"Di sekitaran sini ga sih tadi." Kata Venya bergumam. Dia mengingat bagaimana cara pria itu melompat saat menyelamatkan anak kecil itu. Bagaimana juga cara dia naik ke atas.
Ponsel dari pria tersebut berdering namun belum ditemukan juga. Suaranya di sekitar sini. Ada banyak semak dan tentu saja itu membuat Venya dan Pria itu sedikit kesulitan mencarinya.
Selanjutnya, Venya mendengarkan dengan seksama dering ponsel milik si pria. Venya menajamkan pendengarannya dan kemudian dia melihat ada cahaya diantara semak - semak yang sedang ia buka - buka untuk mencari hp kecil milik si pria yang bahkan Venya tidak mengenalnya namun dia berusaha untuk membantu.
Selanjutnya, Venya sedikit berteriak pada si pria, "mas ini bukan nih?" Kata Venya.
Kemudian si sang pria mendekat karena ajraknya lumayan sedikit berjarak antaara Venya dan si pria itu. Lalu, Venya menunjuk ke arah ponsel yang sedang menyala itu. Untung saja Venya melihat pobsel itu karena layarnya menghadap ke atas. Coba kalau telungkup, mungkin akan butuh waktu lebih laama untum mencarinya.
Sang pria tersenyum, "sepertinya benar." Kata sang pria.
Bahkan Venya masih tidak menyangka pria itu akan membalas ucapan Venya dengan bahasa baku dan formal yang bahkan Venya sendiri sulit terkadang menerapkannya di kehidupan sehari - hari. Namun, orang di depannya yang sedang membungkuk mengambil ponselnya itu seperti menggilai bahasa Indonesia yang baik dan benar. Mungkin bagus, tapi Venya menjadi merasa kecil.
Dirinya penulis namun tidak bisa menerapkan bahasa baku di kehidupan sehari - harinya. Terkadang, Venya menggunakan bahasa yang sangat kasar sehingga jauh dari bahasa yang fornal. Padahal, jika Venya berniat dan juga bersikeras untuk belajar, mungkin bisa. Soalnya, Venya ada di dalam ruangan yang bahkan bahada gaul dan bahasa ala kekinian itu jarang terdengar dan jarang diucapkan oleh Venya.
Namun, kebanyakan cerita yang ditulisnya adalah cerita remaja masa kini. Dimana dirinya juga harus menyesuaikan dimana bahasa formal dan non formal di hukunya. venya samlai mencari tahu apa yang sedang terjadi di dunia peremajaa melalui akun sosial media insta**gramnya. Bahkan Venya juga sampai melihat - lihat video di Youtu**be untuk mencari tahu bahasa yang sedang digunakan anak muda jama sekarang.
Kemudian dia juga mengobrol dengan Gemma yang sehari - harinya bisa menemui banyak orang dnegan bahasa yang bisa saja menjadi bahasa kekinian dimana Venya membutuhkannya. Oleh sebab itu, Venya bahkan tidka bisa menerapkan bahasa baku karena memang sepetti itu keadannya. Venya bukannya tidak mau belajar, tapi, untuk belajar Venya bisa dari buku yang di bacanya. Bahasa kekinian juga bisa disebut dengan belajar kok.
Setidaknya sekecil apapun kita berusaha mencari tahu sesuatu dna tentu saja menemukan jawabannya, itu di sebut dengan belajsr. Venya juga terkadang banyak belajar darinkehidupan dan pengalaman pribadinya. Dan ini satu hak yang harus dipelajari juga. Membantuborang lain yang membutuhkan. Salah satu belajar juga.
"Ketemu, mas?" Tanya Venya lalu melihat ponsel yang sedan di pegangboleh sang pria asing yang membutuhkan bantuannya.
Prianitu mengangguk, "iya. Mbak." Katanya lalu mendekati Venya, "teeima kasih banyak, mbak untuk ponselnya." Katanya lagi, "kota pernah bertemu bukan?" Tanyanya pada Venya.
Venya menerima ponselnya kembli yang sudah diberikan oleh sang pria lalu teesenyum dan mengangguk, "iya, di akfe waktu itu." Kata Venya lagi. Kemudian dia melihat jam yang melingkar di tangannya. "Kalo sudah, saya pamit duluan, mas. Ada yang musti saya kejrain setelah ini." Kata Venya.
Dia beeusaha menyesuaikan apa yang sedang mereka lakukan. Dimana Venya beurshaa untuk berkata baku padahal lidahnya kelu dan aneh saat mengatakan hal yang bahkan tidak biasa ia katakan itu. Venya juga sudah tidak biasa dnegan kalimat baku. Karena sekarang, bulan ini, Venya menulis demua cerita dengan bahas ayang santai. Tidak baku dan tidka formal. Kadang - kadang saja Venya menuliskan dan memasukkan mata baku ke dalam veeitanya jika tidak ada yang menganggu pikirannya.
Alsalanya, Venha sendiri suka sekali demgan bahasa non baku untik menuliskan narasi. Selain dia tidak biasa dengan bahasa baki, Venya juga tidak belajsr bagaimana caraboenggunakaan bahasa baku untuk cerita. Dimana Venya masih belajsr untuk tahap itu.
Jika menegnal Flora adalah yang mereka lakukan karena menyukai beberapa cerita Flora, Venya emrasa bahwa dirinya terkadang membenci Flora. Karena Flora tidak bisa menjadi contoh yang baik untuk oembaca dan para oenulis lainnya. Selain bahasanya yang kuran formal dan kurang sekali untuk dibaca di media sosial, setidaknya, Flora terkenal di dunia itu. Dimana dunia itu tidak oeenah ada sntuhan yang bisa dikatakan menyakitkan. Diaman dunianitu menajdi salah satunkesenangan untum Venya tersendiri.
Maka dari itu, Venya sellau menggunakan Flora sebagai oelampisan di dunia nyatanya. Entah itu kesal, marah atau bahkan bahagia. venya selalu melampiaskannya di sini. Di platform dengan nama Flora yang cukuo terkenal otu.
Mas itu emnatao Venya, "baik mbak kalau begitu." Katanya, "jika ada wkatu sengang, mbak bisa gubungi saya, saya punya hutang cukup mahal pada mbak." Katanya lagi.
Venya heran dan mengeritkan keningnya, "hutang?" Tanya Venya, "hutang apa?" Tanyanya lagi ketika Venya tidak cukup paham sengan kamilat yang diberikan sang pria.
Lalu Venya meligat pria itu tersenyum, "handphone ini sangat berhatrga bagi saya. Jadi jika ini hilang mungkin saya tidak bisa menemukan handphone lain setara dengan yang ini." Katanya menekalskan dan melihat ponselnya yangs edikit kotor di bagian atasnya, "fi dalamnua banyak sekali hak oenting yang sedang saya kerjakan dan lakukan. Maka dari itu, saya lunya hutang cukup besar untuk mbaknya." Kata pria itu.
Venya kemudian menggeleng secara cepat dan refleks juga menggoyangkan tangannya. "Oh itu, saya ga papa mas. Senang bisa membantu." Kata Venya, "panyesan aja, masanya ngelemparin pobselnya sebelum nyebur. Banyak hal penting toh di sana." Kata Venya lagi.
Pria itu mengangguk, "arau kalau tidak, saya melihat mbaknya sering sekali membawa laptop ke luar. Jangan - jangan mbaknya oenulis ya?" Tanya sang pria asing.
Sebenwrnya, Venyaningin dengan bangga menyebutkan iya untum dirknya yang memang oebulis. Namun, Venya bahkan tidak percaya dirii dengan hal itu. Venya hanyau bisa berlaku serderhana dan tidak mau membanggakan dirinya. Tetap merahasiakan nama pena dan juga nama aslinya pada semua orang adalah salah satu misi dari bahan menulisnya. Maka dari itu Venya tidak ingin mengakuinha lada orang yang bahkan baru saja ia kenal.
"Bukan kok" kata Venya, "maish belaakr." Lanjutnya.
Sang pria mengangguk walaupun sempat ragu. "Kalo engga, mbak bisa ikut saya ke tempat yang cukup bagus untuk carii insprasi."