinan besar banyak orang yang menginginkan tinggal di sini lebih lama.
Jika taman ini tidak di tutup malam hari, mungkin Venya akan menetap di sini sedikit lebih lama lagi. PIkirannya benar - benar penuh ketika pergi keluar dari kamarnya. Namun, setelah sampai di sini, setidaknya penatnya dan pundaknya sedikit lebih ringan karena udaranya cukup banyak dan tidak membuatnya sesak.
"Maaf, mbak." Kata orang yang tiba - tiba muncul di sampingnya.
Venya menatap orang itu lagi. Siaalnya, pria itu lagi.
"Kenapa ya, mas?" Tanya Venya kemudian bersikap seramah mungkin.
Pria itu sudah mengganti bajunya. Rambutnya juga sudah mulai kering. Kini Venya tersadar bahwa dirinya memang menghabiskan waktunya di sini sangat lama. Ketika dia melihat jam tangannya, benar saja, dia duduk terlalu lama di sini.
"Boleh pinjam ponselnya? Saya tadi sepertinya melemparkan ponselnya di sini sebelum menceburkan diri saya ke danau." Kata orang itu lagi.
Setidaknya, Venya menjadi berpikir jika bukan hanya dirinya yang mementingkan satu barang lain sebelum menceburkan dirinya ke danau. Tapi, ada orang lain dan barang yang ia lemparkan itu tentu saja lebih berharga daripada sepatu Venya yang tadinya akan Venya tinggalkan di sana dan menceburkan dirinya ke danau
Lagi pula, ini sudah enam jam dari kejadian itu dan dia baru mencari ponselnya yang ia jatuhkan dan lempar sebelum mencebur? APakah ponselnya masih ada harapan untuk di temukan? Venya bertanya dalam hati.
Tapi, walaupun pikirannya jelek untuk ponsel si orang itu, tetap saja Venya memberikan ponselnya untuk dipinjamkan. Dan Venya baru menyadari setelah ponselnya di berikan kepada orang itu bahwa dirinya sedari tadi tidak memainkan ponselnya setelah ia menyambungkan jaringan wifi dari ponselnya ke laptop yang di pakainya.
Hebat sekali Venya. Tidak memainkan ponsel selama enam jam mungkin suatu yang baru bagi Venya. Terkadang, dua jam sekali, Venya sering merlirik ponselnya jika mengetik cerita di kamarnya. Bahkan jika ada notifikasi di ponselnya yang membuat layar ponsel itu menyala, Venya menjadi sedikit teralihkan dari laptop ke ponsel. Dan itu yang membuat Venya sulit berpikiran jernih untuk menulis cerita.
"Mbak mau ikutin saya cari ponsel, maaf?" katanya dengan sopan.
Tentu saja Venya harus mengikutinya. Dia bahkan punya ponsel cuman satu. Dan jika orang ini adalah orang jahat dan berfikiran untuk membawa lari ponselnya, bagaimana?
Venya mengangguk, "okay, mas. Tunggu saya beberes dulu."